Cintaku Yang Dipenuhi Dendam - Bab 83 Kacau Balau
Aku dengan shock memandangi pria yang berparas muka baik agak namun sedikit garang ini, ternyata pria itu punya masa kecil yang begitu menyedihkan, kalau begitu, 10 tahun berikutnya pria itu bagaimana menjalaninya? Seperti hujan angin yang meniup rumput liar, tumbuh dengan gigihnya kah?
Melihat aku memandangi dirinya, Chen Hui membengkokkan bibirnya tersenyum, mukanya luar biasa lembut, “Kamu tidak bisa membayangkan kepahitan yang kurasakan di masa lalu, aku saja masih bisa hidup, dan hidup dengan baik sampai sekarang, kamu takut apa lagi?”
Iya, apa yang kutakuti? Aku harus kuat. Aku tidak enak hati tersenyum ke Chen Hui, merasa bersalah terhadap pemikiran yang terlintas tadi.
Handphone berdering, aku mencari-cari di keempat sudut tasku, Chen Hui memberikannya ke diriku, aku mengambil handphone dari dalam, menerima telpon. Nomor Mo Ziqian, yang menyebar malah suara Qiang Qiang yang kecewa, “Tante, kamu hari ini bukannya sudah selesai ujian kan? Mengapa tidak ke sini melihat Qiang Qiang?”
Bisa membayangkan gaya anak kecil itu kecewa mencibirkan mulut kecilnya mau menangis.
Aku bergegas berkata: “Tante besok pergi melihatmu ya? Hari ini sudah kemalaman.”
Saat ini, kebetulan suster berjalan masuk, membawa 2 kotak obat di tangannya, “Obat ini sehari 3 kali, sekali 2 tablet, diminum setelah makan.”
Chen Hui bertanya: “Setelah pulang ada hal apa yang perlu diperhatikan.”
Suster berkata: “Pulang ke rumah harus makan tepat waktu, makan bergizi, makan makanan yang bisa menambah darah, kondisinya akan perlahan membaik.”
“Baik, terima kasih.”
Chen Hui sangat sopan.
Dan anak kecil di telepon malah sesaat terkejut berkata: “Tante, kamu sakit yah?”
Anak kecil itu sudah mendengar percakapan suster dan Chen Hui, dia kecil-kecil pun mulai mengkhawatirkan diriku.
“Penyakit ringan, besok sudah baikkan.”
Aku tersenyum menghibur Qiang Qiang.
Tapi suara anak kecil malah berganti menjadi Mo Ziqian, “Ada apa denganmu? Sakit apa?”
“Aku.....”
Suara Mo Ziqian yang cemas dan khawatir membuatku seketika menjadi blank, apa benar dia sedang peduli dengan diriku?
Tapi Chen Hui menjulurkan tangan dengan cepat merampas handphoneku, berkata dengan dinginnya ke Mo Ziqian: “Dia sekarang tidak enak badan, tidak bisa berbicara, bye.”
Seperti ini lah Chen Hui memutuskan sendiri untuk mematikan telpon.
Aku dengan terbengong memandangi pria ini yang baru saja bermuka baik dan dengan akrabnya bertanya ke suster hal yang perlu diperhatikan, pria itu detik ini mukanya ditutupi selapis awan gelap mendung yang berat dan tebal.
Handphone diletakkan masuk kembali ke tanganku, tidak mempedulikan sorotan mataku yang sangat terkejut, Chen Hui sedang merapikan barang-barang yang ada di lemari di samping kepala ranjang, “Habis infus aku antar kamu kembali ke rumah.”
Suster sedang membantuku menarik keluar jarum, sambil terkejut sambil mendesah kecil, Chen Hui menoleh melihat diriku sejenak, melihatku satu tangan menekan kapas di bekas suntikan, kemudian bergegas membalikkan badan, “Sini aku saja!”
Pria itu mengambil kapas dari tanganku, tenaga yang ringan menekan di pergelangan tanganku di atas bekas suntikan jarum.
Setelah beberapa saat, melepaskannya. Pria itu dengan teliti melihat bekas tusukan jarum, tidak ada darah yang keluar lagi, baru lah saat ini membuang kapas itu ke tong sampah.
Dan aku malah dibuat kebingungan oleh sikap Chen Hui, biasanya kita tidak dekat, kita tidak ada hubungan apapun, dulu sekali ada pernah mempunyai sedikit pemikiran untuk hidup bersama, juga sudah dari awal tertahan oleh bualan Tuan Kelima, pria ini tidak seharusnya peduli akan diriku seperti ini, tidak seharusnya merawatku seperti ini, barulah masuk akal.
Keluar dari rumah sakit, Chen Hui menyuruhku untuk menunggu di pintu masuk di bagian rawat jalan rumah sakit, berdiri di pintu, melihat mobil pria itu muncul.
Aku lalu menegakkan kaki dan melangkah menuju ke mobil hitam pria itu yang dikendarai untuk menghampirinya.
Mobil BMW, di dalamnya sangat bersih dan rapi.
Aku mengira Chen Hui karena persahabatan yang dulu pernah terjalin, makanya baru peduli dan merawatku seperti ini, tapi di dalam hati malah masih ada sedikit kecurigaan, aku pokoknya merasa perhatian dan perawatan pria itu ada perbedaan dengan yang dulu.
“Kamu masih belum makan, aku bawa kamu makan sesuatu dulu.”
Chen Hui sambil mengendarai mobil sambil berkata, aku malah khawatir Jiayu tidak melihatku bisa khawatir, “Tidak perlu, aku pulang, makan di rumah saja.”
Chen Hui berkata: “Kalau begitu baik lah.”
Tapi saat melewati supermarket di luar kompleks, Chen Hui masih saja ke dalam membeli satu kantong besar barang untukku.
Aku sangat tidak menyangka, pria itu seakan sudah terlalu baik terhadapku.
Ketika turun dari mobil, aku tidak bersedia untuk menerima barang-barang itu, Chen Hui malah memaksakan mendorong ke dalam tanganku, “Ambil lah, kita semua adalah teman, jangan menganggap sebagai orang luar.”
Saat aku sedang bimbang untuk tidak menerima, ada satu mobil lagi berhenti, pintu mobil terbuka, sebuah bayangan tinggi besar tak sabaran berjalan menghampiri.
“Wanwan, ada apa denganmu?”
Itu Mo Ziqian.
Di dalam gelap malam aku kelihatan mata pria itu yang bersinar cemas.
“Tidak apa-apa, sudah membaik.”
Aku dengan datar menjawab.
Yang membuatku tidak kepikiran adalah Chen Hui tiba-tiba melayangkan tonjokkan ke Mo Ziqian, tonjokkan ini terlalu tiba-tiba, Mo Ziqian menerimanya dengan shock, tepat di tengah-tengah mukanya, ketika itu kemudian bagian bawah tubuhnya tergoyang, di bawah hidungnya dengan cepat mengalir darah.
Aku melihat dalam mata pria itu amarah dengan cepat berkumpul dengan serius, membawa tanda tanya besar, Mo Ziqian menjulukan tangan membersihkan sebentar hidung, dengan suara yang gelap berkata: “Chen Hui?”
Pandangan mata pria itu bergerak ke wajahku, seakan sudah mengerti sesuatu hal, dalam matanya bertambah beberapa maksud mengejek.
Sekujur tubuh Chen Hui diselubungi oleh selapis arus ganas di dalamnya, tonjokkan besi pria itu melayang kembali, “Benar, hari ini aku akan memukul sampah masyarakat ini!”
Chen Hui berasal dari pasukan tentara, tonjokkan yang dikeluarkan cepat dan juga keras, namun Mo Ziqian sudah ada persiapan, 3 tahun yang lalu sudah menjadi sabuk hitam DAN 4 taekwondo, pria itu dan Chen Hui bertengkar di depan mataku.
Aku melihat mereka berkelahi demi diriku, sesaat sungguh kesal dan juga gelisah, “Apa yang kalian lakukan! Stop, jangan berkelahi lagi!”
Namun dua orang ini tidak seorang pun mendengarkanku, aku hanya mendengar di samping telinga suara tonjokan dan tendangan ‘buk buk’, kedua orang itu sama kuat, sesaat pria itu tertonjok, sesaat aku tertendang.
“Stop!”
Mataku dengan cepat menggelap, badanku terjatuh ke depan, seketika menempel di atas mesin mobil Chen Hui.
Dua orang itu tentu saja berhenti berkelahi, dua-duanya berlari dengan cepat menghampiriku, aku terdengar dua macam suara Mo Wanwan dan Xiao Xiao, di pinggangku ada lebih dari sebuah tangan.
Telapak tangan yang hangat itu menempel di pinggangku, suhu tubuh yang kukenali dengan baik, Mo Ziqian tidak sabaran bertanya: “Wanwan, kamu tidak apa-apa!?”
Aku menghadap ke pria itu melambai-lambaikan tangan, “Kamu minggir sana, aku bisa berdiri sendiri.”
Mo Ziqian salah tingkah melepaskan tangan yang memapahku, tapi sepasang mata yang terang masih saja terkunci dengan penuh kekhawatiran memandangiku.
Aku berkata ke Chen Hui: “Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit, juga terima kasih sudah menemaniku begitu lama di rumah sakit, dan juga mengantarku pulang ke rumah, tapi masalahku, tidak perlu kamu khawatirkan, kamu pergi lah.”
Chen Hui adalah orang baik, tapi kebaikan pria itu terhadapku, seakan sudah sedikit berlebihan, pria itu merampas handphone-ku, dengan gegabah menutup telponku, dan juga baru saja memukul Mo Ziqian, semua ini, seakan bukan hanya bersumber dari seorang teman yang merasakan ketidak adilan begitu sederhana, dan Mo Ziqian juga sama saja aku juga tidak ingin bertemu dengannya.
“Kamu juga pergi!”
Aku mengayun-ayunkan tangan muak, kemudian tidak melihat lagi kedua pria ini, hati kacau seakan seperti mati rasa mengangkat barang berjalan mengarah ke dalam gedung.
Sekali pulang ke rumah, aku pun melemparkan diri ke atas ranjang besar, sungguh merasa lelah lahir batin.
Aku tidak tahu dua orang itu kapan perginya, aku juga tidak ingin peduli, hanya dengan lemahnya tertidur.
Sampai Jiayu pulang, wanita itu menemukan surat diagnose milikku dari rumah sakit dari dalam kantong besar di antara barang-barang yang aku lempar di depan pintu, mendorong membangunkanku, “Xiao Xiao, kamu anemia?”
Aku mengantuk bukan main, membuka kelopak mata, berkata sepatah ‘Em.’
Mata Jiayu dipenuhi dengan rasa kasihan, sakit hati, mengangkat tangan dengan lemah lembut mengelus-elus rambutku, seperti saudara perempuannya, “Xiao Xiao, kamu butuh apa yang bisa aku bantu?.”
Aku membengkokan ujung bibir kepada wanita itu, “Kamu ini, rasanya seperti aku mau mati saja. Tenang lah, aku selama ini kecapekan saja, makan teratur saja juga sudah kembali lagi.”
Jiayu menganggukkan kepala, tapi pikiran kekhawatiran di matanya tidak berkurang.
Pagi harinya, semangatku sudah lebih membaik, sekali mengangkat tangan pun kelihatan selembar pesan di kepala ranjang: “Aku membuatkanmu Sup Tomyam dan Bubur kacang merah, kalau sudah bangun, ingat makan.”
Bubur dan Tomyam semua itu yang dibelikan Chen Hui semalam untukku, Jiayu memasak sedikit Tomyam, lalu juga mengiris dan merebus bahan lain, tak bisa dipastikan jam berapa dia sudah bangun.
Aku mengirim pesan wechat ke Jiayu, “Aku sudah tahu, sesaat lagi aku akan habiskan.”
Jiayu membalasku dengan emoticon muka tersenyum.
Aku kurang lebih meminum habis sepanci penuh kuah Tomyam dan Bubur kacang merah, minum sampai perutku mengembung membulat, kemudian memotret dan mengirimkan ke Jiayu satu lembar foto perutku dan bagian dasar panci, Jiayu mengirimkan emoticon “jempol”.
Aku sudah hampir mati kekenyangan, tapi demi Jiayu, demi Qiang Qiang, aku juga mau minum dan makan yang banyak, secepat mungkin membuat diriku sendiri sehat dan kuat kembali.
Aku berjanji ke Qiang Qiang hari ini pergi melihatnya, tapi aku pagi hari harus pergi kerja, hanya bisa mengirim pesan ke Mo Ziqian, “Aku malam akan pergi melihat Qiang Qiang, tolong rawat dia dengan baik.”
Mo Ziqian tidak membalas pesanku, tapi aku tahu pria itu seharusnya sudah menerima.
Satu hari sudah berlalu, aku memanggil sebuah taksi, pergi ke villa pinggiran kota Mo Ziqian. Pada saat itu, senja menyatu di sekeliling, sepotong kedamaian di sekeliling villa.
Penjaga yang tersebar di sekeliling melihat diriku, mengambil keluar walkie-talkie tidak tahu sedang berbicara dengan siapa, aku tebak seharusnya dengan Mo Ziqian, memberitahunya ada seorang wanita datang.
Selanjutnya pintu otomatis villa pun terbuka.
Aku buru-buru berjalan masuk, sambil memanggil Qiang Qiang.
Tubuh kecil Qiang Qiang dari rumah terbang berlari keluar, “Tante!”
Anak kecil terbang menempel masuk ke dalam pelukkanku, tangan kecilnya memeluk pahaku, sambil tak sabaran mengungkapkan suasana hatinya sendiri yang gembira, “Tante kamu akhirnya datang juga, kamu sakit apa, kamu sudah baikkan kan?”
Meski hanya anak kecil yang berusia dua tahun lebih, namun sudah peduli akan diriku, dalam hatiku tergugah mendalam, memeluk anak kecil itu.
“Tante sudah membaik, tante selamanya mencintaimu.”
Aku tanpa henti menciumi wajah putih yang lembut anak kecil itu, anak kecil tertawa ‘hehe’, sangat tidak enak hati berkata: “Tante, paman bilang Qiang Qiang sudah menjadi anak laki-laki dewasa, tidak boleh membiarkan wanita menciumku.”
Aku: …….
Saat ini, aku melihat di atas tangga di depan pintu ruang utama villa muncul sebuah banyangan tinggi-tinggi dan kurus. Pria itu mengenakan pakaian rumah yang santai, kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong berdiri di sana, sorotan matanya menggunggah melihat ke sini.
Mengingat perkataan Qiang Qiang, dalam hatiku sedikit berapi, Mo Ziqian jelas-jelas menghasut hubungan antara diriku dan Qiang Qiang, membuat anak itu tidak bisa dekat denganku, “Siapa yang bilang Qiang Qiang adalah seorang anak laki-laki dewasa, Qiang Qiang hanya berusia 2 tahun saja, jika sudah berusia 10 tahun baru adalah seorang anak laki-laki dewasa, sebelum kamu berumur 10 tahun, tante setiap hari boleh saja menciummu seperti ini, setelah kamu berumur 10 tahun, tante juga boleh menciummu.”
Aku berbicara dan memuncungkan lagi bibirku berturut-turut mencium beberapa kali di pipi kecil Qiang Qiang.
Qiang Qiang tertawa ‘hehe’ lagi.
“Qiang Qiang, turun!” Mo Ziqian membuka mulut, “Paman sudah pernah bilang ke kamu, kamu sudah jadi anak laki-laki dewasa, tidak boleh membiarkan wanita menciummu juga tidak boleh membiarkan wanita memelukmu.”
Novel Terkait
Anak Sultan Super
Tristan XuThe True Identity of My Hubby
Sweety GirlHis Second Chance
Derick HoNikah Tanpa Cinta
Laura WangLove And War
JaneUnperfect Wedding
Agnes YuUnlimited Love
Ester GohCinta Yang Dalam
Kim YongyiCintaku Yang Dipenuhi Dendam×
- Bab 1 Dua Keluarga
- Bab 2 Kelembutan Terakhir
- Bab 3 Masuk Penjara
- Bab 4 Tingkah Pelacur
- Bab 5 Memberikan Anaknya Kepada Yang Lain
- Bab 6 Seseorang Yang Kaya Dan Misterius
- Bab 7 Tak Terduga
- Bab 8 Begitu Membencimu
- Bab 9 Di Peternakan Kuda
- Bab 10 Campur Tangan Tuan Kelima
- Bab 11 Main Ganda
- Bab 12 Cinta Satu-Satunya
- Bab 13 Anakku
- Bab 14 Belajar Menyenangkanku
- Bab 15 Peran Yang Memalukan
- Bab 16 Penyesalan
- Bab 17 Penuh Keraguan
- Bab 18 Terperangkap
- Bab 19 Penuh dengan Akal Buruk
- Bab 20 Pasangan Serasi
- Bab 21 Memiliki Kesempatan
- Bab 22 Konferensi Pers
- Bab 23 Sangat Memalukan
- Bab 24 Tidak Ada Seorang Pun
- Bab 25 Ciuman Di Luar Kendali
- Bab 26 Membahayakan Dirinya Sendiri
- Bab 27 Paling Menyesal Pernah Mencintaimu
- Bab 28 Suatu Ancaman
- Bab 29 Orang-Orang Malang
- Bab 30 Antara Cinta Dan Benci
- Bab 31 Pembalasan Li Li
- Bab 32 Keterlaluan Bodohnya
- Bab 33 Bersedia Cuci Tangan dan Membuat Sup
- Bab 34 Gangguan Kepribadian
- Bab 35 Dia Mengidap Penyakit Kotor
- Bab 36 Kamu Hanya Bisa Menjadi Milikku
- Bab 37 Orang-Orang Munafik
- Bab 38 Skandal dan Gosip Melanda
- Bab 39 Dikurung
- Bab 40 Proposal Lamaran
- Bab 41 Sifat Tuan Muda
- Bab 42 Memanggil Wartawan
- Bab 43 Tidak Memahami
- Bab 44 Penyergapan Dimana-mana
- Bab 45 Ayah dan Putra yang Berpapasan
- Bab 46 Insting Ibu Dan Anak
- Bab 47 Permainan Mengerikan
- Bab 48 Godaan
- Bab 49 Keracunan Alkohol
- Bab 50 Dirimu Yang Kejam
- Bab 51 Seekor Rubah
- Bab 52 Marah Setengah Mati
- Bab 53 Sudah Di Jalur Yang Benar
- Bab 54 Dikacaukan Dua Kali
- Bab 55 Pria-Pria Brengsek
- Bab 56 Pemesan Kue Misterius
- Bab 57 Identitas Hu Yeming, Pimpinan Kejahatan
- Bab 58 Pandangan Cinta
- Bab 59 Balasan Jahat Untuk Orang Jahat
- Bab 60 Muntah
- Bab 61 Kekasih Lain
- Bab 62 Bantuan
- Bab 63 Bersama Di Mobil Mogok
- Bab 64 Waktu Itu Sangat Indah
- Bab 65 Menjijikan
- Bab 66 Gempa Bumi
- Bab 67 Menyerang Membabi Buta
- Bab 68 Golongan Darah Panda
- Bab 69 Dia Adalah Putramu !
- Bab 70 Ganti Rumah Sakit
- Bab 71 Siapa Yang Berbohong
- Bab 72 Kejutan
- Bab 73 Mengakui Pencuri Sebagai Ibunya
- Bab 74 Kembali Ke Tempat Semula
- Bab 75 Sudah Pergi
- Bab 76 Kesedihan Di Hati
- Bab 77 Ayah Angkat
- Bab 78 Membersihkan Pistol Keluar Api
- Bab 79 Gelang
- Bab 80 Merendahkan
- Bab 81 Membawa Pergi
- Bab 82 Seperti Seorang Kakak
- Bab 83 Kacau Balau
- Bab 84 Bersembunyi di Ruang Rahasia
- Bab 85 Istri Teman
- Bab 86 Kebakaran Besar
- Bab 87 Menyangkal
- Bab 88 Sinis
- Bab 89 Sedikit Trik
- Bab 90 Membayar Dengan Tubuh
- Bab 91 Seperti Mimpi
- Bab 92 Wanita Cantik Yang Kehilangan Kaki
- Bab 93 Potong Perutnya
- Bab 94 Chen Liyan Ditampar
- Bab 95 Pesta Topeng
- Bab 96 Langit Malam
- Bab 97 Pergi Jauh
- Bab 98 Menangkap Basah
- Bab 99 Aku Akan Tanggung Untukmu
- Bab 100 Rela Diselingkuhi
- Bab 101 Selalu Mencintainya
- Bab 102 Itu Dia
- Bab 103 Menjaganya
- Bab 104 Kejam
- Bab 105 Manusia Yang Tidak Memiliki Hati Nurani
- Bab 106 Membantu Dia Mengugurkan Anaknya
- Bab 107 Dia Menyukaimu
- Bab 108 Memaksa
- Bab 109 Tidak Masuk Akal
- Bab 110 Siapa Itu
- Bab 111 Hukuman Yang Mesra
- Bab 112 Malu Dan Marah
- Bab 113 Menyukai Orang Yang Memasak Mie
- Bab 114 Menikmati
- Bab 115 Aneh
- Bab 116 Kesedihan Hati di Kanada (1)
- Bab 116 Kesedihan Di Kanada (2)
- Bab 117 Bertemu Di Bandara (1)
- Bab 117 Bertemu Di Bandara (2)
- Bab 118 Masuk Perangkap (1)
- Bab 118 Masuk Perangkap (2)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (1)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (2)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (3)
- Bab 120 Jebakan (1)
- Bab 120 Jebakan (2)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (1)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (2)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (3)
- Bab 122 Koma (1)
- Bab 122 Koma (2)
- Bab 123 Melepaskan (1)
- Bab 123 Melepaskan (2)
- Bab 123 Melepaskan (3)
- Bab 124 Bangun Dari Koma (1)
- Bab 124 Bangun Dari Koma (2)
- Bab 125 Calon Suami Yang Ideal (1)
- Bab 125 Calon Suami Yang Ideal (2)
- Bab 126 Sulit Dipercaya
- Bab 127 Tidak Dapat Menerima (1)
- Bab 127 Tidak Dapat Menerima (2)
- Bab 128 Relaks (1)
- Bab 128 Relaks (2)
- Bab 128 Relaks (3)
- Bab 129 Dirampok (1)
- Bab 129 Dirampok (2)
- Bab 129 Dirampok (3)
- Bab 130 Berusaha Bertahan Hidup (1)
- Bab 130 Berusaha Bertahan Hidup (2)
- Bab 131 Siapa Yang Akan Kamu Selamatkan Dulu (1)
- Bab 131 Siapa Yang Akan Kamu Selamatkan Dulu (2)
- Bab 132 Perangkap (1)
- Bab 132 Perangkap (2)
- Bab 133 Meninggikan (1)
- Bab 133 Meninggikan (2)
- Bab 134 Mempermalukan (1)
- Bab 134 Mempermalukan (2)
- Bab 135 Wanita Murahan (1)
- Bab 135 Wanita Murahan (2)
- Bab 136 Cadangan (1)
- Bab 136 Cadangan (2)
- Bab 137 Konflik (1)
- Bab 137 Konflik (2)
- Bab 138 Dinyatakan (1)
- Bab 138 Dinyatakan (2)
- Bab 139 Perubahan (1)
- Bab 139 Perubahan (2)
- Bab 140 Ular Kecil Berbisa (1)
- Bab 140 Ular Kecil Berbisa (2)
- Bab 141 Jatuh Dalam Perangkap (1)
- Bab 141 Jatuh Dalam Perangkap (2)
- Bab 142 Bentuk Aslinya (1)
- Bab 142 Bentuk Aslinya (2)
- Bab 143 Mengkhianati (1)
- Bab 143 Mengkhianati (2)
- Bab 144 Anak Siapa (1)
- Bab 144 Anak Siapa (2)
- Bab 145 Cara Tuan Muda Mengungkapkan Cinta (1)
- Bab 145 Cara Tuan Muda Mengungkapkan Cinta (2)
- Bab 146 Perencanaan (1)
- Bab 146 Perencanaan (2)
- Bab 147 Hanya Menginginkan Kamu (1)
- Bab 147 Hanya Menginginkan Kamu (2)
- Bab 148 Bajingan (1)
- Bab 148 Bajingan (2)
- Bab 149 Apakah Kamu Merasa Puas? (1)
- Bab 149 Apa Kamu Merasa Puas ? (2)
- Bab 150 Gila (1)
- Bab 150 Gila (2)
- Bab 151 Pengungkapan Cinta Dari Tuan Muda (1)
- Bab 151 Pengungkapan Cinta Dari Tuan Muda (2)
- Bab 153 Menyogok (1)
- Bab 152 Menyogok (2)
- Bab 153 Identitas (1)
- Bab 153 Identitas (2)
- Bab 154 Bukan Siapa-Siapa (1)
- Bab 154 Bukan Siapa-Siapa (2)
- Bab 155 Jatuh Cinta (1)
- Bab 155 Jatuh Cinta (2)
- Bab 156 Berciuman (1)
- Bab 156 Berciuman (2)
- Bab 157 Tidak Boleh Melahirkan Anak (1)
- Bab 157 Tidak Boleh Melahirkan Anak (2)
- Bab158 PindahTempat (1)
- Bab 158 Pindah Tempat (2)
- Bab 159 Serba Salah (1)
- Bab 159 Serba Salah (2)
- Bab 160 Pergi Dengan Bangga (1)
- Bab 160 Pergi Dengan Bangga (2)
- Bab 161 Bodoh Sekali (1)
- Bab 161 Bodoh Sekali (2)
- Bab 162 Tidak Tega (1)
- Bab 162 Tidak Tega (2)
- Bab 163 Jantung Berdebar (1)
- Bab 163 Jantung Berdebar (2)
- Bab 164 Pengkhianatan (1)
- Bab 164 Pengkhianatan (2)
- Bab 165 Wajah Memerah (1)
- Bab 165 Wajah Memerah (2)
- Bab 166 Datang Mengunjungi (1)
- Bab 166 Datang Mengunjungi (2)
- Bab 167 Pacar (1)
- Bab 167 Pacar (2)
- Bab 168 Terlihat Semuanya (1)
- Bab 168 Terlihat Semuanya (1)
- Bab 169 Mengusir (1)
- Bab 169 Mengusir (2)
- Bab 170 Benar-Benar Peduli (1)
- Bab 170 Benar-Benar Peduli (1)
- Bab 171 Rahasia Identitas (1)
- Bab 171 Rahasia Identitas (2)
- Bab 172 Membersihkan Wanita (1)
- Bab 172 Membersihkan Wanita (2)
- Bab 173 Bahaya Di kota Kuno (1)
- Bab 173 Bahaya Di kota Kuno (2)
- Bab 174 Sepupu (1)
- Bab 174 Sepupu (2)
- Bab 175 Mata-mata (1)
- Bab 175 Mata-Mata (2)
- Bab 176 Memeluk (1)
- Bab 176 Memeluk (2)
- Bab 177 Hantu Di Pemakaman
- Bab 177 Ketakutan Hantu Di Pemakaman
- Bab 178 Memihak Kesalahan (1)
- Bab 178 Memihak Kesalahan (2)
- Bab 179 Mirip Yang Zilan (1)
- Bab 179 Mirip Yang Zilan (2)
- Bab 180 Istri (1)
- Bab 180 Istri (2)
- Bab 181 Tidak Mencintaimu Lagi (1)
- Bab 181 Tidak Mencintaimu Lagi (2)
- Bab 182 Hati Dingin (1)
- Bab 182 Hati Dingin (2)
- Bab 183 Masuk Perangkap (1)
- Bab 183 Masuk Perangkap (2)
- Bab 184 Wanita Bodoh (1)
- Bab 184 Wanita Bodoh (2)
- Bab 185 Rela (1)
- BAB 185 Rela (2)
- Bab 186 Sembahyang (1)
- Bab 186 Sembahyang (2)
- Bab 187 Menguntungkan Suami (1)
- Bab 187 Menguntungkan Suami (2)
- Bab 188 Ibu Rumah Tangga Muda (1)
- Bab 188 Ibu Rumah Tangga Muda (2)
- Bab 189 Pukul (1)
- Bab 189 Pukul (2)
- bab 190 Bersikap Imut (1)
- bab 190 Bersikap Imut (2)
- Bab 191 Tipuan (1)
- bab 191 Tipuan (2)
- Bab 192 Pesta (1)
- Bab 192 Pesta (2)
- Bab 193 Muntah Darah (1)
- Bab 193 Muntah Darah (2)
- Bab 194 Pacar Baru (1)
- Bab 194 Pacar Baru (2)
- Bab 195 Panggil Mama (1)
- Bab 195 Panggil Mama (2)
- Bab 196 Tidur Bersama (1)
- Bab 196 Tidur Bersama (2)
- Bab 197 Panda (1)
- Bab 197 Panda (2)
- Bab 198 Bukan Anak Biologis (1)
- Bab 198 Bukan Anak Biologis (2)
- Bab 199 Menyalahkan (1)
- Bab 199 Menyalahkan (2)
- Bab 200 Penuaan Dini (1)
- Bab 200 Penuaan Dini (2)
- Bab 201 Suka atau Tidak Suka (1)
- Bab 201 Sama Tidak Sama
- Bab 202 Ganti Pasangan (1)
- Bab 202 Ganti Pasangan (2)
- Bab 203 Bodoh (1)
- Bab 203 Bodoh (2)
- Bab 204 Pelajaran (1)
- Bab 204 Pelajaran (2)
- Bab 205 Peduli (1)
- Bab 205 Peduli (2)
- Bab 206 Pertunangan (1)
- Bab 206 Pertunangan (2)
- Bab 207 Tuduhan (1)
- Bab 207 Tuduhan (2)
- Bab 208 Identitas (1)
- Bab 208 Identitas (2)
- Bab 209 Pencitraan dan Mencari Sensasi (1)
- Bab 209 Pencitraan dan Mencari Sensasi (2)
- Bab 210 Mimpi (1)
- Bab 210 Mimpi (2)
- Bab 211 Merindukanmu (1)
- Bab 211 Merindukanmu (2)
- Bab 212 Jarum Berdarah (1)
- Bab 212 Jarum Berdarah (2)
- Bab 213 Tidak Menghormati Diri Sendiri (1)
- Bab 213 Tidak Menghormati Diri Sendiiri (2)
- Bab 214 Tembakan (1)
- Bab 214 Tembakan (2)
- Bab 215 Keguguran (1)
- Bab 215 Keguguran (2)
- Bab 216 Harta Warisan (1)
- Bab 216 Harta Warisan (2)
- Bab 217 Perjalanan Bisnis (1)
- Bab 217 Perjalanan (2)
- Bab 218 Anak Kandung (1)
- Bab 218 Anak Kandung (2)
- Bab 219 Ayah (1)
- Bab 219 Ayah (2)
- Bab 220 Kejam (1)
- Bab 220 Kejam (2)
- Bab 221 Mandul (1)
- Bab 221 Mandul (2)
- Bab 222 Egois (1)
- Bab 222 Egois (2)
- Bab 232 Memberikan Pelukan (1)
- bab 232 Memberikan Pelukan (2)
- Bab 224 Menikah Denganmu (1)
- Bab 224 Menikah Denganmu (2)
- Bab 225 Diriku yang Tidak Jujur (1)
- Bab 225 Diriku yang Tidak Jujur (2)
- Bab 226 Pertunjukan Seru (1)
- Bab 226 Pertunjukan Seru (2)
- Bab 227 Pertunjukkan Bagus (3)
- Bab 227 Pertunjukkan Bagus (4)
- Bab 228 Garis Merah (1)
- Bab 228 Garis Merah (2)
- Bab 229 Dalam Masalah (1)
- Bab 229 Dalam Masalah (2)
- Bab 230 Muntah (1)
- Bab 230 Mual (2)
- Bab 231 Berbahaya (1)
- Bab 231 Berbahaya (2)
- Bab 232 Kembali Ke Dalam Negeri (1)
- Bab 232 Kembali Ke Dalam Negeri (2)
- Bab 233 Kecurigaan (1)
- Bab 233 Kecurigaan (2)
- Bab 234 Bantuan (1)
- Bab 234 Bantuan (2)
- Bab 235 Marah
- Bab 236 Dibebaskan (1)
- Bab 236 Dibebaskan (2)
- Bab 237 Pernikahan (1)
- Bab 237 Pernikahan (2)
- Bab 238 Munafik (1)
- Bab 238 Munafik (2)
- Bab 239 Seperti Seorang Anak Kecil (1)
- Bab 239 Seperti Seorang Anak Kecil (2)
- Bab 240 Tidak Menyentuhnya (1)
- Bab 240 Tidak Menyentuhnya (2)
- Bab 241 Gangguan (1)
- Bab 241 Gangguan (2)
- Bab 242 HIV (1)
- Bab 242 HIV(2)
- Bab 243 Pendarahan Otak (1)
- Bab 243 Pendarahan Otak (2)
- Bab 244 Tamparan (1)
- Bab 244 Tamparan (2)
- Bab 245 Keracunan Makanan (1)
- Bab 245 Keracunan Makanan (2)
- Bab 246 Selingkuh (1)
- Bab 246 Selingkuh (2)
- Bab 247 Vasektomi (1)
- Bab 247 Vasektomi (2)
- Bab 248 Pertunjukkan Bagus (1)
- Bab 248 Pertunjukkan Bagus (2)
- Bab 249 Canggung
- Bab 250 (Episode Terakhir) Muka Manusia Bagaikan Kulit Kayu Pada Pohon (1)
- Bab 250 (Episode Terakhir) Muka Manusia Bagaikan Kulit Kayu Pada Pohon (2)
- Bab 251 (Episode Terakhir) Kekerasan Tuan Muda
- Bab 252(Episode Terakhir) Memetik Bunga Persik (1)
- Bab 252 (Episode Terakhir) Memetik Bunga Persik (2)
- Bab 253 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (1)
- Bab 253 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (2)
- Bab 254 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (3)
- Bab 254 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (4)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (1)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (2)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (3)