Love And Pain, Me And Her - Bab 17 Mengalihkan Kontradiksi

Istri Rehan melepaskan tanganku dengan kuat. Dia berkata dengan marah kepadaku, " Apa yang kamu lakukan, ini tidak ada urusannya denganmu, jangan ikut campur. Segera pergi dari sini..."

Aku hanya menatapnya tanpa bergerak dan berkata apa pun.

Sikap dinginku membuatnya marah. Wajah galaknya muncul dan berteriak kepadaku, " Aku bertanya kepadamu, siapa kamu? Pergi dari sini..."

Aku menatapnya tanpa ekspresi dan berkata dengan dingin, " Aku mantan pacar Raisa !"

Setelah mengatakan ini, seluruh ruang rapat tenang sekejap. Semua orang menatapku dengan terkejut. Terutama Isyana, dia akhirnya paham mengapa temanku berkelahi dengan Rehan dulu.

Istri Rehan terkejut sebentar dan kemudian tertawa. Tawaan itu penuh penghinaan. Dia mengejekku, " Mantan pacar? Karena dia telah berselingkuh sehingga kalian putus?"

Aku tidak menanggapi ejekannya, hanya berdiri dan tidak bergerak.

Dia melihatku tidak bergerak, melanjutkan ejekannya dan berkata, "Kamu adalah pria yang paling bodoh yang pernah aku lihat. Telah diselingkuhin dan masih membelanya. Orang sepertimu patut diselingkuhin!"

Aku akhirnya marah dan berteriak kepadanya, " Diam kamu, biar aku memberitahumu, walaupun Raisa telah putus denganku. Namun, ketika dia masih membutuhkan, aku akan berada di sampingnya. Jika ada yang membullynya, aku akan melindunginya. Setidaknya sampai dia menemukan orang yang bisa melindunginya. Jika belum aku akan tetap melakukan ini."

Pandangan orang sekitar menjadi kacau. Mungkin dalam pikiran mereka, wanita yang mengkhianati seseorang tidak patut dikasihani. Namun, aku tidak berpikir seperti itu, walaupun Raisa mengkhianatiku. Aku tetap menganggapnya sebagai seseorang yang penting dalam hidupku. Karena dia memberikanku masa terbaiknya.

Suara tangisan di belakangku semakin keras. Raisa tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia sudah menangis dengan tidak bisa dikendalikan.

Dan Rehan yang berada tidak jauh, sedang menatapku dengan bengong. Dia mungkin tidak menyangka aku akan muncul pada saat ini.

Melihat Rehan, emosiku naik. Aku menatapnya dan memarahinya, " Rehan, apakah kamu masih seorang pria! Tidak bisakah kamu mengurus hal burukmu dengan baik dan melindungi wanita yang kamu cintai. Tidak hanya memalukan di rumahmu tetapi juga di sini. Apakah kamu masih seorang pria?"

Rehan tidak menyangka aku akan melepaskan amarahku ke dia. Wajahnya semakin buruk. Mungkin dia tidak berdaya terhadap istrinya tetapi berbeda jika terhadapku.

Rehan tidak menghiraukanku. Mungkin di matanya aku hanya karyawan rendah yang tidak layak untuk berbicara dengannya.

Dengan wajah dingin, dia menatap Isyana dan berkata, " Presdir Mirani, apakah ini kualitas karyawan Nogo ?apakah kalian memperlakukan klien kalian dengan cara seperti ini? Menurutku kerja sama kita tidak perlu di bahas lagi..."

Ketika Isyana mendengar hal ini, dia berkata dengan cemas, "Presiden Bastar, dengarkan aku..."

Namun, Rehan tidak memberikan kesempatan kepada Isyana untuk berbicara. Dia mendorong buka pintu ruang rapat dan langsung pergi. Semua orang mengetahui bahwa Rehan marah karena istrinya telah mempermalukannya. Dan dia melepaskan amarahnya ke aku.

Istri Rehan melihatnya pergi dan dengan segera dia mengejarnya, sambil mengejar sambil berkata, " Berhenti kamu, Rehan. Masalah kita masih belum selesai..."

Ruang rapat akhirnya kembali sunyi. Namun sunyi tersebut membuat semua orang takut. Semua orang menatap Isyana dengan tidak tenang Sebuah perencanaan yang sudah dipersiapkan begitu lama telah hangus. Alasan sebenarnya karena istri Rehan. Tapi sekarang, telah mengarahkan kepadaku.

Raisa sudah berhenti menangis. Kedua matanya merah dan dia berbisik kepadaku, " Maaf, Ugie!"

Selesai berbicara, dia menunduk dan bergegas keluar dari ruang rapat. Melihat punggungnya, aku merasa sakit hati. Wanita yang dulu aku cintai, sekarang telah mengalami hal seperti ini. Aku ingin tahu apakah dia menyesali dulu meninggalkanku begitu saja.

Kantor Presiden.

Isyana duduk dengan dingin di kursi. Aku dan Lulu berdiri di depannya. Lulu sedikit khawatir, dia menggigit bibirnya. Melihat Isyana tidak berbicara, kemudian dia berkata dengan hati-hati, " Presdir Mirani, aku yang harus disalahkan dalam masalah ini. Jika bukan aku yang menyuruh Ugie pergi membantu di ruang rapat maka hal ini tidak akan terjadi..."

Aku melihat Lulu ingin bertanggung jawab terhadap masalah ini, dengan segera aku menyela perkataannya, " Presdir Mirani, masalah ini tidak ada hubungannya dengan asisten Lulu, akulah yang harus bertanggung jawab..."

Isyana tidak melihat Lulu, dia langsung bertanya kepadaku, "Ugie! Kamu sudah bukan pekerja baru di tempat kerja! Aku bertanya kepadamu, memarahi klien merupakan sikap apa? Aku tidak ingin mengetahui hubungan segitiga atau segiempat kalian. Itu adalah urusan pribadimu. Apakah kamu tidak mengetahui urusan pribadi dan urusan kerja harus dipisahkan, apakah hal yang sesederhana ini kamu tidak mengerti?"

Apa yang dikatakan Isyana benar! Itu adalah urusan pribadi aku dan Rehan. Dan tidak seharusnya melibatkan perusahaan. Tetapi semuanya terjadi secara tiba-tiba dan aku tidak sempat mempertimbangkan hal ini.

Aku tidak bisa mengatakan apa pun selain maaf. Dan Isyana melanjutkan, " Ugie, apakah kamu tahu betapa pentingnya KIMFAR terhadap Nogo ? Aku secara pribadi mengejar proyek ini hampir setengah tahun dan baru saja ada sedikit peningkatan, tetapi dengan kekacauan hari ini, semuanya telah hangus. Aku mengakui bahwa Rehan sengaja menggunakan kata-katamu untuk menyingkir dari kecanggungan saat itu. Namun kamu harus tahu, jika saat itu kamu tidak menargetkannya, dia tidak akan ada kesempatan. Meskipun karena Istrinya mengacaukan negoisasi kali ini, namun kita masih bisa memilih waktu lain untuk melanjutkannya dan tidak kehilangan proyek ini. Kamu telah memberikannya kesempatan..."

Karena marah, wajah cantik Isyana memerah. Apa yang dikatakannya aku mengakuinya dan apa yang dikatakannya juga masuk akal. Aku menghela nafas dan berkata kepadanya, " Presdir Mirani, masalah ini memang kesalahanku. Aku bersedia bertanggung jawab atas masalah ini..."

Sebenarnya apa yang aku katakan itu adalah omong kosong. proyek yang begitu besar aku sama sekali tidak mampu bertanggung jawab.

Isyana kembali tenang, dia menatapku sebentar dan berkata, " oke, karena kamu mengatakan bersedia bertanggung jawab. Maka aku memberikanmu kesempatan untuk bertanggung jawab. Mulai sekarang proyek ini kamu yang akan mengejarnya..."

Aku tertegun, begitu juga dengan Lulu di sampingku. Dia menatap Isyana dengan tidak percaya. Isyana mengetahui hubunganku dengan Rehan tetapi dia membiarkanku mengejar proyek ini.

Dan aku tidak bisa menghadapi Rehan, aku menolaknya dengan langsung, " Maaf, Presdir Mirani. Aku tidak bisa menerima proyek ini..."

Isyana berdiri, menatapku dengan mata cantiknya dan berkata perlahan-lahan, " Ugie, ini adalah pekerjaan dan kamu tidak ada alasan untuk menolaknya. Dan gurumu, Profesor Li memberitahuku bahwa kamu adalah orang yang akan meningkat apabila menghadapi kesulitan. Aku tidak berharap tanggapan gurumu salah, aku pikir kamu juga tidak berharap untuk mengecewakannya."

Harus diakui bahwa Isyana adalah master negoisasi. Dia menekanku dengan taruhan kami sebelumnya dan Profesor Li. Selain menyetujuinya, aku tidak punya pilihan lain.

Novel Terkait

Too Poor To Have Money Left

Too Poor To Have Money Left

Adele
Perkotaan
setahun yang lalu
My Charming Lady Boss

My Charming Lady Boss

Andika
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Cinta Seumur Hidup Presdir Gu

Cinta Seumur Hidup Presdir Gu

Shuran
Pernikahan
2 tahun yang lalu
Back To You

Back To You

CC Lenny
CEO
setahun yang lalu
Perjalanan Cintaku

Perjalanan Cintaku

Hans
Direktur
setahun yang lalu
Gadis Penghancur Hidupku  Ternyata Jodohku

Gadis Penghancur Hidupku Ternyata Jodohku

Rio Saputra
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Gue Jadi Kaya

Gue Jadi Kaya

Faya Saitama
Karir
setahun yang lalu
Cinta Yang Tak Biasa

Cinta Yang Tak Biasa

Wennie
Dimanja
setahun yang lalu