Cinta Yang Dalam - Bab 278 Aku Sangat Mengganggu Ya
Setelah terjadi permasalahan seperti ini, Miller sudah merelakan segala keinginannya untuk menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Tirta.
Meskipun keluarga Tirta masih memiliki seorang anak bungsu yang belum menikah, namun keluarga Dallas tidak dapat melakukan tindakan yang begitu memalukan lagi.
Maria menggeleng kepala dan berkata :”Ayah, masalah ini nanti baru bahas! Dikarenakan masalah Dola, perusahaan menjadi sangat kacau, aku tidak ada tenaga untuk memikirkan permasalahan pribadi.”
“Bajan sangat setia padamu, kamu boleh memberikan kesempatan lagi kepadanya.” Sebenarnya penilaian Miller terhadap Bajan juga lumayan baik.
Namun dia adalah seorang ayah yang berpikiran luas, sehingga dalam masalah perasaan dia selalu menghormati keputusan anak perempuan sendiri.
“Baik, aku mengerti.” Maria menjawab dengan nada ringan.
Setelah melihat reaksi anak perempuannya yang begitu datar, Miller tiba-tiba merasa sedikit lelah, oleh sebab itu dia melambaikan tangan sendiri agar Maria dapat istirahat saja.
Maria keluar dari ruang baca dan terus menuju ruang pengobatan, namun ketika jaraknya masih ada belasan meter, Maria malah menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Dia tidak tahu mengapa dirinya malah datang ke sini, saat ini otak pemikirannya sangat kacau.
Apakah datang untuk memperhatikan keadaan Neva? Tidak mungkin, Neva adalah saingan dirinya dalam segi hubungan perasaan.
Mungkin saja dirinya hanya ingin datang menjenguk Gandi, tujuannya adalah meminta kesempatan bersamanya lagi.
“Siapa!” Dia berdiri sejenak di depan pintu, saat ini pengawal di keluarga Tirta sudah menyadari keberadaan dirinya.
Maria beranjak ke depan dan berkata : “Aku ingin bertemu dengan Gandi.”
Rey mengenal dengan Maria, sehingga menghalangi pengawal yang ingin bertanya dan langsung berkata : “Nona Maria, sekarang tuan Tirta tidak berniat melayani tamu, mohon pulang saja!”
Maria menggeleng kepala dan berkata dengan nekat : “Hari ini aku harus bertemu dengannya!”
Rey merasa kesusahan, namun juga menyadari kenekatan Maria, oleh sebab itu dia mengalah dan berkata : “Kalau begitu aku coba melaporkan kepadanya. Tetapi kalau tuan Tirta tidak ingin bertemu denganmu….”
Rey tidak menyelesaikan kata-katanya, anggap saja memberikan jalan keluar untuk Maria.
Maria mengangguk. Rey juga mengetuk pintu, setelah mendengar suara balasan yang berasal dari dalam, Rey baru beranjak masuk.
Saat ini Gandi sedang duduk di samping Neva, tangannya masih memegang ponsel, namun layar ponselnya telah padam.
Tatapan mata Gandi terus melekat pada wajah Neva.
“Tuan Tirta, nona Maria sudah datang.” Rey berkata dengan gaya berhati-hati.
Gandi tidak menoleh kepala, malahan berkata dengan nada datar :”Kamu lupa perintahku ya?”
Tubuh Rey terasa kaku dalam seketika, sehingga buru-buru berkata : “Bukan …. Aku sudah pernah sampaikan kepada nona Maria, tetapi aku melihat reaksinya, sepertinya dia hari ini tidak akan pergi lagi apabila tidak bertemu denganmu!”
Gandi tersenyum sinis, Maria memang hebat juga, saat ini bahkan bisa memanfaatkan diri sendiri untuk mengancamnya.
“Kasih tahu dia, tidak mau ketemu!”
Pada saat keluar Rey menutup pintu kamar dengan gerakan berhati-hati, sepertinya sangat khawatir akan membangunkan Neva yang telah tertidur nyenyak.
Rey berjalan ke hadapan Maria dan berkata : “Nona Maria, tuan Tirta tidak ingin bertemu denganmu.”
Maria terus menatap Rey, namun tidak berbicara apapun.
Namun Rey menyadari bahwa saat ini tatapan Maria telah melalui dirinya dan melekat pada tubuh Gandi.
Meskipun sedang tidur pulas, namun seluruh tubuh Neva tetap saja gemetar.
Perasaan ketakutan di ruangan tertutup pada kali ini telah meninggalkan rasa trauma yang besar di dalam hatinya.
Luka pada bagian kepalanya sudah selesai diobati, sudah ada gejala gegar otak tingkat menengah.
Gandi barusan telah menyuruh orangnya menyiapkan pesawat, apabila keadaan Neva sudah mulai membaik, mereka akan langsung pulang negeri.
Di dalam ruang bawah tanah, Elena sudah hampir gila.
Dia menjerit sekuat tenaga dan terus menghancurkan barang, sepertinya berharap ada yang bisa menolongnya.
Namun suasana di sekeliling sangat sunyi, sama sekali tidak ada yang memedulikan dirinya.
Tubuhnya gemetar karena kedinginan, saat ini dia mulai mengingat kembali bahwa dirinya pernah membuang selimut tidak layak dipakai ke dalam ruang bawah tanah tersebut.
Dia buru-buru mencari selimut itu, namun setelah mencari di sekeliling, dia melihat selimut itu sudah dibuang ke dalam sebuah peti mati yang terbuat dari phoebe zhennan, sedangkan mayat di dalam peti mati telah hancur ditimpa oleh selimut, sehingga tentu saja ada sedikit jejak abu mayat yang melekat pada selimut.
Meskipun Elena terkesan tidak takut apapun pada biasanya, namun bagaimanapun saat ini dia sedang sendirian di dalam ruangan yang gelap gulita.
Elena berusaha untuk berpikir positif, namun tulang mayat dan patung mengerikan beserta berbagai barang antik sedang ketabahan isi hatinya.
Dia mengulurkan tangan yang gemetar, lalu menangkap selimut dan berkata : “Abang, kakak, tuan, bibi … aku tidak sengaja, aku benaran sudah kedinginan, kalau tidak mengenakan selimut lagi, takutnya aku akan mati di sini ….”
Elena menarik selimutnya dengan kuat, namun setelah mencoba sekilas, selimutnya malah terseret oleh sesuatu.
Dia sangat panik, sehingga langsung berutut di lantai dan berkata :”Maaf, maaf, aku yang bertindak tidak sopan ….”
Namun beberapa saat kemudian masih tidak mendengar suara apapun.
Setelah itu Elena baru berdiri dengan gerakan terhuyung-huyung, dia beranjak ke depan dan melirik sekilas, rupanya selimut itu sedang sangkut di permukaan menonjol pada peti mati.
Dia menarik selimut dan langsung membungkus pada tubuh sendiri, tidak peduli lagi masalah kotor atau sial.
Apabila pada saat sendiri, manusia yang memiliki karakter apapun juga bakal melepaskan semua penyamarannya.
Elena menangis tersedu-sedu dan berbisik sendiri :”Aku tidak mau mati! Kepalaku sakit sekali! Tuhan, Budha, kalau kalian memang ada, tolonglah menyelamatkan aku!”
Kata-kata dirinya memicu kesan seram di dalam ruang bawah tanah yang gelap gulita, sehingga tubuhnya merinding dalam seketika.
Dikarenakan ada selimut yang membungkus badannya, sehingga dia juga tidak begitu dingin lagi.
Dia tidak ingat lagi seberapa lamanya dia membuang Neva ke tempat ini, namun apabila menghitung waktunya, setidaknya dia harus dikurung dalam tempat ini untuk waktu empat hingga lima jam.
Dia mungkin saja akan gila dalam waktu beberapa jam ini.
Sementara rasa benci terhadap Neva juga telah merasuki seluruh tulangnya.
“Wanita yang sialan ini, semuanya kesalahan dia! Aku hanya memberikan pelajaran kepadanya, dia bahkan ingin membunuhku pula! Tuhan, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini! Mereka bahkan memukul kepalaku, bagaimana kalau mempengaruhi kinerja otakku?”
Elena sudah tidak berani berpikir lagi, apabila dirinya keluar dari ruang bawah tanah ini, bagaimana penilaian sahabat dan bawahan terhadap dirinya.
Kejadian hari ini sudah terlalu heboh, bahkan semua orang mengetahui hal ini, sementara dirinya adalah pelaku yang merencanakan semua kejadian ini.
Harga dirinya benar-benar sudah dijatuhkan.
Pada saat ini, jendela kecil yang berada di kepalanya tiba-tiba terbuka.
Ada berbagai barang yang terjatuh dari jendela kecil tersebut.
Hati Elena terasa senang, sehingga buru-buru menjerit : “Ada orang? Tolonglah aku, tolonglah aku!”
Namun jendela kecil tersebut malahan sudah ditutup dan juga tidak ada orang yang respons dirinya.
Elena yang merasa kecewa hanya bisa melihat barang di lantai, setelah melihat dengan jelas, Elena terasa gembira dalam seketika.
Ternyata barang yang dilemparkan dari jendela adalah beberapa botol air hangat dan juga sebungkus makanan yang masih hangat, jelasnya bertujuan untuk membantu dirinya.
Meskipun suasana di sekeliling sangat seram dan mengerikan, setelah itu tubuhnya masih mengenakan selimut yang pernah menutupi abu mayat.
Namun Elena sudah terasa lapar setelah mengalami penyiksaan barusan.
Dia mengambil makanan dan langsung menerkam dengan semangat.
Setelah tubuhnya sudah kenyang dan terasa buncit, Elena baru meletakkan makanan dengan hati yang tidak tega.
Melihat harapan di dalam keadaan putus asa, dalam hati Elena bahkan merasa sedikit bahagia.
Neva menetap di mansion keluarga Dallas hingga sore di keesokan harinya, setelah itu Fandi mengatur ratusan pengawal untuk datang menjemputnya.
Mereka melakukan pemeriksaan pada rumah sakit di pusat kota, setelah itu baru kembali ke Hotel Flowles Star.
Pada pertengahan perjalanan Neva terbangun dua kali, hal pertama yang dilakukan dirinya ketika terbangun adalah mencari keberadaan Gandi.
Apabila Gandi tidak berada di sisinya, emosional Neva akan sedikit kehilangan kendali.
Oleh sebab itu Gandi hanya bisa melepaskan semua pekerjaannya dan terus menemani di sisi Neva.
Saat ini Gandi sedang menatap Neva yang berbaring di kasur dengan reaksi wajah dan tatapan yang lembut.
Gandi mulai mengenang semua kejadian di masa lalu sejak dirinya berkenalan dengan Neva.
Dia benci dan sangat menantang dengan keberadaan Neva, akhirnya bahkan memikirkan berbagai solusi untuk mengusirnya.
Sementara Neva akan diam-diam menerima perlakuan dirinya dan tidak akan melawannya.
Namun apabila menemukan kondisi membahayakan, Neva malahan akan maju dengan penuh keberanian dan menyelamatkan dirinya, bahkan sudah mengikhlaskan nyawa sendiri.
Dalam menghadapi wanita seperti ini, dia bahkan terus mencurigai ketulusannya.
Pada kejadian semalam, Gandi benar-benar sangat takut akan kehilangan Neva.
Kesalahpahaman apapun dan masa lalu apapun, semuanya sudah tidak penting lagi.
Neva sangat baik terhadap dirinya, sedangkan Gandi juga mulai menyadari perasaan dirinya terhadap Neva.
Kalau begitu mereka akan hidup bagaikan suami istri biasanya.
Neva tidur selama dua hari, selama ini juga menggunakan makanan yang mudah dicerna untuk mempertahankan ketabahan tubuhnya.
Namun Neva juga tidak terlalu banyak makan, dikarenakan pengaruh sakit kepala, sehingga Neva juga tidak terlalu berselera.
Pada saat dirinya terbangun total, seluruh tubuhnya sudah menjadi kurus.
Neva melirik sisinya, saat ini Gandi sedang menggenggam tangannya dan menyandar di sofa untuk istirahat.
Neva mengingat kembali Gandi yang telah menemani dirinya selama dua hari ini, namun dia menyadari bahwa ingatan dirinya mengenai hal ini sepertinya sudah sangat buram.
Sepertinya pada akhirnya Gandi yang menolong dirinya.
Neva mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajah Gandi.
Namun ketika dirinya baru saja bergerak, Gandi malahan membuka kedua matanya.
Gandi hanya memejamkan mata untuk istirahat, sehingga kesadarannya masih ada.
“Kamu sudah bangun ya? Ada merasa tidak enak badan? Sudah lapar? Aku menyuruh orang dapur menyiapkan bubur yang bergizi, aku sekarang memanas lagi untukmu.”
Setelah itu Gandi bersiap-siap untuk berdiri.
Neva buru-buru meraih tangan Gandi untuk menahannya, setelah itu berkata dengan suara ringan : “Tuan Tirta, temani aku sebentar!”
Gandi menoleh dan menatap Neva, tatapan mata Neva yang sedang penuh dengan jejak memohon membuat hati Gandi menjadi lemah dan tidak dapat menolaknya.
“Baik.” Gandi duduk kembali dan menggenggam Neva dengan kedua tangannya.
“Mengenai kejadian sebelumnya, jangan-jangan aku merepotkan kamu lagi ya?” Neva mulai mengungkit kejadian sebelumnya.
Gandi menggeleng kepala dan berkata : “Tidak ada, orang itu memang pantas mendapatkan karma, aku sudah menghukum dia.”
“Jangan bermusuhan dengan orang hanya karena aku. Aku juga tidak luka parah …” Neva ingin memperlihatkan reaksi santai dan tidak bermasalah, namun ketika hanya bergerak sekilas saja, kepalanya sudah mulai terasa sakit.
Gandi yang melihat demikian buru-buru menahan tubuhnya : “Siapa yang suruh bergerak! Tidak tahu ya kamu sekarang masih ada gejala gegar otak dan masih butuh istirahat ya?”
Neva mengangguk kepada Gandi, dalam menghadapi kata-kata Gandi yang terkesan serius, Neva sama sekali tidak merasa emosi.
Dikarenakan Neva mengetahui bahwa lelaki ini sedang perhatian padanya.
Setelah melihat sikap Neva yang begitu lemah lembut, dalam hati Gandi mulai terasa emosi.
Neva benar-benar sangat polos dan tidak akan bermusuhan dengan orang lain, sehingga banyak sekali orang yang suka mengganggunya.
Seorang wanita yang bahkan sudah tidak dapat melindungi diri sendiri, namun malah terus khawatir akan membebani dirinya.
“Tuan Tirta, pekerjaan kamu di tempat ini sudah selesai mengurus ya?” Neva mengganti topik pembicaraan.
Gandi mengangguk dan berkata : “Fandi akan mengurus sisa pekerjaannya.”
Neva mengangguk dan mencoba bertanya : “Kalau begitu aku boleh pulang negeri dulu?”
“Boleh, tetapi kenapa kamu sendiri yang pulang? Aku sangat mengganggu ya?”
Novel Terkait
The Great Guy
Vivi HuangBeautiful Lady
ElsaLove and Trouble
Mimi XuBack To You
CC LennyPergilah Suamiku
DanisCinta Yang Dalam×
- Bab 1 Menyelamatkan Hidup Adik Laki-Laki
- Bab 2 Memberi Uang Kepadanya
- Bab 3 Dia Mengatakan Aku Cantik
- Bab 4 Kesepakatan Mendadak
- Bab 5 Neva Mengorbankan Tubuhnya
- Bab 6 Memutar Balikan Fakta
- Bab 7 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Takdir
- Bab 8 Bertaruh Denganku
- Bab 9 Nana yang Baik
- Bab 10 Mengambil Sesuai Keperluan
- Bab 11 Mempublikasikan
- Bab 12 Malam Pernikahan
- Bab 13 Kamu Minum Kebanyakan
- Bab 14 Penuh Cinta
- Bab 15 Pak Gandi, Jangan Begitu!
- Bab 16 Tidak Kenal Lelah
- Bab 17 Datang Memprovokasi
- Bab 18 Pacarku Sangat Lembut Padaku
- Bab 19 Kita Suami Istri
- Bab 20 Terluka
- Bab 21 Perselisihan
- Bab 22 Konyol
- Bab 23-24 Lempar Keluar
- Bab 25 Tidak Peduli
- Bab 26 Hilang ?
- Bab 27 Dokumen
- Bab 28 Ayah Yang Tampan
- Bab 29 Badut
- Bab 30 Berita Utama Di Instagram
- BAB 31 Sikap Ibu Tirta
- Bab 32 Harus Pulang
- Bab 33 Gandi Terluka
- Bab 34 Nasehat
- Bab 35 Merepotkan
- Bab 36 Maaf
- Bab 37 Air mata
- Bab 38 Sebuah Tamparan Diwajah
- Bab 39 Apakah Bisa Lebih Dekat Sedikit Lagi?
- Bab 40 Penampilan Saling Mencintai
- Bab 41 Sampai Jumpa Kamu
- Bab 42 Orang Berubah Keadaan Sama
- Bab 43 Keraguan Gandi Tirta
- Bab 44 Berlagak Pahlawan
- Bab 45 Habiskan Bersamaku
- Bab 46 Berbelanja
- Bab 47 Sangat cocok
- Bab 48 Tunggu Sebentar
- Bab 49 Wanita Yang Tidak Tahu Diri
- Bab 50 Orang Yang Paling Dibenci
- Bab 51 Tersadarkan
- Bab 52 Pria Harus Menyayangi Istri
- Bab 53 Mati Memegang Kedudukan
- Bab 54 Meremehkan
- Bab 55 Menunggu Suamiku Datang Menjemput
- Bab 56 Ke Kiri Pulang Ke Kanan Menjemputnya
- Bab 57 Gadis Yang Baik
- Bab 58 Kalah
- Bab 59 Berubah
- Bab 60 Wanita Paling Berbakat
- Bab 61 Tidak Menyukainya
- Bab 62 Keuntungan
- Bab 63 Makan Bersama
- Bab 64 Berakting Sebagai Istri Yang Baik
- Bab 65 Kehangatan Neva
- Bab 66 Hal Besar Terjadi
- Bab 67 Pura-Pura Oon
- Bab 68 Si Jelek
- Bab 69 Kenyataan
- Bab 70 Kalau Ada Pilihan
- Bab 71 Satu-Satunya
- Bab 72 Alasan
- Bab 73 Konyol
- Bab 74 Penyakit Datang Tidak Terduga
- Bab 75 Pesta Kelas Atas
- Bab 76 Memandang Rendah
- Bab 77 Otaknya Rusak
- Bab 78 Pilihan Paling Sulit
- Bab 79 Kabar Baik
- Bab 80 Seperti Burung
- Bab 81 Bahkan Tidak Menginginkan Nyawa
- Bab 82 Berita Heboh
- Bab 83 Menambah Minyak Di Api Yang Membara
- Bab 84 Membatasi Hubungan
- Bab 85 Bayangan Tubuh
- Bab 86 Orang Baik
- Bab 87 Pemeriksaan Dadakan
- Bab 88 Romantis
- Bab 89 Kegelisahan
- Bab 90 Situasi Membaik
- Bab 91 Kejadian Masa Lalu
- Bab 92 Adik Ipar
- Bab 93 Anemia
- Bab 94 Intuisi
- Bab 95 Mengecilkan Masalah
- Bab 96 Takdir
- Bab 97 Kakak Ipar Yang Hebat
- Bab 98 Jaga Baik Anj*ngmu
- Bab 99 Rindu
- Bab 100 Marah
- Bab 101 Ayah Dan Putri Itu Bertemu Secara Tidak Disengaja
- Bab 102 Tempatnya Bersandar Seumur Hidup Ini
- Bab 103 Tercengang
- Bab 104 Neva Dalam Bahaya
- Bab 105 Pahlawan
- Bab 106 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 107 Kenyataan
- Bab 108 Perhatian
- Bab 109 Demam
- Bab 110 Jebakan Julia
- Bab 111 Hukum Karma
- Bab 112 Anak Bandel
- Bab 113 Kartu Orang Baik
- Bab 114 Cinta Milik Dirinya, Dia Tidak Tahu
- Bab 115 Penjelasan Gandi
- Bab 116 Alergi
- Bab 117 Mengabaikan
- Bab 118 Dilukai
- Bab 119 Cinta Yang Pura-Pura
- Bab 120 Serakah
- Bab 121 Mabuk
- Bab 122 Bawa Wanita Ini Pergi
- Bab 123 Depresi
- Bab 124 Bakti Anak Yang Tidak Dikenal
- Bab 125 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 126 Meminta Uang
- Bab 127 Dua Ratus Miliar
- Bab 128 Mimpi Karena Rindu
- Bab 129 Berkompromi
- Bab 130 Kecantikan Neva
- Bab 131 Minta Tolong
- Bab 132 Memukulnya Sampai Mati
- Bab 133 Tidak Tahu Bersikap Lembut
- Bab 134 Kontrak
- Bab 135 Telpon Dari Dia Lagi
- Bab 136 Pelacur Centil
- Bab 137 Umpan
- Bab 138 Menyebutkan Kelemahan
- Bab 139 Pesta
- Bab 140 Saksi
- Bab 141 Perlakukan Diri Sendiri Dengan Baik
- Bab 142 Uang Kaget
- Bab 143 Biar Dia Datang Mencariku
- Bab 144 Lubang Tanpa Dasar
- Bab 145 Ada Orang Yang Bertindak
- Bab 146 Kesukaan Yang Tersembunyi
- Bab 147 Dia Masih Merupakan Seorang Siswa
- Bab 148 Orang Yang Berwajah Dingin Tetapi Berhati Hangat
- Bab 149 Tahun-Tahun Mengenal Tuan Tirta
- Bab 150 Mengantar Diri Untuk Dipermalukan
- Bab 151 Kamu Takut Aku
- Bab 152 Cari Mati
- Bab 153 Kritis
- Bab 154 Vegetatif
- Bab 155 Mimpi Buruk
- Bab 156 Bangun
- Bab 157 Blokir Jalan
- Bab 158 Kala Itu dan Sekarang
- Bab 159 Sudah Cukup Belum
- Bab 160 Tahu Diri
- Bab 161 Kamu Tidak Pantas
- Bab 162 Arogan
- Bab 163 Dilema
- Bab 164 Mengadu
- Bab 165 Sukses Atau Gagal Tergantung Pada Ini
- Bab 166 Terjebak
- Bab 167 Apakah Kamu Sudah Senang
- Bab 168 Cinta Yang Tak Berbalaskan
- Bab 169 Difitnah
- Bab 170 Hidup Atau Mati
- Bab 171 Kematian Nyawa Kecil
- Bab 172 Kakak Telah Datang Melihatmu
- Bab 173 Kesempatan Untuk Mengakui Kesalahan
- Bab 174 Tidak Mau Pergi Ke Manapun
- Bab 175 Kekejaman Dunia Maya
- Bab 176 Bertambah Satu Orang
- Bab 177 Berpisah
- Bab 178 Pernikahan Yang Buruk
- Bab 179 Kesepian
- Bab 180 Kelak Jangan Datang Lagi
- Bab 181 Tidak Ada Yang Enak Dipandang
- Bab 182 Istriku Tidak Bisa Minum Bir
- Bab 183 Menyusahkan
- Bab 184 Tatapan Matanya
- Bab 185 Melahap Kue Besar Sendiri
- Bab 186 Gadis Kecil Lebih Manis Darimu
- Bab 187 Membeberkan
- Bab 188 Aku Adalah Masalah
- Bab 189 Apa Yang Kamu Inginkan
- Bab 190 Merasa Bersalah
- Bab 191 Minum Bir
- Bab 192 Sampai Jumpa Di Kehidupan Selanjutnya
- Bab 193 Membunuh Orang
- Bab 194 Balas Dendam
- Bab 195 Perempuan Yang Merepotkan
- Bab 196 Setumpuk Sampah
- Bab 197 Ketulusan Keluarga Garfid
- Bab 198 Kamu Telah Menebaknya Dengan Benar
- Bab 199 Tiga Detik Tidak Pukul, Menjadi Nakal
- Bab 200 Sudut Bibir Yang Naik Ke Atas
- Bab 201 Ancaman Julia
- Bab 202 Kehangatannya
- Bab 203 Sengaja Ya?
- Bab 204 Seluruh Penjuru Dunia
- Bab 205 Burung Unta
- Bab 206 Membunuh Sekeluarganya
- Bab 207 Wanitaku Hanya Dirimu Saja
- Bab 208 Hanya Diriku Yang Pernah Menjadi Wanitanya
- Bab 209 Aku Benar-Benar Sudah Sangat Lelah
- Bab 210 Bos Richie yang Berprinsip
- Bab 211 Ciuman Halus
- Bab 212 Kewajiban Suami Istri
- Bab 213 Apakah Kamu Menyukaiku?
- Bab 214 Jangan-Jangan Otaknya Sudah Rusak?
- Bab 215 Pemicu Terakhir
- Bab 216 Aktif
- Bab 217 Kontroversi Kontrasepsi
- Bab 218 Apa Yang Ingin Kamu Lakukan?
- Bab 219 Melebih-lebihkan
- Bab 220 Kakak Ipar
- Bab 221 Jalan Shivas
- Bab 222 Paling Parah Mengulang Kembali Dari Awal
- Bab 223 Merundingkan sesuatu
- Bab 224 Hal Yang Benar Dengan Orang Yang Tidak Tepat (1)
- Bab 224 Membicarakan Kejadian Tidak Membicarakan Orangnya
- Bab 225 Rasa Air Mata
- Bab 226 Kebetulan
- Bab 227 Apakah Sudah Sampai Waktu Yang Hancur Sepenuhnya?
- Bab 228 Perlu Pertukaran
- Bab 229 Sebenarnya Aku Juga Pernah Menyukaimu
- Bab 230 Orang Yang Tak Berperasaan
- Bab 231 Hancurkan Dia
- Bab 232 Permainan
- Bab 233 Genit
- Bab 234 Suasana Hati Richie Yang Buruk
- Bab 235 Dia Telah Kembali
- Bab 236 Pria Yang Memanjat Balkon
- Bab 237 Tidak Cinta
- Bab 238 Memalukan
- Bab 239 Dukungan
- Bab 240 Satu-Satunya Orang Cerdas Di Dunia
- Bab 241 Pulang
- Bab 242 Kamu Sendiri Yang Memilih
- Bab 243 Kemana Saja Tidak Lupa Menggoda
- Bab 244 Ada, Tapi Sudah Meninggal
- Bab 245 Dikurung
- Bab 246 Mak Comblang Paruh Waktu
- Bab 247 Datang Seorang Teman
- Bab 248 Kesalahan Sendiri Ditanggung Sendiri
- Bab 249 Aku Ingin Menunggumu Pulang
- Bab 250 Wajah Adalah Benda Yang Bagus
- Bab 251 Perbedaan Cinta Murni
- Bab 252 Berasa Naik Ke Surga
- Bab 253 Dia Menyukainya Tetapi Tidak Mau
- Bab 254 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Lagi
- Bab 255 Marah
- Bab 256 Terjadi Sesuatu Dengan Tuan Muda
- Bab 257 Terima Kasih, Neva
- Bab 258 Mengapa Kecelakaan Tidak Terjadi Padamu
- Bab 259 Dia Menang
- Bab 260 Ketidaknyamanan Antara Pria Dan Wanita
- Bab 261 Berbagi Suka Dan Duka
- Bab 262 Kakek
- Bab 263 Semua Pria Itu Sama
- Bab 264 Tokoh Besar
- Bab 265 Tidak Bagus!
- Bab 266 Legal Officer Wanita
- Bab 267 Gadis Kecil Yang Dipungut
- Bab 268 Wow, Harum Sekali!
- Bab 269 Petani Dan Ular
- Bab 270 Darah Daging Keluarga Yang
- Bab 271 6 Orang Mama
- Bab 272 Permintaan Berty
- Bab 273 Masuk Dapur
- Bab 274 Maksud Hatinya
- Bab 275 Putus Harapan
- Bab 276 Peperangan
- Bab 277 Mengembalikannya Berlipat Ganda
- Bab 278 Aku Sangat Mengganggu Ya
- Bab 279 Perubahan Di Acara Pernikahan
- Bab 280 Menginginkan Anak
- Bab 281 Memberikan Sebuah Kejutan Kepadanya
- Bab 282 Pernikahan
- Bab 283 Dia Yang Mana Yang Asli?
- Bab 284 Aku Memanggilmu Adik, Kamu Juga Tidak Menjawabnya
- Bab 285 Orang Yang Paling Lembut Di Dunia
- Bab 286 Tes DNA
- Bab 287 Dua Buah Mayat
- Bab 288 Selamat Tinggal Cintaku
- Bab 289 Kemanapun Tidak Boleh Pergi
- Bab 290 Aku Mencintaimu
- Bab 291 Kemanusiaan Dan Ancaman
- Bab 292 Penjahat Mutlak
- Bab 293 Enam Puluh Milyar Dan Nyawa Manusia
- Bab 294 Empat Triliun, Kamu Pergilah Sana
- Bab 295 Surat Yang Dia Tinggalkan
- Bab 296 Perusahaan Aska Bangkrut
- Bab 297 Kebaikannya
- Bab 298 Dia Sudah Tiada
- Bab 299 Maaf
- Bab 300 Paman Dan Anak Perempuan
- Bab 301 Bertumbuh Bersama
- Bab 302 Paman Harus Melindungi Nana Dan Ibu
- Bab 303 Keputusan Gandi
- Bab 304 Julia Morez diculik
- Bab 305 Perdagangan Web Gelap
- Bab 306 Hatinya Hanya Ada Satu Orang
- Bab 307 Pasti Bisa Ditemukan
- Bab 308 Akhirnya Menemukanmu
- Bab 309 Yang Terindah Di Lubuk Hati
- Bab 310 Aku Bersedia Dimarahi Olehmu Seumur Hidup
- Bab 311 Wanitaku
- Bab 312 Jongkok Di Pojokan
- Bab 313 Aku Menganti Kerugian Kamu
- Bab 314 Kamu Sangat Tertarik Kepada Dia
- Bab 315 Kertas Tidak Bisa Menahan Api
- Bab 316 Apakah Rasanya Seperti Yang Kamu Inginkan?
- Bab 317 Aku Hanya Ingin Mendekatimu
- Bab 318 Membutakan Matanya
- Bab 319 Pasti Sangat Bahagia
- Bab 320 Mengunci Hati Kamu
- Bab 321 Orang Asing di Meja Makan
- Bab 322 Orang Yang Mengganggu, Kakinya Akan Dipotong
- Bab 323 Aku Suka Kamu Menemaniku
- Bab 324 Kebenaran
- Bab 325 Sejarah Tersembunyi Keluarga Yang
- Bab 326 Ada Apa Ini?
- Bab 327 Berbohong
- Bab 328 Dia Hampir Mati
- Bab 329 Permohonan Untuk Tetap Hidup
- Bab 330 Penyelamat
- Bab 331 Merahasiakan Identitas Orang Yang Mendonorkan Darah
- Bab 332 Nyonya Presdir
- Bab 333 Pria Jahat
- Bab 334 Biaya Terima Kasih
- Bab 335 Apa yang Kamu Inginkan Dariku, Agar Kamu Merasa Puas
- Bab 336 Kedepannya Jangan Menangis Lagi
- Bab 337 Impian Kehidupan Cinta
- Bab 338 Pak Tua Yang Memancing Ikan
- Bab 339 Bertindak Terlalu Berlebihan
- Bab 340 Wanita Bikini
- Bab 341 Barter
- Bab 342 Anak
- Bab 343 Tidak Selezat Pangsit
- Bab 344 Bawa Ibu Kembali
- Bab 345 Seolah Tidak Mengenal Sanak Keluarga
- Bab 346 Menjauhlah Dariku
- Bab 347 Kemesraan Di Sisi Gelap
- Bab 348 Ayo Kita Pacaran
- Bab 349 Karier
- Bab 350 Posisi Yang Didapatkan Dengan Menaiki Ranjang
- Bab 351 Aku Akan Bertanggung Jawab Padamu
- Bab 352 Bertaruh Dengan Ayah
- Bab 353 Ayahku Adalah Kepala Sekolah
- Bab 354 Aku tidak keberatan membantumu mendisiplikannya
- Bab 355 Nyali cukup besar
- Bab 356 Hal yang mengerikan
- Bab 357 Kamu Jangan Bicara Sembarangan Ya
- Bab 358 Menerima Resikonya
- Bab 359 Dia Bilang, Itu Putrinya
- Bab 360 Merokok Buruk Bagi Kesehatanmu
- Bab 361 Apakah Ada Sesuatu di Wajahku
- Bab 362 Pergi Membuka Kamar?
- Bab 363 Ingatan Hancur
- Bab 346 Tuan Tirta, Berbicaralah Dengan Baik
- Bab 365 Tidak Ada Yang Berani Mengatakan Keburukan Aku Dan Kamu
- Bab 366 Antar Saudara
- Bab 367 Karena Direktur Yang Memiliki Temperamen Baik
- Bab 368 Kamu Bisa Belagu Sampai Kapan
- Bab 369 Aku Orangnya Lebih Cinta Damai
- Bab 370 Semuanya Mengandalkan Sponsor Elit
- Bab 371 Penasihat
- Bab 372 Masalah Sepele Ini, Kapan Saja Dikerjakan Juga Sama
- Bab 373 Seratus Tangkai Bunga Mawar Ungu
- Bab 374 Nasib Akhir Penyanjung
- Bab 375 Keputusasaan Dan Harapan
- Bab 376 Utarakan Perasaanmu, Bersikap Lebih Berani
- Bab 377 Setiap Perbuatanku Hanya Boleh Dilakukan Untukmu
- Bab 378 Tuan Gandi, Kamu Benar-benar Buta
- Bab 379 Melakukan Sesuatu Yang Penting
- Bab 380 Hal Yang Hanya Terjadi Pada Sepasangan Kekasih
- Bab 381 Aku Di Sini Melihatmu Kembali
- Bab 382 Akankah Ibu dan Paman Gandi tidur bersama?
- Bab 383 Pikiran Gadis
- Bab 384 Kamu pernah kehilangan ingatan, Apa kamu lupa
- Bab 385 Kesehatan Tubuh Pertama, Jangan Kecapekan
- Bab 386 Pakaian Tidak Rapi Dan Kaki Lemas
- Bab 387 Pacar Gosip