Inventing A Millionaire - Bab 34 Reaksi Orangtua

"Itu karena ulahku sendiri, aku tidak akan menyalahkan mereka. Sebenarnya kalau aku menjadi mereka, kalau aku tahu putriku telah menikah dengan seorang pria seperti ini, mungkin aku juga akan sangat ingin mematahkan kaki putriku." Robert Huo berkata sembari tersenyum: "Jadi kamu tidak perlu khawatir, aku akan menunjukkan kebaikanku dengan baik, untuk mengubah kesan burukku di mata mereka."

Saat ini, Gaby yang terus makan daging kepiting dengan serius mulai mengangkat kepala, melihat Robert Huo dengan bingung. Bertanya: "Ayah, kenapa kamu ingin memukulku?"

Robert Huo tertawa terbahak-bahak, mengelus kepala putrinya, dan berkata dengan penuh kasih sayang: "Ayah mana mungkin tega memukulmu, kamu telah salah dengar."

"Baiklah." Gaby menggelengkan kepala sejenak, lalu kembali membereskan kaki kepiting di depan matanya.

Melihat sepasang ayah dan putri yang terlihat akrab ini, hati Natalie Ning menjadi lebih tenang. Kekhawatiran dalam lubuk hati sirna dalam sekejab.

Setelah selesai makan, Natalie Lie sengaja menelepon Eugene Ning di tengah perjalanan pulang, mengabarkannya bahwa beberapa hari lagi dia mungkin akan pulang mengunjungi orangtuanya bersama Robert Huo.

Kabar ini membuat Eugene Ning sangat senang, dia tidaklah peduli apakah Robert Huo bakalan datang atau tidak. Tapi saat mengetahui kakak kandungnya bakalan pulang, dia tentu saja sangat menantikannya.

Meskipun orangtuanya selalu bersikap kesal di hadapan orang lain, sering mengeluh atas masalah Natalie Ning, tapi sebenarnya kedua orangtuanya ini sangatlah merindukannya.

Tapi karena mereka adalah orangtua, dan harus menjaga gengsi, jadi mana mungkin mereka bakalan memperlihatkan suasana dalam lubuk hati mereka yang sebenarnya secara terus terang di hadapan generasi muda.

Eugene Ning adalah putra mereka, karena telah hidup bersama begitu lama, jadi kalaupun mereka tidak mengatakannya, sang pria tetap saja mengetahuinya bagaikan mampu membaca pikiran.

"Baik, kalau begitu saat kalian jadi datang, kabari aku sejenak, aku akan pergi menjemput kalian!" Eugene Ning berkata dengan riang.

"Tidak perlu, nanti kami cukup menaiki taxi saja, mungkin akan pulang di hari Minggu, karena hari Sabtu Gaby masih harus masuk les bahasa Inggris." Natalie Ning berkata.

"Baik, kapan pun boleh-boleh saja!" Eugene Ning berkata sambil tertawa lepas.

Setelah menutup panggilan, Natalie Ning memalingkan kepala berkata terhadap Robert Huo: "Eugene begitu senang, kelihatannya kesanmu di matanya cukup bagus, dulu saat tahu kamu akan pulang, dia selalu berekspresi seperti telah menelan lalat."

"Ucapanmu ini telah menyinggung dua orang sekaligus lho, aku nanti akan memperhitungkannya dengan Eugene." Robert Huo pura-pura merasa kesal.

Natalie Ning tersenyum, tidak berdalih, karena dia tahu, suaminya tidaklah benar-benar merasa marah, ini hanya sekedar candaan antara suami istri.

Saat Gaby mengetahui dia akan segera menemui kakek dan neneknya, Gaby pun merasa sangat gembira.

Sebelumnya dia selalu di bawa pulang ke sana melewati akhir pekan oleh Eugene Ning, bagi sang gadis, pergi ke rumah nenek seorang diri tidaklah berarti, akan lebih membahagiakan jika bisa pergi bersama ayah dan ibu.

Saat ini, Eugene Ning berlari turun dari lantai 2, berkata terhadap ibu-ibu yang sedang memberikan buah-buahan yang sudah ditimbang terhadap pembeli, setelah menerima bayaran baru melirik sang pria, berkata: "Dia pulang sendirian?"

"Bukan, dia pulang bersama kakak ipar." Eugene Ning menjawab.

"Dia bukan kakak iparmu!" Sebuah kaki menendang pantatnya Eugene Ning, kemudian, Ardi Ning berkata dengan ekspresi wajah dingin: "Telepon kakakmu, suruh dia jangan pulang!"

Eugene Ning tahu ayahnya tidak bisa menurunkan gengsinya, jelas-jelas dia sangat mengharapkan kepulangan Natalie Ning, tapi malah selalu keras kepala.

Sang pemuda menepuk-nepuk jejak sepatu di pantatnya. Berkata: "Sebenarnya Shawn Li itu sudah banyak berubah belakangan ini, kalian mungkin tidak tahu, dia sangat berbakat dalam berbisnis, beberapa hari sebelumnya dia telah membantu pabrik kami mendapatkan orderan besar, bahkan CEO Huang saja memujinya. Apalagi, saat aku pergi ke tempat kakak sana beberapa hari lalu, perlakuannya terhadap kakak lumayan baik, sepertinya dia bukanlah si pecundang seperti dulu lagi."

"Jangan mengelabuiku, memangnya aku tidak pernah melihat orang seperti apa Shawn sebenarnya?" Ardi Ning berkata dengan galak: "Kalau kakakmu ingin pulang, maka pulanglah bersama Gaby saja, kita mampu memenuhi pangan dan pakaiannya. Tapi kalau pulang bersama Shawn si brengsek itu, maka jangan pulang saja! Aku tidak mau merasa malu!"

"Ayah, yang kukatakan ini benar, Shawn benar-benar sudah banyak berubah, kamu akan mengetahuinya selah bertemu dengannya!" Eugene Ning mempertahankan pendapatnya.

"Kamu minta dipukul ya?" Ardi Ning mendorongnya, berkata: "Enyah keluar. Malas mendengar omong kosongmu!"

Dalam hati Ardi Ning, semua perkataan putranya hanyalah demi membuat Natalie Ning bisa memiliki alasan untuk pulang.

Orang seperti Shawn Li itu memangnya bisa memiliki perubahan seperti apa?

Dari orang payah yang tak tertolong, menjadi orang bodoh tak berguna?

Memangnya ada perbedaan?

Kalau seorang menantu seperti ini datang berkunjung, mukanya harus diletakkan di mana? Kalau tetangganya tahu, pasti akan menertawakannya.

Dulu setelah membuang seluruh hadiah pemberian Shawn Li ke luar rumah, Ardi Ning telah berkata dengan sangat tegas, asalkan dirinya masih hidup, jangan harap Shawn Li bisa memasuki pintu rumah Keluarga Ning!

Jadi, tidak peduli seberapa rindunya dia terhadap putrinya, Ardi Ning tetap tidak akan bersedia bertemu dengan Robert Ning.

Eugene Ning tahu maksudnya, makanya tidak banyak berkata. Lagipula tidak bisa hanya mengandalkan ucapan, tetap harus diperlihatkan agar bisa mengetahui ini benar atau palsu.

Eugene tidak mempermasalahkan hal ini panjang lebar, lalu mengambil jeruk dalam rak di sampingnya dan mengelupas kulitnya, sambil memasukkannya dalam mulut sambil berkata: "Kakak bilang mungkin akan pulang hari Minggu, karena hari Sabtu Gaby masih harus mengikuti les bahasa Inggris, nanti aku akan duluan mencari orang membeli makanan laut, bah, jeruk apa ini. Kenapa begitu masam! Ma, dari mana kamu membelinya?"

Dia memuntahkan jeruk dalam mulutnya, Eugene Ning merasa sangat masam hingga giginya nyaris copot.

"Beli makanan laut apaan, makan jeruk saja masih pilih-pilih, entah!" Ardi Ning langsung memberikan tamparan pada Eugene Ning.

"Pada dasarnya memang sangat masam, kalau tidak percaya, cobalah sendiri!" Eugene Ning berkata dengan ekspresi sedih.

"Di pesan dari luar kota, kali ini benar-benar mampus!" Cornelia Deng yang ada di samping berkata dengan murung.

"Hah? Kalian bukannya selalu memesan barang dagang dari Paman Yang? Kenapa ganti?" Eugene Ning bertanya.

"Jangan ungkit lagi, lahan kebun buah di daerah kita mengalami longsor, seluruh hasil panen menjadi rusak, Pak Yang sudah panik hingga pendarahan otak dan masuk rumah sakit. Sekarang bukan hanya toko kita yang tak bisa memesan barang dagang, toko lain di seluruh kota pasti akan membeli dari luar kota ataupun membeli dari kebun kecil." Cornelia Deng menghela napas.

Toko buah yang mereka kelola tidaklah besar, luas bidang toko paling hanya sebesar 70 sampai 80 meter persegi.

Pak Yang yang biasanya merupakan supliernya memiliki kebun buah, rasa buah kebunnya cukup enak, harganya pun stabil, dan mendapat penilaian baik dari banyak orang.

Sekarang kebun buah lokal terbaik telah hancur. Toko buah yang lebih besar masih baik-baik saja, karena sumber supliernya banyak. Tapi kalau toko buah kecil seperti miliknya Cornelia Deng juga ikut menyuplai buah dari kota lain, modal yang keluar terlalu besar. Makanya terpaksa memilih kualitas yang tak begitu baik untuk dijual.

Kebun buah yang awalnya tertekan hingga hampir tak memiliki ruang untuk berkembang, sekarang malah berubah menjadi banyak diminati.

Harganya tidak hanya ditingkatkan, bahkan tidak membiarkan pembeli memilih-milih kualitas.

Dia langsung memberikan sekeranjang sekaligus tanpa peduli apakah berisi yang baik atau yang buruk. Enak atau tidak tergantung pada keberuntungan.

Dan keberuntungan Cornelia Deng tidaklah begitu bagus, sekeranjang jeruk yang dibelinya terasa sangat masam, hanya nektarin yang masih bisa dijual, tapi ukurannya terlalu kecil. Jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, kualitasnya jauh berkurang.

Namun harga membeli malah lebih tinggi daripada sebelumnya, kalau menjualnya dengan harga rendah, mereka tidak hanya tidak mendapatkan laba, mungkin saja akan merugi. Tapi kalau tetap dengan harga awal, pembeli tidak akan bersedia membeli.

Menjual atau tidak sama-sama memusingkan.

Ardi Ning dan Cornelia Deng sedang memusingkan masalah di toko mereka selama beberapa hari ini, ditambah lagi sekarang mendengar Shawn Li akan datang, tentu saja langsung membuat suasana hati lebih memburuk.

Eugene Ning tidak memiliki cara penyelesaian yang baik terhadap masalah ini, pekerjaannya adalah dalam bidang water heater, tidak berkaitan dengan toko buah, ingin membantu pun tetap tak berdaya.

"Sudahlah, tidak ada gunanya mengatakan hal ini denganmu, pergi sana, lihatlah muntahanmu yang berserakan ini, menjijikkan!" Cornelia Deng berkata dengan kesal.

Eugene Ning tahu suasana hati ibunya sedang buruk, makanya tidak banyak bicara.

Keesokan harinya di pagi hari, Eugene Ning melihat berita yang dikirimkan oleh pihak Toko Taobao saat bangun tidur, pendaftaran toko telah disetujui, dan sudah boleh memulai bisnis kapanpun saja.

Ini merupakan kabar yang sangat baik baginya.

Tanpa ragu sama sekali, Eugene Ning memakai baju dan keluar rumah, lalu langsung pergi ke rumahnya Robert Huo.

Saat tiba di sana, kebetulan bertemu dengan Natalie Ning yang baru saja pulang seusai mengantar Gaby masuk sekolah.

"Kenapa datang ke sini?" Natalie Ning menghentikan motor listrik ke samping sambil menanyakan

"Datang mencari Shawn, pendaftaran toko resmi kami sudah disetujui, CEO Huang menyuruhku mencarinya untuk segera menyelesaikan masalah tentang perekrutan pegawai!" Eugene Ning melihat Natalie Ning dengan sedikit kebingungan, bertanya: "Kamu kenapa tidak pergi bekerja hari ini?"

"Sudah mengundurkan diri." Natalie Ning mengeluarkan kunci dan membuka pintu sambil menanggapinya.

"Mengundurkan diri?" Eugene Ning tidak terlihat begitu terkejut, hanya menganggukkan kepala dan berkata: "Mengundurkan diri pun bagus juga, kamu bisa mengelola Toko Taobao bersama dengan Robert pun lumayan bagus, dalam sehari bisa mendapatkan laba sebanyak ribuan RMB, bukankah ini lebih menyenangkan daripada merendahkan diri terhadap pembeli?"

Novel Terkait

The Richest man

The Richest man

Afraden
Perkotaan
2 tahun yang lalu
You Are My Soft Spot

You Are My Soft Spot

Ella
CEO
2 tahun yang lalu
Cinta Pada Istri Urakan

Cinta Pada Istri Urakan

Laras dan Gavin
Percintaan
2 tahun yang lalu
Dipungut Oleh CEO Arogan

Dipungut Oleh CEO Arogan

Bella
Dikasihi
3 tahun yang lalu
Love at First Sight

Love at First Sight

Laura Vanessa
Percintaan
2 tahun yang lalu
Cinta Dibawah Sinar Rembulan

Cinta Dibawah Sinar Rembulan

Denny Arianto
Menantu
3 tahun yang lalu
Asisten Wanita Ndeso

Asisten Wanita Ndeso

Audy Marshanda
CEO
2 tahun yang lalu
Wanita Pengganti Idaman William

Wanita Pengganti Idaman William

Jeanne
Merayu Gadis
3 tahun yang lalu