Cinta Yang Dalam - Bab 310 Aku Bersedia Dimarahi Olehmu Seumur Hidup
“Ah!” Walaupun dia adalah pria diam dan sabar, akan tetapi dia tidak dapat menahan rasa sakit ini dan menjerit.
Ini adalah bagian terlemah pada pria, sedangkan Winda tadi menggunakan kekuatan penuhnya.
Akhirnya dia mengerti, mengapa tadi Winda bertanya dengan nada bicara yang aneh.
Setelah memberikan satu tendangan kepada Gandi, melihat dia yang sedang kesakitan dan bercucuran keringat membuat hati Winda menjadi lunak dan tanpa sadar ia ingin bertanya apakah Gandi baik-baik saja.
Akan tetapi ia kembali sadar bahwa dirinya lah yang telah diremehkan oleh Gandi.
“Kamu sudah melihatnya kan, aku tidak lembut, aku bukan orang yang kamu katakan itu. Untuk masalah hari ini, demi menjaga muka kedua keluarga kita maka aku akan menggangapnya tidak pernah terjadi. Akan tetapi apabila kamu masih berani mendekatiku, jangan salahkan aku memecahkan telurmu!”
Setelah dia mengatakan ancamannya yang kejam itu, wajah Winda menjadi merah, bagaimanapun juga perkataan memalukan seperti itu dia merasa agak malu untuk mengatakannya.
Dia ingin memutar badan dan pergi, akan tetapi saat ia baru melangkah satu langkah, gaunnya ditarik oleh pria yang sedang berada di lantai itu.
Winda menjadi kesal, apakah masih belum selesai? Apakah otak pria ini sudah rusak?
Dia memutar badan dan menginjak tangan pria tersebut.
Dia memakai sepatu hak tinggi, terdengar bunyi sesuatu yang keras seperti suara sesuatu yang retak, tangan Gandi tiba-tiba terjatuh.
Dia berusaha untuk berdiri melihat wanita yang sedang kesal di depannya dengan suara lembut berkata “Tidak peduli kamu lembut atau tidak, kamu tetap adalah istriku. Ikutlah aku pulang, aku berani bersumpah akan mencintaimu seumur hidup!”
Melihat tampang serius pria di depannya membuat hati Winda sedikit tergerak.
Dia tidak kelihatan seperti sedang berpura-pura.
Seberapa bagusnya wanita yang bernama Neva ini, sehingga pria ini begitu mencintainya?
Winda juga berfantasi tentang cinta, sangatlah bodoh dengan menonton sinetron, akan tetapi dia juga mengharapkan romantisme yang ada di dalam sinetron.
Dan keteguhan pria ini terhadap cinta membuatnya terharu.
Ekspresi di wajahnya sudah lebih membaik dengan suara lembut ia berkata “Tuan Tirta, aku sungguh bukan Neva yang kamu maksud. Kalau tidak percaya kamu boleh menanyai abang pertamaku. Aku sangat iri dengan wanita yang bernama Neva itu karena rasa cintamu padanya yang begitu dalam, aku juga mendoakanmu dengan tulus agar dapat segera menemukannya. Tetapi sekarang aku mohon padamu, bisakah tidak terus menggangguku lagi seperti ini?”
“Abang pertamamu?” Sorotan mata Gandi seperti terbersit secercah sinar, dia seperti sudah menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah ini.
Winda pasti adalah Neva, dia yakin seratus persen.
Di dunia ini tidak mungkin ada wajah yang sama persis.
Akan tetapi kenapa Neva bisa hilang ingatan?
Dirinya sendiri tidak tahu, akan tetapi Isko pasti tahu.
“Benar, abang pertamaku, apabila kamu punya pertanyaan maka tanyakanlah padanya. Dia pasti akan menjawab pertanyaanmu. Dan apabila kamu masih terus menggangguku maka aku akan memberitahu abang pertamaku. Semua orang yang mengenalnya pasti tahu akan temperamen abang pertamaku, tuan Tirta dan saat itu nyawamu pasti akan terancam!”
Perkataan Winda terkadang lembut terkadang keras, dia mencoba untuk menyingkirkan Gandi si pembuat masalah ini.
Tetapi Gandi terlihat seperti mempunyai pemikiran sendiri dan berkata dengan datar “Menurut apa yang kamu katakan, apakah keluarga Yang telah berjalan di jalan gelap?”
“Hah?” Tanpa sadar Winda mengeluarkan suara, mengapa pria ini lari dari topik, apakah apa yang dikatakannya berhubungan dengan masalah itu?
Saat melihat ekspresi pria tersebut yang seperti sedang menahan tawa, dia akhirnya mengerti kalau dirinya sedang dipermainkan lagi olehnya.
Winda menjadi kesal dan berkata dengan suara berat “Kalau kamu masih tetap begini maka aku akan berteriak. Saat itu tiba semua orang akan tahu kalau kamu adalah seorang pemerkosa dan kamu akan ditangkap oleh polisi dan dipenjarakan!”
Gandi tampak cemberut, ancaman wanita ini masih begitu tidak berkelas.
Dia mengangkat bahunya dan dengan tidak hati-hati menggerakan luka di pergelangan tangan akibat tendangan Winda tadi dengan kesakitan sambil mengerutkan alisnya ia berkata “Baiklah! Kalau begitu kamu teriak saja, di penjara bisa mendapatkan makanan gratis, bisa makan enak, minum enak juga tidur dengan nyenyak, tidak ada yang ruginya.”
Gandi tahu, walau Winda sudah tidak mengenali dirinya, tetapi dia juga pasti tidak akan lapor polisi.
Bagaimanapun ini berhubungan dengan dua keluarga, walaupun dia adalah korban, mereka berdua juga keluarga mereka masing-masing akan terkena dampaknya bahkan bisa mempengaruhi pasar saham.
Dan dia adalah Neva, Gandi percaya kalau dia tidak mungkin tidak mengingatnya sama sekali, hatinya pasti akan lunak.
Benar saja, Winda menjadi sangat kesal hingga wajahnya membiru karena sikap Gandi yang nakal itu.
Dia menunjuk Gandi, jarinya yang panjang itu sudah hampir menyodok wajah Gandi.
Dan saat ini Gandi membuka bibirnya dan menyapu ujung jari Winda dengan ujung lidahnya.
Winda menjadi gemetar, dia ketakutan hingga mundur beberapa langkah, dia sangat marah hingga wajahnya sudah membiru.
“Tidak tahu malu, dasar bajingan, kamu bukan manusia!”
Melihat Winda yang berkata tidak logis itu, Gandi mengaitkan bibirnya dan berkata “Marahlah, caci makilah sepuasmu! Asalkan kamu senang dan bersedia untuk pulang denganku, aku bersedia dimarahi olehmu seumur hidup.”
Winda merasa ketiga pandangannya telah disegarkan, pria ini sungguh…..
Dia tidak tahu apakah harus menggambarkannya sebagai seseorang yang terlalu tergila-gila atau seseorang yang tidak tahu malu, yang jelas dalam hatinya merasa sangat malu dan marah.
Dia sendiri tidak menyadari kalau rasa malunya lebih banyak dibandingkan rasa marahnya.
“Hei, aku mengatakan untuk yang terakhir kalinya. Aku bernama Winda ……”
“Sayang, pulanglah denganku!”
Dia belum menyelesaikan perkataannya namun telah dipotong oleh Gandi, disaat bersamaan Gandi ingin mengandeng tangannya.
Winda ingin menghindar, tetapi pria ini seperti sudah mengetahui lintasan gerakannya dan meraih tangannya.
Telapak tangannya panas, terdapat beberapa kapalan kasar dan tipis khas pria, digenggam olehnya seperti memiliki rasa aman yang tidak dapat dijelaskan.
Cuih, Winda meludahi dirinya sendiri dalam hati.
Jelas-jelas pria ini adalah seorang pemerkosa, bagaimana bisa dirinya merasakan rasa aman.
“Lepaskan, lepaskan aku!”
Dia mengguncangnya dengan keras mencoba untuk melepaskan tangannya.
Akan tetapi Gandi memegangnya dengan erat seperti menumpukan seluruh tenaganya pada tangannya.
Mereka berdua terus bergelut dan saat ini dari kejauhan samar-samar terdengar suara pria “ Winda, Winda …..”
Ramon telah selesai menelepon dan dia tidak menemukan Winda di paviliun.
Dia mengira Winda pergi ke ruang perjamuan, akan tetapi dia telah mencarinya kesana namun tidak menemukannya, setelah itu dia seperti memiliki perasaan tidak enak dalam hatinya.
Karena Gandi juga hilang disaat bersamaan.
Dia yang mengetahui status sebenarnya dari kedua orang itu tentunya akan cemas apabila terjadi hal diluar dugaan.
Oleh karena itu dia mencari Winda kemana-mana, setelah Arya mengetahui hal tersebut juga sudah mengutus anak buahnya untuk mencari.
Akan tetapi masalah ini untuk sementara waktu disembunyikan dari Isko, beberapa tahun ini kesehatannya semakin memburuk dan ia telah diam-diam mengatur Arya untuk menggantikan posisinya.
“Ada yang datang, kamu cepat lepaskan aku!” Winda berteriak dengan suara kecil.
Gandi tidak berkata apa-apa, namun perbuatannya telah mewakili hatinya, dia melepaskan tangan Winda.
Winda merasa senang dan dia ingin berlari ke arah datangnya suara Ramon.
Akan tetapi dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara pria yang mengatakan “Tunggu sebentar.”
Tubuh Winda tersentak namun langkah kakinya malah semakin cepat.
“Bajumu sudah basah dan kusut, bagaimana cara kamu menjelaskannya nanti?” Perkataan selanjutnya itu membuat Winda menghentikan langkah kakinya.
Dia memutar badan dan menatap Gandi dengan geram.
Apabila sorotan mata dapat membunuh orang, mungkin Gandi sudah mati puluhan kali.
“Kamu masih berani mengatakannya? Bukankah semua ini adalah salahmu?”
Akan tetapi detik berikutnya dia menjadi terdiam.
Gandi membuka jasnya, Winda mengerutkan alisnya dengan erat saat melihat dia menarik lengan baju kanannya.
Luka di tangan kanannya di sebabkan oleh sepatu hak tingginya.
“Pakailah! Dengan begini maka tidak akan ada yang menyadarinya.”
Gandi memberikan bajunya namun Winda tidak menyambutnya.
Dia menatap Gandi dengan ragu dan bertanya-tanya “Apakah kamu telah meletakkan obat bius pada baju ini? Asalkan aku memakainya maka akan menjadi pusing dan kemudian kamu akan menangkapku pergi….”
Gandi menatap wanita itu tanpa berkata-kata, awalnya mengira dia hanya hilang ingatan biasa, tidak disangka sekarang malah bertambah penyakit baru, yaitu khayalan dia akan dicelakai.
“Apakah kamu merasa menyesal karena aku tidak berhasil memperkosamu, sehingga terus mengingatkanku harus berbuat apa?”
Perkataan Gandi membuat wajah Winda menjadi merah, setelah itu dia seperti seekor kucing garong yang mengamuk.
“Kamu, kamu tidak tahu malu!” Dia yang memiliki latih diri yang baik sungguh tidak tahu bagaimana cara memarahi orang sehingga membuatnya tampak lebih agresif.
Dia sangat marah ingin memutar badan lalu berjalan pergi, akan tetapi dia malah mendengar suara Ramon yang semakin lama terdengar semakin dekat.
Setelah ragu sejenak, dia mengambil jas Gandi dan memakainya lalu berjalan pergi.
Gandi melihat Winda yang terus menjauh, ia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menariknya kembali.
“Ingat untuk mengembalikan pakaianku, itu sangat mahal!”
Langkah kakinya yang stabil terhuyung sejenak, kemudian ia terus berjalan ke depan.
Kesan Gandi di dalam hatinya bertambah satu lagi yaitu orang yang pelit.
Ramon baru memutar di sebuah jalan kecil dan ia melihat Winda.
Dia buru-buru menghampirinya dan ingin mengandeng tangan Winda, dengan cemas berkata “ Winda, kamu pergi kemana? Semua orang sedang mencarimu.”
Winda tidak berkata apa-apa dan ingin menghindar, dia ingin menolak kedekatan yang diberikan Ramon sehingga membuat bola mata Ramon menjadi lebih gelap sesaat.
“Aku tadi merasa bosan dan berjalan di samping danau.” Winda berusaha menarik sudut bibirnya agar senyumnya terlihat lebih alami.
Ramon melihat sekilas rambut Winda yang sedikit kacau juga jas di badannya itu.
Hatinya terasa kelam.
Winda mencari sebuah alasan dan meninggalkan ruang perjamuan.
Setelah kembali ke kamar, ia membuka baju pria tersebut dan menginjaknya beberapa kali di lantai.
Merasa amarahnya masih belum reda, dia mencari gunting dan mengguntingnya.
Mengembalikan bajunya?
Menyuruhku mengembalikan baju memberikanmu kain perca sudah terhitung baik!
Teringat perlakuan rendah yang dilakukan oleh pria tersebut kepadanya hari ini, dia merasa seluruh badannya seperti sangat kotor.
Dirinya belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria!
Novel Terkait
Gue Jadi Kaya
Faya SaitamaAkibat Pernikahan Dini
CintiaMbak, Kamu Sungguh Cantik
Tere LiyeThe Gravity between Us
Vella PinkyYou're My Savior
Shella NaviMy Beautiful Teacher
Haikal ChandraCinta Tak Biasa
SusantiCinta Yang Dalam×
- Bab 1 Menyelamatkan Hidup Adik Laki-Laki
- Bab 2 Memberi Uang Kepadanya
- Bab 3 Dia Mengatakan Aku Cantik
- Bab 4 Kesepakatan Mendadak
- Bab 5 Neva Mengorbankan Tubuhnya
- Bab 6 Memutar Balikan Fakta
- Bab 7 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Takdir
- Bab 8 Bertaruh Denganku
- Bab 9 Nana yang Baik
- Bab 10 Mengambil Sesuai Keperluan
- Bab 11 Mempublikasikan
- Bab 12 Malam Pernikahan
- Bab 13 Kamu Minum Kebanyakan
- Bab 14 Penuh Cinta
- Bab 15 Pak Gandi, Jangan Begitu!
- Bab 16 Tidak Kenal Lelah
- Bab 17 Datang Memprovokasi
- Bab 18 Pacarku Sangat Lembut Padaku
- Bab 19 Kita Suami Istri
- Bab 20 Terluka
- Bab 21 Perselisihan
- Bab 22 Konyol
- Bab 23-24 Lempar Keluar
- Bab 25 Tidak Peduli
- Bab 26 Hilang ?
- Bab 27 Dokumen
- Bab 28 Ayah Yang Tampan
- Bab 29 Badut
- Bab 30 Berita Utama Di Instagram
- BAB 31 Sikap Ibu Tirta
- Bab 32 Harus Pulang
- Bab 33 Gandi Terluka
- Bab 34 Nasehat
- Bab 35 Merepotkan
- Bab 36 Maaf
- Bab 37 Air mata
- Bab 38 Sebuah Tamparan Diwajah
- Bab 39 Apakah Bisa Lebih Dekat Sedikit Lagi?
- Bab 40 Penampilan Saling Mencintai
- Bab 41 Sampai Jumpa Kamu
- Bab 42 Orang Berubah Keadaan Sama
- Bab 43 Keraguan Gandi Tirta
- Bab 44 Berlagak Pahlawan
- Bab 45 Habiskan Bersamaku
- Bab 46 Berbelanja
- Bab 47 Sangat cocok
- Bab 48 Tunggu Sebentar
- Bab 49 Wanita Yang Tidak Tahu Diri
- Bab 50 Orang Yang Paling Dibenci
- Bab 51 Tersadarkan
- Bab 52 Pria Harus Menyayangi Istri
- Bab 53 Mati Memegang Kedudukan
- Bab 54 Meremehkan
- Bab 55 Menunggu Suamiku Datang Menjemput
- Bab 56 Ke Kiri Pulang Ke Kanan Menjemputnya
- Bab 57 Gadis Yang Baik
- Bab 58 Kalah
- Bab 59 Berubah
- Bab 60 Wanita Paling Berbakat
- Bab 61 Tidak Menyukainya
- Bab 62 Keuntungan
- Bab 63 Makan Bersama
- Bab 64 Berakting Sebagai Istri Yang Baik
- Bab 65 Kehangatan Neva
- Bab 66 Hal Besar Terjadi
- Bab 67 Pura-Pura Oon
- Bab 68 Si Jelek
- Bab 69 Kenyataan
- Bab 70 Kalau Ada Pilihan
- Bab 71 Satu-Satunya
- Bab 72 Alasan
- Bab 73 Konyol
- Bab 74 Penyakit Datang Tidak Terduga
- Bab 75 Pesta Kelas Atas
- Bab 76 Memandang Rendah
- Bab 77 Otaknya Rusak
- Bab 78 Pilihan Paling Sulit
- Bab 79 Kabar Baik
- Bab 80 Seperti Burung
- Bab 81 Bahkan Tidak Menginginkan Nyawa
- Bab 82 Berita Heboh
- Bab 83 Menambah Minyak Di Api Yang Membara
- Bab 84 Membatasi Hubungan
- Bab 85 Bayangan Tubuh
- Bab 86 Orang Baik
- Bab 87 Pemeriksaan Dadakan
- Bab 88 Romantis
- Bab 89 Kegelisahan
- Bab 90 Situasi Membaik
- Bab 91 Kejadian Masa Lalu
- Bab 92 Adik Ipar
- Bab 93 Anemia
- Bab 94 Intuisi
- Bab 95 Mengecilkan Masalah
- Bab 96 Takdir
- Bab 97 Kakak Ipar Yang Hebat
- Bab 98 Jaga Baik Anj*ngmu
- Bab 99 Rindu
- Bab 100 Marah
- Bab 101 Ayah Dan Putri Itu Bertemu Secara Tidak Disengaja
- Bab 102 Tempatnya Bersandar Seumur Hidup Ini
- Bab 103 Tercengang
- Bab 104 Neva Dalam Bahaya
- Bab 105 Pahlawan
- Bab 106 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 107 Kenyataan
- Bab 108 Perhatian
- Bab 109 Demam
- Bab 110 Jebakan Julia
- Bab 111 Hukum Karma
- Bab 112 Anak Bandel
- Bab 113 Kartu Orang Baik
- Bab 114 Cinta Milik Dirinya, Dia Tidak Tahu
- Bab 115 Penjelasan Gandi
- Bab 116 Alergi
- Bab 117 Mengabaikan
- Bab 118 Dilukai
- Bab 119 Cinta Yang Pura-Pura
- Bab 120 Serakah
- Bab 121 Mabuk
- Bab 122 Bawa Wanita Ini Pergi
- Bab 123 Depresi
- Bab 124 Bakti Anak Yang Tidak Dikenal
- Bab 125 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 126 Meminta Uang
- Bab 127 Dua Ratus Miliar
- Bab 128 Mimpi Karena Rindu
- Bab 129 Berkompromi
- Bab 130 Kecantikan Neva
- Bab 131 Minta Tolong
- Bab 132 Memukulnya Sampai Mati
- Bab 133 Tidak Tahu Bersikap Lembut
- Bab 134 Kontrak
- Bab 135 Telpon Dari Dia Lagi
- Bab 136 Pelacur Centil
- Bab 137 Umpan
- Bab 138 Menyebutkan Kelemahan
- Bab 139 Pesta
- Bab 140 Saksi
- Bab 141 Perlakukan Diri Sendiri Dengan Baik
- Bab 142 Uang Kaget
- Bab 143 Biar Dia Datang Mencariku
- Bab 144 Lubang Tanpa Dasar
- Bab 145 Ada Orang Yang Bertindak
- Bab 146 Kesukaan Yang Tersembunyi
- Bab 147 Dia Masih Merupakan Seorang Siswa
- Bab 148 Orang Yang Berwajah Dingin Tetapi Berhati Hangat
- Bab 149 Tahun-Tahun Mengenal Tuan Tirta
- Bab 150 Mengantar Diri Untuk Dipermalukan
- Bab 151 Kamu Takut Aku
- Bab 152 Cari Mati
- Bab 153 Kritis
- Bab 154 Vegetatif
- Bab 155 Mimpi Buruk
- Bab 156 Bangun
- Bab 157 Blokir Jalan
- Bab 158 Kala Itu dan Sekarang
- Bab 159 Sudah Cukup Belum
- Bab 160 Tahu Diri
- Bab 161 Kamu Tidak Pantas
- Bab 162 Arogan
- Bab 163 Dilema
- Bab 164 Mengadu
- Bab 165 Sukses Atau Gagal Tergantung Pada Ini
- Bab 166 Terjebak
- Bab 167 Apakah Kamu Sudah Senang
- Bab 168 Cinta Yang Tak Berbalaskan
- Bab 169 Difitnah
- Bab 170 Hidup Atau Mati
- Bab 171 Kematian Nyawa Kecil
- Bab 172 Kakak Telah Datang Melihatmu
- Bab 173 Kesempatan Untuk Mengakui Kesalahan
- Bab 174 Tidak Mau Pergi Ke Manapun
- Bab 175 Kekejaman Dunia Maya
- Bab 176 Bertambah Satu Orang
- Bab 177 Berpisah
- Bab 178 Pernikahan Yang Buruk
- Bab 179 Kesepian
- Bab 180 Kelak Jangan Datang Lagi
- Bab 181 Tidak Ada Yang Enak Dipandang
- Bab 182 Istriku Tidak Bisa Minum Bir
- Bab 183 Menyusahkan
- Bab 184 Tatapan Matanya
- Bab 185 Melahap Kue Besar Sendiri
- Bab 186 Gadis Kecil Lebih Manis Darimu
- Bab 187 Membeberkan
- Bab 188 Aku Adalah Masalah
- Bab 189 Apa Yang Kamu Inginkan
- Bab 190 Merasa Bersalah
- Bab 191 Minum Bir
- Bab 192 Sampai Jumpa Di Kehidupan Selanjutnya
- Bab 193 Membunuh Orang
- Bab 194 Balas Dendam
- Bab 195 Perempuan Yang Merepotkan
- Bab 196 Setumpuk Sampah
- Bab 197 Ketulusan Keluarga Garfid
- Bab 198 Kamu Telah Menebaknya Dengan Benar
- Bab 199 Tiga Detik Tidak Pukul, Menjadi Nakal
- Bab 200 Sudut Bibir Yang Naik Ke Atas
- Bab 201 Ancaman Julia
- Bab 202 Kehangatannya
- Bab 203 Sengaja Ya?
- Bab 204 Seluruh Penjuru Dunia
- Bab 205 Burung Unta
- Bab 206 Membunuh Sekeluarganya
- Bab 207 Wanitaku Hanya Dirimu Saja
- Bab 208 Hanya Diriku Yang Pernah Menjadi Wanitanya
- Bab 209 Aku Benar-Benar Sudah Sangat Lelah
- Bab 210 Bos Richie yang Berprinsip
- Bab 211 Ciuman Halus
- Bab 212 Kewajiban Suami Istri
- Bab 213 Apakah Kamu Menyukaiku?
- Bab 214 Jangan-Jangan Otaknya Sudah Rusak?
- Bab 215 Pemicu Terakhir
- Bab 216 Aktif
- Bab 217 Kontroversi Kontrasepsi
- Bab 218 Apa Yang Ingin Kamu Lakukan?
- Bab 219 Melebih-lebihkan
- Bab 220 Kakak Ipar
- Bab 221 Jalan Shivas
- Bab 222 Paling Parah Mengulang Kembali Dari Awal
- Bab 223 Merundingkan sesuatu
- Bab 224 Hal Yang Benar Dengan Orang Yang Tidak Tepat (1)
- Bab 224 Membicarakan Kejadian Tidak Membicarakan Orangnya
- Bab 225 Rasa Air Mata
- Bab 226 Kebetulan
- Bab 227 Apakah Sudah Sampai Waktu Yang Hancur Sepenuhnya?
- Bab 228 Perlu Pertukaran
- Bab 229 Sebenarnya Aku Juga Pernah Menyukaimu
- Bab 230 Orang Yang Tak Berperasaan
- Bab 231 Hancurkan Dia
- Bab 232 Permainan
- Bab 233 Genit
- Bab 234 Suasana Hati Richie Yang Buruk
- Bab 235 Dia Telah Kembali
- Bab 236 Pria Yang Memanjat Balkon
- Bab 237 Tidak Cinta
- Bab 238 Memalukan
- Bab 239 Dukungan
- Bab 240 Satu-Satunya Orang Cerdas Di Dunia
- Bab 241 Pulang
- Bab 242 Kamu Sendiri Yang Memilih
- Bab 243 Kemana Saja Tidak Lupa Menggoda
- Bab 244 Ada, Tapi Sudah Meninggal
- Bab 245 Dikurung
- Bab 246 Mak Comblang Paruh Waktu
- Bab 247 Datang Seorang Teman
- Bab 248 Kesalahan Sendiri Ditanggung Sendiri
- Bab 249 Aku Ingin Menunggumu Pulang
- Bab 250 Wajah Adalah Benda Yang Bagus
- Bab 251 Perbedaan Cinta Murni
- Bab 252 Berasa Naik Ke Surga
- Bab 253 Dia Menyukainya Tetapi Tidak Mau
- Bab 254 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Lagi
- Bab 255 Marah
- Bab 256 Terjadi Sesuatu Dengan Tuan Muda
- Bab 257 Terima Kasih, Neva
- Bab 258 Mengapa Kecelakaan Tidak Terjadi Padamu
- Bab 259 Dia Menang
- Bab 260 Ketidaknyamanan Antara Pria Dan Wanita
- Bab 261 Berbagi Suka Dan Duka
- Bab 262 Kakek
- Bab 263 Semua Pria Itu Sama
- Bab 264 Tokoh Besar
- Bab 265 Tidak Bagus!
- Bab 266 Legal Officer Wanita
- Bab 267 Gadis Kecil Yang Dipungut
- Bab 268 Wow, Harum Sekali!
- Bab 269 Petani Dan Ular
- Bab 270 Darah Daging Keluarga Yang
- Bab 271 6 Orang Mama
- Bab 272 Permintaan Berty
- Bab 273 Masuk Dapur
- Bab 274 Maksud Hatinya
- Bab 275 Putus Harapan
- Bab 276 Peperangan
- Bab 277 Mengembalikannya Berlipat Ganda
- Bab 278 Aku Sangat Mengganggu Ya
- Bab 279 Perubahan Di Acara Pernikahan
- Bab 280 Menginginkan Anak
- Bab 281 Memberikan Sebuah Kejutan Kepadanya
- Bab 282 Pernikahan
- Bab 283 Dia Yang Mana Yang Asli?
- Bab 284 Aku Memanggilmu Adik, Kamu Juga Tidak Menjawabnya
- Bab 285 Orang Yang Paling Lembut Di Dunia
- Bab 286 Tes DNA
- Bab 287 Dua Buah Mayat
- Bab 288 Selamat Tinggal Cintaku
- Bab 289 Kemanapun Tidak Boleh Pergi
- Bab 290 Aku Mencintaimu
- Bab 291 Kemanusiaan Dan Ancaman
- Bab 292 Penjahat Mutlak
- Bab 293 Enam Puluh Milyar Dan Nyawa Manusia
- Bab 294 Empat Triliun, Kamu Pergilah Sana
- Bab 295 Surat Yang Dia Tinggalkan
- Bab 296 Perusahaan Aska Bangkrut
- Bab 297 Kebaikannya
- Bab 298 Dia Sudah Tiada
- Bab 299 Maaf
- Bab 300 Paman Dan Anak Perempuan
- Bab 301 Bertumbuh Bersama
- Bab 302 Paman Harus Melindungi Nana Dan Ibu
- Bab 303 Keputusan Gandi
- Bab 304 Julia Morez diculik
- Bab 305 Perdagangan Web Gelap
- Bab 306 Hatinya Hanya Ada Satu Orang
- Bab 307 Pasti Bisa Ditemukan
- Bab 308 Akhirnya Menemukanmu
- Bab 309 Yang Terindah Di Lubuk Hati
- Bab 310 Aku Bersedia Dimarahi Olehmu Seumur Hidup
- Bab 311 Wanitaku
- Bab 312 Jongkok Di Pojokan
- Bab 313 Aku Menganti Kerugian Kamu
- Bab 314 Kamu Sangat Tertarik Kepada Dia
- Bab 315 Kertas Tidak Bisa Menahan Api
- Bab 316 Apakah Rasanya Seperti Yang Kamu Inginkan?
- Bab 317 Aku Hanya Ingin Mendekatimu
- Bab 318 Membutakan Matanya
- Bab 319 Pasti Sangat Bahagia
- Bab 320 Mengunci Hati Kamu
- Bab 321 Orang Asing di Meja Makan
- Bab 322 Orang Yang Mengganggu, Kakinya Akan Dipotong
- Bab 323 Aku Suka Kamu Menemaniku
- Bab 324 Kebenaran
- Bab 325 Sejarah Tersembunyi Keluarga Yang
- Bab 326 Ada Apa Ini?
- Bab 327 Berbohong
- Bab 328 Dia Hampir Mati
- Bab 329 Permohonan Untuk Tetap Hidup
- Bab 330 Penyelamat
- Bab 331 Merahasiakan Identitas Orang Yang Mendonorkan Darah
- Bab 332 Nyonya Presdir
- Bab 333 Pria Jahat
- Bab 334 Biaya Terima Kasih
- Bab 335 Apa yang Kamu Inginkan Dariku, Agar Kamu Merasa Puas
- Bab 336 Kedepannya Jangan Menangis Lagi
- Bab 337 Impian Kehidupan Cinta
- Bab 338 Pak Tua Yang Memancing Ikan
- Bab 339 Bertindak Terlalu Berlebihan
- Bab 340 Wanita Bikini
- Bab 341 Barter
- Bab 342 Anak
- Bab 343 Tidak Selezat Pangsit
- Bab 344 Bawa Ibu Kembali
- Bab 345 Seolah Tidak Mengenal Sanak Keluarga
- Bab 346 Menjauhlah Dariku
- Bab 347 Kemesraan Di Sisi Gelap
- Bab 348 Ayo Kita Pacaran
- Bab 349 Karier
- Bab 350 Posisi Yang Didapatkan Dengan Menaiki Ranjang
- Bab 351 Aku Akan Bertanggung Jawab Padamu
- Bab 352 Bertaruh Dengan Ayah
- Bab 353 Ayahku Adalah Kepala Sekolah
- Bab 354 Aku tidak keberatan membantumu mendisiplikannya
- Bab 355 Nyali cukup besar
- Bab 356 Hal yang mengerikan
- Bab 357 Kamu Jangan Bicara Sembarangan Ya
- Bab 358 Menerima Resikonya
- Bab 359 Dia Bilang, Itu Putrinya
- Bab 360 Merokok Buruk Bagi Kesehatanmu
- Bab 361 Apakah Ada Sesuatu di Wajahku
- Bab 362 Pergi Membuka Kamar?
- Bab 363 Ingatan Hancur
- Bab 346 Tuan Tirta, Berbicaralah Dengan Baik
- Bab 365 Tidak Ada Yang Berani Mengatakan Keburukan Aku Dan Kamu
- Bab 366 Antar Saudara
- Bab 367 Karena Direktur Yang Memiliki Temperamen Baik
- Bab 368 Kamu Bisa Belagu Sampai Kapan
- Bab 369 Aku Orangnya Lebih Cinta Damai
- Bab 370 Semuanya Mengandalkan Sponsor Elit
- Bab 371 Penasihat
- Bab 372 Masalah Sepele Ini, Kapan Saja Dikerjakan Juga Sama
- Bab 373 Seratus Tangkai Bunga Mawar Ungu
- Bab 374 Nasib Akhir Penyanjung
- Bab 375 Keputusasaan Dan Harapan
- Bab 376 Utarakan Perasaanmu, Bersikap Lebih Berani
- Bab 377 Setiap Perbuatanku Hanya Boleh Dilakukan Untukmu
- Bab 378 Tuan Gandi, Kamu Benar-benar Buta
- Bab 379 Melakukan Sesuatu Yang Penting
- Bab 380 Hal Yang Hanya Terjadi Pada Sepasangan Kekasih
- Bab 381 Aku Di Sini Melihatmu Kembali
- Bab 382 Akankah Ibu dan Paman Gandi tidur bersama?
- Bab 383 Pikiran Gadis
- Bab 384 Kamu pernah kehilangan ingatan, Apa kamu lupa
- Bab 385 Kesehatan Tubuh Pertama, Jangan Kecapekan
- Bab 386 Pakaian Tidak Rapi Dan Kaki Lemas
- Bab 387 Pacar Gosip