The Revival of the King - Bab 302 Mencapai Kesepakatan

Terry Fan berkata pada para prajurit bayaran: “Turunkan semua senjata. Aku rasa kalian paham bahwa sebelum kalian menarik pelatuk dan menembakkan peluru padaku, Tuhan kalian sudah melambaikan tangan dan bersiap menyambut kalian di alam setelah kematian.”

Bagaimana pun, ia sekarang masih punya seorang sandera. Sandera ini adalah pimpinan orang-orang yang ada di sini.

Tanpa menanggapi apa pun, para prajurit bayaran perlahan meletakkan senjata di lantai.

Dua prajurit bayaran yang berada paling jauh dari Terry Fan berdiri dengan posisi satu di depan dan satu di belakang.

Yang berdiri di depan memberi tahu yang di belakang dengan bahasa isyarat untuk mempersiapkan bidikan.

Rencananya, saat ia tiba-tiba bergerak ke sebelah dan menarik perhatian Terry Fan, rekannya yang ada di belakang akan melancarkan tembakan.

Mereka semua adalah tentara senior yang teruji dalam pertempuran. Kemampuan mereka bekerja sama sedikit pun tidak layak diragukan.

Meskipun menggunakan siku untuk merangkul leher kepala pimpinan mereka, sepertiga dari kepala Terry Fan masih terlihat.

Prajurit yang berada di depan yakin betul bahwa ketika ia menyingkir ke sebelah, pandangan si target pasti akan mengikuti dirinya.

Di momen itu, setengah dari kepala Terry Fan seharusnya sudah nampak.

Dalam situasi itu, prajurit di belakangnya sudah punya sudut tembak.

Dan prajurit yang akan menembak itu adalah penembak paling jitu di antara mereka.

Faktanya, selama periode hening ini, alasan mengapa prajurit bayaran di depan bersedia menurunkan senjata adalah untuk melonggarkan kewaspadaan Terry Fan. Dengan begitu, kemungkinan pria itu tidak siap pada tembakan yang akan dihempaskan temannya akan sangat besar.

Sudah lama sudah bekerjasama, tanpa berdiskusi, mereka pun sudah bisa mencapai kesepahaman.

Prajurit bayaran di belakang akhirnya mendeham dengan sengaja.

Lalu, prajurit bayaran di depan bergeser ke kanan.

Setelahnya, yang berdeham itu mengangkat pistol dan menembak dua kali.

Semua orang kaget.

Para prajurit bayaran kaget melihat dua kilatan cahaya tertembakkan dari pistol Terry Fan. Prajurit yang berdiri di belakang dan memegang pistol menatap Terry Fan dengan mata terbelalak. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Sementara itu, prajurit yang berdiri di depan dan bergeser sudah terjatuh ke lantai dalam diam.

Ketika semua orang tersadar bahwa ada lubang tembakan di jidat prajurit yang berdiri di belakang, setelah mempertahankan diri beberapa saat, prajurit itu juga terjatuh telentang. Ia mengikuti rekannya yang sudah gugur duluan.

Darah kental mengalir tanpa henti dari jidatnya.

Kerjasama yang telah mereka latih selama bertahun-tahun ditaklukkan Terry Fan dalam beberapa detik.

Setiap orang terhenyak.

Menyaksikan ini, sekujur tubuh Peter Chen dan Stella Dong merinding.

Meskipun merupakan anggota tim polisi khusus, mereka belum pernah menembak penjahat secara langsung seperti Terry Fan.

Apalagi, penjahat yang sekarang mereka hadapi adalah prajurit bayaran kelas dunia.

Gadis-gadis bar ketakutan dan berlari keluar sambil berteriak.

Kali ini, Terry Fan berkata pada sanderanya: “Aku ingin bertemu atasanmu.”

Tiba-tiba, suara seorang wanita terdengar dari samping: “Baik. Ayo bicara.”

Terry Fan menoleh, kemudian menemukan bahwa gadis jalanan yang barusan mengarahkannya ke bar sudah melingkarkan lengan di leher Stella Dong dan mengarahkan pistol ke pelipis wanita itu.

Peter Chen tidak berani melakukan apa pun. Ia khawatir tindakannya akan membuat wanita itu risih dan rekannya pun ditembak.

Ditodong begini, Stella Dong terpikir soal kematian.

Ternyata, dalam menghadapi orang-orang ini, Terry Fan sudah punya kemampuan yang mumpuni.

Ia sama sekali tidak pernah terbayang dirinya bukan hanya tidak bisa membantu siapa pun, melainkan juga jadi beban bagi pria itu.

Terry Fan bertanya: “Kamu atasan di sini?”

“Elena, kepala kantor Biro Intelijen Barat di Negara C.”

“Kalau begitu, kamu seharusnya tahu bahwa temanku adalah agenmu. Dia ada di sini untuk melapor bahwa dua agen yang ditugaskan di Negara T telah disandera.”

“Aku tahu.” Elena membalas, “Masalahnya, aku menerima perintah untuk menghabisimu di sini. Bagaimana menurutku?”

“Hubungi ketua biro intelijen. Kita bisa kesampingkan dulu urusan ini. Aku bisa membantumu menolong dua agenmu, Nyonya Shangguan dan Jessy Shangguan.”

“Dan setelah itu?”

“Tergantung perintah ketua biro intelijen.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”

“Maksudmu?”

“Kemampuan menembakmu kelewat akurat. Jika aku sekarang meneleponnya, siapa yang bisa menjamin keselamatanku?”

“Suruh orang-orangmu memungut senjata masing-masing. Mereka bisa mengarahkan senjata-senjata itu padaku, tetapi aku memperingatkanmu bahwa sebelum kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu padaku, kamu sebaiknya menelepon dulu ketua biro intelijen. Itu karena aku dan mantan ketuamu, yang sekarang jadi direktur kantor urusan keamanan nasional, merupakan teman. Jika bertindak gegabah, kamu belum tentu akan memperoleh hasil baik.”

Elena mengangguk dan menyuruh prajurit bayaran untuk memungut senjata, juga menahan tubuh Peter Chen dan Stella Dong. Setelahnya, wanita itu baru menghubungi orang yang daritadi disebut.

Selain melaporkan situasi saat ini padanya, ia pun menyampaikan apa yang dikatakan Kalvin Chang menjelang kematian dan apa yang barusan dituturkan Terry Fan.

Kepala biro intelijen berpikir sejenak dan mengarahkan: “Berikan ponselmu padanya.”

Elena berjalan ke Terry Fan dan menyerahkan ponsel padanya. Si pria menyapa: “Halo, Yang Mulia.”

“Ya.”

“Orang-orang yang kamu kirim ke Timur untuk membunuhku semuanya ditangkap oleh polisi sana. Jika aku tewas di sini, orang-orangmu akan diadili pengadilan Timur. Itu akan jadi tertawaan di komunitas diplomatik dunia!”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Selain merupakan agenmu, Nyonya Shangguan dan Jessy Shangguan juga adalah dua temanku. Mari lupakan situasi sekarang untuk sementara. Biarlah aku mencarikan mereka dulu. Setelah itu, kita bisa duduk bersama dan baik-baik membahas soal Negara S.”

“Kembalikan ponsel ke Elena.”

Terry Fan menurutinya, lalu pria di seberang berbicara lagi pada bawahannya itu: “Lepaskan dulu dia. Jika memungkinkan, ikutilah dia ke Negara T dan hubungi Pierce untuk ikut membantu kalian menyelamatkan kedua agen kita. Tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati, setelah melihat dua agen itu, habisilah orang ini.”

“Siap.”

Setelah menutup telepon, Elena menyuruh pimpinan prajurit bayaran membawa pasukannya pergi.

Sebelum mereka pergi, Terry Fan juga memberi mereka isyarat untuk mengambil tubuh Kalvin Chang.

Dia juga mengembalikan senjata di tangannya ke pimpinan itu.

Si pimpinan membawa orang-orangnya angkat kaki sambil membawa total tiga tubuh.

Salah seorang bawahannya bertanya tidak paham: “Mengapa kita melepaskannya begitu saja?”

Pimpinan mencibir: “Kapan Biro Intelijen Barat pernah melepaskan musuhya dengan mudah? Tunggu dan lihat. Tidak lama lagi, kita akan menerima perintah untuk membunuh orang ini.”

Setelah orang-orang itu pergi, Elena tersenyum dan bertanya, “Terry Fan, atasanku telah menyetujui saranmu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu selanjutnya?”

Yang ditanya mengulurkan tangan dan memeluk si wanita: “Bukankah kamu bilang kamu masih berhutang satu malam padaku?”

Novel Terkait

Mi Amor

Mi Amor

Takashi
CEO
3 tahun yang lalu
 Habis Cerai Nikah Lagi

Habis Cerai Nikah Lagi

Gibran
Pertikaian
2 tahun yang lalu
Bretta’s Diary

Bretta’s Diary

Danielle
Pernikahan
2 tahun yang lalu
My Lady Boss

My Lady Boss

George
Dimanja
2 tahun yang lalu
My Perfect Lady

My Perfect Lady

Alicia
Misteri
2 tahun yang lalu
Cinta Pada Istri Urakan

Cinta Pada Istri Urakan

Laras dan Gavin
Percintaan
2 tahun yang lalu
Pejuang Hati

Pejuang Hati

Marry Su
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Perjalanan Cintaku

Perjalanan Cintaku

Hans
Direktur
2 tahun yang lalu