Love And Pain, Me And Her - Bab 284 Penolakan

Viali menatapku dengan bingung, matanya dipenuhi oleh pertanyaan. Kemudian dia bertanya kepadaku, "Memulai bisnis? Apa rencana yang akan kamu lakukan?"

Viali bertanya seperti itu karena pada dasarnya dia adalah seorang investor, dia memiliki sensitifitas profesional terhadap kewirausahaan.

Namun aku menjadi malu. Karena investasi yang biasa dilakukan oleh Viali paling rendah mencapai miliaran, investasi puluhan miliar merupakan suatu hal yang normal. Aku yang hanya membuka sebuah workshop kecil pasti tidak akan dipandang olehnya.

Robi yang melihat aku tidak berbicara, buru-buru mendesakku di samping dan berkata, "Ugie, kamu bisu? Malaikat investor ada di sini cepat sampaikan pemikiranmu!"

Aku tahu Robi sedang membantuku. Meskipun aku ragu-ragu namun akhirnya aku memulai pembicaraan, "Aku ingin membuka sebuah workshop yang berpusat pada rencana pemasaran. Walaupun setiap perusahaan besar memiliki bagian pemasaran mereka masing-masing, namun masih banyak perusahaan yang mempercayakan strategi pemasarannya kepada orang luar. Sementara aku adalah lulusan jurusan ini ditambah pengalaman kerjaku juga dalam bidang ini. Aku merasa ini adalah salah satu kekuatanku. Target pelanggan kami selain dari perusahaan-perusahaan besar adalah"

Ketika mulai membicarakan pekerjaan, aku berusaha berekspresi dengan serius. Walaupun suaraku semakin lama semakin kecil karena aku menemukan bahwa Viali sama sekali tidak mendengarkan perkataanku. Dia terus mengerutkan keningnya memandang Robi. Robi juga merasakan perhatian Viali sudah tidak pada pembicaraan ini. Dia pun segera memotong dan dengan tidak puas berkata kepadanya , "Bu Viali, saat ini sedang membicarakan pekerjaan kan, bisakah kamu lebih serius ?"

Viali tersenyum. Ini adalah kedua kalinya aku melihatnya tersenyum. Walaupun senyuman nya ini adalah senyum mencibir.

Dia memandang Robi dan bertanya dengan bingung, "Robi, apakah kamu ingin menyuruhku untuk berinvestasi pada sebuah workshop? Apakah kamu sudah gila? Apakah kamu tidak tahu kamu sekarang sedang bermain-main?"

Ekspresi Robi menjadi semakin tidak senang ,semnatara ekspresiku semakin lama semakin canggung. Kenyataannya saat inni sama dengan apa yang aku bayangkan sebelumnya, Viali tidak mungkin akan tertarik pada sebuah workshop kecil ini.

Viali memandang Robi sambil mencibir berkata, "Robi, kamu bahkan tidak mempunyai pacar pada saat kuliah, apakah kamu sangat menyukai Ugie? Jika tidak kenapa kamu menyuruhku untuk membeli perusahaan iklan dan saat ini menyuruhku untuk berinvestasi pada workshop kecil seperti itu? Semua yang kamu kerjakan mengapa selalu berhubungan dengan Robi? "

Perkataan penuh nada sinis dari Viali membuatku tidak nyaman. Namun semua ini adalah hasil dari apa yang aku dan Robi cari sendiri.

Meskipun Robi merasa bersalah karena Viali dirawat di rumah sakit. Namun ketika dia mengucapkan masalah pacar, Robi segera membalas perkataannya. Dia memandang Viali dan berkata dengan nakal kepadanya,

"Kak, apakah kamu tahu apa arti dari perkataan yang kamu ucapkan ini? Kamu seperti seekor gagak yang berdiri di atas tubuh babi hanya dapat melihat bahwa kulit orang lain hitam namun tidak menyadari bahwa dirinya sendiri pun hitam. Aku tidak berpacaran karena tidak ada wanita yang aku sukai. Bagaimana dengan kamu? Tidak mencari pacar laki-laki. apakah karena tidak ada orang yang menyukaimu? Kita berdua hanyalah memiliki perbedaan yang mendasar. Selain itu jika kamu terus berlaku kasar nanti tidak ada orang yang mau menikah denganmu. Dan akhirnya di sisa hidupmu kamu hanya bisa menikahi perusahaanmu itu. "

Perkataaan Kakak beradik ini yang satu lebih kejam dari yang lain. Namun jika dibandingkan, ronde kali ini sepertinya dimenangkan oleh Robi.

Ekspresi wajah Viali pada awalnya sudah tidak baik, namun ketika Robi mengatakan ini. Ekspresi wajahnya menjadi semakin buruk. Dia memelototi Robi dan membentaknya, "Cepat pergi dari sini , jangan membuat ku lebih marah lagi disini!"

Robi tertawa, dia awalnya sudah ingin pergi kebetulan Viali mengusirnya. Dia pun segera bangkit berdiri, menarik lenganku dan berjalan keluar. Ketika sampai di pintu dia kembali membalikan kepala dan memandangnya dan berkata, "Kak, kali ini kamu yang mengusirku pergi? Oh ya, bantu aku menjaga ayah dan ibu ya. Nanti ketika aku sudah kembali ke beijing akan aku berikan seorang laki-laki tampan sebagai hadiah untukmu!"

Viali dibuat marah besar oleh Robi, dia mengambil bantal di sebelahnya dan melemparkannya ke arah Robi. Robi tertawa dan segera keluar dari bangsal kamar rumah sakit.

Setelah keluar meninggalkan rumah sakit, suasana hati Robi membaik. namun suasana hatiku masih tertekan. Sikap menghina Viali hanya membuat harga diriku terluka lebih dalam. Robi tampaknya merasakan ini , dia pun menepuk pundakku dan menghibur dengan berkata, "Sudahlah, Ugie. Viali adalah orang yang seperti itu, mulutnya tajam seperti pisau namun hatinya lembut seperti tahu. Jangan dimasukkan ke dalam hati."

Aku hanya tersenyum pahit. Aku ingin tidak memasukan semua ini ke dalam hati, karena pada utamanya aku sama sekali tidak memiliki modal itu.

Robi kembali bertanya kepadaku, "Apakah kamu sudah memikirkannya? Dari mana kamu akan mencari uang untuk membuka workshop ini?"

Perkataan Robi ini membuatku jatuh ke dalam pikiran. Ini adalah masalah paling utama yang harus aku selesaikan saat ini. Namun saat ini masih belum menemukan secercah harapan.

Ketika sudah kembali ke rumah, aku melihat-lihat buku telepon. Memikirkan orang yang bisa dipinjami uang. Tidak perlu memikirkan untuk meminjam uang dari Veni dan Sutan, pekerjaan Sutan baru saja membaik dan keduanya akan segera menikah. Robi juga tidak bisa diandalkan, perkataan yang diucapkan Viali sangat jelas. Kapan Robi kembali ke beijing, pada waktu itulah dia akan menggantikan Robi untuk membayar hutang. Amori tentu saja juga tidak bisa, aku baru saja meminjam empat puluh juta darinya dan masih belum dikembalikan sama sekali. Tidak mungkin untuk meminta kepadanya lagi.

Setelah memikirkannya cukup lama namun sama sekali tidak mendapat pencerahan. Aku pun hanya bisa berbaring dengan tertekan di atas sofa, ketika sedang berpikir. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ketika mengangkat dan melihatnya aku pun sedikit terpana, karena yang menelepon adalah Raisa.

Aku pun duduk dan menjawab telepon. Suara lembut Raisa keluar dari ujung telepon, "Ugie, aku mendengar kamu akan membuka workshop? Bagaimana persiapannya?"

Kata-kata Raisa membuatku tak bisa berkata-kata. Dasar Robi sialan itu, mulutnya terlalu longgar. Ternyata dia sudah menyebarluaskan ini kepada orang lain.

Tapi sekarang aku tidak bisa tidak mengakuinya, aku pun hanya bisa menjawab dengan samar, "Ya, ada pemikiran seperti itu"

Raisa tidak peduli dengan sikap samar yang aku berikan dan dia segera berkata, "Apakah uangmu cukup? Aku masih punya seratus juta jika butuh kamu gunakan saja."

Perkataan Raisa ini membuatku untuk sesaat tidak tahu bagaimana membalasnya. Pada awalnya dia meninggalkanku karena aku tidak mempunyai uang. Dan saat ini ketika mendengar aku akan memulai bisnis, dia segera mau mengeluarkan uangnya untuk membantuku. Manusia benar-benar makhluk yang aneh!

Namun aku langsung berkata kepadanya, "Terima kasih, namun masalah dana ini sudah diselesaikan. Ada seorang teman yang berjanji akan berinvestasi. Aku dan dia sedang membicarakan perinciannya."

Aku ingin langsung menolak Raisa. Tapi ketika ucapan itu sudah sampai di ujung lidah, aku menjadi tidak tega. Akhirnya aku menggunakan cara yang halus menolaknya. Aku tidak mungkin menggunakan uang dari Raisa, karena jika pinjam, lebih baik aku meminta saja Isyana yang berinvestasi.

Namun yang tidak aku pikirkan adalah Raisa tiba-tiba tertawa. Dia menghela nafas dan berkata dengan perlahan, "Ugie, aku sepertinya mengenal hampir semua teman lamamu kan. Teman lama mana yang sangat kaya dan bisa berinvestasi kepadamu?"

Kata-kata Raisa membuatku malu. Apa yang dikatakannya benar. Dia mengenal hampir semua dari temanku. Hampir tidak ada yang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Raisa juga mengerti bahwa aku hanya tidak ingin menggunakan uangnya saja. Setelah dia mengatakan itu dia tidak menunggu ucapan balasan ku dan dia langsung menutup pembicaraan dalam diam.

Novel Terkait

My Only One

My Only One

Alice Song
Balas Dendam
2 tahun yang lalu
Mr CEO's Seducing His Wife

Mr CEO's Seducing His Wife

Lexis
Percintaan
setahun yang lalu
Penyucian Pernikahan

Penyucian Pernikahan

Glen Valora
Merayu Gadis
setahun yang lalu
Your Ignorance

Your Ignorance

Yaya
Cerpen
2 tahun yang lalu
Istri Yang Sombong

Istri Yang Sombong

Jessica
Pertikaian
2 tahun yang lalu
Be Mine Lover Please

Be Mine Lover Please

Kate
Romantis
setahun yang lalu
My Cute Wife

My Cute Wife

Dessy
Percintaan
setahun yang lalu
My Goddes

My Goddes

Riski saputro
Perkotaan
setahun yang lalu