More Than Words - Bab 811 Di Hadapannya, Tidak Ada Orang yang Penting (1)

Dunia barat yang sangat jauh bertolak belakang dengan dunia timur, sebuah kastil tua dan misterius, seorang pria mengenakan pakaian rumah berwarna krem, duduk di depan meja makan berukuran lebih dari sepuluh orang, dilayani oleh beberapa pembantu, sedang membaca koran, sambil minum kopi kualitas nomor satu.

Dalam ruangan diputar musik yang lembut, di belakang pria itu adalah lukisan dengan warna yang menyolok, keseluruhan lukisan itu kelihatannya sangat mirip seperti adegan dalam film barat terkenal di era tahun 80an.

Di dalam kastil, ada sekitar 10 orang pembantu berkulit hitam yang sedang memotong rumput, memberi makan ikan, merapikan ranting dan dedaunan di taman.

Tiba-tiba, sebuah dering telepon, menginterupsi waktu yang sibuk sekaligus waktu mengobrol santai ini, seorang pembantu wanita yang agak gemuk meletakkan vas bunga di tangannya yang sedang dibersihkannya, dengan secepat kilat diambilnya telepon wireless mungil, lalu dengan langkah yang cepat, berjalan melalui koridor yang panjang, berjalan masuk ke ruang makan, dengan kedua tangannya menyodorkan telepon ke hadapan pria yang berpakaian rumah krem itu.

Pria itu melihat telepon itu, lalu diletakkannya koran dan cangkir kopi yang sedang dipegangnya, dia menerima handuk basah yang diulurkan oleh pembantu yang berdiri di sampingnya, setelah membersihkan tangannya, barulah dia menerima telepon, dengan bahasa inggris yang baku dia menyapa: “Halo, AllureLove.”

Tidak tahu orang di telepon itu sebenarnya mengatakan apa, pria itu menyimak mendengarkan, memajukan badannya sedikit lalu berdiri, bahkan bahasa bicaranya pun berubah menjadi bahasa mandarin: “Kamu adalah?!”

Ujung jari pria itu yang sedang memegang telepon mulai sedikit bergetar, apa yang sebenarnya dikatakan oleh orang yang menelepon di seberang sana, tidak ada seorang pun yang tahu, setelah lewat beberapa saat, dia membalas berkata satu kalimat “baiklah, tidak masalah”, lalu ditutupnya telepon, sambil berjalan keluar dari ruang makan, sambil berkata kepada para pembantu di sekelilinya: “Arick, tolong bereskan koperku; Alreland, beritahu Cang, pesankan tiket pesawat untukku, aku hendak pulang dulu ke China.”

Ketika pria itu sedang memberikan perintah, dia sudah berada di lantai dua, sudah memasuki kamar berpintu ganda, dengan sangat cepat bertukar pakaian, dan waktu dia berjalan keluar kamar, Arick sudah selesai membereskan kopernya, “Tuan, ini koper Anda.”

Pria itu mengucapkan “terima kasih”, menerima kopernya, langsung turun ke lantai bawah.

Areland melihat pria itu turun, langsung dengan membawa paspor menghampirinya, sambil berkata kepada pria itu, sambil memperlihatkan panggilan yang sedang tersambung di telepon kepadanya: “Tuan, Nona Cang berkata, besok Anda ada sebuah jamuan penting, tidak bisa ditinggalkan.”

Pria itu tidak menerima telepon itu, langsung agak mencondongkan badannya, berkata kepada pembantu yang membawa telepon itu, sedikit marah berkata: “Sejak kapan keputusanku ditetapkan oleh kamu?”

Di telepon itu seketika tanpa suara, setelah lewat beberapa waktu, barulah ada terdengar suara seorang wanita: “Bos, jamuan makan ini adalah jamuan yang dipersiapkan oleh Anda sendiri, banyak orang yang penting bagi Anda akan datang, Anda….”

“Ingat, di hadapannya, tidak ada orang yang penting.” Tanpa menunggu wanita di telepon itu selesai berbicara, pria itu dengan tidak sabar memotong bicaranya: “3 menit, setelah 3 menit, aku mau menerima kabar pemesanan tiket pesawat, kalau tidak terima, akibatnya kamu sudah tahu kan.”

Selesai berkata demikian, pria itu langsung menutup teleponnya, lalu diambilnya paspor dari pembantu yang ada di depannya, seraya memberi perintah: “Siapkan mobil.”

Sangat cepat, pria itu naik ke mobil, mobil berjalan menyusuri jalan dalam kastil, perlahan pergi keluar.

Ketika mobil berjalan keluar dari kastil, ponsel pria itu berbunyi, sebuah pesan singkat yang menyatakan pemesanan tiket sudah berhasil.

Setelah dua jam, pria ini dengan lancar sudah selesai dari pemeriksaan imigrasi, menaiki pesawat yang terbang menuju Beijing.

Novel Terkait

Cinta Tapi Diam-Diam

Cinta Tapi Diam-Diam

Rossie
Cerpen
6 tahun yang lalu
Kakak iparku Sangat menggoda

Kakak iparku Sangat menggoda

Santa
Merayu Gadis
6 tahun yang lalu
Adore You

Adore You

Elina
Percintaan
6 tahun yang lalu
Pergilah Suamiku

Pergilah Suamiku

Danis
Pertikaian
5 tahun yang lalu
Takdir Raja Perang

Takdir Raja Perang

Brama aditio
Raja Tentara
5 tahun yang lalu
Jalan Kembali Hidupku

Jalan Kembali Hidupku

Devan Hardi
Cerpen
6 tahun yang lalu
Dipungut Oleh CEO Arogan

Dipungut Oleh CEO Arogan

Bella
Dikasihi
6 tahun yang lalu
Baby, You are so cute

Baby, You are so cute

Callie Wang
Romantis
5 tahun yang lalu