Cintaku Yang Dipenuhi Dendam - Bab 162 Tidak Tega (1)
Kepalaku terasa pusing, apakah tuan itu akan marah sampai gila kalau dia tahu anak angkat yang dia paling sayangi memikirkan dia sebagai singa?
"Bukan, ayah angkatmu hanya sedang emosi saja" Aku membawa Qiang Qiang masuk ke dalam rumah dan mengunci semua pintu dan jendela.
Pemilik rumah melihat aku dengan aneh : "Kamu sedang apa?"
"Tidak ada, aku cuma takut nanti tidur lupa tutup pintu saja" Aku tertawa
Pemilik rumah melihat aku dengan wajah yang meragukan, kemudian menatap ke rumah Tuan Kelima : "Sepertinya aku mendengar pacarmu sedang bertengkar dengan seseorang, kamu tidak mau pergi lihat?"
Aku : "Tidak perlu, dia tidak suka orang lain ikut campur masalahnya"
Pemilik rumah melihat aku dengan wajah tidak mengerti : "Kamu juga termasuk?"
Aku mengangguk.
"Mama, seorang kakak lari keluar dari rumah ayah angkat sana, sepertinya dia sedang menangis, mama, kakak itu sudah pergi dengan mengemudi mobil"
Qiang Qiang menyandar di depan jendela dan terus menatap.
"mama, ayah angkat sedang telepon" Qiang Qiang melihat bayangan tubuh Tuan Kelima yang sedang emosi sambil menelepon.
Aku sudah menyangka dia pasti menelepon aku, jadi aku sudah mematikan teleponku, akhirnya aku tidak perlu mendengar suara teriakan dia yang seperti singa.
"Mama, ayah angkat sedang berjalan ke sini" Qiang Qiang berkata lagi.
Hatiku berdebar dengan kencang, aku melihat ke arah jendela dan melihat Tuan Kelima yang sedang berjalan ke sini.
Tuhan, manusia itu sedang kemari ke sini.
Aku berbaring di atas tempat tidur dan berkata kepada Qiang Qiang : "Kalau ayah angkat mau mencari mama, kamu bilang saja mama sakit dan sedang tidur" Meskipun aku tahu cara ini tidak tentu bisa berguna, aku tetap memilih untuk mencobanya.
Sebelum aku selesai berbicara, suara bel sudah berdering, aku tahu Tuan Kelima sudah sampai dan segera menutupi kepalaku dengan selimut.
"Lin Xiao! Lin Xiao!" Aku mendengar suara Tuan Kelima dan suara langkah kaki yang besar, kemudian suara pemilik rumah yang kaget : "Tuan Chen, kamu kenapa?"
Kalimat ini dikatakan dalam bahasa mandarin, tetapi cara berkatanya sangat tegang, jelas pemilik rumah merasa takut sekarang.
Tuan Kelima sama sekali tidak menghiraukan pemilik rumah dan langsung memasuki ruang tidurku sama Qiang Qiang.
"Tuan Chen, nona Lin sedang istirahat" Pemilik rumah mengikuti di belakangnya.
Tuan Kelima berhenti di depan pintu kamar dengan emosi yang marah, tetapi dia merasa bingung setelah melihat aku yang berbaring di atas tempat tidur dengan keadaan selimut menutupi kepalaku.
"Qiang Qiang, mamamu kenapa?"
Qiang Qiang : "Mama berkata dia sakit"
Tuan Kelima : "Sakit? Sakit apa?" Tuan Kelima berjalan ke arahku, aku memegang selimutku dengan erat dan tubuhku terasa tegang karena gugup.
Tuan Kelima mengulurkan tangannya untuk menarik selimutku : "Lin Xiao? Kamu kenapa? Sakit apa?"
Aku bersuara di dalam selimut : "Aku datang bulan, perutku sakit"
Tuan Kelima : "Datang bulan? Itu apa?"
Qiang Qiang : "Aku tahu, datang bulan itu setan tua, setan tua membuat mama sakit perut"
Di dalam selimut, sudut mulutku terangkat.
Tuan Kelima sepertinya sudah mengerti, "Oh, aku tahu, datang bulan itu yang kalian wanita setiap bulan pasti akan terjadi satu kali kan? Kalau ini sedikit susah"
Tuan Kelima sepertinya sudah lupa dia datang ke sini untuk apa, semua kemarahan dia menghilang, dia bahkan berjalan sana sini di sekeliling tempat tidurku sambil menggosok kedua tangannya, setelah itu, dia tiba-tiba berkata : "Kamu tunggu, aku pergi cari dokter untukmu"
"Jangan!" Aku segera menarik selimutku, buat apa cari dokter ketika datang bulan, selain itu aku hanya pura-pura sakit perut.
Tuan Kelima menoleh ke aku : "Kamu sudah merasa baikan?"
Aku : "Sudah"
Tuan Kelima : "Bagus kalau begitu" Kemudian dia berkata lagi : "Wanita benar-benar merepotkan" Sebelum pergi dia berkata kepada Qiang Qiang : "Ikut ayah angkat pergi memancing ikan di tepi sungai, jangan menggangu mamamu istirahat"
Qiang Qiang tidak tahu aku itu benar sakit atau tidak, Tuan Kelima memanggilnya dan dia pun mengikuti dia keluar, hanya saja sebelum meninggalkan ruangan dia terus melihat aku dengan risau.
Setelah Tuan Kelima keluar, akhirnya aku bisa menghela sebuah nafas lega.
Setelah satu jam, Tuan Kelima mengantar Qiang Qiang pulang, Qiang Qiang membawa 2 ikan, "Mama, ini adalah ikan yang ayah angkat pancing tadi, dia bilang untuk menjaga kesehatan tubuhmu"
Aku melamun sejenak, "Dimana ayah angkatmu?"
Qiang Qiang : "Sudah pulang"
Aku melihat ke rumah yang berada di seberangan, lampu di dalam rumahnya sudah menyala dan aku bisa melihat bayangan tubuh Tuan Kelima melewati jendela. Orang ini terlalu peduli sama aku dan membuat aku merasa bersalah, aku berkata aku datang bulan hanya untuk membohongi dia, tetapi dia malah percaya.
Aku memijat dahiku dan merasa diriku benar-benar tidak memiliki hati nurani.
Aku meletakkan kedua ikan itu ke dalam aquarium dan memberinya makan, ini adalah perhatian dari Tuan Kelima, aku tidak tega mau memakannya.
Besok harinya, aku mengantar Qiang Qiang ke sekolahnya dan setelah itu aku pergi ke Sainard, di tengah jalan hujan pun mulai turun, orang-orang yang berada di tengah jalan mulai mencari tempat untuk menghindari hujan. Aku melihat sebuah bayangan tubuh di depan, orang itu memakai jas hujan warna cream, celana jeans dan bayangkan belakangnya terlihat seperti kemeja kerah putih, orang itu sedang menunggu taksi dengan cemas. Tetapi taksi sama sekali tidak menghiraukannya dan langsung berjalan melewatinya.
Pada saat aku sedang melihatnya melalui gerimis hujan, dia berputar balik badannya. Pada waktu itu aku baru melihat wajah yang sangat familiar. Aku baru saja berpikir takdir ini memang aneh, orang itu sudah berjalan kepadaku dan meminta aku untuk menghentikan mobil, kemudian dia mengetuk jendelaku, aku menurunkan jendelaku dan kepala Lan Ke yang dibasahi air hujan langsung mendekati aku, "Nona.........."
"Hah, Kenapa bisa kamu?"
Lan Ke melamun sejenak dan langsung berjalan ke tempat penumpang setelah itu, kemudian dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, "Cepat, antar aku ke gedung Elsi, aku mau rapat"
Aku tidak tahu harus berkata apa, "Dokter Lan, aku tidak tahu mengapa kamu bisa berada di Rain Flower District, aku juga tidak tahu kamu mau rapat apa, tetapi aku sedang mau pergi kerja dan tidak ada waktu mengantar kamu"
Lan Ke melihat ke aku dengan alis mengerut, detik selanjutnya dia membuka pintu mobil dan berjalan ke bagian tempat pengemudi dan membuka pintu, "Kamu turun, aku antar kamu dulu"
Lan Ke tidak menunggu aku menjawab dan langsung menarik lenganku dan mendorong aku masuk ke tempat penumpang, kemudian dia sendiri masuk ke tempat pengemudi dan memasang sabuk pengaman, setelah itu dia menyalakan mobil, "Cepat katakan dimana tempat kerjamu!"
Lan Ke sama sekali tidak memberi aku waktu untuk bereaksi, semua gerakan ini terlihat seolah-olah dia itu pemilik dan aku itu tamu di mobilku.
Aku tidak menjawab, tetapi dia sepertinya terlihat benar-benar ada urusan, aku tidak ingin berdebat dengannya dan langsung menunjuk ke jalan di depan, "Di jalan depan sana belok kanan, kemudian belok kiri setelah itu, konsultan hukum Sainard"
Lan Ke mengemudi ke konsultan hukum Sainard sesuai dengan petunjukku, setelah sampai, dia tidak memiliki maksud mau turun dari mobil.
"Mobilmu aku pinjam dulu, setelah pakai aku akan mengantarnya kembali kepadamu" Lan Ke menurunkan aku yang sebagai pemilik mobil dan pergi begitu saja dengan mobilku.
Aku merasa emosi seperti dadaku sedang berasap.
Pada sore hari, ponselku berdering, nomor asing meneleponku.
Aku mengangkatnya dan mendengar suara Lan Ke yang enak di dengar : "Aku datang mengembalikan mobilmu, mau parkir dimana?"
Aku mematikan telepon dan berjalan ke luar pintu konsultan hukum, kemudian aku melihat pemuda yang tadi pagi terlihat sedikit berantakan karena dibasahi air hujan sekarang sudah mengganti baju dan berdiri di depanku dengan aura dan senyumannya yang mempesona.
Novel Terkait
Love And Pain, Me And Her
Judika DenadaCinta Tak Biasa
SusantiYou're My Savior
Shella NaviYour Ignorance
YayaUnperfect Wedding
Agnes YuUangku Ya Milikku
Raditya DikaCintaku Yang Dipenuhi Dendam×
- Bab 1 Dua Keluarga
- Bab 2 Kelembutan Terakhir
- Bab 3 Masuk Penjara
- Bab 4 Tingkah Pelacur
- Bab 5 Memberikan Anaknya Kepada Yang Lain
- Bab 6 Seseorang Yang Kaya Dan Misterius
- Bab 7 Tak Terduga
- Bab 8 Begitu Membencimu
- Bab 9 Di Peternakan Kuda
- Bab 10 Campur Tangan Tuan Kelima
- Bab 11 Main Ganda
- Bab 12 Cinta Satu-Satunya
- Bab 13 Anakku
- Bab 14 Belajar Menyenangkanku
- Bab 15 Peran Yang Memalukan
- Bab 16 Penyesalan
- Bab 17 Penuh Keraguan
- Bab 18 Terperangkap
- Bab 19 Penuh dengan Akal Buruk
- Bab 20 Pasangan Serasi
- Bab 21 Memiliki Kesempatan
- Bab 22 Konferensi Pers
- Bab 23 Sangat Memalukan
- Bab 24 Tidak Ada Seorang Pun
- Bab 25 Ciuman Di Luar Kendali
- Bab 26 Membahayakan Dirinya Sendiri
- Bab 27 Paling Menyesal Pernah Mencintaimu
- Bab 28 Suatu Ancaman
- Bab 29 Orang-Orang Malang
- Bab 30 Antara Cinta Dan Benci
- Bab 31 Pembalasan Li Li
- Bab 32 Keterlaluan Bodohnya
- Bab 33 Bersedia Cuci Tangan dan Membuat Sup
- Bab 34 Gangguan Kepribadian
- Bab 35 Dia Mengidap Penyakit Kotor
- Bab 36 Kamu Hanya Bisa Menjadi Milikku
- Bab 37 Orang-Orang Munafik
- Bab 38 Skandal dan Gosip Melanda
- Bab 39 Dikurung
- Bab 40 Proposal Lamaran
- Bab 41 Sifat Tuan Muda
- Bab 42 Memanggil Wartawan
- Bab 43 Tidak Memahami
- Bab 44 Penyergapan Dimana-mana
- Bab 45 Ayah dan Putra yang Berpapasan
- Bab 46 Insting Ibu Dan Anak
- Bab 47 Permainan Mengerikan
- Bab 48 Godaan
- Bab 49 Keracunan Alkohol
- Bab 50 Dirimu Yang Kejam
- Bab 51 Seekor Rubah
- Bab 52 Marah Setengah Mati
- Bab 53 Sudah Di Jalur Yang Benar
- Bab 54 Dikacaukan Dua Kali
- Bab 55 Pria-Pria Brengsek
- Bab 56 Pemesan Kue Misterius
- Bab 57 Identitas Hu Yeming, Pimpinan Kejahatan
- Bab 58 Pandangan Cinta
- Bab 59 Balasan Jahat Untuk Orang Jahat
- Bab 60 Muntah
- Bab 61 Kekasih Lain
- Bab 62 Bantuan
- Bab 63 Bersama Di Mobil Mogok
- Bab 64 Waktu Itu Sangat Indah
- Bab 65 Menjijikan
- Bab 66 Gempa Bumi
- Bab 67 Menyerang Membabi Buta
- Bab 68 Golongan Darah Panda
- Bab 69 Dia Adalah Putramu !
- Bab 70 Ganti Rumah Sakit
- Bab 71 Siapa Yang Berbohong
- Bab 72 Kejutan
- Bab 73 Mengakui Pencuri Sebagai Ibunya
- Bab 74 Kembali Ke Tempat Semula
- Bab 75 Sudah Pergi
- Bab 76 Kesedihan Di Hati
- Bab 77 Ayah Angkat
- Bab 78 Membersihkan Pistol Keluar Api
- Bab 79 Gelang
- Bab 80 Merendahkan
- Bab 81 Membawa Pergi
- Bab 82 Seperti Seorang Kakak
- Bab 83 Kacau Balau
- Bab 84 Bersembunyi di Ruang Rahasia
- Bab 85 Istri Teman
- Bab 86 Kebakaran Besar
- Bab 87 Menyangkal
- Bab 88 Sinis
- Bab 89 Sedikit Trik
- Bab 90 Membayar Dengan Tubuh
- Bab 91 Seperti Mimpi
- Bab 92 Wanita Cantik Yang Kehilangan Kaki
- Bab 93 Potong Perutnya
- Bab 94 Chen Liyan Ditampar
- Bab 95 Pesta Topeng
- Bab 96 Langit Malam
- Bab 97 Pergi Jauh
- Bab 98 Menangkap Basah
- Bab 99 Aku Akan Tanggung Untukmu
- Bab 100 Rela Diselingkuhi
- Bab 101 Selalu Mencintainya
- Bab 102 Itu Dia
- Bab 103 Menjaganya
- Bab 104 Kejam
- Bab 105 Manusia Yang Tidak Memiliki Hati Nurani
- Bab 106 Membantu Dia Mengugurkan Anaknya
- Bab 107 Dia Menyukaimu
- Bab 108 Memaksa
- Bab 109 Tidak Masuk Akal
- Bab 110 Siapa Itu
- Bab 111 Hukuman Yang Mesra
- Bab 112 Malu Dan Marah
- Bab 113 Menyukai Orang Yang Memasak Mie
- Bab 114 Menikmati
- Bab 115 Aneh
- Bab 116 Kesedihan Hati di Kanada (1)
- Bab 116 Kesedihan Di Kanada (2)
- Bab 117 Bertemu Di Bandara (1)
- Bab 117 Bertemu Di Bandara (2)
- Bab 118 Masuk Perangkap (1)
- Bab 118 Masuk Perangkap (2)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (1)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (2)
- Bab 119 Harapan Yang Remuk (3)
- Bab 120 Jebakan (1)
- Bab 120 Jebakan (2)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (1)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (2)
- Bab 121 Memperjelas Batasan Hubungan (3)
- Bab 122 Koma (1)
- Bab 122 Koma (2)
- Bab 123 Melepaskan (1)
- Bab 123 Melepaskan (2)
- Bab 123 Melepaskan (3)
- Bab 124 Bangun Dari Koma (1)
- Bab 124 Bangun Dari Koma (2)
- Bab 125 Calon Suami Yang Ideal (1)
- Bab 125 Calon Suami Yang Ideal (2)
- Bab 126 Sulit Dipercaya
- Bab 127 Tidak Dapat Menerima (1)
- Bab 127 Tidak Dapat Menerima (2)
- Bab 128 Relaks (1)
- Bab 128 Relaks (2)
- Bab 128 Relaks (3)
- Bab 129 Dirampok (1)
- Bab 129 Dirampok (2)
- Bab 129 Dirampok (3)
- Bab 130 Berusaha Bertahan Hidup (1)
- Bab 130 Berusaha Bertahan Hidup (2)
- Bab 131 Siapa Yang Akan Kamu Selamatkan Dulu (1)
- Bab 131 Siapa Yang Akan Kamu Selamatkan Dulu (2)
- Bab 132 Perangkap (1)
- Bab 132 Perangkap (2)
- Bab 133 Meninggikan (1)
- Bab 133 Meninggikan (2)
- Bab 134 Mempermalukan (1)
- Bab 134 Mempermalukan (2)
- Bab 135 Wanita Murahan (1)
- Bab 135 Wanita Murahan (2)
- Bab 136 Cadangan (1)
- Bab 136 Cadangan (2)
- Bab 137 Konflik (1)
- Bab 137 Konflik (2)
- Bab 138 Dinyatakan (1)
- Bab 138 Dinyatakan (2)
- Bab 139 Perubahan (1)
- Bab 139 Perubahan (2)
- Bab 140 Ular Kecil Berbisa (1)
- Bab 140 Ular Kecil Berbisa (2)
- Bab 141 Jatuh Dalam Perangkap (1)
- Bab 141 Jatuh Dalam Perangkap (2)
- Bab 142 Bentuk Aslinya (1)
- Bab 142 Bentuk Aslinya (2)
- Bab 143 Mengkhianati (1)
- Bab 143 Mengkhianati (2)
- Bab 144 Anak Siapa (1)
- Bab 144 Anak Siapa (2)
- Bab 145 Cara Tuan Muda Mengungkapkan Cinta (1)
- Bab 145 Cara Tuan Muda Mengungkapkan Cinta (2)
- Bab 146 Perencanaan (1)
- Bab 146 Perencanaan (2)
- Bab 147 Hanya Menginginkan Kamu (1)
- Bab 147 Hanya Menginginkan Kamu (2)
- Bab 148 Bajingan (1)
- Bab 148 Bajingan (2)
- Bab 149 Apakah Kamu Merasa Puas? (1)
- Bab 149 Apa Kamu Merasa Puas ? (2)
- Bab 150 Gila (1)
- Bab 150 Gila (2)
- Bab 151 Pengungkapan Cinta Dari Tuan Muda (1)
- Bab 151 Pengungkapan Cinta Dari Tuan Muda (2)
- Bab 153 Menyogok (1)
- Bab 152 Menyogok (2)
- Bab 153 Identitas (1)
- Bab 153 Identitas (2)
- Bab 154 Bukan Siapa-Siapa (1)
- Bab 154 Bukan Siapa-Siapa (2)
- Bab 155 Jatuh Cinta (1)
- Bab 155 Jatuh Cinta (2)
- Bab 156 Berciuman (1)
- Bab 156 Berciuman (2)
- Bab 157 Tidak Boleh Melahirkan Anak (1)
- Bab 157 Tidak Boleh Melahirkan Anak (2)
- Bab158 PindahTempat (1)
- Bab 158 Pindah Tempat (2)
- Bab 159 Serba Salah (1)
- Bab 159 Serba Salah (2)
- Bab 160 Pergi Dengan Bangga (1)
- Bab 160 Pergi Dengan Bangga (2)
- Bab 161 Bodoh Sekali (1)
- Bab 161 Bodoh Sekali (2)
- Bab 162 Tidak Tega (1)
- Bab 162 Tidak Tega (2)
- Bab 163 Jantung Berdebar (1)
- Bab 163 Jantung Berdebar (2)
- Bab 164 Pengkhianatan (1)
- Bab 164 Pengkhianatan (2)
- Bab 165 Wajah Memerah (1)
- Bab 165 Wajah Memerah (2)
- Bab 166 Datang Mengunjungi (1)
- Bab 166 Datang Mengunjungi (2)
- Bab 167 Pacar (1)
- Bab 167 Pacar (2)
- Bab 168 Terlihat Semuanya (1)
- Bab 168 Terlihat Semuanya (1)
- Bab 169 Mengusir (1)
- Bab 169 Mengusir (2)
- Bab 170 Benar-Benar Peduli (1)
- Bab 170 Benar-Benar Peduli (1)
- Bab 171 Rahasia Identitas (1)
- Bab 171 Rahasia Identitas (2)
- Bab 172 Membersihkan Wanita (1)
- Bab 172 Membersihkan Wanita (2)
- Bab 173 Bahaya Di kota Kuno (1)
- Bab 173 Bahaya Di kota Kuno (2)
- Bab 174 Sepupu (1)
- Bab 174 Sepupu (2)
- Bab 175 Mata-mata (1)
- Bab 175 Mata-Mata (2)
- Bab 176 Memeluk (1)
- Bab 176 Memeluk (2)
- Bab 177 Hantu Di Pemakaman
- Bab 177 Ketakutan Hantu Di Pemakaman
- Bab 178 Memihak Kesalahan (1)
- Bab 178 Memihak Kesalahan (2)
- Bab 179 Mirip Yang Zilan (1)
- Bab 179 Mirip Yang Zilan (2)
- Bab 180 Istri (1)
- Bab 180 Istri (2)
- Bab 181 Tidak Mencintaimu Lagi (1)
- Bab 181 Tidak Mencintaimu Lagi (2)
- Bab 182 Hati Dingin (1)
- Bab 182 Hati Dingin (2)
- Bab 183 Masuk Perangkap (1)
- Bab 183 Masuk Perangkap (2)
- Bab 184 Wanita Bodoh (1)
- Bab 184 Wanita Bodoh (2)
- Bab 185 Rela (1)
- BAB 185 Rela (2)
- Bab 186 Sembahyang (1)
- Bab 186 Sembahyang (2)
- Bab 187 Menguntungkan Suami (1)
- Bab 187 Menguntungkan Suami (2)
- Bab 188 Ibu Rumah Tangga Muda (1)
- Bab 188 Ibu Rumah Tangga Muda (2)
- Bab 189 Pukul (1)
- Bab 189 Pukul (2)
- bab 190 Bersikap Imut (1)
- bab 190 Bersikap Imut (2)
- Bab 191 Tipuan (1)
- bab 191 Tipuan (2)
- Bab 192 Pesta (1)
- Bab 192 Pesta (2)
- Bab 193 Muntah Darah (1)
- Bab 193 Muntah Darah (2)
- Bab 194 Pacar Baru (1)
- Bab 194 Pacar Baru (2)
- Bab 195 Panggil Mama (1)
- Bab 195 Panggil Mama (2)
- Bab 196 Tidur Bersama (1)
- Bab 196 Tidur Bersama (2)
- Bab 197 Panda (1)
- Bab 197 Panda (2)
- Bab 198 Bukan Anak Biologis (1)
- Bab 198 Bukan Anak Biologis (2)
- Bab 199 Menyalahkan (1)
- Bab 199 Menyalahkan (2)
- Bab 200 Penuaan Dini (1)
- Bab 200 Penuaan Dini (2)
- Bab 201 Suka atau Tidak Suka (1)
- Bab 201 Sama Tidak Sama
- Bab 202 Ganti Pasangan (1)
- Bab 202 Ganti Pasangan (2)
- Bab 203 Bodoh (1)
- Bab 203 Bodoh (2)
- Bab 204 Pelajaran (1)
- Bab 204 Pelajaran (2)
- Bab 205 Peduli (1)
- Bab 205 Peduli (2)
- Bab 206 Pertunangan (1)
- Bab 206 Pertunangan (2)
- Bab 207 Tuduhan (1)
- Bab 207 Tuduhan (2)
- Bab 208 Identitas (1)
- Bab 208 Identitas (2)
- Bab 209 Pencitraan dan Mencari Sensasi (1)
- Bab 209 Pencitraan dan Mencari Sensasi (2)
- Bab 210 Mimpi (1)
- Bab 210 Mimpi (2)
- Bab 211 Merindukanmu (1)
- Bab 211 Merindukanmu (2)
- Bab 212 Jarum Berdarah (1)
- Bab 212 Jarum Berdarah (2)
- Bab 213 Tidak Menghormati Diri Sendiri (1)
- Bab 213 Tidak Menghormati Diri Sendiiri (2)
- Bab 214 Tembakan (1)
- Bab 214 Tembakan (2)
- Bab 215 Keguguran (1)
- Bab 215 Keguguran (2)
- Bab 216 Harta Warisan (1)
- Bab 216 Harta Warisan (2)
- Bab 217 Perjalanan Bisnis (1)
- Bab 217 Perjalanan (2)
- Bab 218 Anak Kandung (1)
- Bab 218 Anak Kandung (2)
- Bab 219 Ayah (1)
- Bab 219 Ayah (2)
- Bab 220 Kejam (1)
- Bab 220 Kejam (2)
- Bab 221 Mandul (1)
- Bab 221 Mandul (2)
- Bab 222 Egois (1)
- Bab 222 Egois (2)
- Bab 232 Memberikan Pelukan (1)
- bab 232 Memberikan Pelukan (2)
- Bab 224 Menikah Denganmu (1)
- Bab 224 Menikah Denganmu (2)
- Bab 225 Diriku yang Tidak Jujur (1)
- Bab 225 Diriku yang Tidak Jujur (2)
- Bab 226 Pertunjukan Seru (1)
- Bab 226 Pertunjukan Seru (2)
- Bab 227 Pertunjukkan Bagus (3)
- Bab 227 Pertunjukkan Bagus (4)
- Bab 228 Garis Merah (1)
- Bab 228 Garis Merah (2)
- Bab 229 Dalam Masalah (1)
- Bab 229 Dalam Masalah (2)
- Bab 230 Muntah (1)
- Bab 230 Mual (2)
- Bab 231 Berbahaya (1)
- Bab 231 Berbahaya (2)
- Bab 232 Kembali Ke Dalam Negeri (1)
- Bab 232 Kembali Ke Dalam Negeri (2)
- Bab 233 Kecurigaan (1)
- Bab 233 Kecurigaan (2)
- Bab 234 Bantuan (1)
- Bab 234 Bantuan (2)
- Bab 235 Marah
- Bab 236 Dibebaskan (1)
- Bab 236 Dibebaskan (2)
- Bab 237 Pernikahan (1)
- Bab 237 Pernikahan (2)
- Bab 238 Munafik (1)
- Bab 238 Munafik (2)
- Bab 239 Seperti Seorang Anak Kecil (1)
- Bab 239 Seperti Seorang Anak Kecil (2)
- Bab 240 Tidak Menyentuhnya (1)
- Bab 240 Tidak Menyentuhnya (2)
- Bab 241 Gangguan (1)
- Bab 241 Gangguan (2)
- Bab 242 HIV (1)
- Bab 242 HIV(2)
- Bab 243 Pendarahan Otak (1)
- Bab 243 Pendarahan Otak (2)
- Bab 244 Tamparan (1)
- Bab 244 Tamparan (2)
- Bab 245 Keracunan Makanan (1)
- Bab 245 Keracunan Makanan (2)
- Bab 246 Selingkuh (1)
- Bab 246 Selingkuh (2)
- Bab 247 Vasektomi (1)
- Bab 247 Vasektomi (2)
- Bab 248 Pertunjukkan Bagus (1)
- Bab 248 Pertunjukkan Bagus (2)
- Bab 249 Canggung
- Bab 250 (Episode Terakhir) Muka Manusia Bagaikan Kulit Kayu Pada Pohon (1)
- Bab 250 (Episode Terakhir) Muka Manusia Bagaikan Kulit Kayu Pada Pohon (2)
- Bab 251 (Episode Terakhir) Kekerasan Tuan Muda
- Bab 252(Episode Terakhir) Memetik Bunga Persik (1)
- Bab 252 (Episode Terakhir) Memetik Bunga Persik (2)
- Bab 253 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (1)
- Bab 253 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (2)
- Bab 254 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (3)
- Bab 254 (Episode Terakhir) Kisah Mo Ziqian (4)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (1)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (2)
- Bab 255 (Bab Terakhir) : 15 Tahun 1 Balas Dendam (3)