Cinta Yang Dalam - Bab 346 Tuan Tirta, Berbicaralah Dengan Baik
Menyadari keanehan Winda, Gandi mengangkat gelasnya dan menyentuh gelas di depan Winda dengan lembut sambil berkata: "Nona Yang, apakah kamu melamun lagi? Masakan sini sangat enak, terima kasih atas traktiran kamu"
Winda melihat ke Gandi, tidak tahu mengapa, penampilan Gandi menjadi agak kabur.
Sepertinya ada lapisan kabut di mata Winda!
Karena merasa tidak di lambung, Gandi hanya mencicipi sedikit anggur merah sana.
Sementara Winda, mengambil gelas anggur merah di atas meja dan menghabiskannya dalam satu kali minum.
Setelah minum segelas anggur merah, ingatan berantakan di otaknya baru menghilang banyak.
Winda bersandar di punggung kursi dan menghela nafas lega.
Setelah itu, Winda merasa perasaaan tercekik di dalam hatinya juga berkurang.
Pada saat itu bubur millet disajikan dan diletakkan di depan Gandi.
Melihat kacang merah yang mengapung di atas bubur millet kuning, tidak tahu mengapa, bagian terlembut di dalam hati Gandi menjadi tersentuh.
Dia mengambil sendok, meniup buburnya sebelum minum, kemudian melihat ke Winda dengan tatapan yang rumit.
"Kamu sudah mengingatnya?"
"Apa? Oh, tidak, aku tidak mengetahui apa pun"
Winda melambaikan tangannya untuk mengklarifikasi diri, tetapi dia tidak sadar bahwa semakin dia bersikap seperti ini, semakin dia terlihat seperti ingin menyembunyikan sesuatu.
Gandi hanya tertawa, tidak memperdalam topik ini lagi.
"Bubur ini tidak terlihat enak, tetapi sangat bergizi dan merawat lambung. Bubur ini adalah ciptaan asli Neva yang aku sebutkan kemarin"
Neva Aska, dua kata, nama seorang wanita. Gandi tidak sengaja menekankan dua kata itu, tetapi Winda mendengarnya dengan jelas.
Dan hati Winda pun mulai bergema.
Otak yang baru saja menenangkan diri mulai memutar kembali beberapa adegan.
Di dalam dapur, dia yang dulu itu sedang menuangkan semangkuk bubur millet yang memiliki kacang merah mengapung di atasnya.
Dia meletakkan bubur itu ke atas meja makan, menunggu Gandi pulang dan meminta dia untuk minum agar merawat lambungnya.
Tetapi, setelah Gandi pulang, yang dia dapat hanya bayangan belakang Gandi yang kejam dan ekspresi Gandi yang tidak senang.
"Iya, seharusnya dia sangat menyayangi kamu"
Adegan ini membuat mata Winda memerah.
Orang yang kasihan itu pasti ada hal yang membuat dia pantas dibenci, semua ini adalah ingatan yang terukir dengan dalam di otak Winda, tidak mungkin adalah ingatan palsu. Lihatlah apa yang dilakukan Gandi dulu!
"Iya, sangat. Tetapi aku sangat jahat kepadanya"
Gandi berkata dengan santai, tetapi nada suaranya berisi penyesalan.
Hal ini membuat tubuh Winda bergetar, mengapa pria ini mengaku begitu saja?
Bukannya Gandi selalu berkata Winda adalah istrinya, adalah Neva?
Sekarang Winda kehilangan ingatan, Gandi juga mencari segala cara untuk berjalan masuk ke hati Winda lagi.
Bukannya Gandi seharusnya menutupi semua ingatan yang gelap itu agar Winda tidak menyadarinya lagi?
"Kalau begitu... tuan Tirta, kenapa kamu sangat jahat kepadanya?"
Gandi sedang makan bubur dengan santai, tetapi lengannya bergetar sejenak setelah mendengar pertanyaan Winda.
"Waktu itu aku bukan manusia"
Gandi mengungkapkan pandangannya terhadap dirinya yang dulu dengan cara yang sederhana tetapi menakutkan.
Mulut Winda terbuka, dia merasa kata-kata Gandi benar dan tidak bisa dibantah.
"Ayo makan saja!"
Winda hanya bisa mengakhiri topik dan mengulurkan sumpitnya untuk mengambil ayam pedas favoritnya.
Tetapi, ayam pedas yang biasanya enak, sekarang terasa seperti sedang mengunyah lilin di mulut.
Terkadang, hal yang paling menakutkan bukanlah kenangan yang menyedihkan.
Tetapi kesedihan dan sakit hati di dalam ingatan yang masuk ke bagian terdalam sumsum tulang.
Ternyata Winda benar-benar ingat semua hal yang telah dia lakukan kepada pria ini sampai ke dalam tulang.
Winda mengingat kesukaan Gandi, sementara Gandi juga ingat kesukaannya.
Winda mengalami amnesia, tetapi Gandi tidak kehilangan ingatan.
Winda pernah sangat baik kepada Gandi, tetapi Gandi sangat jahat kepadanya.
Sekarang Winda sangat jahat kepada Gandi, tetapi Gandi malah sangat baik kepadanya.
Tiga puluh tahun sungai barat, tiga puluh tahun sungai timur.
Pergantian peristiwa membuat smeuanya kembali ke titik asal.
Winda yang dulu mencintai Gandi sampai tidak sabar untuk mati deminya.
Tetapi bagaimana dengan sekarang?
Winda memasuki kondisi ambigu dan labil, setelah beberapa saat dia baru menghela nafas dengan dalam.
Ambang batas di dalam hati tidak bisa dilewati dengan mudah dalam waktu singkat.
Makanan kali ini terasa sangat hambar, Winda menunjukkan semua kerisaunnya di wajahnya.
Melihat Winda, Gandi sepertinya mengerti sesuatu, tetapi dia tidak berkata apa apun.
Setelah makan, pelayan menyajikan pupa jangkrik lagi.
Musim ini adalah musim yang paling tepat untuk makan pupa jangkrik, makanan ini berisi protein yang tinggi.
Makanan ini diberikan oleh restoran secara gratis, tidak seperti Lafite sebelumnya, petugas keamanan yang meminta pelayan untuk mengantar Lafite ke atas.
Walaupun petugas keamanan tidak memberi tahu Gandi, Gandi juga bisa menebaknya.
Melihat pupa jangkrik yang baru saja disajikan, Gandi mengerutkan alisnya: "Kami tidak memesan makanan ini"
"Tuan, makanan ini adalah makanan gratis yang diberikan setiap pembelian lebih dari 2 juta"
"Kami tidak perlu, bawa turun saja" Sikap Gandi sangat tegas.
Winda yang sedang melamun sadar kembali, setelah melihat pupa jangkrik di depannya, dia bertanya: "Tuan Tirta, diberikan secara gratis juga..."
Sebelum Winda selesai berkata, Gandi sudah memotongnya.
"Kamu tidak tahu kalau dirimu alergi sama pupa jangkrik?"
"Apa?" Kali ini, orang yang bingung adalah Winda.
Setelah beberapa saat dia baru berhasil bereaksi, kemudian dia pun melambaikan tangannya, "Kalau begitu tolong bawa pergi makanan ini"
Pelayan membawa pergi pupa jangkrik dan menggantinya dengan buah.
Melihat buah di hadapannya, Winda memikirkan pupa jangkrik tadi.
Otak Winda menjadi berantakan lagi, dia sendiri saja tidak tahu dirinya alergi dengan pupa jangkrik?
Tetapi, setelah mendengar kata-kata Gandi, Winda jadi teringat dengan satu hal.
Di dalam menu makanan keluarga Yang, sehari tiga kali, tidak pernah memasak makanan ini.
Padahal makanan ini sangat bergizi.
Apakah keluarga Yang tidak makan makanan ini karena Winda alergi kepadanya?
Winda tidak mengerti, tetapi dia tetap memutuskan untuk mencari waktu dan memeriksa penyebab alergi di rumah sakit.
Setelah mereka selesai makan, masih ada setengah makanan yang tersisa, Gandi memutuskan untuk membawa pulang semuanya.
Pada saat itu, Winda kebetulan menerima email dari perusahaan, ada sebuah proyek besar yang membutuhkan Winda untuk melakukan pemeriksaan dan tanda tangan.
Setelah meragu sejenak, Winda pun berkata: "Tuan Tirta, aku ada sedikit urusan harus pergi ke kantor. Kamu..."
Winda sebenarnya bermaksud memberi tahu Gandi untuk pergi ke mana saja sesuai keinginan dia, tidak perlu mengurus Winda lagi.
Tetapi tidak tahu mengapa, kode yang begitu jelas ini malah membuat Gandi bereaksi dengan mengangguk: "Iya, aku antar kamu ke kantor saja!"
"Bukan, tidak..."
Tentu saja, penolakan Winda itu tidak berguna.
Gandi memegang tangan Winda dan membawanya ke dalam mobil.
Kali ini petugas keamanan tidak masuk ke dalam mobil, dia hanya berdiri di tempat. Tunggu Gandi mereka pergi, dia baru naik taksi pulang.
Gandi membuka pintu, membiarkan Winda masuk ke tempat penunpang dulu, kemudian mengencangkan sabuk pengamannya dengna gaya yang masrah.
Waktu mengencangkan sabuk pengaman, hampir tidak ada jarak antar mereka berdua.
Wajah Winda memerah, tidak tahu mengapa, dia menelan kembali keinginan mau mengatakan, 'Aku sendiri saja'
Gandi mengemudi dan mengantar Winda ke Young Group.
Melihat Gandi mengemudi masuk ke tempat parkir dengan lancar, Winda menjadi bingung.
Bukannya hanya karyawan Young Group saja yang bisa masuk ke tempat parkir?
Bagaimana Gandi memasukkan nomor plat mobilnya ke sistem manajemen Young Group?
Winda membuka mulutnya, ingin menanyakan tentang hal ini, tetapi dia memutuskan untuk menyerah pada akhirnya. Sepertinya tidak ada hal yang Tuan Tirta yang memliki ajaib tidak bisa lakukan.
Kalau Gandi mengetahui pemikiran Winda.
Mungkin dia akan membantah.
Setidaknya, dia tidak bisa menangani Winda.
Di bawah pimpinan Winda, Gandi parkir di tempat parkir khusus untuk Winda.
Winda melepaskan sabuk pengaman, pada saat dia baru mau turun dari mobil, Gandi menarik tangannya.
Gandi sudah melepaskan sabuk pengamannya dari tadi, dia menggunakan satu tangan untuk menekan tombol kursi bos dan membiarkan Winda berbaring tepat di depannya.
Sementara Gandi menekan seluruh tubuhnya di atas tubuh Winda.
Jarak antara mereka berdua hanya beberapa cm.
Gandi menatap ke Winda dengan tatapan yang tajam tetapi memenuhi kasih sayang.
Sementara tatapan Winda kepada Gandi sedikit menghindar.
Tatapan mereka berdua saling menabrak dan menghasilakn percikan api di tengah udara.
"Tuan, tuan Tirta, kamu ini..."
Winda bertanya dengan lembut.
Yang Winda tidak tahu adalah, penampilan dirinya saat ini membuat tubuh Gandi langsung menjadi kaku.
"Aku mengantar nona Yang ke sini dengan susah payah, apakah nona Yang tidak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku?"
Kata-kata Gandi membuat Winda melamun sejenak.
Apakah di dunia ini masih ada orang yang tidak tahu malu seperti dia?
Hanya mengantar ke kantor saja pun harus meminta imbalan?
Melihat tatapan Gandi yang semakin masrah, Winda tiba-tiba menjadi gugup dan berkata, "Tuan, tuan Tirta, lain hari, lain hari aku traktir kamu makan lagi sebagai ucapan terima kasih. Boleh? Apakah kamu boleh melepaskan aku sekarang? Urusan di kantor sangat darurat, aku haru segera ke sana...."
"Hanya makan saja?" Satu tangan Gandi menopang tubuhnya sendiri, satu tangannya lagi menutup pintu mobil.
Pintu mobil tertutup dan hati Winda juga ikut gemetaran.
"Tuan Tirta, berbicaralah dengan baik..."
Winda sudah gugup sampai tidak bisa berkata dengan lancar.
Tetapi pada detik selanjutnya, Winda sudah tidak bisa bersuara lagi.
Karena pria ini sudah menurunkan tubuhnya dan mencium bibirnya.
Novel Terkait
My Cute Wife
DessyBack To You
CC LennyMy Beautiful Teacher
Haikal ChandraTakdir Raja Perang
Brama aditioPengantin Baruku
FebiUnperfect Wedding
Agnes YuCinta Yang Dalam×
- Bab 1 Menyelamatkan Hidup Adik Laki-Laki
- Bab 2 Memberi Uang Kepadanya
- Bab 3 Dia Mengatakan Aku Cantik
- Bab 4 Kesepakatan Mendadak
- Bab 5 Neva Mengorbankan Tubuhnya
- Bab 6 Memutar Balikan Fakta
- Bab 7 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Takdir
- Bab 8 Bertaruh Denganku
- Bab 9 Nana yang Baik
- Bab 10 Mengambil Sesuai Keperluan
- Bab 11 Mempublikasikan
- Bab 12 Malam Pernikahan
- Bab 13 Kamu Minum Kebanyakan
- Bab 14 Penuh Cinta
- Bab 15 Pak Gandi, Jangan Begitu!
- Bab 16 Tidak Kenal Lelah
- Bab 17 Datang Memprovokasi
- Bab 18 Pacarku Sangat Lembut Padaku
- Bab 19 Kita Suami Istri
- Bab 20 Terluka
- Bab 21 Perselisihan
- Bab 22 Konyol
- Bab 23-24 Lempar Keluar
- Bab 25 Tidak Peduli
- Bab 26 Hilang ?
- Bab 27 Dokumen
- Bab 28 Ayah Yang Tampan
- Bab 29 Badut
- Bab 30 Berita Utama Di Instagram
- BAB 31 Sikap Ibu Tirta
- Bab 32 Harus Pulang
- Bab 33 Gandi Terluka
- Bab 34 Nasehat
- Bab 35 Merepotkan
- Bab 36 Maaf
- Bab 37 Air mata
- Bab 38 Sebuah Tamparan Diwajah
- Bab 39 Apakah Bisa Lebih Dekat Sedikit Lagi?
- Bab 40 Penampilan Saling Mencintai
- Bab 41 Sampai Jumpa Kamu
- Bab 42 Orang Berubah Keadaan Sama
- Bab 43 Keraguan Gandi Tirta
- Bab 44 Berlagak Pahlawan
- Bab 45 Habiskan Bersamaku
- Bab 46 Berbelanja
- Bab 47 Sangat cocok
- Bab 48 Tunggu Sebentar
- Bab 49 Wanita Yang Tidak Tahu Diri
- Bab 50 Orang Yang Paling Dibenci
- Bab 51 Tersadarkan
- Bab 52 Pria Harus Menyayangi Istri
- Bab 53 Mati Memegang Kedudukan
- Bab 54 Meremehkan
- Bab 55 Menunggu Suamiku Datang Menjemput
- Bab 56 Ke Kiri Pulang Ke Kanan Menjemputnya
- Bab 57 Gadis Yang Baik
- Bab 58 Kalah
- Bab 59 Berubah
- Bab 60 Wanita Paling Berbakat
- Bab 61 Tidak Menyukainya
- Bab 62 Keuntungan
- Bab 63 Makan Bersama
- Bab 64 Berakting Sebagai Istri Yang Baik
- Bab 65 Kehangatan Neva
- Bab 66 Hal Besar Terjadi
- Bab 67 Pura-Pura Oon
- Bab 68 Si Jelek
- Bab 69 Kenyataan
- Bab 70 Kalau Ada Pilihan
- Bab 71 Satu-Satunya
- Bab 72 Alasan
- Bab 73 Konyol
- Bab 74 Penyakit Datang Tidak Terduga
- Bab 75 Pesta Kelas Atas
- Bab 76 Memandang Rendah
- Bab 77 Otaknya Rusak
- Bab 78 Pilihan Paling Sulit
- Bab 79 Kabar Baik
- Bab 80 Seperti Burung
- Bab 81 Bahkan Tidak Menginginkan Nyawa
- Bab 82 Berita Heboh
- Bab 83 Menambah Minyak Di Api Yang Membara
- Bab 84 Membatasi Hubungan
- Bab 85 Bayangan Tubuh
- Bab 86 Orang Baik
- Bab 87 Pemeriksaan Dadakan
- Bab 88 Romantis
- Bab 89 Kegelisahan
- Bab 90 Situasi Membaik
- Bab 91 Kejadian Masa Lalu
- Bab 92 Adik Ipar
- Bab 93 Anemia
- Bab 94 Intuisi
- Bab 95 Mengecilkan Masalah
- Bab 96 Takdir
- Bab 97 Kakak Ipar Yang Hebat
- Bab 98 Jaga Baik Anj*ngmu
- Bab 99 Rindu
- Bab 100 Marah
- Bab 101 Ayah Dan Putri Itu Bertemu Secara Tidak Disengaja
- Bab 102 Tempatnya Bersandar Seumur Hidup Ini
- Bab 103 Tercengang
- Bab 104 Neva Dalam Bahaya
- Bab 105 Pahlawan
- Bab 106 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 107 Kenyataan
- Bab 108 Perhatian
- Bab 109 Demam
- Bab 110 Jebakan Julia
- Bab 111 Hukum Karma
- Bab 112 Anak Bandel
- Bab 113 Kartu Orang Baik
- Bab 114 Cinta Milik Dirinya, Dia Tidak Tahu
- Bab 115 Penjelasan Gandi
- Bab 116 Alergi
- Bab 117 Mengabaikan
- Bab 118 Dilukai
- Bab 119 Cinta Yang Pura-Pura
- Bab 120 Serakah
- Bab 121 Mabuk
- Bab 122 Bawa Wanita Ini Pergi
- Bab 123 Depresi
- Bab 124 Bakti Anak Yang Tidak Dikenal
- Bab 125 Kasih Sayang Ibu Dan Anak
- Bab 126 Meminta Uang
- Bab 127 Dua Ratus Miliar
- Bab 128 Mimpi Karena Rindu
- Bab 129 Berkompromi
- Bab 130 Kecantikan Neva
- Bab 131 Minta Tolong
- Bab 132 Memukulnya Sampai Mati
- Bab 133 Tidak Tahu Bersikap Lembut
- Bab 134 Kontrak
- Bab 135 Telpon Dari Dia Lagi
- Bab 136 Pelacur Centil
- Bab 137 Umpan
- Bab 138 Menyebutkan Kelemahan
- Bab 139 Pesta
- Bab 140 Saksi
- Bab 141 Perlakukan Diri Sendiri Dengan Baik
- Bab 142 Uang Kaget
- Bab 143 Biar Dia Datang Mencariku
- Bab 144 Lubang Tanpa Dasar
- Bab 145 Ada Orang Yang Bertindak
- Bab 146 Kesukaan Yang Tersembunyi
- Bab 147 Dia Masih Merupakan Seorang Siswa
- Bab 148 Orang Yang Berwajah Dingin Tetapi Berhati Hangat
- Bab 149 Tahun-Tahun Mengenal Tuan Tirta
- Bab 150 Mengantar Diri Untuk Dipermalukan
- Bab 151 Kamu Takut Aku
- Bab 152 Cari Mati
- Bab 153 Kritis
- Bab 154 Vegetatif
- Bab 155 Mimpi Buruk
- Bab 156 Bangun
- Bab 157 Blokir Jalan
- Bab 158 Kala Itu dan Sekarang
- Bab 159 Sudah Cukup Belum
- Bab 160 Tahu Diri
- Bab 161 Kamu Tidak Pantas
- Bab 162 Arogan
- Bab 163 Dilema
- Bab 164 Mengadu
- Bab 165 Sukses Atau Gagal Tergantung Pada Ini
- Bab 166 Terjebak
- Bab 167 Apakah Kamu Sudah Senang
- Bab 168 Cinta Yang Tak Berbalaskan
- Bab 169 Difitnah
- Bab 170 Hidup Atau Mati
- Bab 171 Kematian Nyawa Kecil
- Bab 172 Kakak Telah Datang Melihatmu
- Bab 173 Kesempatan Untuk Mengakui Kesalahan
- Bab 174 Tidak Mau Pergi Ke Manapun
- Bab 175 Kekejaman Dunia Maya
- Bab 176 Bertambah Satu Orang
- Bab 177 Berpisah
- Bab 178 Pernikahan Yang Buruk
- Bab 179 Kesepian
- Bab 180 Kelak Jangan Datang Lagi
- Bab 181 Tidak Ada Yang Enak Dipandang
- Bab 182 Istriku Tidak Bisa Minum Bir
- Bab 183 Menyusahkan
- Bab 184 Tatapan Matanya
- Bab 185 Melahap Kue Besar Sendiri
- Bab 186 Gadis Kecil Lebih Manis Darimu
- Bab 187 Membeberkan
- Bab 188 Aku Adalah Masalah
- Bab 189 Apa Yang Kamu Inginkan
- Bab 190 Merasa Bersalah
- Bab 191 Minum Bir
- Bab 192 Sampai Jumpa Di Kehidupan Selanjutnya
- Bab 193 Membunuh Orang
- Bab 194 Balas Dendam
- Bab 195 Perempuan Yang Merepotkan
- Bab 196 Setumpuk Sampah
- Bab 197 Ketulusan Keluarga Garfid
- Bab 198 Kamu Telah Menebaknya Dengan Benar
- Bab 199 Tiga Detik Tidak Pukul, Menjadi Nakal
- Bab 200 Sudut Bibir Yang Naik Ke Atas
- Bab 201 Ancaman Julia
- Bab 202 Kehangatannya
- Bab 203 Sengaja Ya?
- Bab 204 Seluruh Penjuru Dunia
- Bab 205 Burung Unta
- Bab 206 Membunuh Sekeluarganya
- Bab 207 Wanitaku Hanya Dirimu Saja
- Bab 208 Hanya Diriku Yang Pernah Menjadi Wanitanya
- Bab 209 Aku Benar-Benar Sudah Sangat Lelah
- Bab 210 Bos Richie yang Berprinsip
- Bab 211 Ciuman Halus
- Bab 212 Kewajiban Suami Istri
- Bab 213 Apakah Kamu Menyukaiku?
- Bab 214 Jangan-Jangan Otaknya Sudah Rusak?
- Bab 215 Pemicu Terakhir
- Bab 216 Aktif
- Bab 217 Kontroversi Kontrasepsi
- Bab 218 Apa Yang Ingin Kamu Lakukan?
- Bab 219 Melebih-lebihkan
- Bab 220 Kakak Ipar
- Bab 221 Jalan Shivas
- Bab 222 Paling Parah Mengulang Kembali Dari Awal
- Bab 223 Merundingkan sesuatu
- Bab 224 Hal Yang Benar Dengan Orang Yang Tidak Tepat (1)
- Bab 224 Membicarakan Kejadian Tidak Membicarakan Orangnya
- Bab 225 Rasa Air Mata
- Bab 226 Kebetulan
- Bab 227 Apakah Sudah Sampai Waktu Yang Hancur Sepenuhnya?
- Bab 228 Perlu Pertukaran
- Bab 229 Sebenarnya Aku Juga Pernah Menyukaimu
- Bab 230 Orang Yang Tak Berperasaan
- Bab 231 Hancurkan Dia
- Bab 232 Permainan
- Bab 233 Genit
- Bab 234 Suasana Hati Richie Yang Buruk
- Bab 235 Dia Telah Kembali
- Bab 236 Pria Yang Memanjat Balkon
- Bab 237 Tidak Cinta
- Bab 238 Memalukan
- Bab 239 Dukungan
- Bab 240 Satu-Satunya Orang Cerdas Di Dunia
- Bab 241 Pulang
- Bab 242 Kamu Sendiri Yang Memilih
- Bab 243 Kemana Saja Tidak Lupa Menggoda
- Bab 244 Ada, Tapi Sudah Meninggal
- Bab 245 Dikurung
- Bab 246 Mak Comblang Paruh Waktu
- Bab 247 Datang Seorang Teman
- Bab 248 Kesalahan Sendiri Ditanggung Sendiri
- Bab 249 Aku Ingin Menunggumu Pulang
- Bab 250 Wajah Adalah Benda Yang Bagus
- Bab 251 Perbedaan Cinta Murni
- Bab 252 Berasa Naik Ke Surga
- Bab 253 Dia Menyukainya Tetapi Tidak Mau
- Bab 254 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Lagi
- Bab 255 Marah
- Bab 256 Terjadi Sesuatu Dengan Tuan Muda
- Bab 257 Terima Kasih, Neva
- Bab 258 Mengapa Kecelakaan Tidak Terjadi Padamu
- Bab 259 Dia Menang
- Bab 260 Ketidaknyamanan Antara Pria Dan Wanita
- Bab 261 Berbagi Suka Dan Duka
- Bab 262 Kakek
- Bab 263 Semua Pria Itu Sama
- Bab 264 Tokoh Besar
- Bab 265 Tidak Bagus!
- Bab 266 Legal Officer Wanita
- Bab 267 Gadis Kecil Yang Dipungut
- Bab 268 Wow, Harum Sekali!
- Bab 269 Petani Dan Ular
- Bab 270 Darah Daging Keluarga Yang
- Bab 271 6 Orang Mama
- Bab 272 Permintaan Berty
- Bab 273 Masuk Dapur
- Bab 274 Maksud Hatinya
- Bab 275 Putus Harapan
- Bab 276 Peperangan
- Bab 277 Mengembalikannya Berlipat Ganda
- Bab 278 Aku Sangat Mengganggu Ya
- Bab 279 Perubahan Di Acara Pernikahan
- Bab 280 Menginginkan Anak
- Bab 281 Memberikan Sebuah Kejutan Kepadanya
- Bab 282 Pernikahan
- Bab 283 Dia Yang Mana Yang Asli?
- Bab 284 Aku Memanggilmu Adik, Kamu Juga Tidak Menjawabnya
- Bab 285 Orang Yang Paling Lembut Di Dunia
- Bab 286 Tes DNA
- Bab 287 Dua Buah Mayat
- Bab 288 Selamat Tinggal Cintaku
- Bab 289 Kemanapun Tidak Boleh Pergi
- Bab 290 Aku Mencintaimu
- Bab 291 Kemanusiaan Dan Ancaman
- Bab 292 Penjahat Mutlak
- Bab 293 Enam Puluh Milyar Dan Nyawa Manusia
- Bab 294 Empat Triliun, Kamu Pergilah Sana
- Bab 295 Surat Yang Dia Tinggalkan
- Bab 296 Perusahaan Aska Bangkrut
- Bab 297 Kebaikannya
- Bab 298 Dia Sudah Tiada
- Bab 299 Maaf
- Bab 300 Paman Dan Anak Perempuan
- Bab 301 Bertumbuh Bersama
- Bab 302 Paman Harus Melindungi Nana Dan Ibu
- Bab 303 Keputusan Gandi
- Bab 304 Julia Morez diculik
- Bab 305 Perdagangan Web Gelap
- Bab 306 Hatinya Hanya Ada Satu Orang
- Bab 307 Pasti Bisa Ditemukan
- Bab 308 Akhirnya Menemukanmu
- Bab 309 Yang Terindah Di Lubuk Hati
- Bab 310 Aku Bersedia Dimarahi Olehmu Seumur Hidup
- Bab 311 Wanitaku
- Bab 312 Jongkok Di Pojokan
- Bab 313 Aku Menganti Kerugian Kamu
- Bab 314 Kamu Sangat Tertarik Kepada Dia
- Bab 315 Kertas Tidak Bisa Menahan Api
- Bab 316 Apakah Rasanya Seperti Yang Kamu Inginkan?
- Bab 317 Aku Hanya Ingin Mendekatimu
- Bab 318 Membutakan Matanya
- Bab 319 Pasti Sangat Bahagia
- Bab 320 Mengunci Hati Kamu
- Bab 321 Orang Asing di Meja Makan
- Bab 322 Orang Yang Mengganggu, Kakinya Akan Dipotong
- Bab 323 Aku Suka Kamu Menemaniku
- Bab 324 Kebenaran
- Bab 325 Sejarah Tersembunyi Keluarga Yang
- Bab 326 Ada Apa Ini?
- Bab 327 Berbohong
- Bab 328 Dia Hampir Mati
- Bab 329 Permohonan Untuk Tetap Hidup
- Bab 330 Penyelamat
- Bab 331 Merahasiakan Identitas Orang Yang Mendonorkan Darah
- Bab 332 Nyonya Presdir
- Bab 333 Pria Jahat
- Bab 334 Biaya Terima Kasih
- Bab 335 Apa yang Kamu Inginkan Dariku, Agar Kamu Merasa Puas
- Bab 336 Kedepannya Jangan Menangis Lagi
- Bab 337 Impian Kehidupan Cinta
- Bab 338 Pak Tua Yang Memancing Ikan
- Bab 339 Bertindak Terlalu Berlebihan
- Bab 340 Wanita Bikini
- Bab 341 Barter
- Bab 342 Anak
- Bab 343 Tidak Selezat Pangsit
- Bab 344 Bawa Ibu Kembali
- Bab 345 Seolah Tidak Mengenal Sanak Keluarga
- Bab 346 Menjauhlah Dariku
- Bab 347 Kemesraan Di Sisi Gelap
- Bab 348 Ayo Kita Pacaran
- Bab 349 Karier
- Bab 350 Posisi Yang Didapatkan Dengan Menaiki Ranjang
- Bab 351 Aku Akan Bertanggung Jawab Padamu
- Bab 352 Bertaruh Dengan Ayah
- Bab 353 Ayahku Adalah Kepala Sekolah
- Bab 354 Aku tidak keberatan membantumu mendisiplikannya
- Bab 355 Nyali cukup besar
- Bab 356 Hal yang mengerikan
- Bab 357 Kamu Jangan Bicara Sembarangan Ya
- Bab 358 Menerima Resikonya
- Bab 359 Dia Bilang, Itu Putrinya
- Bab 360 Merokok Buruk Bagi Kesehatanmu
- Bab 361 Apakah Ada Sesuatu di Wajahku
- Bab 362 Pergi Membuka Kamar?
- Bab 363 Ingatan Hancur
- Bab 346 Tuan Tirta, Berbicaralah Dengan Baik
- Bab 365 Tidak Ada Yang Berani Mengatakan Keburukan Aku Dan Kamu
- Bab 366 Antar Saudara
- Bab 367 Karena Direktur Yang Memiliki Temperamen Baik
- Bab 368 Kamu Bisa Belagu Sampai Kapan
- Bab 369 Aku Orangnya Lebih Cinta Damai
- Bab 370 Semuanya Mengandalkan Sponsor Elit
- Bab 371 Penasihat
- Bab 372 Masalah Sepele Ini, Kapan Saja Dikerjakan Juga Sama
- Bab 373 Seratus Tangkai Bunga Mawar Ungu
- Bab 374 Nasib Akhir Penyanjung
- Bab 375 Keputusasaan Dan Harapan
- Bab 376 Utarakan Perasaanmu, Bersikap Lebih Berani
- Bab 377 Setiap Perbuatanku Hanya Boleh Dilakukan Untukmu
- Bab 378 Tuan Gandi, Kamu Benar-benar Buta
- Bab 379 Melakukan Sesuatu Yang Penting
- Bab 380 Hal Yang Hanya Terjadi Pada Sepasangan Kekasih
- Bab 381 Aku Di Sini Melihatmu Kembali
- Bab 382 Akankah Ibu dan Paman Gandi tidur bersama?
- Bab 383 Pikiran Gadis
- Bab 384 Kamu pernah kehilangan ingatan, Apa kamu lupa
- Bab 385 Kesehatan Tubuh Pertama, Jangan Kecapekan
- Bab 386 Pakaian Tidak Rapi Dan Kaki Lemas
- Bab 387 Pacar Gosip