Hanya Kamu Hidupku - Bab 270 Ayah Sangat Kasian
William menghela napas dan tak bersuara, dia tidak bisa menahan diri kemudian membalikkan badan.
“ Agnes, nenek baik-baik saja, mendengar kamu sudah tiba disana dengan aman, nenek merasa sangat lega. Kamu baru saja tiba disana, pasti ada banyak hal yang mau kamu lakukan. Nenek tidak ingin mengganggumu, nenek tutup telepon ya.”
Suara Nurima terbata-bata dan cemas, dia takut semakin banyak dia berbicara, membuat Ellen semakin tidak nyaman.
Ellen tidak berani bersuara, karena dia takut Nurima semakin sedih jika mendengar suaranya yang berbeda dan aneh.
Setelah Nurima selesai berbicara dan menunggu sejenak, tetapi dia tidak lagi mendengar suara Ellen, kemudian menghela napas, dan menutup telepon secara perlahan.
Saat ponselnya berubah menjadi nada sibuk, Ellen menggenggam ponselnya, air mata terus berjatuhan, “ Nenek ...”
Sebuah bayangan hitam besar menyelimutinya.
Seketika Ellen melompat dari atas tempat tidur, mengepalkan tangannya dan memukul dada William, dia menangis sampai seluruh wajahnya penuh dengan air mata, air matanya berjatuhan “ Apa hakmu? Apa hakmu? Apakah kamu tahu, jika bukan nenek dan abang, mungkin saja tidak ada aku, Tino dan Nino... Mereka memperlakukanku dengan sangat baik sekali. Tapi aku meninggalkan mereka dan pergi jauh demi kepentinganku sendiri. Orang macam apa aku ini, macam apa ... “
“ Rumah yang begitu besar, hanya nenekku saja sendiri di sana. Apa yang bisa dia lakukan?”
“ William, mengapa kamu setiap kali begini? Bisakah kamu sekali saja, hanya sekali saja, sebelum kamu membuat keputusan, tanyakan dulu padaku, hanya sekali saja!”
“ Huhu, aku benar-benar sangat membencimu sekarang, aku membencimu ...”
William berdiri seperti sepotong kayu di depan Ellen, dan membiarkan kepalan tangan kecil Ellen memukul tubuhnya.
Tatapan yang penuh emosi Ellen menangis hingga wajahnya memerah, dan urat nadi berwarna biru di dahi pun menonjol.
Tidak diragukan lagi.
Ellen saat ini sangat sedih.
Dia perlu melampiaskan emosinya!
“ Aku sangat merindukan nenek, aku sangat merindukannya ...”
“ Aku masih, huhuu, aku masih belum sempat mengucapkan selamat tinggal padanya.”
“ Aku tidak pernah bilang aku tidak akan kembali denganmu. Aku ingin kembali denganmu. Tetapi bukan sekarang, bukan kembali seperti ini.”
Satu tangan Ellen memegang kain baju William dan tangan satunya lagi memukul bahunya.
Kerinduan dan rasa bersalah yang mendalam menyiksa Ellen.
Dia ingin segera kembali ke kota Rong dan tinggal bersama Nurima dan Dorvo, bahkan jika dia tidak bisa melakukan apapun lagi, tapi setidaknya, mereka sekeluarga bisa hidup bersama.
Apakah ada hal yang lain, yang lebih penting dari kebersamaan dalam keluarga?
Saat merasa kekuatan pukulan Ellen di bahunya berkurang, William menghela napas dan perlahan-lahan memeluk Ellen dengan kedua lengannya.
Ellen memberontak dalam pelukannya, bibirnya yang memerah karena menangis dan dengan suara membisu berkata, “ Lepaskan.”
William memeluk erat-erat pinggang Ellen dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi membelai punggung Ellen, suaranya perlahan berkata, “ Kamu sangat marah sekarang, apapun yang aku katakan saat ini, kamu pasti tidak ingin mendengarkannya. Nanti kedepannya, kamu akan mengerti mengapa aku melakukan ini. “
Ellen mencibir dan tidak mau bicara.
Melihat Ellen membisu, William mengencangkan bibirnya, dan menatap kepala Ellen yang bersandar lemah di bahunya. “ Hari ini bangun terlalu pagi dan langsung berangkat. kamu juga sudah lelah, tidurlah dulu sebentar. “
Ellen berkedip, air matanya terus mengalir.
William berdiam diri selama beberapa detik, kemudian menggendong Ellen dan membaringkannya di tempat tidur.
William menatapnya dan kedua lengannya masih memeganginya, Ellen dengan amarahnya menutup mata.
William mengusap kedua sisi mata Ellen seperti air sungai mengalir, hatinya sedikit tergores, dan dia membelai lembut sudut mata Ellen dengan tangan besarnya, lalu mencium alisnya dengan hati yang sedih, barulah kemudian mengambil selimut dan menutupinya, duduk di samping tempat tidur, dan menatap Ellen dengan dalam.
Ellen tahu dia belum pergi, jadi dia tidak membuka matanya.
Tidak tahu apakah benar-benar sudah lelah, atau air matanya yang menutupi mata, dan dalam kebingungan, akhirnya terlelap juga.
William menunggu Ellen tertidur, kemudian dia pergi ke kamar mandi dan membawa handuk untuk mencuci wajahnya, dengan gerakan yang lembut mengusap kedua mata Ellen yang baru siap menangis, setelah itu, barulah dia berdiri dan meninggalkan kamar Ellen.
...
Baru saja William keluar dari kamar Ellen, dan Aron datang membawa setumpuk dokumen. Dia datang bersama tim khusus desain interior yang sebelumnya dipesan oleh William
William menjelaskan permintaan dan poin penting dalam renovasi kepada tim desain.
Tim desain yang Aron cari adalah tim desain kelas atas. Tentu saja, William tidak perlu terlalu banyak bicara. Dia hanya menyebutkan beberapa permintaan, dan mereka lebih kurang sudah mengetahuinya apa maksudnya.
Selanjutnya, William membawa Aron ke ruangan pustaka lantai dua.
Dalam ruangan pustaka.
Aron melaporkan secara rinci ke William hal-hal penting yang terjadi dalam pembukuan Perusahaan beberapa hari ini.
Selesai.
Aron menghela nafas dan menatap alis dinginnya William yang duduk di kursi bos, kemudian berbisik, “ ... Presdir, ada hal lain.”
William tidak menolehnya, hanya menghentikan sebentar jarinya pada lembaran dokumen.
“ ... Hasil akuisisi kita atas tanah Menshui dengan Perusahaan Luqing sudah keluar. Perusahaan Luqing yang mendapatkan hak atas tanah Menshui .” Aron selesai bicara, punggungnya mendingin.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Grup Perusahaan Dilsen kalah.
Dari dulu sampai sekarang Grup Perusahaan Dilsen selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, kecuali Grup Perusahaan Dilsen tidak menginginkannya, dan selama ini tidak pernah terjadi hal yang seperti sekarang ini!
Lagi pula.
Perusahaan Luqing ini baru saja didirikan di Kota Tong dalam dua tahun terakhir dan mereka belum terdaftar. Namun, dalam akuisisi tanah Menshui ini, mereka berhasil melewati kompetisi, dan pada akhirnya “ merebut” tanah Menshui dari tangan Grup Perusahaan Dilsen ...
Beberapa hari ini, semua media di kota Tong melaporkan kejadian ini.
Dan media bahkan mengatakan bahwa dari awal hingga akhir suatu perkembangan akan menunjukkan hasil yang berbeda, dan sesuatu yang sudah berjalan lama, perfomanya akan menurun.
Mereka juga mengatakan bahwa Grup Perusahaan Dilsen tidak pernah terkalahkan selama ratusan tahun di Kota Tong, dan sekarang munculah Luqing di kota Tong sebagai perusahaan unggulan.
Kali ini Luqing mengalahkan Grup Perusahaan Dilsen dan menjadi pemenang terbesar dalam akuisisi tanah Menshui , yang merupakan langkah pertama bagi Grup Perusahaan Dilsen untuk turun dari “ puncak raja” di kota Tong.
“ Aku mengerti.”
Aron sudah menyiapkan mental untuk dikritik, tapi yang terjadi adalah William hanya meresponnya dengan beberapa kata yang begitu dingin dan tenang.
Aron tertegun, menatap William dengan tidak percaya.
Apakah presdir tidak memahami dengan benar perkataannya?
“ Apakah ada hal yang lain lagi?”
William menatap Aron dengan nada dingin.
“ ... Tidak.” Sudut bibir Aron bergerak dan berkata.
William kembali melihat dokumennya.
Aron tertegun dan berdiri sebentar disana, kemudian menggaruk kepalanya dengan canggung, lalu berbalik, dan berjalan keluar dari ruang pustaka.
Aron melangkah keluar dari ruang pustaka dan menutup pintu.
Dia berdiri di depan pintu, dan memikirkan sikap William.
Tetapi setelah berpikir sejenak, tidak ada apapun yang muncul dipikirannya.
Aron menggelengkan kepalanya dan menoleh ke pintu ruang pustaka.
Jadi karena begini, dia tidak bisa menjadi bos.
Karena dia tidak bisa menebak pikiran dan rencana seseorang sama sekali.
Aron memasukkan tangannya kedalam saku dan bergegas ke lantai atas. Dia harus kembali ke perusahaan dan memberi tahu para veteran, sehingga mereka tidak perlu lagi khawatir tentang kehilangan akuisisi ini, karena seseorang itu bahkan tidak peduli sama sekali.
...
Ellen tidur sampai tengah hari, Dia bangun setelah Darmi datang ke kamar dan membangunkannya untuk makan siang,
Melihat dia yang sudah terbangun, Darmi tersenyum, dan berbalik badan keluar dari kamar.
Ellen sedang berbaring di tempat tidur, mungkin menangis terlalu lama. Ketika dia membuka matanya, matanya terasa sakit.
Ellen bangun dan duduk di tempat tidur kemudian menatap kamarnya.
Kamar tidur ini persis sama dengan ketika dia pergi, kamar dengan penuh aroma bunga.
Ada juga, kertas ujian yang belum selesai di atas meja.
Setiap detail kecil terlihat seperti saat dia pergi.
Ellen sedang duduk di tempat tidur. Ada perasaan seperti dia tidak pernah meninggalkan peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Tetapi ini hanyalah sebuah mimpi saja.
Ellen memperhatikan beberapa saat dan menggosok hidungnya, kemudian bangun dari tempat tidur, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Ellen pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian.
Pemandangan ruang ganti itu persis seperti yang dia pikirkan.
Itu persis sama dengan saat dia pergi, bahkan posisinya untuk menggantung seragam sekolah juga tidak berubah.
Ellen berjalan menuju ke arah baju seragam sekolah, kemudian dia mengambil dan menyentuhnya, dan di lubuk hatinya kemudian bernostalgia.
Ellen tidak bisa tidak berpikir.
Jika dia tidak pergi tahun itu, dia akan mengambil ujian masuk perguruan tinggi sesuai jadwal. Sekarang, dia mungkin masih kuliah ... seperti jalur kehidupan kebanyakan orang, tidak ada kejutan hidup yang tidak terduga.
Sayang sekali.
Di dunia, tidak ada jika.
Buat apa menyesal?
Ellen menarik napas dalam-dalam, dan meletakkan seragam sekolahnya. Dia mengambil sweter longgar berwarna kuning dan celana putih dari deretan pakaian yang tergantung di ruang ganti, kemudian meninggalkan ruang ganti, dan berjalan keluar dari pintu kamar.
...
Ellen melangkah keluar dari kamar dan mengedipkan matanya.
Um, itu karena cahayanya terlalu terang ...
Ellen perlahan-lahan berjalan ke depan pagar dan melihat ke bawah.
Lampu di ruang tamu tidak dihidupkan, dan dia mencium bau sinar matahari di lantai atas.
Ellen menoleh ke arah jendela dan menyadari besi yang menutupi jendela telah dilepas.
Ditambah dengan cuaca yang bagus hari ini, sinar matahari tembus melalui jendela-jendela besar dan pintu masuk, menghilangkan semua kesuraman yang dia rasakan ketika pertama kali memasuki rumah ini di pagi hari.
Perasaan Ellen yang sedikit tertekan tadi, sekarang sudah merasa jauh lebih baik.
“ Nona, cepat turun makan, kedua tuan muda sudah tidak bisa sabar menunggu.” Darmi keluar dari ruang makan dan melihat Ellen masih berdiri dengan linglung di lantai dua dan tersenyum.
“ ... Oh, segera kesana.”
Ellen menoleh ke arah Darmi, dia berbicara sambil turun ke bawah.
Di lantai bawah, saat melewati ruang tamu, Ellen melihat bantal boneka di sofa, mainan di atas meja di ruang tamu, dan tambahan dua pot tanaman hijau ...
Seluruh ruang tamu tampak sangat cerah dan tidak lagi membosankan dan berwarna hitam kaku.
Melihat tatapan Ellen, Darmi berkata, “ Ini dibuat khusus oleh tim desainer. Karena khawatir Anda dan para tuan muda tidak nyaman, Tuan membiarkan mereka pergi siang ini dan meminta mereka kembali lagi di sore hari.”
Ellen mendengarkannya, menatap Darmi, dan tidak bersuara.
Darmi juga tidak bersuara, keduanya berjalan menuju ruang makan.
Di ruang makan, Ellen hanya melihat dua anak kecil yang duduk di meja sedang menunggu untuk makan, tetapi dia tidak melihat William ...
Ellen mengedipkan matanya dan duduk di seberang Tino dan Nino.
Setelah Darmi mengambil nasi untuk Ellen, barulah dia meninggalkan ruang makan.
Sudut mata Ellen melihat Darmi keluar dari ruang makan dan mengerutkan kening.
Nino memasukkan bakso ke dalam mulutnya dan mengunyah, kemudian menghadap Ellen dan berkata dengan samar, “ Papa ada di ruang pustaka, dan Nenek Darmi berkata barusan bawahan papa mengambil banyak dokumen untuk papa kerjakan.”
“ ...”
“ papa sangat kasian, dia terlalu sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk makan.”
“ ...”
Novel Terkait
My Perfect Lady
AliciaSiswi Yang Lembut
Purn. Kenzi KusyadiTernyata Suamiku Seorang Milioner
Star AngelMenaklukkan Suami CEO
Red MapleDewa Perang Greget
Budi MaIstri kontrakku
RasudinMy Tough Bodyguard
Crystal SongHanya Kamu Hidupku×
- Bab 1 Maukah Ikut Denganku
- Bab 2 Buah Hati
- Bab 3 Paman Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 4 Dia Seorang Diktator
- Bab 5 Kenapa Tidak mengunci Pintu
- Bab 6 Tidak Ngambek Lagi
- Bab 7 Masa Muda Para Remaja
- Bab 8 Bocah Itu Dari Kecil Dekat Dengan William
- Bab 9 Paman Ketiga, Kamu Sangat Baik Padaku
- Bab 10 Dia Sangat Ketakutan
- Bab 11 Makan Malam Penuh Cinta
- Bab 12 Sup Tonik Untuknya
- Bab 13 Detak Jantung Yang Sangat Kencang
- Bab 14 Cinta Yang Berbunga
- Bab 15 Tiga Bulan Lagi, Kamu Akan Berusia 18 Tahun
- Bab 16 Calon Bibinya Akan Sangat Beruntung
- Bab 17 Melanggar Lagi, Lihat Bagaimana Aku Mematahkan Kakimu!
- BAB 18 Pernyataan Cinta Yang Begitu Tiba-Tiba
- Bab 19 Mabuk
- Bab 20 Paman Ketiga, Jantungmu Berdegup Kencang Sekali
- Bab 21 Seperti Jelly Yang Dingin
- Bab 22 Bagaimana Perasaanmu Pada Paman Ketiga?
- Bab 23 Apakah Kamu Punya Orang Yang Disukai?
- Bab 24 Calon Istri
- Bab 25 Ellen, Sikap Apa Itu
- Bab 26 Hangat Sampai Mengebulkan Asap
- Bab 27 Pertama Kali Melihat William Kehilangan Kontrol
- Bab 28 Sakit, Sakit Setengah Mati
- Bab 29 Tidak Tinggal Denganku, Kamu Mau Tinggal Dengan Siapa
- Bab 30 Hati Ellen Sangat Kacau
- Bab 31 Ellen Terasa Seperti Sedang Bermimpi Buruk
- Bab 32 Kalau Aku Menyukaimu, Apakah Membuatmu Takut ?
- Bab 33 Apakah Gigitan Nyamuk
- Bab 34 Sangat sakit
- Bab 35 Keposesifan William Dilsen
- Bab 36 Halo, Aku Tunggu Kamu
- Bab 37 Aku Ingin Jadi Kekasihmu
- Bab 38 Temperamen Buruk Ini Mirip Siapa
- Bab 39 Demimu Rasa Dingin, Angin Bertiup pun Kutahan
- Bab 40 Ellen, Kamu Jahat Ya
- Bab 41 Tuan Menyuruhku Menjemputmu
- Bab 42 Dipukul Oleh William Dilsen!
- Bab 43 Kamu Suka Pria Tipe Apa
- Bab 44 Gadisnya
- Bab 45 Dia Bertanya Padanya Kenapa Tidak Menelepon
- Bab 46 Katakan, Apakah Paman Ketiga Mengganggumu?
- Bab 47 Jantung Berdebar
- Bab 48 Rahasia, Tidak Boleh Dikatakan
- Bab 49 Orang Yang Menggertakmu, Semua Dibereskan Olehmu
- Bab 50 Perasaan Presdir William Pada Ellen Bukan Perasaan Biasa
- Bab 51 Bagaimana Jika Aku Menikahinya
- Bab 52 Dia Adalah Bintang Hamid, Pacarku
- Bab 53 Paman Ketiga, Kakiku Sakit
- Bab 54 William Sampai Ingin Sekali Membunuh Dirinya Sendiri
- Bab 55 Apakah Kamu Tidak Takut Ellen Membencimu?
- Bab 56 Sakit Sekali
- Bab 57 Bisakah Kamu Menerimaku Semalam?
- Bab 58 Paman Ketigamu
- BAB 59 Aura Penuh William
- Bab 60 Salah Minum Obat
- Bab 61 Ellen, Kamu Bisa, Kamu Sangat Hebat
- Bab 62 Aku, Aku Sudah Mengantuk
- Bab 63 Sengaja Membuat Dia Marah
- Bab 64 Cinta Kamu Terhadap Dia Sangat Dalam
- Bab 65 Orang Yang Paling Dekat
- Bab 66 Terasa Seperti Ayah Yang Sedang Menggandeng Putrinya
- Bab 67 Paman Ketiga, Ini Di Gerbang Sekolah
- Bab 68 Kebiasaan Jelek Yang Suka Memeluk Orang
- BAB 69 Legenda Cinta Pada Pandangan Pertama
- BAB 70 Ellen, Darah Kamu Mengalir Begitu Banyak
- Bab 71 Sudah Merindukan Paman Ketiga
- Bab 72 Paman Ketiga, Apakah Aku Mengganggumu Kerja
- Bab 73 Hanya Kamu Yang Menyayangiku
- Bab 74 Ellen Tersenyum Seperti Tidak Ada Yang Terjadi
- Bab 75 Jangan Menangis, Semua Salah Paman Ketiga
- Bab 76 Tangannya Kenapa Begitu Panas
- Bab 77 Kapan Ellenku Menjadi Gagap
- Bab 78 Ini Merupakan Perselisihan Keluarga
- Bab 79 Jantung Ellen Seolah-olah Akan Meledak
- Bab 80 Ellen, Pikiranmu Semakin Kotor.
- Bab 81 Mulut Tuan Terlalu Jahat
- Bab 82 Sakit Perut, Sangat Sakit!
- Bab 83 Sudah Hampir Menangis
- Bab 84 Semuanya Menyukai Gadis Yang Lebih Kecil
- Bab 85 Dia Sedang Pacaran Dengan Pamannya
- Bab 86 Wanita Ini Benar-Benar Sangat Kejam
- Bab 87 Hanya Menyukai Kamu Seorang
- Bab 88 Pria Ini Bertingkah Begitu Tenang
- Bab 89 Ada Yang Sedang Menahan Diri Untuk Mengeluarkan Jurus Pamungkas
- Bab 90 Paman Ketiga, Tolong!
- Bab 91 Cincang Mereka
- Bab 92 Paman Ketiga, Aku Pasti Akan Patuh
- Bab 93 Jangan Ganggu, Aku Cuci Muka
- Bab 94 Ellen Cemburu!
- Bab 95 Paman Ketiga Dia, Menggoda Seorang Gadis Baik
- Bab 96 Sungguh, Sangat Merugikan
- Bab 97 Dia Merasa Dirinya Akan Pingsan
- Bab 98 Paman Ketiga, Apakah Kamu Mandi Tadi
- Bab 99 Penampilan Pria Terhormat
- Bab 100 Paman Ketiga, Kamu Kemari
- Bab 101 Pintu Kamar Ditendang Terbuka Dari Luar
- Bab 102 Paman Ketiga, Kamu Jangan Begitu
- Bab 103 Dia.......... Sudah Dinikahi!
- Bab 104 Wanitaku, Istriku
- Bab 105 Paman Ketiga, Kamu Menganggu Orang!
- Bab 106 Orang Lain Akan Melihatnya
- Bab 107 Kerja Sama
- Bab 108 Dia Adalah Satu-Satunya
- Bab 109 Memanggil Suamiku
- Bab 110 Berhasil Berpacaran Dengannya
- Bab 111 Malu Sampai Ingin Menyembunyikan Diri Di Bawah Tanah
- Bab 112 Paman Ketiga, Kamu Sangat Hebat
- Bab 113 Resah
- Bab 114 Ellen, Aku Mencintaimu
- Bab 115 Sedikit Kasih Sayang
- Bab 116 Paman Ketiga, Maafkan Aku
- Bab 117 Tidak Apa Paman Ketiga
- Bab 118 Hamil!
- Bab 119 Hubunganku Dengan Paman Ketiga Cukup Baik
- Bab 120 Dengannya, 10 Jari Terkait Erat
- Bab 121 Tidak Tega
- Bab 122 Menggoda Pria Lain Di Belakang Suami
- Bab 123 Gadis Ini Makin Lama Makin Nakal
- Bab 124 Dia Hamil
- Bab 125 Paman Ketiga, Ada Apa Denganmu
- Bab 126 Ellen, Apa Yang Ingin Kamu Lakukan
- Bab 127 William, Aku Sangat Kecewa Padamu
- Bab 128 Hamil 67 Hari
- Bab 129 Ellen, Dengarkan Kata-Kata Paman
- Bab 130 Aku Tahu Kamu Paling Sayang Kepadaku
- Bab 131 Terima Kasih Paman Ketiga
- Bab 132 Pria Yang Menyukai Ellen
- Bab 133 Tidak Bisa Mengontrol Diri
- Bab 134 Mengetahui Masalah Dia Dan Paman Ketiga
- Bab 135 Jangan Memaksa Aku Marah!
- Bab 136 Peringkat Pertama Di Dalam Hatimu Harus Aku
- Bab 137 Ingin Menikah Dengan Dia
- Bab 138 Hanya Ketika Takut Ia Akan Berhati-hati.
- Bab 139 Dia Terlalu Malu Untuk Mengatakannya
- Bab 140 Paman Ketiga, Apakah Kita Bisa Lebih Lembut
- Bab 141 Wanita Muda Lajang Yang Cocok Untuk Menikah
- Bab 142 Apakah Berkualifikasi Menjadi Cucu Menantumu
- Bab 143 William Dilsen, Aku Pasti Akan Mendapatkanmu
- Bab 144 Hatinya Terasa Hangat
- Bab 145 Hati-Hati Aku Tidak Membiarkanmu Pergi
- Bab 146 Apakah Kamu Masih Menginginkanku
- Bab 147 Setiap Hari Setiap Menit Setiap Detik Memikirkanmu
- Bab 148 Merusak Kesanmu Sebagai Seorang Presiden
- Bab 149 Mengambil Kembali Inisiatif
- Bab 150 Menikahkan Kalian Berdua Secepat Mungkin
- Bab 151 Menyambut Kedatangan Ipar Ketiga
- Bab 152 Ellen Yang Sangat Terpesona Padanya
- Bab 153 Ellen Yang Lincah
- Bab 154 Kucing Rakus
- Bab 155 Paman Ketiga, Aku Mulai Takut
- Bab 156 Manusia Licik
- Bab 157 Satu-satunya Calon Menantu
- Bab 158 Aku Tidak Akan Membiarkanmu Menunggu Terlalu Lama
- Bab 159 Kelainan Kejiwaan, Psikopat
- Bab 160 Tidak Ada Orang Yang Bisa Memisahkan Kita
- Bab 161 Ellen, Kesayangan
- Bab 162 Panggil William dan Ellen
- Bab 163 Paman Ketiga Sekarang Terluka, Sangat Terluka
- Bab 164 Ladang Subur Jangan Diberikan Kepada Orang Lain
- Bab 165 Gadis Yang Membuat Dia Merasa Sangat Sakit Hati
- Bab 166 Kamu Harus Bersamaku
- Bab 167 Aku Menunggumu, Paman Ketiga
- Bab 168 Paman Ketiga Memelukmu Tidur
- Bab 169 Aku Benar Menyukai Paman Ketiga
- Bab 170 Kesabaranku Ada Batasnya
- Bab 171 Sekarang Mati Pun Juga Tidak Disayangkan
- Bab 172 Ellen Mengalami Kecelakaan
- Bab 173 Ellen, Paman Ketiga Salah.
- Bab 147 Aku Dan Ellen Sudah Mengurus Surat Pernikahan
- Bab 175 Kebahagiaan Yang Tidak Bisa Dibendung
- Bab 176 Paman, Aku Memukul Seseorang
- Bab 177 Ibu Mertua, Suami
- Bab 178 Dia Benar-Benar Memanggilku Tante
- Bab 179 Tidak Ingin Berpisah Dengan Paman
- Bab 180 Bergantung Seumur HIdup
- Bab 181 Aku dan Paman Ketiga Saling Mencintai
- Bab 182 Jamuan Selamat Datang
- Bab 183 Jangan Menangis Jika Aku Tidak Berada Di Sisi Mu.
- Bab 184 Kamu Membuat Aku Kesakitan!
- Bab 185 Latar Belakang William Yang Dalam Dan Mengerikan
- Bab 186 Paman Ketiga Menjemputmu Pulang Rumah
- Bab 187 Telapak Tangannya Hangat dan Kuat
- Bab 188 Hamil Anak Kembar
- Bab 189 Memang Tidak Tahu Malu
- Bab 190 Jangan Menangis Lagi, Ya
- Bab 191 Ellen, Aku Mau Menikahi Dia!
- Bab 192 Tidak Ada Siapapun Yang Dapat Membawamu Pergi Dariku
- Bab 193 Memalukan
- Bab 194 Kamu Harus Datang Menjemputku, Datang Tepat Waktu
- Bab 195 Aku Memang Menyukainya, Tidak Bisa Merelakannya.
- Bab 196 Takut? Kenapa Takut?
- Bab 197 Telah Tercetak di Hati
- Bab 198 Pasti Anak Ini Lagi Yang Membuat Masalah Ini Terbongkar
- Bab 199 Tidak Menyesal
- Bab 200 Ellen, Jangan Takut
- Bab 201 Dia Pernah Sangat Mencintai Pria Ini
- Bab 202 Sangat Jelas Itu Adalah Suara Ellen
- Bab 203 Paman Ketiga Paling Sayang Aku
- Bab 204 William Yang Gila
- Bab 205 Orang Kesayanganmu
- Bab 206 Menahan Cedera Internal
- Bab 207 Aku Rindu Padamu
- Bab 208 CEO Dilsen Group, William Dilsen
- Bab 209 Dia Ingin Melihat Betapa Cantiknya Agnes Nie
- Bab 210 Lebih Dingin Dibandingkan Empat Tahun Lalu
- Bab 211 Di Atas Kepala Terdapat Dua Gumpal Awan Hitam
- Bab 212 Benar-Benar Sakit
- Bab 213 Aku Bunuh Kamu Saja Sekarang
- Bab 214 Apakah Kamu Ingin Aku?
- Bab 215 Aku Di Sini, Kamu Mau Pergi Kemana?
- Bab 216 Kalau Berani Coba Panggil Sekali Lagi Sebutan Tuan William Dilsen
- Bab 217 Bom Gula
- Bab 218 Dia dan Anaknya
- Bab 219 Aku dan Mamamu Adalah ... Teman
- Bab 220 Permata
- Bab 221 Selamanya Selalu Begitu Berkuasa, Dan Kuat
- Bab 222 Kamu Tidak Menginginkan Aku Lagi
- Bab 223 Paman Ketiga Dia Bukan Tidak Peduli Padaku
- Bab 224 Apakah Hatimu Masih Ada Pamanmu
- Bab 225 Dia, Milikku
- Bab 226 Sangat Rindu Padamu
- Bab 227 Paman Ketiga, Aku Sangat Rindu Padamu.
- Bab 228 Ellen Nie, Kamu Sialan !
- Bab 229 Aku Akan Datang Malam Ini
- Bab 230 Cinta Dia Sangat Dalam Dan Kuat
- Bab 231 Sudah Hampir Gila Dibuatmu
- Bab 232 Melakukan Sesuatu Yang Menarik
- Bab 233 Ternyata Kembar
- Bab 234 Jangan Terlalu Merindukanku
- Bab 235 Paman Ketiga, Perutku Sangat Sakit
- Bab 236 Ellen, Aku Begitu Mencintaimu
- Bab 237 Orang Yang Paling Penting Dan Yang Paling Dicintai
- Bab 238 Dia Tidak Tahu Seberapa Menakutkan Dirinya
- Bab 239 Seperti Makan Madu Dan Terasa Sangat Manis
- Bab 240 Wajahmu Begitu Merah, Apakah Kamu Merasa Panas?
- Bab 241 Aku Juga Ingin Makan
- Bab 242 Kamu Sekarang Enggan Untuk Berpisah Denganku Ya
- Bab 243 Perlukah Aku Pergi Sekarang?
- Bab 244 Tempat Terlarang Bagi William
- Bab 245 Berubah Menjadi Prihatin dan Lembut
- Bab 246 Ayolah Ke Sini, Jangan Memaksaku Melakukannya
- Bab 247 Aku Akan Bergaul Lembut Denganmu
- Bab 248 Dia Adalah Ayahku
- Bab 249 Istri Dan Anakku
- Bab 250 Biarkan Aku Memelukmu
- Bab 251 Dia Memanggilnya ... ...Suami
- Bab 252 Tidak Tahu Betapa Tampannya Dia
- Bab 253 Perubahan Suasana Hati Terlalu Cepat
- Bab 254 Apakah Kamu Merasa Sangat Terharu
- Bab 255 Cantik Yang Tak Tertandingi
- Bab 256 Makan Sendiri Atau Disuapin, Pilih
- Bab 257 Pria Tidak Boleh Dimanjakan Tahu?
- Bab 258 Bukan Seperti Ini Caranya Merendahkan Seseorang
- Bab 259 Paman Ketiga, Tunggu Aku Sebentar
- Bab 260 William Yang Menempel Orang
- Bab 261 Pria Tua Yang Ruwet
- Bab 262 Jika Bukan Kamu Yang Katakan, Untuk Apa Kamu Bersembunyi
- Bab 263 Diintimidasi Seumur Hidup
- Bab 264 Paman Ketiga, Aku Merasa Tidak Nyaman
- Bab 265 Pulang ke Kota Tong 1
- Bab 266 Pulang ke Kota Tong 2
- Bab 267 William, Aku Benci Padamu
- Bab 268 Sudah Pulang
- Bab 269 Tidak Memberiku Raut Wajah Yang Baik
- Bab 270 Ayah Sangat Kasian
- Bab 271 Mati Pun Tidak Akan Berpisah Denganmu
- Bab 272 Beraninya Kamu Meninggalkanku Begitu Lama
- Bab 273 Merasa Tertekan
- Bab 274 Menimbulkan Imajinasi
- Bab 275 Menunggu Panggilan Teleponmu
- Bab 276 Coba Panggil Aku Suami
- Bab 277 Bagaimana Kalau Anak-Anak?
- Bab 278 Apakah Kamu Bisa Lebih Kelewatan?
- Bab 279 Aku Telah Menunggu Kamu Begitu Lama
- Bab 280 Bahagia, Beruntung
- Bab 281 Dia Pernah Bilang Dia Mencintaiku
- Bab 282 Menghapus Kegalauan Dengan Alkohol
- Bab 283 Bangun Pagi Saja Sudah Begitu Menempel
- Bab 284 Semua Berjalan Sesuai Rencana
- Bab 285 Selain Kamu, Tidak Ada Yang Bisa Menyakitiku
- Bab 286 Jika Anak Itu Masih Hidup
- Bab 287 Jangan Sampai Ellen Tahu
- Bab 288 Menyanyikan Lagu Tidur Apa Untuk Paman Ketiga
- Bab 289 Pulang Rumah
- Bab 290 Aku Rindu Kamu
- Bab 291 Tunggu Aku Pulang
- Bab 292 Malu
- Bab 293 Paman Ketiga, Jangan Bicara
- Bab 294 Kelak Aku Akan Lebih Baik Lagi Padamu
- Bab 295 Sungguh Sudah Ada
- Bab 296 Comelkah?
- Bab 297 Aku Sudah Iri
- Bab 298 Sangat Enak
- Bab 299 Ternyata Tidak Mati
- Bab 300 Kamu Memenuhi Hatiku Dengan Penuh
- Bab 301 Tidak Memakai Kontrasepsi
- Bab 302 Sangat Nyaman
- Bab 303 Marah
- Bab 304 Aku Bukan Anak Kecil Lagi
- Bab 305 Kamu Kembali Saja Sudah Cukup
- Bab 306 Panas
- Bab 307 Apakah Kamu Tidak Tahu Malu?
- Bab 308 Serahkan Padaku Untuk Menanganinya
- Bab 309 Panggil Aku William, William Dilsen, Suami
- Bab 310 Lugu dan Cuek
- Bab 311 X Berikan Aku Sedikit kasih Sayang Memangnya Kenapa
- Bab 312 Istri
- Bab 313 Kalau Aku Sudah Tidur, Bagaimana ?
- Bab 314 Ini Rumah Ayahku
- Bab 315 Apakah Sedang Meluapkan Amarah Padaku
- Bab 316 Gadis Kecil
- Bab 317 Bekingannya Sangat Kuat
- Bab 318 Wanita Nomor Dua Tercantik di Dunia
- Bab 319 Sini, Istriku
- Bab 320 Membesarkan Anak Yang Luar Biasa
- Bab 321 Tergila-Gila Dengan Tanpa Penyesalan
- Bab 322 Selain Kamu, Tidak Akan Ada Wanita Lain Lagi
- Bab 323 Mungkin Ayah Palsu!
- Bab 324 Sudah Sakit Parah, Tidak Jauh Dari Kematian
- Bab 325 Siapa Suruh Aku Menyukainya
- Bab 326 Suamiku, Kamu Lelah Tidak
- Bab 327 Dia Takut Tidak Sanggup Mengendalikan Dirinya
- Bab 328 Pukulan Yang Paling Mematikan
- Bab 329 Aku Sangat Sedih, Sampai Mau Mati Rasanya
- Bab 330 Hanya Ada Kamu Dalam Hati
- Bab 331 Mati Sepuluh Ribu Kali Pun Tidak Cukup
- Bab 332 Mari Kita Bertaruh
- Bab 333 Wanita Kecil
- Bab 334 Hubungan Percintaannya Agak Berantakan
- Bab 335 Meninggal Di Tempat
- Bab 336 Waktu Sudah Tidak Banyak
- Bab 337 Hamil Empat Minggu
- Bab 338 Di Mana Putriku
- Bab 339 Mengadopsi
- Bab 340 Jangan Mengecewakan
- Bab 341 Membenci Orang Menyentuhnya
- Bab 342 Suka Hati Kamu
- Bab 343 Cucunya Terlalu Gembira Hingga Tampak Bodoh
- Bab 344 Aku Paham, Kalian Iri Padaku
- Bab 345 Ide Apaan
- Bab 346 Wanita Yang Sedang Hamil Ingatannya Akan Menjadi Turun
- Bab 347 Tampaknya Sangat Lapar
- Bab 348 Cepat Bunuh Monster Ini!
- Bab 349 Paman Nulu Sudah Menyukai Orang Lain
- Bab 350 Bersedia Menikahinya Atau Tidak
- Bab 351 Ternyata Kembar
- Bab 352 Kondisi Kritis
- Bab 353 Aku Mencintai Semua Yang Ada Padamu, Semua Yang Kamu Miliki
- Bab 354 Tidak Boleh Membuat Masalah
- Bab 355 Nona Ellen, Lama Tidak Jumpa
- Bab 356 Kalian Para Pria Memang Tidak Bisa Mendengar Kenyataan
- Bab 357 Kamu Bukan Hanya Kurang Cerdas, Bahkan Buta
- Bab 358 Kamu Sekarang Adalah Satu-Satunya Wanita Di Keluarga Ini
- Bab 359 Aku Tidak Tahu Harus Bagaimana
- Bab 360 Ya, Aku Masih Memilikimu
- Bab 361 Kado Ulang Tahun
- Bab 362 Kamu Jadi Jahat
- Bab 363 Tatapan Tajam Yang Dilempar Kepadanya
- Bab 364 Pria Yang Menyukai Ellen
- Bab 365 Lengan Tidak BIsa Mengalahkan Paha
- Bab 366 Hal Terlucu
- Bab 367 Ellen, Kamu Sangat Hebat!
- Bab 368 Pria Yang Mencintai Aku Sampai Mati
- Bab 369 Penglihatan yang serius dan mendalam
- Bab 370 Keinginan yang Menggebu-Gebu untuk Menaklukan dan Posesif
- Bab 371 Suami, Bicara Baik-Baik
- Bab 372 Lebih Baik Mabuk Seumur Hidup
- Bab 373 Tino Dijemput Orang Lain
- Bab 374 Tujuanku Adalah Kamu, Dan Hanya Kamu
- Bab 375 Memang Banyak Bencana dan Kesulitan!
- Bab 376 Kelebihannya Tak Terhingga
- Bab 377 Dia Sudah Datang Mencariku
- Bab 378 Cepat Gendong Aku, Aku Sudah Tidak Kuat Berdiri
- Bab 379 Lelaki Yang Murah Hati Lebih Disukai Oleh Wanita
- Bab 380 Aku Tidak Sebanding Dengan Seorang Samsu
- Bab 381 Menurutlah, Jangan Menangis
- Bab 382 Kamu Pria Tua Apanya Yang Luar Biasa
- Bab 383 Ternyata Dia Bukan Diadopsi oleh Paman Ketiga
- Bab 384 Dasar Anak Keras Kepala
- Bab 385 Ellen, Naiklah
- Bab 386 Mengabaikanku Atau Melupakannya Saja
- Bab 387 Busa Merah Muda Yang Memenuhi Seluruh Udara
- Bab 388 Ellen Nie Adalah Istri Dia
- Bab 389 Apakah Kamu Berani Memberi Tahu Aku Namamu?
- Bab 309 Tidak Mau Bersama Siapapun Kecuali Dia, Tidak Mau Siapa Pun Kecuali Dia
- Bab 391 William Suami Idaman
- Bab 392 William Menempel Padanya, Membuat Dia Sangat Menyukainya
- Bab 393 Mencintai Baik Dan Buruk
- Bab 394 Sakit Hati
- Bab 395 Mengapa Wajahmu Merah
- Bab 396 Aku Tidak Bisa Menahan Diri
- Bab 397 Jantungnya Berdetak Lebih Cepat
- Bab 398 Hatinya Ingin Marah!
- Bab 399 Menghilang!
- Bab 400 Aku Benar-Benar Sangat Menyukaimu
- Bab 401 Intimidasi
- Bab 402 Mendapat Sedikit Keuntungan Dan Ingin Bertingkah
- Bab 403 Begitu Putus Asa Dan Merasa Rendah Diri Dalam Mencintai Seseorang.
- Bab 404 Tidak Ada Siapapun Yang Lebih Penting Darimu!
- Bab 405 Kaisar Tua Yang Begitu Sombong dan Arogan
- Bab 406 Terbiasa Sekali Berkata Manis Untuk Membujukku.
- Bab 407 Dia Adalah Iblis Yang Selalu Dibicarakan Orang Lain
- Bab 408 Pria Yang Bisa Aku Percaya Seumur Hidup
- Bab 409 Tapi Aku Sudah Suka padamu, Sudah Cinta padamu
- Bab 410 Aku Akan Menikahinya!
- Bab 411 Tadi Kamu Diam-Diam Melihatku Lama Sekali
- Bab 412 Paman Ketiga Tidak Akan Tega Menyakitimu
- Bab 413 Apa Hati Nurani Kalian Tidak Sakit
- Bab 414 Sami Nulu Rupanya Telah Pergi ke Kota Yu!
- Bab 415 Suara Ini Terlalu Renyah Sekali
- Bab 416 Hanya Merindukanmu, Ingin Datang Melihatmu
- Bab 417 Aku Akan Tunjukkan Kepadamu
- Bab 418 Gendut Biarlah Gendut, Aku Sanggup Merawatnya
- Bab 419 Aku Tau Bahwa Kamu Peduli Padaku
- Bab 420 Merindukanmu Sampai Hatiku Sakit
- Bab 421 Sayangku, Sungguh Indah Memilikimu
- Bab 422 Ditambah Kamu Seorang Juga Tidak Sempit
- Bab 423 Pria Yang Aku Cintai Tidak Mencintaiku
- Bab 424 Hanya Saja Sedikit Sakit Hati
- Bab 425 Aku Tidak Akan Menolakmu
- Bab 246 Suamiku, Aku Bantu Kamu Mengeringkan Rambut
- Bab 427 Bersama Dengan Yang Dicinta
- Bab 428 Ikannya Sudah Terperangkap!
- Bab 429 Aku Tidak Akan Memaafkanmu
- Bab 430 Kamu Membuatku Mengagumimu
- Bab 431 Riwayatmu Telah Tamat!
- Bab 432 三叔, Aku Mencintaimu
- Bab 433 Kecerobohan Sesaat
- Bab 434 Paman Ketiga, Keren Sekali
- Bab 435 Anak Nakal Yang Minta Dipukul
- Bab 436 Ellen, Kamu Mantap Sekali!
- Bab 437 Kamu Akan Kehilanganku
- Bab 438 Paman Ketiga, Apakah Aku Terlalu Buruk
- Bab 439 Apa yang Harus Aku Lakukan Tanpamu?
- Bab 440 Sayang, Aku Cinta Padamu The End
- Bab 441 Mencari Nama
- Bab 442 Catatan Kehilangan Perhatian
- Bab 443 Catatan Cemburu 1
- Bab 444 Catatan Cemburu 2
- Bab 445 Catatan Bekerja
- Bab 446 Kamu Adalah Pengantin Wanitaku
- Bab 447 Memperbolehkanmu Setia Hanya Takut Kamu Marah Padaku
- Bab 448 Aku Mencari Calon Istriku Pani
- Bab 449 Pani, Apa Kamu Memaksaku Gila
- Bab 450 Paman Sumi, Lepaskan Aku
- Bab 451 Pria Ini Mengintimidasi Sekali!
- Bab 452 Pasti Mau Bersama Dengan Anak Gadisnya Ini
- Bab 453 Wanita Sialan
- Bab 454 Mengapa Dia Begitu Menuruti Kata-katanya
- Bab 455 Dia Berkata, Apakah Aku Sangat Baik?
- Bab 456 Kalau Aku Berkata Menyukai Kamu, Berarti Aku Menyukai Kamu
- BAB 457 Mulai Sekarang, Terbiasa Denganku
- Bab 458 Orang Jahat!
- Bab 459 Paman Nulu, Tidak Baik Dipandang Jika Kita Begini
- Bab 460 Pani, Kamu Imut Sekali
- Bab 461 Sedih Sampai Tidak Tidur Semalaman
- Bab 462 Cara Menghibur Dia
- Bab 463 Paman Nulu, Lepaskanlah Tanganku
- Bab 464 Hangat, Malu
- Bab 465 Apa Yang Akan Kamu Lakukan Kepadaku.
- Bab 466 Buat Apa Kamu Melompat Ke Sini
- Bab 467 Aku Pacarmu
- Bab 468 Diam, Aku Peluk Sebentar
- Bab 469 Aku Apanya Yang Tidak Sopan
- Bab 470 Tidak Tenang Kalau Biarkan Kamu Sendirian
- Bab 471 Gadis Bandel, Cepat Atau Lambat Akan Menghajarmu
- Bab 472 Paman Nulu, Jangan Mengusik Aku
- Bab 473 Bertunangan
- Bab 474 Pani, Aku Akan Mendobrak Masuk
- Bab 475 Pani, Kamu Menyiksaku
- Bab 476 Sudah Malam, Tinggal Saja
- Bab 477 Dandan dengan Cantik, Jangan Mempermalukanku
- Bab 478 Jangan Marah Lagi
- Bab 479 Bengong Apaan, Aku Sedang Menunggumu
- Bab 480 Tentu Bukan Rumahmu, Ini Rumahku
- Bab 481 Pani, Kamu Adalah Yang Pertama
- Bab 482 Hatinya Tidak Sedikit Menyukainya
- Bab 483 Mau Tidak Pindah Ke Rumahku
- Bab 484 Ciuman Pertama
- Bab 485 Aku Dilahirkan Tidak Berperasaan
- Bab 486 Tidak Bisa Lebih Bermuka Dua Lagi
- Bab 487 Paman Nulu Jangan Marah Lagi
- Bagian 488 Sedang Membicarakan Apa, Sampai Mengobrol Dengan Begitu Senang
- Bab 489 Menunggmu Dua Bulan Lagi, Jangan Harap Bisa Bersembunyi
- Bab 490 Berakar Ke Dalam Tulang
- Bab 491 Mau Membuat Aku Mati Karena Rindu Kepadamu Ya
- Bab 492 Kangen Aku Ya Kangen Aku, Buat Apa Mengontrolnya?
- Bab 493 Jangan Berbelok Sana Sini Denganku
- Bab 494 Mengejar Kamu Mati-Matian
- Bab 495 Mulai Sekarang Aku Menjemput Kamu Setiap Hari
- Bab 496 Sumi, Aku Membenci Kamu
- Bab 497 Aku Sumi Nulu, Tidak Akan Pernah Mengecewakanmu
- Bab 498 Tanjing, Jangan Pernah Meninggalkanku
- Bab 499 Paman Nulu, Bisakah Kamu Memelukku Dengan Erat
- Bab 500 Dia Adalah Rumahnya
- Bab 501 Kamu Barulah Orang Yang Paling Disayanginya
- Bab 502 Membujukmu Lalu Mendapatkanmu
- Bab 503 Calon Menantu Keluarga Nulu
- Bab 504 Panpan , Kenapa Kamu Begitu Baik
- Bab 505 Aku Ingin Makan Wangi, Yang Ada Ditanganmu
- Bab 506 Pani, Jangan Pikir Bisa Kabur!
- Bab 507 Tidak Tahu Malam Apa?
- Bab 508 Paman Sumi, Gendong Aku!
- Bab 509 Perlihatkan Padaku Milik Dirimu
- Bab 510 Acara Pertunanganmu Denganku
- Bab 511 Sumi Brengsek
- Bab 512 Pani, Kelak Aku Akan Mendengarkanmu
- Bab 513 Milik Dia Sepenuhnya
- Bab 514 Ratu Terhormat, Air Sudah Datang
- Bab 515 Bermimpi, Menanggapi Semua Permintaan
- Bab 516 Aku Tidak Waras, Saat Melihatmu Ketidak Warasanku Kambuh
- Bab 517 Tubuh Sakit, Hati Juga Sakit
- Bab 518 Bagaimanapun Tidak Boleh Kehilangan
- Bab 519 Paman Nulu, Kamu Sudah Datang
- Bab 520 Patah Hati
- Bab 521 Pani, Jangan Menakutkan Aku Seperti Ini
- Bab 522 Pani, Beraninya Kamu
- Bab 523 Pani, Aku Mencintaimu
- Bab 524 Pani Miliknya, Terlihat Sangat Cantik
- Bab 525 Gaun Yang Dirobek
- Bab 526 Paman Nulu, Kamu Percaya Aku
- Bab 527 Apakah Aku Buta
- Bab 528 Aku Merasa Sangat Sakit, Sakit Sampai Ingin Mati
- Bab 529 Pani, Jangan Tinggalkan Aku
- Bab 530 Sudah Berpisah Dan Tidak Berharapan Lagi
- Bab 531 Meninggalkan
- Bab 532 Empat Tahun Kemudian
- Bab 533 Pria Itu Datang Mencarimu, Apakah Kamu Berubah Pikiran
- Bab 534 Karena Terlalu Menyukaimu
- Bab 535 Apakah Kamu Ingin Kembali Bersamanya Lagi?
- Bab 536 Sial Aku Menyukai Kamu
- Bab 537 Sumi Nulu, Kamu Tidak Boleh Kesini !
- Bab 538 Pani, Apakah Kamu Masih Mau Aku
- Bab 539 Kamu Harus Mengerjakan Apa Yang Disuruh
- Bab 540 Dia memintanya untuk mengartikan aku mencintaimu
- Bab 541 Pani, aku mencintaimu!
- Bab 542 Pulang ke kota Tang, Menikah!
- Bab 543 Kamu Cepatlah Pulang, Aku Menunggumu
- Bab 544 Aku Tidak Bisa Merelakanmu!
- Bab 545 Apa Yang Kita Lakukan Di Hotel
- Bab 546 Apa Kamu Suka Anak-Anak
- Bab 547 Anak Ini Adalah Milik Sumi!
- Bab 548 Menuju Hotel, Takut Orang Kabur
- Bab 549 Kamu Terlihat Sangat Bersemangat
- Bab 550 Aku Memang Menginginkanmu!
- Bab 551 Sumi, Kamu Gila Ya!
- Bab 552 Aku Juga Sangat Bersimpati Padamu
- Bab 553 Kamu Dihatiku Hampir Sempurna
- Bab 554 Anak Ini Bukan Punya Riki !
- Bab 555 Cinta Membuat Orang Menjadi Gila
- Bab 556 Dia Pergi Atau Aku!
- Bab 557 Aku Tidak Mencintai Linsan, Yang Aku Cintai Adalah Kamu
- Bab 558 Aku Sedang Memasak Sup Ayam Untuk Panpan
- Bab 559 Manis Tidak
- Bab 560 Dia Adalah Seekor Rubah Jantan Tua
- Bab 561 Sumi, Tekadmu Sungguh Luar Biasa!
- Bab 562 Paman Nulu, Apakah Aku Dapat Mempercayaimu Lagi
- Bab 563 Aku Adalah Calon Suaminya
- Bab 564 Sumi, Kamu Sungguh Licik
- Bab 565 Pak Nulu, Sudah Menemukannya, Tenanglah!
- Bab 566 Pani, Berapa Lama Kamu Akan Menyembunyikannya Dariku
- Bab 567 Untuk Pertama Kalinya, Dia Tampak Kurus
- Bab 568 Paman Sumi, Kamu Harus Menutrisi Tubuhmu
- Bab 569 Kamu Menjijikan Sekali, Pergilah
- Bab 570 Orang Tua Ini Banyak Tingkah!
- Bab 571 Linsan Sama Sekali Tidak Dapat Dibandingkan Denganmu
- Bab 572 Kamu Unik Bagiku!
- Bab 573 Tidak Akan Membiarkanmu Sendirian Lagi.
- Bab 574 Selain Kamu, Tidak Ada Orang Lain
- Bab 575 Paman Sumi, Aku Disini
- Bab 576 Melakukan Segalanya Agar Kamu Bahagia
- Bab 577 Pani, Kita Tidak Akan Berpisah Lagi!
- Bab 578 Bocah, Kamu Nakal
- Bab 579 Tidak Ada Yang Beres
- Bab 580 Selain Kamu, Aku Tidak Menginginkan Siapapun!
- Bab 581 Ada Kesenjangan Generasi Tapi Kamu Tetap Milikku
- Bab 582 Kamu Pasti Sengaja Menyiksaku
- Bab 583 Paman Nulu, Apa Yang Kamu Lakukan
- Bab 584 Satu Dibanding Yang Lainnya Lebih Brutal Dan Mendominasi
- Bab 585 Masih saja Iri !
- Bab 586 Terpesona
- Bab 587 Memberitahumu sebuah rahasia
- Bab 588 Yang Paling Dicintai Sepanjang Hidup Ini
- Bab 589 Mengikatmu Di Sisiku Seumur Hidup
- Bab 590 Anak Yang Dikandung Pani Adalah Darah Daging Sumi
- Bab 591 Saling Mencintai
- Bab 592 Titik Lemah
- Bab 593 Paman Nulu, Aku Mencintaimu~
- Bab 594 Kamu Terlihat Cantik Ketika Sedang Cemburu!
- Bab 595 Menuruti Semua Permintaan
- Bab 596 Kamu Adalah Wanitaku
- Bab 597 Selama Dia Bahagia, Aku Rela Melakukan Apa Saja
- Bab 598 Pani, Kamu Tidak Boleh Bermasalah
- Bab 599 Kamu Membuatku Takut Hampir Mati!
- Bab 600 Takut Setengah Mati
- Bab 601 Apakah Kamu Menyukai Anak Kita
- Bab 602 Hatinya Hampir Hancur
- Bab 603 Kamu Membuat Pani Marah?
- Bab 604 Kesayangan Keluarga Nulu
- Bab 605 Cinta Seumur Hidup
- Bab 606 Kesenangan Anak Cacat Mental Lebih Banyak
- Bab 607 Dia Barulah Karakter Kejamnya
- Bab 608 Pani, Kamu Adalah Nyawaku!
- Bab 609 Sumi, Kamu Sangat Tidak Masuk Akal
- Bab 610 Jantung Tua yang Tidak Karuan
- Bab 611 Terima Kasih Atas Pujian Nyonya!
- Bab 612 Sumi, Kamu Tidak Tahu Malu
- Bab 613 Aku Akan Menjadi Sandaranmu Selamanya
- Bab 614 Penuh Pikiran Jahat
- Bab 615 Tidak Pernah Dilupakan, Cinta Mendalam Yang Tidak Berubah
- Bab 616 Katakan Kamu Mencintaiku
- Bab 617 Sumi, Kamu Parah
- Bab 618 Mengajukan Kartu Nikah Tanpa Sepengetahuanku
- Bab 619 Cinta Melemahkan Orang
- Bab 620 Demi Kamu, Aku Sekarat
- Bab 621 Apa Kamu Masih Mau Mukamu?
- Bab 622 Ku Tak Bisa Meninggalkan Mu
- Bab 623 Menikahi Seorang
- Bab 624 Aku Tahu Kamu Kuat
- Bab 625 Skil Munafik Terlalu Rendah
- Bab 626 Sundal, Kenapa Tidak Bergaya Lagi
- Bab 627 Tuan Sumi Pasti Sangat Sakit Hati
- Bab 628 Mulai Membunuh
- Bab 629 Sumi Yang Tidak Pernah Dia Lihat
- Bab 630 Cara Pria Tua Mengungkapkan Kasih Sayang
- Bab 631 Hidup Bersama
- Bab 632 Terlalu Manis
- Bab 633 Aku Ingin Makan Itu
- Bab 634 Paman Nulu, Cepat Datang
- Bab 635 Sangat Jijik!
- Bab 636 Mendengar Suara Hati
- Bab 637 Paman Nulu, Kamu Sudah Keterlaluan
- Bab 638 Ingin Bersama Seumur Hidup
- Bab 639 Macan Tutul Yang Gila
- Bab 640 Memutuskan Hubungan Suami Istri
- Bab 641 Wanita ini, Terlalu Kejam !
- Bab 642 Beritahumu Sebuah Rahasia
- Bab 643 Tidak jauh Dari Kematian
- Bab 644 Aku ingin menemui Lian, Sangat Merindukan Dia
- Bab 645 Sumi Sangat Mencintaimu
- Bab 646 Kamu Mau Memeluk Dia Ya
- Bab 647 Mesti Kamu
- Bab 648 Harus Bagaimana, Semakin Kangen Denganmu
- Bab 649 Ulang Tahun Pada Sepuluh Hari Yang Akan Datang
- Bab 650 Hatiku Sangat Sakit
- Bab 651 Selamat Malam Sayang
- Bab 652 Bagaimana Kamu Bisa Begitu Cantik
- Bab 653 Pani, istriku
- Bab 654 Pani, Nikahlah denganku!
- Bab 655 Menerkam Dari Kulit Ke Tulang !
- Bab 656 Sangat Kangen Padamu
- Bab 657 Pani, Malam Ini Kamu Habislah !
- Bab 658 Anak Kesayanganku
- Bab 659 Pani Merasa Tenang Dan Nyaman
- Bab 660 Sup Motivasi Merek Tuan Nulu
- Bab 661 Kisah Sumi Dan Pani
- Bab 662 Kisah Manis Sumi Dan Pani 1
- Bab 663 Kisah Manis Sumi Dan Pani 2
- Bab 664 Kisah Manis Sumi Dan Pani 3
- Bab 665 Sumi Dan Pani 4