Cinta Yang Dalam - Bab 167 Apakah Kamu Sudah Senang
Dengan terburu-buru Gandi menuju ke rumah sakit, dokter pun telah menunggu di pintu depan, Julia dengan cepat masuk ke dalam ruang operasi.
Gandi yang berada diluar dengan gelisah berjalan kesana kemari, pada saat itu Mili yang mendapatkan pemberitahuan tersebut pun datang.
Wajahnya yang berpenampilan penuh dengan kegelisahan, pun bertanya : "Tuan Tirta, apa yang sudah terjadi?"
Pada saat ini Gandi tidak ingin diganggu oleh siapa pun, akan tetapi Mili adalah asisten Julia, dia hanya bisa sabar menjelaskan garis besar kejadian tersebut.
Raut wajah Mili dalam sekejap pun berubah, dengan suara yang agak sedih ia berkata : "Aku tahu ... aku mengetahuinya pasti akan menjadi seperti ini!"
Langkah kaki Gandi pun terhenti, mendengar perkataan Mili yang di dalamnya terdapat makna lain, ia pun segera bertanya : "Apa yang kamu katakan? Sebenarnya terjadi permasalahan apa? Cepat beritahu aku!"
Tubuh Gandi mengeluarkan perasaan dingin yang tak berujung, dalam hati Mili agak sedikit gemetaran, dengan gemetaran ia mengeluarkan sebuah surat dari dalam tasnya dan berkata : "Ini adalah peninggalan dari Kak Julia, dia mengatakan jika hari ini terjadi kecelakaan, dia memintaku untuk memberikannya kepadamu ..."
Ucapannya belum selesai terucapkan, surat tersebut pun telah direbut oleh Gandi, dengan cepat ia membukanya dan membacanya, dalam sekejap hatinya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan.
"Gandi, dalam sekejap mata, kita sudah kenal selama bertahun-tahun. Awalnya aku pernah berpikir, aku akan menjadi istrimu, bersama dengan kamu melahirkan anak yang lucu, kita melewati kehidupan bersama yang bahagia. Akan tetapi seolah-olah kehidupan ini sedang mempermainkanku, aku tidak pernah menyangka, teman terbaikku Neva, ternyata bisa menjadi istrimu. Aku tahu kamu yang terhimpit diantara kami berdua sangatlah sedih, setiap kali melihat wajahmu yang murung, dalam hatiku pun juga menjadi tidak senang. Aku ingin pergi meninggalkan kamu, akan tetapi aku juga tidak rela. Setiap kali melihat kamu dilema karena sulit untuk memilih, hatiku juga bisa hancur. Beberapa waktu ini aku pun terus berpikir, memikirkan kita dikemudian hari, memikirkanku seharusnya bertindak melakukan apa. Hari ini aku telah memikirkannya dengan baik, aku memutuskan untuk pergi mencari Neva untuk mengobrol, berbicara dengan jelas kepadanya, jika dia tidak dapat melepaskanku, maka aku akan pergi yang jauh ..."
Perkataan yang dibelakang, Gandi sudah tidak dapat melihatnya dengan jelas lagi.
Sebagai seorang lelaki dewasa, pada saat ini tak terduga matanya sedikit terasa pedih.
Mungkin angin di dalam rumah sakit terlalu besar!
Dia pun menarik nafas yang dalam, surat yang ditulis kata demi kata oleh Julia, dengan serius ia masukkan kembali ke dalam amplopnya, kemudian ia letakkan dalam pelukkannya.
Dia pun mengangkat kepala, tatapannya membawa perasaan dingin yang tidak dapat dijelaskan, lalu berkata : "Dari awal kamu sudah mengetahui jika ia pergi maka akan berbahaya?"
Suara Mili agak sedikit bergetar, dengan suara rendah ia berkata: " Benar, benar .... Karena aku mengetahui bahwa sifat dari Neva sangat keras, juga lebih licik, maka dari itu ..."
"Kalau begitu mengapa kamu tidak menahannya!" Seketika Gandi merasakan seperti ingin memukul orang untuk melampiaskan kebenciannya.
"Aku sudah menahannya ... Akan tetapi tidak ada gunanya ... Karena permasalahan dengan Chelsi, tekanan yang ada pada Kak Julia pun sudah sangat besar. Akan tetapi Chelsi juga dekat dengan Neva, maka dari itu orang dari Grup Tirta juga tidak dapat menegakkan hukum secara adil ... Kak Julia telah beberapa kali berusaha untuk mendapatkan haknya, sebaliknya ia malah diblokir!"
Semakin Mili berbicara suaranya semakin merendah, terakhir saat berbicara mengenai pemblokiran, sudah seperti suara nyamuk yang terbang.
Gandi dalam hatinya terguncang, dengan tatapan yang dingin ia melihat Mili, kemudian berbicara dengan suara yang mendalam : "Blokir? Bagaimana itu bisa terjadi?"
Mili berkata dengan suara yang bergetar : "Kak Julia saat ini sudah tidak memiliki undangan untuk bermain film yang baru, walaupun dia muncul di layar kaca, semuanya juga hanyalah berupa iklan. Aku pernah mencari orang untuk menanyakan hal ini, dengar-dengar ada orang yang mengatakannya kepada atasan.... maka dari itu ... "
Permainan ini begitu tiba-tiba, semakin Mili membicarakannya semakin tidak ada habisnya.
Dia tidak menyangka, Julia ternyata tidak dapat bersabar menahannya dan lebih awal menjalankan permainan ini.
Hanya dapat berharap Gandi jangan menelusurinya lebih dalam lagi, jika tidak cepat atau lambat pasti akan ketahuan.
Gandi tampak seperti sedang berpikir, ia pun langsung menghubungi telepon dari penanggung jawab bagian departemen film dan televisi : "Mengapa memblokir Julia?"
Telepon baru saja tersambung, dengan cepat Gandi pun bertanya.
Penanggung jawab departemen film dan televisi dalam hatinya merasa gemetar, permasalahan mengenai pemblokiran Julia adalah dia sendiri yang memberikan perintah. Akan tetapi orang yang dapat memerintahkan hal seperti ini, di dalam Grup Tirta hanyalah ada dua orang yang dapat berbuat demikian.
"Direktur Tirta, sebelumnya ini adalah pemberitahuan dari Nyonya besar Tirta, yang memerintahkan kami harus berbuat seperti ini ... kamu juga mengetahui ...."
Perkataannya belum selesai diucapkan, telinganya pun mendengar suara tututut, sambungan teleponnya pun langsung dimatikan oleh Gandi.
Alis Gandi pun telah mengerut, Ibu, diluar dugaan dia berani ikut campur permasalahan ini?
Mungkinkah karena sikapnya akhir-akhir ini, membuat dia memutuskan untuk menyingkirkan Julia dari sisinya?
Akan tetapi saat berpikir hingga hal ini, Gandi juga merasa bahwa hal tersebut tidak mungkin.
Biasanya ibu selalu memiliki perhitungan sendiri, dia mengetahui bahwa Gandi benci orang lain bersihkeras untuk ikut campur dalam kehidupan pribadinya, terlebih lagi ia tidak suka menerima ancaman dari orang lain.
Kecuali, dia mendapatkan provokasi!
Dia pun mengarahkan pandangannya pada Mili dan berkata : "Kamu apakah masih memiliki permasalahan apa yang ditutupi dariku?"
Tubuh Mili bergetar, suaranya terdengar sedikit gemetaran : "Tidak, Tidak ada .. hanya saja aku samar-samar mendengar, pada hari itu saat Nyonya Besar Tirta datang ke rumah sakit, sepertinya ia mengatakan beberapa kata yang tidak enak didengar kepada Kak Julia... Dengar-dengar perkataan itu, yang ia dengar dari Nyonya Besar Tirta ...."
Hari itu datang ke rumah sakit?
Kesadaran Gandi telah kembali, kelihatannya, permasalahan ini, pasti merupakan rencana jahat dari Neva lagi.
Tepat pada saat itu, ponsel Gandi pun berdering.
Dia menundukkan kepalanya dan melihat sekilas, ibunya lah yang menelepon dirinya. Setelah ragu beberapa saat, dia pun masih menjawab panggilan tersebut.
"Bu, apakah ada masalah?"
Gandi belum selesai mengucapkan perkataan itu, terdengar suara Shinta yang ada diseberang telepon yang sedang menahan amarah : "Gandi, segera pulang."
Gandi pun mengendalikan emosinya yang bisa meledak kapan saja itu, dengan sabar ia berkata : "Bu, jika ada masalah kamu langsung bicara saja. Aku disini sedang memiliki permasalahan yang sangat penting, pulang juga harus nanti malam!"
"Aku tidak peduli kamu memiliki permasalahan apa, sekarang juga kamu pulang!" Setelah Shinta selesai berbicara, ia pun langsung mematikan telepon tersebut.
Gandi yang mendengar bunyi tututut dari mikrofon teleponnya, dia pun menarik nafas dalam-dalam, kemudian berbalik ke arah Mili dan berkata : "Aku akan pergi sebentar, kamu disini jaga Julia baik-baik. Jika ada kondisi buruk apa pun, hubungi aku saat itu juga."
Mili pun segera menganggukkan kepalanya, Gandi pun mengendarai mobilnya dan pergi menuju ke rumah Keluarga Tirta.
Shinta sangat marah, tepat beberapa waktu sebelumnya, Neva tiba di rumah Keluarga Tirta.
Dia awalnya sangat senang, kemudian menarik Neva untuk membicarakan banyak hal yang menarik.
Akan tetapi Neva malah selalu tertawa dengan terpaksa, akhirnya setelah dihujani pertanyaan oleh Shinta, Neva pun memberitahukan dirinya, berencana untuk bercerai dengan Gandi dan memberikan posisinya untuk Julia.
Pada saat itu, hampir saja membuat amarah Shinta meledak. Dia sudah tidak sempat menanyakan kepada Neva mengapa ia berkata demikian, saat itu juga ia meminta Gandi untuk pulang ke rumah.
Neva hanya dapat terdiam duduk di hadapannya, bagaimana pun Shinta membujuknya, dia hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan diam.
Dalam hatinya ia sudah benar-benar memutuskan, bahwa sudah waktunya ini berakhir.
Gandi baru saja memasuki pintu, ia pun sudah merasakan hawa yang menekan di dalam ruang tamu.
Belum sampai ia berjalan hingga ke hadapan ibu, ia pun sudah dimarahi oleh Shinta : "Berdiri disana!"
Gandi mengerutkan alisnya, namun ia mendengarkan perkataan itu dan berdiri disana.
Shinta mengambil sebuah buku yang ada di atas meja, dengan keras ia lemparkan pada tubuh Gandi dan memarahinya : "Kamu anak kurang hajar, kamu kenapa menyakiti Neva lagi?"
Tatapan mata Gandi yang dingin, melewati tubuh Neva, membuat Neva tanpa dapat ditahan merasa tubuhnya sedikit kaku.
Akan tetapi ia tetap menahannya, terdiam dan tidak mengangkat kepalanya untuk memandang Gandi.
Dalam hati Gandi pun menyeringai, kira-kira dia sudah memahaminya, ia pun berkata dengan datar : "Apakah dia yang mengadu lagi? Aku tidak melakukan apa pun."
Sikap Gandi yang seolah-olah dirinya tidak melakukan kesalahan, semakin membuat Shinta marah, dia mengambil segelas air yang ada di atas meja, kemudian menyiramkannya ke arah Gandi.
Alis Gandi pun sedikit mengerut, kali ini dengan cepat ia menghindarinya, dengan ekspresi yang tak menduga hal ini ia pun berkata : "Bu, kamu sebenarnya ingin melakukan apa?"
"Aku ingin melakukan apa?" Shinta pun tak dapat menahan untuk bertanya kembali, dia hanya merasa anak keduanya sedikit konyol. Neva adalah seorang perempuan yang begitu baik, berpendidikan dan berpengetahuan luas, lemah lembut dan perhatian. Akan tetapi mengapa anak keduanya tidak dapat merasakan sedikit pun hal baik dari dirinya, sebaliknya malah bersihkeras menempel pada pemain film yang licik itu.
"Karena kamu hari ini menanyakan hal itu, maka aku katakan kepadamu. Kelak kamu tidak boleh berhubungan dengan pemain film itu lagi, hiduplah dengan baik bersama Neva. jika aku mengetahui diantara kalian berdua masih ada hubungan, jangan salahkan aku, jika aku bertindak tidak sungkan!"
Kali ini Shinta benar-benar meledak amarahnya, benar-benar menampilkan kharisma seorang wanita modern yang kuat.
Gandi menarik nafas yang dalam, membuat suara nya menjadi stabil kembali dan berkata : "Bu, hal mengenai perasaan ini, aku sendiri yang akan mengaturnya. Sejak pertama kali aku menikah dengan Neva, aku juga sudah pernah mengatakannya kepadamu, aku tidak menyukai dia. Dia bagiku, hanyalah seperti orang asing yang lewat saja, tidak akan menimbulkan perasaan, terlebih lagi tidak akan timbul cinta."
"Sudah cukup!" Shinta pun bangkit dari tempatnya, melangkah maju beberapa langkah, mencengkram baju Gandi dan menariknya menuju tempat dimana Neva duduk.
"Istrimu ada di hadapanmu, sekarang katakan maaf kepadanya, maka segala permasalahan ini dapat dibiarkan berlalu!"
Gandi tidak bergerak, tidak peduli seberapa banyak air mata yang akan ibunya jatuhkan ia tidak akan tergerak.
Dengan tatapannya yang dingin ia memandang Neva, dengan datar ia berkata : "Melihat hal seperti ini saat ini, apakah kamu sudah merasa senang?"
Neva pun mengangkat kepalanya dengan terkejut, dirinya tidak memahami maksud dari Gandi. Dia membuka mulutnya, ingin menjelaskannya.
Akan tetapi melihat tatapan dingin dari Gandi, akhirnya ia hanya dapat tersenyum pahit, kemudian kembali menundukkan kepalanya.
Mengatakan apa? Apakah masih diperlukan? Bagaimana pun juga dia selamanya tidak akan mempercayai dirinya.
"Bu, apakah kamu pernah memeriksa perempuan ini dengan teliti?" Gandi pun berkata dengan nada yang dingin.
"Neva adalah anak yang aku lihat sejak masih kecil hingga menjadi dewasa, dia adalah anak yang baik, tidak diperlukan penyelidikan apa pun!" Shinta pun menjawab dengan suara yang mendalam.
Gandi seolah-olah seperti mendengarkan sebuah lelucon yang sangat hebat, dia pun tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata : "Bu, ternyata kamu telah dikelabui oleh seorang perempuan rendahan, benar-benar sangat lucu. jika kamu ingin mengetahui mengapa aku tidak menyukai dia, maka kamu silahkan selidiki baik-baik tentang dirinya!"
Novel Terkait
That Night
Star AngelPenyucian Pernikahan
Glen ValoraIstri Pengkhianat
SubardiThe Revival of the King
ShintaThis Isn't Love
YuyuCinta Yang Dalam×
- Bab 1 Menyelamatkan Hidup Adik Laki-Laki
- Bab 2 Memberi Uang Kepadanya
- Bab 3 Dia Mengatakan Aku Cantik
- Bab 4 Kesepakatan Mendadak
- Bab 5 Neva Mengorbankan Tubuhnya
- Bab 6 Memutar Balikan Fakta
- Bab 7 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Takdir
- Bab 8 Bertaruh Denganku
- Bab 9 Nana yang Baik
- Bab 10 Mengambil Sesuai Keperluan
- Bab 11 Mempublikasikan
- Bab 12 Malam Pernikahan
- Bab 13 Kamu Minum Kebanyakan
- Bab 14 Penuh Cinta
- Bab 15 Pak Gandi, Jangan Begitu!
- Bab 16 Tidak Kenal Lelah
- Bab 17 Datang Memprovokasi
- Bab 18 Pacarku Sangat Lembut Padaku
- Bab 19 Kita Suami Istri
- Bab 20 Terluka
- Bab 21 Perselisihan
- Bab 22 Konyol
- Bab 23-24 Lempar Keluar
- Bab 25 Tidak Peduli
- Bab 26 Hilang ?
- Bab 27 Dokumen
- Bab 28 Ayah Yang Tampan
- Bab 29 Badut
- Bab 30 Berita Utama Di Instagram
- BAB 31 Sikap Ibu Tirta
- Bab 32 Harus Pulang
- Bab 33 Gandi Terluka
- Bab 34 Nasehat
- Bab 35 Merepotkan
- Bab 36 Maaf
- Bab 37 Air mata
- Bab 38 Sebuah Tamparan Diwajah
- Bab 39 Apakah Bisa Lebih Dekat Sedikit Lagi?
- Bab 40 Penampilan Saling Mencintai
- Bab 41 Sampai Jumpa Kamu
- Bab 42 Orang Berubah Keadaan Sama
- Bab 43 Keraguan Gandi Tirta
- Bab 44 Berlagak Pahlawan
- Bab 45 Habiskan Bersamaku
- Bab 46 Berbelanja
- Bab 47 Sangat cocok
- Bab 48 Tunggu Sebentar
- Bab 49 Wanita Yang Tidak Tahu Diri
- Bab 50 Orang Yang Paling Dibenci
- Bab 51 Tersadarkan
- Bab 52 Pria Harus Menyayangi Istri
- Bab 53 Mati Memegang Kedudukan
- Bab 54 Meremehkan
- Bab 55 Menunggu Suamiku Datang Menjemput
- Bab 56 Ke Kiri Pulang Ke Kanan Menjemputnya
- Bab 57 Gadis Yang Baik
- Bab 58 Kalah
- Bab 59 Berubah
- Bab 60 Wanita Paling Berbakat
- Bab 61 Tidak Menyukainya
- Bab 62 Keuntungan
- Bab 63 Makan Bersama
- Bab 64 Berakting Sebagai Istri Yang Baik
- Bab 65 Kehangatan Neva
- Bab 66 Hal Besar Terjadi
- Bab 67 Pura-Pura Oon
- Bab 68 Si Jelek
- Bab 69 Kenyataan
- Bab 70 Kalau Ada Pilihan
- Bab 71 Satu-Satunya
- Bab 72 Alasan
- Bab 73 Konyol
- Bab 74 Penyakit Datang Tidak Terduga
- Bab 75 Pesta Kelas Atas
- Bab 76 Memandang Rendah
- Bab 77 Otaknya Rusak
- Bab 78 Pilihan Paling Sulit
- Bab 79 Kabar Baik
- Bab 80 Seperti Burung
- Bab 81 Bahkan Tidak Menginginkan Nyawa
- Bab 82 Berita Heboh
- Bab 83 Menambah Minyak Di Api Yang Membara
- Bab 84 Membatasi Hubungan
- Bab 85 Bayangan Tubuh
- Bab 86 Orang Baik
- Bab 87 Pemeriksaan Dadakan
- Bab 88 Romantis
- Bab 89 Kegelisahan
- Bab 90 Situasi Membaik
- Bab 91 Kejadian Masa Lalu
- Bab 92 Adik Ipar
- Bab 93 Anemia
- Bab 94 Intuisi
- Bab 95 Mengecilkan Masalah
- Bab 96 Takdir
- Bab 97 Kakak Ipar Yang Hebat
- Bab 98 Jaga Baik Anj*ngmu
- Bab 99 Rindu
- Bab 100 Marah
- Bab 101 Ayah Dan Putri Itu Bertemu Secara Tidak Disengaja
- Bab 102 Tempatnya Bersandar Seumur Hidup Ini
- Bab 103 Tercengang
- Bab 104 Neva Dalam Bahaya
- Bab 105 Pahlawan
- Bab 106 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 107 Kenyataan
- Bab 108 Perhatian
- Bab 109 Demam
- Bab 110 Jebakan Julia
- Bab 111 Hukum Karma
- Bab 112 Anak Bandel
- Bab 113 Kartu Orang Baik
- Bab 114 Cinta Milik Dirinya, Dia Tidak Tahu
- Bab 115 Penjelasan Gandi
- Bab 116 Alergi
- Bab 117 Mengabaikan
- Bab 118 Dilukai
- Bab 119 Cinta Yang Pura-Pura
- Bab 120 Serakah
- Bab 121 Mabuk
- Bab 122 Bawa Wanita Ini Pergi
- Bab 123 Depresi
- Bab 124 Bakti Anak Yang Tidak Dikenal
- Bab 125 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 126 Meminta Uang
- Bab 127 Dua Ratus Miliar
- Bab 128 Mimpi Karena Rindu
- Bab 129 Berkompromi
- Bab 130 Kecantikan Neva
- Bab 131 Minta Tolong
- Bab 132 Memukulnya Sampai Mati
- Bab 133 Tidak Tahu Bersikap Lembut
- Bab 134 Kontrak
- Bab 135 Telpon Dari Dia Lagi
- Bab 136 Pelacur Centil
- Bab 137 Umpan
- Bab 138 Menyebutkan Kelemahan
- Bab 139 Pesta
- Bab 140 Saksi
- Bab 141 Perlakukan Diri Sendiri Dengan Baik
- Bab 142 Uang Kaget
- Bab 143 Biar Dia Datang Mencariku
- Bab 144 Lubang Tanpa Dasar
- Bab 145 Ada Orang Yang Bertindak
- Bab 146 Kesukaan Yang Tersembunyi
- Bab 147 Dia Masih Merupakan Seorang Siswa
- Bab 148 Orang Yang Berwajah Dingin Tetapi Berhati Hangat
- Bab 149 Tahun-Tahun Mengenal Tuan Tirta
- Bab 150 Mengantar Diri Untuk Dipermalukan
- Bab 151 Kamu Takut Aku
- Bab 152 Cari Mati
- Bab 153 Kritis
- Bab 154 Vegetatif
- Bab 155 Mimpi Buruk
- Bab 156 Bangun
- Bab 157 Blokir Jalan
- Bab 158 Kala Itu dan Sekarang
- Bab 159 Sudah Cukup Belum
- Bab 160 Tahu Diri
- Bab 161 Kamu Tidak Pantas
- Bab 162 Arogan
- Bab 163 Dilema
- Bab 164 Mengadu
- Bab 165 Sukses Atau Gagal Tergantung Pada Ini
- Bab 166 Terjebak
- Bab 167 Apakah Kamu Sudah Senang
- Bab 168 Cinta Yang Tak Berbalaskan
- Bab 169 Difitnah
- Bab 170 Hidup Atau Mati
- Bab 171 Kematian Nyawa Kecil
- Bab 172 Kakak Telah Datang Melihatmu
- Bab 173 Kesempatan Untuk Mengakui Kesalahan
- Bab 174 Tidak Mau Pergi Ke Manapun
- Bab 175 Kekejaman Dunia Maya
- Bab 176 Bertambah Satu Orang
- Bab 177 Berpisah
- Bab 178 Pernikahan Yang Buruk
- Bab 179 Kesepian
- Bab 180 Kelak Jangan Datang Lagi
- Bab 181 Tidak Ada Yang Enak Dipandang
- Bab 182 Istriku Tidak Bisa Minum Bir
- Bab 183 Menyusahkan
- Bab 184 Tatapan Matanya
- Bab 185 Melahap Kue Besar Sendiri
- Bab 186 Gadis Kecil Lebih Manis Darimu
- Bab 187 Membeberkan
- Bab 188 Aku Adalah Masalah
- Bab 189 Apa Yang Kamu Inginkan
- Bab 190 Merasa Bersalah
- Bab 191 Minum Bir
- Bab 192 Sampai Jumpa Di Kehidupan Selanjutnya
- Bab 193 Membunuh Orang
- Bab 194 Balas Dendam
- Bab 195 Perempuan Yang Merepotkan
- Bab 196 Setumpuk Sampah
- Bab 197 Ketulusan Keluarga Garfid
- Bab 198 Kamu Telah Menebaknya Dengan Benar
- Bab 199 Tiga Detik Tidak Pukul, Menjadi Nakal
- Bab 200 Sudut Bibir Yang Naik Ke Atas
- Bab 201 Ancaman Julia
- Bab 202 Kehangatannya
- Bab 203 Sengaja Ya?
- Bab 204 Seluruh Penjuru Dunia
- Bab 205 Burung Unta
- Bab 206 Membunuh Sekeluarganya
- Bab 207 Wanitaku Hanya Dirimu Saja
- Bab 208 Hanya Diriku Yang Pernah Menjadi Wanitanya
- Bab 209 Aku Benar-Benar Sudah Sangat Lelah
- Bab 210 Bos Richie yang Berprinsip
- Bab 211 Ciuman Halus
- Bab 212 Kewajiban Suami Istri
- Bab 213 Apakah Kamu Menyukaiku?
- Bab 214 Jangan-Jangan Otaknya Sudah Rusak?
- Bab 215 Pemicu Terakhir
- Bab 216 Aktif
- Bab 217 Kontroversi Kontrasepsi
- Bab 218 Apa Yang Ingin Kamu Lakukan?
- Bab 219 Melebih-lebihkan
- Bab 220 Kakak Ipar
- Bab 221 Jalan Shivas
- Bab 222 Paling Parah Mengulang Kembali Dari Awal
- Bab 223 Merundingkan sesuatu
- Bab 224 Hal Yang Benar Dengan Orang Yang Tidak Tepat (1)
- Bab 224 Membicarakan Kejadian Tidak Membicarakan Orangnya
- Bab 225 Rasa Air Mata
- Bab 226 Kebetulan
- Bab 227 Apakah Sudah Sampai Waktu Yang Hancur Sepenuhnya?
- Bab 228 Perlu Pertukaran
- Bab 229 Sebenarnya Aku Juga Pernah Menyukaimu
- Bab 230 Orang Yang Tak Berperasaan
- Bab 231 Hancurkan Dia
- Bab 232 Permainan
- Bab 233 Genit
- Bab 234 Suasana Hati Richie Yang Buruk
- Bab 235 Dia Telah Kembali
- Bab 236 Pria Yang Memanjat Balkon
- Bab 237 Tidak Cinta
- Bab 238 Memalukan
- Bab 239 Dukungan
- Bab 240 Satu-Satunya Orang Cerdas Di Dunia
- Bab 241 Pulang
- Bab 242 Kamu Sendiri Yang Memilih
- Bab 243 Kemana Saja Tidak Lupa Menggoda
- Bab 244 Ada, Tapi Sudah Meninggal
- Bab 245 Dikurung
- Bab 246 Mak Comblang Paruh Waktu
- Bab 247 Datang Seorang Teman
- Bab 248 Kesalahan Sendiri Ditanggung Sendiri
- Bab 249 Aku Ingin Menunggumu Pulang
- Bab 250 Wajah Adalah Benda Yang Bagus
- Bab 251 Perbedaan Cinta Murni
- Bab 252 Berasa Naik Ke Surga
- Bab 253 Dia Menyukainya Tetapi Tidak Mau
- Bab 254 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Lagi
- Bab 255 Marah
- Bab 256 Terjadi Sesuatu Dengan Tuan Muda
- Bab 257 Terima Kasih, Neva
- Bab 258 Mengapa Kecelakaan Tidak Terjadi Padamu
- Bab 259 Dia Menang
- Bab 260 Ketidaknyamanan Antara Pria Dan Wanita
- Bab 261 Berbagi Suka Dan Duka
- Bab 262 Kakek
- Bab 263 Semua Pria Itu Sama
- Bab 264 Tokoh Besar
- Bab 265 Tidak Bagus!
- Bab 266 Legal Officer Wanita
- Bab 267 Gadis Kecil Yang Dipungut
- Bab 268 Wow, Harum Sekali!
- Bab 269 Petani Dan Ular
- Bab 270 Darah Daging Keluarga Yang
- Bab 271 6 Orang Mama
- Bab 272 Permintaan Berty
- Bab 273 Masuk Dapur
- Bab 274 Maksud Hatinya
- Bab 275 Putus Harapan
- Bab 276 Peperangan
- Bab 277 Mengembalikannya Berlipat Ganda
- Bab 278 Aku Sangat Mengganggu Ya
- Bab 279 Perubahan Di Acara Pernikahan
- Bab 280 Menginginkan Anak
- Bab 281 Memberikan Sebuah Kejutan Kepadanya
- Bab 282 Pernikahan
- Bab 283 Dia Yang Mana Yang Asli?
- Bab 284 Aku Memanggilmu Adik, Kamu Juga Tidak Menjawabnya
- Bab 285 Orang Yang Paling Lembut Di Dunia
- Bab 286 Tes DNA
- Bab 287 Dua Buah Mayat
- Bab 288 Selamat Tinggal Cintaku
- Bab 289 Kemanapun Tidak Boleh Pergi
- Bab 290 Aku Mencintaimu
- Bab 291 Kemanusiaan Dan Ancaman
- Bab 292 Penjahat Mutlak
- Bab 293 Enam Puluh Milyar Dan Nyawa Manusia
- Bab 294 Empat Triliun, Kamu Pergilah Sana
- Bab 295 Surat Yang Dia Tinggalkan
- Bab 296 Perusahaan Aska Bangkrut
- Bab 297 Kebaikannya
- Bab 298 Dia Sudah Tiada
- Bab 299 Maaf
- Bab 300 Paman Dan Anak Perempuan
- Bab 301 Bertumbuh Bersama
- Bab 302 Paman Harus Melindungi Nana Dan Ibu
- Bab 303 Keputusan Gandi
- Bab 304 Julia Morez diculik
- Bab 305 Perdagangan Web Gelap
- Bab 306 Hatinya Hanya Ada Satu Orang
- Bab 307 Pasti Bisa Ditemukan
- Bab 308 Akhirnya Menemukanmu
- Bab 309 Yang Terindah Di Lubuk Hati
- Bab 310 Aku Bersedia Dimarahi Olehmu Seumur Hidup
- Bab 311 Wanitaku
- Bab 312 Jongkok Di Pojokan
- Bab 313 Aku Menganti Kerugian Kamu
- Bab 314 Kamu Sangat Tertarik Kepada Dia
- Bab 315 Kertas Tidak Bisa Menahan Api
- Bab 316 Apakah Rasanya Seperti Yang Kamu Inginkan?
- Bab 317 Aku Hanya Ingin Mendekatimu
- Bab 318 Membutakan Matanya
- Bab 319 Pasti Sangat Bahagia
- Bab 320 Mengunci Hati Kamu
- Bab 321 Orang Asing di Meja Makan
- Bab 322 Orang Yang Mengganggu, Kakinya Akan Dipotong
- Bab 323 Aku Suka Kamu Menemaniku
- Bab 324 Kebenaran
- Bab 325 Sejarah Tersembunyi Keluarga Yang
- Bab 326 Ada Apa Ini?
- Bab 327 Berbohong
- Bab 328 Dia Hampir Mati
- Bab 329 Permohonan Untuk Tetap Hidup
- Bab 330 Penyelamat
- Bab 331 Merahasiakan Identitas Orang Yang Mendonorkan Darah
- Bab 332 Nyonya Presdir
- Bab 333 Pria Jahat
- Bab 334 Biaya Terima Kasih
- Bab 335 Apa yang Kamu Inginkan Dariku, Agar Kamu Merasa Puas
- Bab 336 Kedepannya Jangan Menangis Lagi
- Bab 337 Impian Kehidupan Cinta
- Bab 338 Pak Tua Yang Memancing Ikan
- Bab 339 Bertindak Terlalu Berlebihan
- Bab 340 Wanita Bikini
- Bab 341 Barter
- Bab 342 Anak
- Bab 343 Tidak Selezat Pangsit
- Bab 344 Bawa Ibu Kembali
- Bab 345 Seolah Tidak Mengenal Sanak Keluarga
- Bab 346 Menjauhlah Dariku
- Bab 347 Kemesraan Di Sisi Gelap
- Bab 348 Ayo Kita Pacaran
- Bab 349 Karier
- Bab 350 Posisi Yang Didapatkan Dengan Menaiki Ranjang
- Bab 351 Aku Akan Bertanggung Jawab Padamu
- Bab 352 Bertaruh Dengan Ayah
- Bab 353 Ayahku Adalah Kepala Sekolah
- Bab 354 Aku tidak keberatan membantumu mendisiplikannya
- Bab 355 Nyali cukup besar
- Bab 356 Hal yang mengerikan
- Bab 357 Kamu Jangan Bicara Sembarangan Ya
- Bab 358 Menerima Resikonya
- Bab 359 Dia Bilang, Itu Putrinya
- Bab 360 Merokok Buruk Bagi Kesehatanmu
- Bab 361 Apakah Ada Sesuatu di Wajahku
- Bab 362 Pergi Membuka Kamar?
- Bab 363 Ingatan Hancur
- Bab 346 Tuan Tirta, Berbicaralah Dengan Baik
- Bab 365 Tidak Ada Yang Berani Mengatakan Keburukan Aku Dan Kamu
- Bab 366 Antar Saudara
- Bab 367 Karena Direktur Yang Memiliki Temperamen Baik
- Bab 368 Kamu Bisa Belagu Sampai Kapan
- Bab 369 Aku Orangnya Lebih Cinta Damai
- Bab 370 Semuanya Mengandalkan Sponsor Elit
- Bab 371 Penasihat
- Bab 372 Masalah Sepele Ini, Kapan Saja Dikerjakan Juga Sama
- Bab 373 Seratus Tangkai Bunga Mawar Ungu
- Bab 374 Nasib Akhir Penyanjung
- Bab 375 Keputusasaan Dan Harapan
- Bab 376 Utarakan Perasaanmu, Bersikap Lebih Berani
- Bab 377 Setiap Perbuatanku Hanya Boleh Dilakukan Untukmu
- Bab 378 Tuan Gandi, Kamu Benar-benar Buta
- Bab 379 Melakukan Sesuatu Yang Penting
- Bab 380 Hal Yang Hanya Terjadi Pada Sepasangan Kekasih
- Bab 381 Aku Di Sini Melihatmu Kembali
- Bab 382 Akankah Ibu dan Paman Gandi tidur bersama?
- Bab 383 Pikiran Gadis
- Bab 384 Kamu pernah kehilangan ingatan, Apa kamu lupa
- Bab 385 Kesehatan Tubuh Pertama, Jangan Kecapekan
- Bab 386 Pakaian Tidak Rapi Dan Kaki Lemas
- Bab 387 Pacar Gosip