Hanya Kamu Hidupku - Bab 522 Pani, Beraninya Kamu
Dalam sekejap mata, waktu sudah tiba di awal agustus.
Setiap hari menjaga Yumari yang tidak menunjukkan tanda-tanda baikan, suasana Pani terasa sangat cemas dan putus asa.
Pada saat seperti ini, beberapa orang yang dia tidak sukai masih sibuk muncul di depan Pani, bahkan mereka memilih hari yang sama.
Yang pertama adalah Reta yang berpakaian seperti seorang wanita kaya raya, dia berjalan ke dalam kamar Yumari tanpa melepaskan kacamata hitamnya.
Memasuki ruangan, Reta melirik ke Yumari yang berbaring di atas tempat tidur dengan kondisi tidak sadar diri, kemudian dia mengulurkan 2 jarinya dan melambaikannya dari belakang.
Kemudian supir pun memeluk bunga lili masuk ke dalam ruangan dan meletaknya di atas meja sebelum meninggalkan ruangan.
Reta mengulurkan tangannya dan membelai bunga segar itu, kemudian melihat ke Pani dan berkata dengan nada suara santai: "Aku dan ayahmu berencana membawa Troy Wilman dan Suli wilman untuk liburan ke luar negeri setelah acara tunangan kamu. Mau bagaimanapun tante Yumari sudah bekerja di keluarga Wilman banyak tahun, aku berpikir harus menjenguk dia dulu sebelum pergi liburab"
Pani hanya melihat ke Yumari, "Kamu sudah menjenguk dia, sudah boleh pulang"
Reta tertawa, dia tidak bermaksud mau pulang, malahan menarik kursi yang berada di depan tempat tidur dan duduk di atasnya.
Pani melirik ke Reta dengan tatapan mendingin.
"Pani, aku menyarankan kamu untuk bersikap menerima saja. Usia tante Yumari sudah tua, tentu saja imum tubuhnya sudah tidak sekuat waktu muda, tidak bisa dihindari dia tertular penyakit semacam ini. Tidak hanya tante Yumari, kami juga akan begitu ketika sudah tua. Jadi kamu harus menerima kenyataan" Reta berkata.
"Aku mau menerima kenyataan apa?" Pani berkata dengan dingin.
Reta melihat Pani dengan sudut mulut terangkat, dia mengangkat alisnya dan berkata, "Pani, aku tahu kamu tidak suka mendengar kata-kata seperti ini, aku juga merasa aku sepertinya sedang mengutuk tante Yumari. Tetapi.... sejak dilahirkan, kita semuanya sedang menuju ke tempat tujuan pasti yang bernama kematian..."
"Jadi?" Pani mengigit giginya.
Reta menyipitkan matanya dan tatapannya menyapu melewati Yumari yang berbaring diam di atas tempat tidur, "Meskipun kamu tidak pernah mengakui aku, dari sisi hukum, aku juga termasuk ibu kamu. Aku mengingatkan kamu sekarang itu sedang memberi suntikan antibiotik kepada kamu, agar kamu tidak sedih sampai tidak bisa mengontrol diri pada akhirnya"
"Aku hanya memiliki satu ibu dan dia sudah tidak berada di dunia ini lagi. Reta, sekarang aku tidak memiliki suasana hati dan energi untuk berperang dengan kamu, kamu lebih baik pulang sekarang, kalau tidak aku tidak bisa menjamin apa yang aku lakukan nanti!" Pani berkata dengan suara dingin.
Sudut mata Reta berkedip dengan dingin, "Aku datang menjenguk tante Yumari dengan niat yang baik, teatpi kamu memperlakukan aku seperi ini? Aku merasa agak sedih"
"Keluar!" Pani menatapnya dengan kasar.
Ekspresi Reta tenggelam, dia melihat ke Pani dengan suram, "Pani, kamu melihat penampilan kamu sekarang, mana mirip dengan gadis yang berusia 18 tahun? Kamu itu seorang wanita berengsek!"
"Aku tidak keberatan memperlihatkan kepadamu apa itu wanita berengsek!"
Pani berdiri dan mengambil bunga lili yang berada di atas meja, kemudian satu tangannya lagi memegang kerah baju Reta dengan kuat.
"Ah...."
Reta tidak menyangka Pani akan bereaksi begitu kasar, dia merasa sangat kaget dan terkejut, dia merasa tenaga tangan Pani yang memegang kerahnya sangatlah kuat!
Pani menarik Reta ke arah pintu kamar dengan wajah menghijau.
"Ah, ah..." Reta panik sampai tidak bisa berdiri dengan baik, "Pani, Pani kamu sangat berani! Mengapa kau berani, mengapa kamu bisa begitu kepada aku, Pani, lepaskan aku, aku memerintah kamu lepaskan aku sekarang, ah..."
Kemudian Pani benar-benar melepaskannya, hanya saja Reta ditarik keluar dari ruangan olehnya.
Gerakan melepaskan Pani ini membuat kacamata hitam Reta jatuh ke atas lantai.
Tubuh Pani bergoyang sana sini, dia mundur ke belakang dan memegang pagar pembatas dengan cemas untuk menstabilkan tubuhnya, dia melihat ke Pani dengan ketakutan dan sesak, kali ini dia tidak berani mengatakan kata perintah apa pun lagi.
Tatapan Pani yang melihat ke Reta sangatlah dingin, wajah kecilnya terlihat menghijau, dia melangkah dengan cepat ke depan Reta kemudian membuang bunga lili ke tubuh Reta dengan kuat, "Reta, kamu mengira kalian bisa hidup bahagia kalau nenek aku mati? Aku beri tahu kamu, kalau nenekku kenapa, kamu, Sandy Wilman dan seluruh keluarga Wilman adalah musuh aku! Kalian jangan berpikir mau hidup dengan santai! Jadi, kalau aku itu kamu, aku akan segera pulang ke rumah untuk berdoa agar nenekku baik-baik saja, kalau tidak..."
Reta ketakutan sampai merinding, dia menatap ke wajah Pani yang jahat, "Pani, kamu, kamu sudah gila!"
"Aku bisa gila itu juga karena dipaksa kalian!"
Setelah berkata, Pani pun berputar balik badannya untuk kembali ke kamar.
Sudut matanya menyapu melewati seorang pria yang tidak tahu telah berdiri di ujung korider berapa lama.
Pani menyipitkan matanya, kemudian menjilat bibirnya dan memasuki ruangan tanpa berkata apa pun.
Reta masih berada dalam keadaan ketakutan, dia berdiri di sana dengan gemetar dan masih sesak setelah beberapa saat.
"Apakah nyonya Wilman baik-baik saja?"
Suara pria yang rendah berdering dari samping.
Reta melamun sejenak dan mengangkat kepalanya dengan posisi tangannya masih di atas dadanya.
Pada saat melihat wajah pria itu, Reta pun berdiri dengan tegak dan mengeluh, "Tuan Nulu, tadi kamu sdudah melihatnya kan? Aku datang menjenguk tante Yumari dengan niat baik, tidak apa-apa kalau dia tidak menyambut aku, tetapi dia bahkan menggunakan cara kasar seperti ini mendorong aku keluar dari ruangan! Aku juga bisa memaafkan dia untuk hal ini, aku mengerti dia! Tetapi pada akhirnya dia malah mengancam aku kalau seandainya tante Yumari kenapa kenapa, dia mau menghitung dendam ini dengan aku dan Sandy, dari mana dia berhak begitu? Apakah aku dan Sandy yang menyebarkan penyakit kepada tante Yumari? Dari mana dia berhak tidak membiarkan kami hidup dengan santai? Aku merasa dia benar-benar sudah gila..."
"Nyonya Wilman, harap perhatikan kata-kata anda!"
Sumi mengerutkan alisnya dan berkata dengan nada suara tegas.
Jantung Reta mengerat, dia menatap ke Sumi dengan panik.
Wajah Sumi terlihat sangat dingin, kehangatan yang dia tunjukkan biasanya sama sekali tidak memiliki jejak lagi, "Kalau Pani tidak menyambut nyonya Wilman, makan anda dipersilahkan pulang saja!"
Setelah berkata, Sumi pun berjalan masuk ke dalam ruangan dengan wajah tenggelam.
Melihat Sumi memasuki ruangan, Reta menenangkan diri lagi selama beberapa saat, kemudian mengambil kaca mata hitam yang jatuh di atas lantai dan meninggalkan rumah sakit dengan takut.
..........
Waktu Sumi masuk ke dalam ruangan, suasana hati Pani sepertinya telah tenang kembali. Pani melihat ke Sumi dengan ekspresi biasa dan berkata, "Kapan dokter berencana melakukan operasi pada nenekku? Nenekku sekarang sudah sama sekali tidak sadar diri, apakah kondisi seperti ini normal?
Sumi menatap ke Pani, ketidakstabilan di hatinya membuat matanya terlihat gelap.
Mungkin Pani tidak sadar, atau mungkin dia sadar, hanya saja dia tidak ingin mengurus hal seperti ini untuk sekarang.
Emosi Pani selalu menunjukkan kondisi pasang surut yang drastis dalam beberapa hari ini, seperti skizofrenia, detik sebelumnya Pani terlihat frustrasi, mudah marah, tetapi detik selanjutnya dia akan terlihat tenang dan damai seolah-olah tidak ada hal yang terjadi.
"....Aku pergi bertanya kepada dokter" Sumi berkata.
Pani mengangguk, "Telah merepotkan kamu"
Sumi berkata, "Pani, kita sudah mau bertunangan. Aku adalah tunangan kamu, jadi kamu tidak perlu bersikap begitu sopan denganku"
Pani melirik Sumi kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain tanpa berkata apa pun.
Sumi memegang tangannya, "Aku pergi mencari dokter"
"Baik"
Sumi menarik nafas dan meninggalkan ruangan Yumari untuk menuju ke kantor dokter.
...........
Kurang dari 10 menit setelah Sumi meninggalkan ruangan Yumari, tamu yang tidak diundang selanjutnya pun tiba.
Pani melihatnya dengan alis mengerut, "Kalau kamu datang untuk menjenguk, tidak perlu lagi. Kalau kamu datang untuk mencari masalah, aku tidak memiliki waktu untuk mengurus kamu, silahkan pulang!"
Pengunjung itu melihat ke Pani, wajah dia yang terlihat sedikit kekanakan memilik senyuman yang penuh hinaan dan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan. Dia meletakkan kedua tangannya ke belakang dan berkata dengan sudut bibir terangkat, "Kak saudara, kamu salah paham. Bagaimana aku bisa mencari masalah dengan kamu di bawah kondisi keluarga kamu sedang berada di dalam situasi darurat? Tentu saja aku datang untuk menjenguk pasien"
"Mau aku ataupun nenekku, kami tidak memiliki hubungan dengan kamu yang membuat kamu berhak menjenguk dan merisau kepada kami. Seharusnya kamu tidak datang!" Pani berkata dengan lelah dan frustrasi.
Sekarang dia benar-benar tidak ingin mengurus orang-orang tidak penting ini!
Melihat wajah orang-orang ini, dada Pani akan menyalakan api yang dia sendiri tidak bisa menahan dan membuat dia ingin merobek mereka sampai berkeping-keping!
"Kak saudara, kenapa kamu bisa berkata seperti ini? Kita itu saudara, keluarga kamu itu tentu saja adalah keluarga aku juga" Pataya melihat ke Pani dengan senyuman.
Melihat Pani merasa frustrasi, marah, tidak berdaya, sakit hati, Pataya tidak bisa menahan diri dan merasa senang dari dalam hati!
Kedua mata Pani menyala api, dia menatap ke Pataya dan berusaha menekan suaranya, "Pataya, kamu pulang saja. Cepat, pulang sekarang"
Pataya memiringkan kepalanya dan berjalan menghampiri Pani dengan kedua tangannya di belakang, setelah sampai di depan Pani, dia menundukkan kepalanya dan melihat ke Pani, "Kak saudara, apakah kamu tahu? Dulu aku lumayan iri kepada kamu. Karena tuan Nulu menyukai kamu, kasih sayang dia kepada kamu membuat aku iri dan mengharapkan kehidupan seperti ini. Tetapi setelah aku mengetahui Tuan Nulu memiliki seorang teman sejak kecil yang dia cintai selama belasan tahun, tiba-tiba aku tidak merasa iri dengan kamu lagi. Sebaliknya, aku mengasihani kamu! Benaran, kak, aku sangat mengasihani kamu! Karena kamu adalah pilihan Tuan Nulu setelah dia tidak memiliki pilihan lain! Tidak ada orang yang bisa menggantikan posisi wanita itu did alam hatinya. Sementara, orang apa pun bisa menggantikan posisi kamu! Apakah kamu merasa dirimu kasihan juga?"
Pani menatapnya dengan dingin, "Aku akan berkata untuk terakhir kali, cepat pulang!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Pataya mengedipkan matanya kepada Pani dengan senang, "Kalau aku tidak mau pulang, apa yang akan kamu lakukan?"
Pani, "Benaran tidak mau pulang?"
Pataya menggembangkan mulutnya dan menggelengkan kepalanya secara perlahan,
"Bagus, sangat bagus!"
Pani berdiri dan berjalan ke araah kamar mandi.
Pataya melirik ke ember di tangan Pani, sebenarnya dia sudah menyadari tujuan Pani, dia juga berusaha untuk meninggalkan ruangan sebelum Pani bisa menghampirinya.
Tetapi, Pataya adalah orang yang tidak akan menangis sebelum dimasukkan ke peti, dia terus berdiri di tempat dan menatap Pani dengan mata besar, "Pani, kamu jangan berpikir mau menakuti aku, kamu berani...."
Pus....
Sebelum Pataya selesai berkata, perlawanan yang kuat segera menyambut dia dan kemudian diikuti oleh hawa dingin.
Novel Terkait
Dewa Perang Greget
Budi MaInventing A Millionaire
EdisonYou're My Savior
Shella NaviMr. Ceo's Woman
Rebecca WangWanita Yang Terbaik
Tudi SaktiMy Goddes
Riski saputroHarmless Lie
BaigeKisah Si Dewa Perang
Daron JayHanya Kamu Hidupku×
- Bab 1 Maukah Ikut Denganku
- Bab 2 Buah Hati
- Bab 3 Paman Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 4 Dia Seorang Diktator
- Bab 5 Kenapa Tidak mengunci Pintu
- Bab 6 Tidak Ngambek Lagi
- Bab 7 Masa Muda Para Remaja
- Bab 8 Bocah Itu Dari Kecil Dekat Dengan William
- Bab 9 Paman Ketiga, Kamu Sangat Baik Padaku
- Bab 10 Dia Sangat Ketakutan
- Bab 11 Makan Malam Penuh Cinta
- Bab 12 Sup Tonik Untuknya
- Bab 13 Detak Jantung Yang Sangat Kencang
- Bab 14 Cinta Yang Berbunga
- Bab 15 Tiga Bulan Lagi, Kamu Akan Berusia 18 Tahun
- Bab 16 Calon Bibinya Akan Sangat Beruntung
- Bab 17 Melanggar Lagi, Lihat Bagaimana Aku Mematahkan Kakimu!
- BAB 18 Pernyataan Cinta Yang Begitu Tiba-Tiba
- Bab 19 Mabuk
- Bab 20 Paman Ketiga, Jantungmu Berdegup Kencang Sekali
- Bab 21 Seperti Jelly Yang Dingin
- Bab 22 Bagaimana Perasaanmu Pada Paman Ketiga?
- Bab 23 Apakah Kamu Punya Orang Yang Disukai?
- Bab 24 Calon Istri
- Bab 25 Ellen, Sikap Apa Itu
- Bab 26 Hangat Sampai Mengebulkan Asap
- Bab 27 Pertama Kali Melihat William Kehilangan Kontrol
- Bab 28 Sakit, Sakit Setengah Mati
- Bab 29 Tidak Tinggal Denganku, Kamu Mau Tinggal Dengan Siapa
- Bab 30 Hati Ellen Sangat Kacau
- Bab 31 Ellen Terasa Seperti Sedang Bermimpi Buruk
- Bab 32 Kalau Aku Menyukaimu, Apakah Membuatmu Takut ?
- Bab 33 Apakah Gigitan Nyamuk
- Bab 34 Sangat sakit
- Bab 35 Keposesifan William Dilsen
- Bab 36 Halo, Aku Tunggu Kamu
- Bab 37 Aku Ingin Jadi Kekasihmu
- Bab 38 Temperamen Buruk Ini Mirip Siapa
- Bab 39 Demimu Rasa Dingin, Angin Bertiup pun Kutahan
- Bab 40 Ellen, Kamu Jahat Ya
- Bab 41 Tuan Menyuruhku Menjemputmu
- Bab 42 Dipukul Oleh William Dilsen!
- Bab 43 Kamu Suka Pria Tipe Apa
- Bab 44 Gadisnya
- Bab 45 Dia Bertanya Padanya Kenapa Tidak Menelepon
- Bab 46 Katakan, Apakah Paman Ketiga Mengganggumu?
- Bab 47 Jantung Berdebar
- Bab 48 Rahasia, Tidak Boleh Dikatakan
- Bab 49 Orang Yang Menggertakmu, Semua Dibereskan Olehmu
- Bab 50 Perasaan Presdir William Pada Ellen Bukan Perasaan Biasa
- Bab 51 Bagaimana Jika Aku Menikahinya
- Bab 52 Dia Adalah Bintang Hamid, Pacarku
- Bab 53 Paman Ketiga, Kakiku Sakit
- Bab 54 William Sampai Ingin Sekali Membunuh Dirinya Sendiri
- Bab 55 Apakah Kamu Tidak Takut Ellen Membencimu?
- Bab 56 Sakit Sekali
- Bab 57 Bisakah Kamu Menerimaku Semalam?
- Bab 58 Paman Ketigamu
- BAB 59 Aura Penuh William
- Bab 60 Salah Minum Obat
- Bab 61 Ellen, Kamu Bisa, Kamu Sangat Hebat
- Bab 62 Aku, Aku Sudah Mengantuk
- Bab 63 Sengaja Membuat Dia Marah
- Bab 64 Cinta Kamu Terhadap Dia Sangat Dalam
- Bab 65 Orang Yang Paling Dekat
- Bab 66 Terasa Seperti Ayah Yang Sedang Menggandeng Putrinya
- Bab 67 Paman Ketiga, Ini Di Gerbang Sekolah
- Bab 68 Kebiasaan Jelek Yang Suka Memeluk Orang
- BAB 69 Legenda Cinta Pada Pandangan Pertama
- BAB 70 Ellen, Darah Kamu Mengalir Begitu Banyak
- Bab 71 Sudah Merindukan Paman Ketiga
- Bab 72 Paman Ketiga, Apakah Aku Mengganggumu Kerja
- Bab 73 Hanya Kamu Yang Menyayangiku
- Bab 74 Ellen Tersenyum Seperti Tidak Ada Yang Terjadi
- Bab 75 Jangan Menangis, Semua Salah Paman Ketiga
- Bab 76 Tangannya Kenapa Begitu Panas
- Bab 77 Kapan Ellenku Menjadi Gagap
- Bab 78 Ini Merupakan Perselisihan Keluarga
- Bab 79 Jantung Ellen Seolah-olah Akan Meledak
- Bab 80 Ellen, Pikiranmu Semakin Kotor.
- Bab 81 Mulut Tuan Terlalu Jahat
- Bab 82 Sakit Perut, Sangat Sakit!
- Bab 83 Sudah Hampir Menangis
- Bab 84 Semuanya Menyukai Gadis Yang Lebih Kecil
- Bab 85 Dia Sedang Pacaran Dengan Pamannya
- Bab 86 Wanita Ini Benar-Benar Sangat Kejam
- Bab 87 Hanya Menyukai Kamu Seorang
- Bab 88 Pria Ini Bertingkah Begitu Tenang
- Bab 89 Ada Yang Sedang Menahan Diri Untuk Mengeluarkan Jurus Pamungkas
- Bab 90 Paman Ketiga, Tolong!
- Bab 91 Cincang Mereka
- Bab 92 Paman Ketiga, Aku Pasti Akan Patuh
- Bab 93 Jangan Ganggu, Aku Cuci Muka
- Bab 94 Ellen Cemburu!
- Bab 95 Paman Ketiga Dia, Menggoda Seorang Gadis Baik
- Bab 96 Sungguh, Sangat Merugikan
- Bab 97 Dia Merasa Dirinya Akan Pingsan
- Bab 98 Paman Ketiga, Apakah Kamu Mandi Tadi
- Bab 99 Penampilan Pria Terhormat
- Bab 100 Paman Ketiga, Kamu Kemari
- Bab 101 Pintu Kamar Ditendang Terbuka Dari Luar
- Bab 102 Paman Ketiga, Kamu Jangan Begitu
- Bab 103 Dia.......... Sudah Dinikahi!
- Bab 104 Wanitaku, Istriku
- Bab 105 Paman Ketiga, Kamu Menganggu Orang!
- Bab 106 Orang Lain Akan Melihatnya
- Bab 107 Kerja Sama
- Bab 108 Dia Adalah Satu-Satunya
- Bab 109 Memanggil Suamiku
- Bab 110 Berhasil Berpacaran Dengannya
- Bab 111 Malu Sampai Ingin Menyembunyikan Diri Di Bawah Tanah
- Bab 112 Paman Ketiga, Kamu Sangat Hebat
- Bab 113 Resah
- Bab 114 Ellen, Aku Mencintaimu
- Bab 115 Sedikit Kasih Sayang
- Bab 116 Paman Ketiga, Maafkan Aku
- Bab 117 Tidak Apa Paman Ketiga
- Bab 118 Hamil!
- Bab 119 Hubunganku Dengan Paman Ketiga Cukup Baik
- Bab 120 Dengannya, 10 Jari Terkait Erat
- Bab 121 Tidak Tega
- Bab 122 Menggoda Pria Lain Di Belakang Suami
- Bab 123 Gadis Ini Makin Lama Makin Nakal
- Bab 124 Dia Hamil
- Bab 125 Paman Ketiga, Ada Apa Denganmu
- Bab 126 Ellen, Apa Yang Ingin Kamu Lakukan
- Bab 127 William, Aku Sangat Kecewa Padamu
- Bab 128 Hamil 67 Hari
- Bab 129 Ellen, Dengarkan Kata-Kata Paman
- Bab 130 Aku Tahu Kamu Paling Sayang Kepadaku
- Bab 131 Terima Kasih Paman Ketiga
- Bab 132 Pria Yang Menyukai Ellen
- Bab 133 Tidak Bisa Mengontrol Diri
- Bab 134 Mengetahui Masalah Dia Dan Paman Ketiga
- Bab 135 Jangan Memaksa Aku Marah!
- Bab 136 Peringkat Pertama Di Dalam Hatimu Harus Aku
- Bab 137 Ingin Menikah Dengan Dia
- Bab 138 Hanya Ketika Takut Ia Akan Berhati-hati.
- Bab 139 Dia Terlalu Malu Untuk Mengatakannya
- Bab 140 Paman Ketiga, Apakah Kita Bisa Lebih Lembut
- Bab 141 Wanita Muda Lajang Yang Cocok Untuk Menikah
- Bab 142 Apakah Berkualifikasi Menjadi Cucu Menantumu
- Bab 143 William Dilsen, Aku Pasti Akan Mendapatkanmu
- Bab 144 Hatinya Terasa Hangat
- Bab 145 Hati-Hati Aku Tidak Membiarkanmu Pergi
- Bab 146 Apakah Kamu Masih Menginginkanku
- Bab 147 Setiap Hari Setiap Menit Setiap Detik Memikirkanmu
- Bab 148 Merusak Kesanmu Sebagai Seorang Presiden
- Bab 149 Mengambil Kembali Inisiatif
- Bab 150 Menikahkan Kalian Berdua Secepat Mungkin
- Bab 151 Menyambut Kedatangan Ipar Ketiga
- Bab 152 Ellen Yang Sangat Terpesona Padanya
- Bab 153 Ellen Yang Lincah
- Bab 154 Kucing Rakus
- Bab 155 Paman Ketiga, Aku Mulai Takut
- Bab 156 Manusia Licik
- Bab 157 Satu-satunya Calon Menantu
- Bab 158 Aku Tidak Akan Membiarkanmu Menunggu Terlalu Lama
- Bab 159 Kelainan Kejiwaan, Psikopat
- Bab 160 Tidak Ada Orang Yang Bisa Memisahkan Kita
- Bab 161 Ellen, Kesayangan
- Bab 162 Panggil William dan Ellen
- Bab 163 Paman Ketiga Sekarang Terluka, Sangat Terluka
- Bab 164 Ladang Subur Jangan Diberikan Kepada Orang Lain
- Bab 165 Gadis Yang Membuat Dia Merasa Sangat Sakit Hati
- Bab 166 Kamu Harus Bersamaku
- Bab 167 Aku Menunggumu, Paman Ketiga
- Bab 168 Paman Ketiga Memelukmu Tidur
- Bab 169 Aku Benar Menyukai Paman Ketiga
- Bab 170 Kesabaranku Ada Batasnya
- Bab 171 Sekarang Mati Pun Juga Tidak Disayangkan
- Bab 172 Ellen Mengalami Kecelakaan
- Bab 173 Ellen, Paman Ketiga Salah.
- Bab 147 Aku Dan Ellen Sudah Mengurus Surat Pernikahan
- Bab 175 Kebahagiaan Yang Tidak Bisa Dibendung
- Bab 176 Paman, Aku Memukul Seseorang
- Bab 177 Ibu Mertua, Suami
- Bab 178 Dia Benar-Benar Memanggilku Tante
- Bab 179 Tidak Ingin Berpisah Dengan Paman
- Bab 180 Bergantung Seumur HIdup
- Bab 181 Aku dan Paman Ketiga Saling Mencintai
- Bab 182 Jamuan Selamat Datang
- Bab 183 Jangan Menangis Jika Aku Tidak Berada Di Sisi Mu.
- Bab 184 Kamu Membuat Aku Kesakitan!
- Bab 185 Latar Belakang William Yang Dalam Dan Mengerikan
- Bab 186 Paman Ketiga Menjemputmu Pulang Rumah
- Bab 187 Telapak Tangannya Hangat dan Kuat
- Bab 188 Hamil Anak Kembar
- Bab 189 Memang Tidak Tahu Malu
- Bab 190 Jangan Menangis Lagi, Ya
- Bab 191 Ellen, Aku Mau Menikahi Dia!
- Bab 192 Tidak Ada Siapapun Yang Dapat Membawamu Pergi Dariku
- Bab 193 Memalukan
- Bab 194 Kamu Harus Datang Menjemputku, Datang Tepat Waktu
- Bab 195 Aku Memang Menyukainya, Tidak Bisa Merelakannya.
- Bab 196 Takut? Kenapa Takut?
- Bab 197 Telah Tercetak di Hati
- Bab 198 Pasti Anak Ini Lagi Yang Membuat Masalah Ini Terbongkar
- Bab 199 Tidak Menyesal
- Bab 200 Ellen, Jangan Takut
- Bab 201 Dia Pernah Sangat Mencintai Pria Ini
- Bab 202 Sangat Jelas Itu Adalah Suara Ellen
- Bab 203 Paman Ketiga Paling Sayang Aku
- Bab 204 William Yang Gila
- Bab 205 Orang Kesayanganmu
- Bab 206 Menahan Cedera Internal
- Bab 207 Aku Rindu Padamu
- Bab 208 CEO Dilsen Group, William Dilsen
- Bab 209 Dia Ingin Melihat Betapa Cantiknya Agnes Nie
- Bab 210 Lebih Dingin Dibandingkan Empat Tahun Lalu
- Bab 211 Di Atas Kepala Terdapat Dua Gumpal Awan Hitam
- Bab 212 Benar-Benar Sakit
- Bab 213 Aku Bunuh Kamu Saja Sekarang
- Bab 214 Apakah Kamu Ingin Aku?
- Bab 215 Aku Di Sini, Kamu Mau Pergi Kemana?
- Bab 216 Kalau Berani Coba Panggil Sekali Lagi Sebutan Tuan William Dilsen
- Bab 217 Bom Gula
- Bab 218 Dia dan Anaknya
- Bab 219 Aku dan Mamamu Adalah ... Teman
- Bab 220 Permata
- Bab 221 Selamanya Selalu Begitu Berkuasa, Dan Kuat
- Bab 222 Kamu Tidak Menginginkan Aku Lagi
- Bab 223 Paman Ketiga Dia Bukan Tidak Peduli Padaku
- Bab 224 Apakah Hatimu Masih Ada Pamanmu
- Bab 225 Dia, Milikku
- Bab 226 Sangat Rindu Padamu
- Bab 227 Paman Ketiga, Aku Sangat Rindu Padamu.
- Bab 228 Ellen Nie, Kamu Sialan !
- Bab 229 Aku Akan Datang Malam Ini
- Bab 230 Cinta Dia Sangat Dalam Dan Kuat
- Bab 231 Sudah Hampir Gila Dibuatmu
- Bab 232 Melakukan Sesuatu Yang Menarik
- Bab 233 Ternyata Kembar
- Bab 234 Jangan Terlalu Merindukanku
- Bab 235 Paman Ketiga, Perutku Sangat Sakit
- Bab 236 Ellen, Aku Begitu Mencintaimu
- Bab 237 Orang Yang Paling Penting Dan Yang Paling Dicintai
- Bab 238 Dia Tidak Tahu Seberapa Menakutkan Dirinya
- Bab 239 Seperti Makan Madu Dan Terasa Sangat Manis
- Bab 240 Wajahmu Begitu Merah, Apakah Kamu Merasa Panas?
- Bab 241 Aku Juga Ingin Makan
- Bab 242 Kamu Sekarang Enggan Untuk Berpisah Denganku Ya
- Bab 243 Perlukah Aku Pergi Sekarang?
- Bab 244 Tempat Terlarang Bagi William
- Bab 245 Berubah Menjadi Prihatin dan Lembut
- Bab 246 Ayolah Ke Sini, Jangan Memaksaku Melakukannya
- Bab 247 Aku Akan Bergaul Lembut Denganmu
- Bab 248 Dia Adalah Ayahku
- Bab 249 Istri Dan Anakku
- Bab 250 Biarkan Aku Memelukmu
- Bab 251 Dia Memanggilnya ... ...Suami
- Bab 252 Tidak Tahu Betapa Tampannya Dia
- Bab 253 Perubahan Suasana Hati Terlalu Cepat
- Bab 254 Apakah Kamu Merasa Sangat Terharu
- Bab 255 Cantik Yang Tak Tertandingi
- Bab 256 Makan Sendiri Atau Disuapin, Pilih
- Bab 257 Pria Tidak Boleh Dimanjakan Tahu?
- Bab 258 Bukan Seperti Ini Caranya Merendahkan Seseorang
- Bab 259 Paman Ketiga, Tunggu Aku Sebentar
- Bab 260 William Yang Menempel Orang
- Bab 261 Pria Tua Yang Ruwet
- Bab 262 Jika Bukan Kamu Yang Katakan, Untuk Apa Kamu Bersembunyi
- Bab 263 Diintimidasi Seumur Hidup
- Bab 264 Paman Ketiga, Aku Merasa Tidak Nyaman
- Bab 265 Pulang ke Kota Tong 1
- Bab 266 Pulang ke Kota Tong 2
- Bab 267 William, Aku Benci Padamu
- Bab 268 Sudah Pulang
- Bab 269 Tidak Memberiku Raut Wajah Yang Baik
- Bab 270 Ayah Sangat Kasian
- Bab 271 Mati Pun Tidak Akan Berpisah Denganmu
- Bab 272 Beraninya Kamu Meninggalkanku Begitu Lama
- Bab 273 Merasa Tertekan
- Bab 274 Menimbulkan Imajinasi
- Bab 275 Menunggu Panggilan Teleponmu
- Bab 276 Coba Panggil Aku Suami
- Bab 277 Bagaimana Kalau Anak-Anak?
- Bab 278 Apakah Kamu Bisa Lebih Kelewatan?
- Bab 279 Aku Telah Menunggu Kamu Begitu Lama
- Bab 280 Bahagia, Beruntung
- Bab 281 Dia Pernah Bilang Dia Mencintaiku
- Bab 282 Menghapus Kegalauan Dengan Alkohol
- Bab 283 Bangun Pagi Saja Sudah Begitu Menempel
- Bab 284 Semua Berjalan Sesuai Rencana
- Bab 285 Selain Kamu, Tidak Ada Yang Bisa Menyakitiku
- Bab 286 Jika Anak Itu Masih Hidup
- Bab 287 Jangan Sampai Ellen Tahu
- Bab 288 Menyanyikan Lagu Tidur Apa Untuk Paman Ketiga
- Bab 289 Pulang Rumah
- Bab 290 Aku Rindu Kamu
- Bab 291 Tunggu Aku Pulang
- Bab 292 Malu
- Bab 293 Paman Ketiga, Jangan Bicara
- Bab 294 Kelak Aku Akan Lebih Baik Lagi Padamu
- Bab 295 Sungguh Sudah Ada
- Bab 296 Comelkah?
- Bab 297 Aku Sudah Iri
- Bab 298 Sangat Enak
- Bab 299 Ternyata Tidak Mati
- Bab 300 Kamu Memenuhi Hatiku Dengan Penuh
- Bab 301 Tidak Memakai Kontrasepsi
- Bab 302 Sangat Nyaman
- Bab 303 Marah
- Bab 304 Aku Bukan Anak Kecil Lagi
- Bab 305 Kamu Kembali Saja Sudah Cukup
- Bab 306 Panas
- Bab 307 Apakah Kamu Tidak Tahu Malu?
- Bab 308 Serahkan Padaku Untuk Menanganinya
- Bab 309 Panggil Aku William, William Dilsen, Suami
- Bab 310 Lugu dan Cuek
- Bab 311 X Berikan Aku Sedikit kasih Sayang Memangnya Kenapa
- Bab 312 Istri
- Bab 313 Kalau Aku Sudah Tidur, Bagaimana ?
- Bab 314 Ini Rumah Ayahku
- Bab 315 Apakah Sedang Meluapkan Amarah Padaku
- Bab 316 Gadis Kecil
- Bab 317 Bekingannya Sangat Kuat
- Bab 318 Wanita Nomor Dua Tercantik di Dunia
- Bab 319 Sini, Istriku
- Bab 320 Membesarkan Anak Yang Luar Biasa
- Bab 321 Tergila-Gila Dengan Tanpa Penyesalan
- Bab 322 Selain Kamu, Tidak Akan Ada Wanita Lain Lagi
- Bab 323 Mungkin Ayah Palsu!
- Bab 324 Sudah Sakit Parah, Tidak Jauh Dari Kematian
- Bab 325 Siapa Suruh Aku Menyukainya
- Bab 326 Suamiku, Kamu Lelah Tidak
- Bab 327 Dia Takut Tidak Sanggup Mengendalikan Dirinya
- Bab 328 Pukulan Yang Paling Mematikan
- Bab 329 Aku Sangat Sedih, Sampai Mau Mati Rasanya
- Bab 330 Hanya Ada Kamu Dalam Hati
- Bab 331 Mati Sepuluh Ribu Kali Pun Tidak Cukup
- Bab 332 Mari Kita Bertaruh
- Bab 333 Wanita Kecil
- Bab 334 Hubungan Percintaannya Agak Berantakan
- Bab 335 Meninggal Di Tempat
- Bab 336 Waktu Sudah Tidak Banyak
- Bab 337 Hamil Empat Minggu
- Bab 338 Di Mana Putriku
- Bab 339 Mengadopsi
- Bab 340 Jangan Mengecewakan
- Bab 341 Membenci Orang Menyentuhnya
- Bab 342 Suka Hati Kamu
- Bab 343 Cucunya Terlalu Gembira Hingga Tampak Bodoh
- Bab 344 Aku Paham, Kalian Iri Padaku
- Bab 345 Ide Apaan
- Bab 346 Wanita Yang Sedang Hamil Ingatannya Akan Menjadi Turun
- Bab 347 Tampaknya Sangat Lapar
- Bab 348 Cepat Bunuh Monster Ini!
- Bab 349 Paman Nulu Sudah Menyukai Orang Lain
- Bab 350 Bersedia Menikahinya Atau Tidak
- Bab 351 Ternyata Kembar
- Bab 352 Kondisi Kritis
- Bab 353 Aku Mencintai Semua Yang Ada Padamu, Semua Yang Kamu Miliki
- Bab 354 Tidak Boleh Membuat Masalah
- Bab 355 Nona Ellen, Lama Tidak Jumpa
- Bab 356 Kalian Para Pria Memang Tidak Bisa Mendengar Kenyataan
- Bab 357 Kamu Bukan Hanya Kurang Cerdas, Bahkan Buta
- Bab 358 Kamu Sekarang Adalah Satu-Satunya Wanita Di Keluarga Ini
- Bab 359 Aku Tidak Tahu Harus Bagaimana
- Bab 360 Ya, Aku Masih Memilikimu
- Bab 361 Kado Ulang Tahun
- Bab 362 Kamu Jadi Jahat
- Bab 363 Tatapan Tajam Yang Dilempar Kepadanya
- Bab 364 Pria Yang Menyukai Ellen
- Bab 365 Lengan Tidak BIsa Mengalahkan Paha
- Bab 366 Hal Terlucu
- Bab 367 Ellen, Kamu Sangat Hebat!
- Bab 368 Pria Yang Mencintai Aku Sampai Mati
- Bab 369 Penglihatan yang serius dan mendalam
- Bab 370 Keinginan yang Menggebu-Gebu untuk Menaklukan dan Posesif
- Bab 371 Suami, Bicara Baik-Baik
- Bab 372 Lebih Baik Mabuk Seumur Hidup
- Bab 373 Tino Dijemput Orang Lain
- Bab 374 Tujuanku Adalah Kamu, Dan Hanya Kamu
- Bab 375 Memang Banyak Bencana dan Kesulitan!
- Bab 376 Kelebihannya Tak Terhingga
- Bab 377 Dia Sudah Datang Mencariku
- Bab 378 Cepat Gendong Aku, Aku Sudah Tidak Kuat Berdiri
- Bab 379 Lelaki Yang Murah Hati Lebih Disukai Oleh Wanita
- Bab 380 Aku Tidak Sebanding Dengan Seorang Samsu
- Bab 381 Menurutlah, Jangan Menangis
- Bab 382 Kamu Pria Tua Apanya Yang Luar Biasa
- Bab 383 Ternyata Dia Bukan Diadopsi oleh Paman Ketiga
- Bab 384 Dasar Anak Keras Kepala
- Bab 385 Ellen, Naiklah
- Bab 386 Mengabaikanku Atau Melupakannya Saja
- Bab 387 Busa Merah Muda Yang Memenuhi Seluruh Udara
- Bab 388 Ellen Nie Adalah Istri Dia
- Bab 389 Apakah Kamu Berani Memberi Tahu Aku Namamu?
- Bab 309 Tidak Mau Bersama Siapapun Kecuali Dia, Tidak Mau Siapa Pun Kecuali Dia
- Bab 391 William Suami Idaman
- Bab 392 William Menempel Padanya, Membuat Dia Sangat Menyukainya
- Bab 393 Mencintai Baik Dan Buruk
- Bab 394 Sakit Hati
- Bab 395 Mengapa Wajahmu Merah
- Bab 396 Aku Tidak Bisa Menahan Diri
- Bab 397 Jantungnya Berdetak Lebih Cepat
- Bab 398 Hatinya Ingin Marah!
- Bab 399 Menghilang!
- Bab 400 Aku Benar-Benar Sangat Menyukaimu
- Bab 401 Intimidasi
- Bab 402 Mendapat Sedikit Keuntungan Dan Ingin Bertingkah
- Bab 403 Begitu Putus Asa Dan Merasa Rendah Diri Dalam Mencintai Seseorang.
- Bab 404 Tidak Ada Siapapun Yang Lebih Penting Darimu!
- Bab 405 Kaisar Tua Yang Begitu Sombong dan Arogan
- Bab 406 Terbiasa Sekali Berkata Manis Untuk Membujukku.
- Bab 407 Dia Adalah Iblis Yang Selalu Dibicarakan Orang Lain
- Bab 408 Pria Yang Bisa Aku Percaya Seumur Hidup
- Bab 409 Tapi Aku Sudah Suka padamu, Sudah Cinta padamu
- Bab 410 Aku Akan Menikahinya!
- Bab 411 Tadi Kamu Diam-Diam Melihatku Lama Sekali
- Bab 412 Paman Ketiga Tidak Akan Tega Menyakitimu
- Bab 413 Apa Hati Nurani Kalian Tidak Sakit
- Bab 414 Sami Nulu Rupanya Telah Pergi ke Kota Yu!
- Bab 415 Suara Ini Terlalu Renyah Sekali
- Bab 416 Hanya Merindukanmu, Ingin Datang Melihatmu
- Bab 417 Aku Akan Tunjukkan Kepadamu
- Bab 418 Gendut Biarlah Gendut, Aku Sanggup Merawatnya
- Bab 419 Aku Tau Bahwa Kamu Peduli Padaku
- Bab 420 Merindukanmu Sampai Hatiku Sakit
- Bab 421 Sayangku, Sungguh Indah Memilikimu
- Bab 422 Ditambah Kamu Seorang Juga Tidak Sempit
- Bab 423 Pria Yang Aku Cintai Tidak Mencintaiku
- Bab 424 Hanya Saja Sedikit Sakit Hati
- Bab 425 Aku Tidak Akan Menolakmu
- Bab 246 Suamiku, Aku Bantu Kamu Mengeringkan Rambut
- Bab 427 Bersama Dengan Yang Dicinta
- Bab 428 Ikannya Sudah Terperangkap!
- Bab 429 Aku Tidak Akan Memaafkanmu
- Bab 430 Kamu Membuatku Mengagumimu
- Bab 431 Riwayatmu Telah Tamat!
- Bab 432 三叔, Aku Mencintaimu
- Bab 433 Kecerobohan Sesaat
- Bab 434 Paman Ketiga, Keren Sekali
- Bab 435 Anak Nakal Yang Minta Dipukul
- Bab 436 Ellen, Kamu Mantap Sekali!
- Bab 437 Kamu Akan Kehilanganku
- Bab 438 Paman Ketiga, Apakah Aku Terlalu Buruk
- Bab 439 Apa yang Harus Aku Lakukan Tanpamu?
- Bab 440 Sayang, Aku Cinta Padamu The End
- Bab 441 Mencari Nama
- Bab 442 Catatan Kehilangan Perhatian
- Bab 443 Catatan Cemburu 1
- Bab 444 Catatan Cemburu 2
- Bab 445 Catatan Bekerja
- Bab 446 Kamu Adalah Pengantin Wanitaku
- Bab 447 Memperbolehkanmu Setia Hanya Takut Kamu Marah Padaku
- Bab 448 Aku Mencari Calon Istriku Pani
- Bab 449 Pani, Apa Kamu Memaksaku Gila
- Bab 450 Paman Sumi, Lepaskan Aku
- Bab 451 Pria Ini Mengintimidasi Sekali!
- Bab 452 Pasti Mau Bersama Dengan Anak Gadisnya Ini
- Bab 453 Wanita Sialan
- Bab 454 Mengapa Dia Begitu Menuruti Kata-katanya
- Bab 455 Dia Berkata, Apakah Aku Sangat Baik?
- Bab 456 Kalau Aku Berkata Menyukai Kamu, Berarti Aku Menyukai Kamu
- BAB 457 Mulai Sekarang, Terbiasa Denganku
- Bab 458 Orang Jahat!
- Bab 459 Paman Nulu, Tidak Baik Dipandang Jika Kita Begini
- Bab 460 Pani, Kamu Imut Sekali
- Bab 461 Sedih Sampai Tidak Tidur Semalaman
- Bab 462 Cara Menghibur Dia
- Bab 463 Paman Nulu, Lepaskanlah Tanganku
- Bab 464 Hangat, Malu
- Bab 465 Apa Yang Akan Kamu Lakukan Kepadaku.
- Bab 466 Buat Apa Kamu Melompat Ke Sini
- Bab 467 Aku Pacarmu
- Bab 468 Diam, Aku Peluk Sebentar
- Bab 469 Aku Apanya Yang Tidak Sopan
- Bab 470 Tidak Tenang Kalau Biarkan Kamu Sendirian
- Bab 471 Gadis Bandel, Cepat Atau Lambat Akan Menghajarmu
- Bab 472 Paman Nulu, Jangan Mengusik Aku
- Bab 473 Bertunangan
- Bab 474 Pani, Aku Akan Mendobrak Masuk
- Bab 475 Pani, Kamu Menyiksaku
- Bab 476 Sudah Malam, Tinggal Saja
- Bab 477 Dandan dengan Cantik, Jangan Mempermalukanku
- Bab 478 Jangan Marah Lagi
- Bab 479 Bengong Apaan, Aku Sedang Menunggumu
- Bab 480 Tentu Bukan Rumahmu, Ini Rumahku
- Bab 481 Pani, Kamu Adalah Yang Pertama
- Bab 482 Hatinya Tidak Sedikit Menyukainya
- Bab 483 Mau Tidak Pindah Ke Rumahku
- Bab 484 Ciuman Pertama
- Bab 485 Aku Dilahirkan Tidak Berperasaan
- Bab 486 Tidak Bisa Lebih Bermuka Dua Lagi
- Bab 487 Paman Nulu Jangan Marah Lagi
- Bagian 488 Sedang Membicarakan Apa, Sampai Mengobrol Dengan Begitu Senang
- Bab 489 Menunggmu Dua Bulan Lagi, Jangan Harap Bisa Bersembunyi
- Bab 490 Berakar Ke Dalam Tulang
- Bab 491 Mau Membuat Aku Mati Karena Rindu Kepadamu Ya
- Bab 492 Kangen Aku Ya Kangen Aku, Buat Apa Mengontrolnya?
- Bab 493 Jangan Berbelok Sana Sini Denganku
- Bab 494 Mengejar Kamu Mati-Matian
- Bab 495 Mulai Sekarang Aku Menjemput Kamu Setiap Hari
- Bab 496 Sumi, Aku Membenci Kamu
- Bab 497 Aku Sumi Nulu, Tidak Akan Pernah Mengecewakanmu
- Bab 498 Tanjing, Jangan Pernah Meninggalkanku
- Bab 499 Paman Nulu, Bisakah Kamu Memelukku Dengan Erat
- Bab 500 Dia Adalah Rumahnya
- Bab 501 Kamu Barulah Orang Yang Paling Disayanginya
- Bab 502 Membujukmu Lalu Mendapatkanmu
- Bab 503 Calon Menantu Keluarga Nulu
- Bab 504 Panpan , Kenapa Kamu Begitu Baik
- Bab 505 Aku Ingin Makan Wangi, Yang Ada Ditanganmu
- Bab 506 Pani, Jangan Pikir Bisa Kabur!
- Bab 507 Tidak Tahu Malam Apa?
- Bab 508 Paman Sumi, Gendong Aku!
- Bab 509 Perlihatkan Padaku Milik Dirimu
- Bab 510 Acara Pertunanganmu Denganku
- Bab 511 Sumi Brengsek
- Bab 512 Pani, Kelak Aku Akan Mendengarkanmu
- Bab 513 Milik Dia Sepenuhnya
- Bab 514 Ratu Terhormat, Air Sudah Datang
- Bab 515 Bermimpi, Menanggapi Semua Permintaan
- Bab 516 Aku Tidak Waras, Saat Melihatmu Ketidak Warasanku Kambuh
- Bab 517 Tubuh Sakit, Hati Juga Sakit
- Bab 518 Bagaimanapun Tidak Boleh Kehilangan
- Bab 519 Paman Nulu, Kamu Sudah Datang
- Bab 520 Patah Hati
- Bab 521 Pani, Jangan Menakutkan Aku Seperti Ini
- Bab 522 Pani, Beraninya Kamu
- Bab 523 Pani, Aku Mencintaimu
- Bab 524 Pani Miliknya, Terlihat Sangat Cantik
- Bab 525 Gaun Yang Dirobek
- Bab 526 Paman Nulu, Kamu Percaya Aku
- Bab 527 Apakah Aku Buta
- Bab 528 Aku Merasa Sangat Sakit, Sakit Sampai Ingin Mati
- Bab 529 Pani, Jangan Tinggalkan Aku
- Bab 530 Sudah Berpisah Dan Tidak Berharapan Lagi
- Bab 531 Meninggalkan
- Bab 532 Empat Tahun Kemudian
- Bab 533 Pria Itu Datang Mencarimu, Apakah Kamu Berubah Pikiran
- Bab 534 Karena Terlalu Menyukaimu
- Bab 535 Apakah Kamu Ingin Kembali Bersamanya Lagi?
- Bab 536 Sial Aku Menyukai Kamu
- Bab 537 Sumi Nulu, Kamu Tidak Boleh Kesini !
- Bab 538 Pani, Apakah Kamu Masih Mau Aku
- Bab 539 Kamu Harus Mengerjakan Apa Yang Disuruh
- Bab 540 Dia memintanya untuk mengartikan aku mencintaimu
- Bab 541 Pani, aku mencintaimu!
- Bab 542 Pulang ke kota Tang, Menikah!
- Bab 543 Kamu Cepatlah Pulang, Aku Menunggumu
- Bab 544 Aku Tidak Bisa Merelakanmu!
- Bab 545 Apa Yang Kita Lakukan Di Hotel
- Bab 546 Apa Kamu Suka Anak-Anak
- Bab 547 Anak Ini Adalah Milik Sumi!
- Bab 548 Menuju Hotel, Takut Orang Kabur
- Bab 549 Kamu Terlihat Sangat Bersemangat
- Bab 550 Aku Memang Menginginkanmu!
- Bab 551 Sumi, Kamu Gila Ya!
- Bab 552 Aku Juga Sangat Bersimpati Padamu
- Bab 553 Kamu Dihatiku Hampir Sempurna
- Bab 554 Anak Ini Bukan Punya Riki !
- Bab 555 Cinta Membuat Orang Menjadi Gila
- Bab 556 Dia Pergi Atau Aku!
- Bab 557 Aku Tidak Mencintai Linsan, Yang Aku Cintai Adalah Kamu
- Bab 558 Aku Sedang Memasak Sup Ayam Untuk Panpan
- Bab 559 Manis Tidak
- Bab 560 Dia Adalah Seekor Rubah Jantan Tua
- Bab 561 Sumi, Tekadmu Sungguh Luar Biasa!
- Bab 562 Paman Nulu, Apakah Aku Dapat Mempercayaimu Lagi
- Bab 563 Aku Adalah Calon Suaminya
- Bab 564 Sumi, Kamu Sungguh Licik
- Bab 565 Pak Nulu, Sudah Menemukannya, Tenanglah!
- Bab 566 Pani, Berapa Lama Kamu Akan Menyembunyikannya Dariku
- Bab 567 Untuk Pertama Kalinya, Dia Tampak Kurus
- Bab 568 Paman Sumi, Kamu Harus Menutrisi Tubuhmu
- Bab 569 Kamu Menjijikan Sekali, Pergilah
- Bab 570 Orang Tua Ini Banyak Tingkah!
- Bab 571 Linsan Sama Sekali Tidak Dapat Dibandingkan Denganmu
- Bab 572 Kamu Unik Bagiku!
- Bab 573 Tidak Akan Membiarkanmu Sendirian Lagi.
- Bab 574 Selain Kamu, Tidak Ada Orang Lain
- Bab 575 Paman Sumi, Aku Disini
- Bab 576 Melakukan Segalanya Agar Kamu Bahagia
- Bab 577 Pani, Kita Tidak Akan Berpisah Lagi!
- Bab 578 Bocah, Kamu Nakal
- Bab 579 Tidak Ada Yang Beres
- Bab 580 Selain Kamu, Aku Tidak Menginginkan Siapapun!
- Bab 581 Ada Kesenjangan Generasi Tapi Kamu Tetap Milikku
- Bab 582 Kamu Pasti Sengaja Menyiksaku
- Bab 583 Paman Nulu, Apa Yang Kamu Lakukan
- Bab 584 Satu Dibanding Yang Lainnya Lebih Brutal Dan Mendominasi
- Bab 585 Masih saja Iri !
- Bab 586 Terpesona
- Bab 587 Memberitahumu sebuah rahasia
- Bab 588 Yang Paling Dicintai Sepanjang Hidup Ini
- Bab 589 Mengikatmu Di Sisiku Seumur Hidup
- Bab 590 Anak Yang Dikandung Pani Adalah Darah Daging Sumi
- Bab 591 Saling Mencintai
- Bab 592 Titik Lemah
- Bab 593 Paman Nulu, Aku Mencintaimu~
- Bab 594 Kamu Terlihat Cantik Ketika Sedang Cemburu!
- Bab 595 Menuruti Semua Permintaan
- Bab 596 Kamu Adalah Wanitaku
- Bab 597 Selama Dia Bahagia, Aku Rela Melakukan Apa Saja
- Bab 598 Pani, Kamu Tidak Boleh Bermasalah
- Bab 599 Kamu Membuatku Takut Hampir Mati!
- Bab 600 Takut Setengah Mati
- Bab 601 Apakah Kamu Menyukai Anak Kita
- Bab 602 Hatinya Hampir Hancur
- Bab 603 Kamu Membuat Pani Marah?
- Bab 604 Kesayangan Keluarga Nulu
- Bab 605 Cinta Seumur Hidup
- Bab 606 Kesenangan Anak Cacat Mental Lebih Banyak
- Bab 607 Dia Barulah Karakter Kejamnya
- Bab 608 Pani, Kamu Adalah Nyawaku!
- Bab 609 Sumi, Kamu Sangat Tidak Masuk Akal
- Bab 610 Jantung Tua yang Tidak Karuan
- Bab 611 Terima Kasih Atas Pujian Nyonya!
- Bab 612 Sumi, Kamu Tidak Tahu Malu
- Bab 613 Aku Akan Menjadi Sandaranmu Selamanya
- Bab 614 Penuh Pikiran Jahat
- Bab 615 Tidak Pernah Dilupakan, Cinta Mendalam Yang Tidak Berubah
- Bab 616 Katakan Kamu Mencintaiku
- Bab 617 Sumi, Kamu Parah
- Bab 618 Mengajukan Kartu Nikah Tanpa Sepengetahuanku
- Bab 619 Cinta Melemahkan Orang
- Bab 620 Demi Kamu, Aku Sekarat
- Bab 621 Apa Kamu Masih Mau Mukamu?
- Bab 622 Ku Tak Bisa Meninggalkan Mu
- Bab 623 Menikahi Seorang
- Bab 624 Aku Tahu Kamu Kuat
- Bab 625 Skil Munafik Terlalu Rendah
- Bab 626 Sundal, Kenapa Tidak Bergaya Lagi
- Bab 627 Tuan Sumi Pasti Sangat Sakit Hati
- Bab 628 Mulai Membunuh
- Bab 629 Sumi Yang Tidak Pernah Dia Lihat
- Bab 630 Cara Pria Tua Mengungkapkan Kasih Sayang
- Bab 631 Hidup Bersama
- Bab 632 Terlalu Manis
- Bab 633 Aku Ingin Makan Itu
- Bab 634 Paman Nulu, Cepat Datang
- Bab 635 Sangat Jijik!
- Bab 636 Mendengar Suara Hati
- Bab 637 Paman Nulu, Kamu Sudah Keterlaluan
- Bab 638 Ingin Bersama Seumur Hidup
- Bab 639 Macan Tutul Yang Gila
- Bab 640 Memutuskan Hubungan Suami Istri
- Bab 641 Wanita ini, Terlalu Kejam !
- Bab 642 Beritahumu Sebuah Rahasia
- Bab 643 Tidak jauh Dari Kematian
- Bab 644 Aku ingin menemui Lian, Sangat Merindukan Dia
- Bab 645 Sumi Sangat Mencintaimu
- Bab 646 Kamu Mau Memeluk Dia Ya
- Bab 647 Mesti Kamu
- Bab 648 Harus Bagaimana, Semakin Kangen Denganmu
- Bab 649 Ulang Tahun Pada Sepuluh Hari Yang Akan Datang
- Bab 650 Hatiku Sangat Sakit
- Bab 651 Selamat Malam Sayang
- Bab 652 Bagaimana Kamu Bisa Begitu Cantik
- Bab 653 Pani, istriku
- Bab 654 Pani, Nikahlah denganku!
- Bab 655 Menerkam Dari Kulit Ke Tulang !
- Bab 656 Sangat Kangen Padamu
- Bab 657 Pani, Malam Ini Kamu Habislah !
- Bab 658 Anak Kesayanganku
- Bab 659 Pani Merasa Tenang Dan Nyaman
- Bab 660 Sup Motivasi Merek Tuan Nulu
- Bab 661 Kisah Sumi Dan Pani
- Bab 662 Kisah Manis Sumi Dan Pani 1
- Bab 663 Kisah Manis Sumi Dan Pani 2
- Bab 664 Kisah Manis Sumi Dan Pani 3
- Bab 665 Sumi Dan Pani 4