Inventing A Millionaire - Bab 226 Tidak Bisa Diobati

Kalimat yang mengingatkan untuk jaga kehangatan itu diucapkan Robert Huo secara sengaja.

Ia tahu betul Zila Tang sering berpikir terlalu jauh. Mendengar kalimatnya itu, dia pasti bakal berpikiran yang macam-macam dan absurd.

Tujuan Robert Huo adalah meninggalkan benih keraguan dan keingintahuan di hati wanita itu.

Hanya dengan cara ini, mereka kedepannya akan bisa terus berhubungan, lalu dirinya bisa menariknya secara bertahap.

Jika tidak, melihat perasaan Zila Tang pada dirinya, jika ia di masa depan ingin menggunakan identitas untuk berbuat sesuatu pada keluarga Huo, mungkin wanita inilah yang akan menjadi orang pertama yang menghadang.

Robert Huo juga sangat memedulikan kata-kata Griffin Huo. Pria itu sempat melaporkan berbagai hal yang dilakukan merek imitasi pada orang-orang sekitarnya.

Dari tindakan-tindakan ini, merek imitasi terlihat sudah bersiap menggetarkan kantor CEO. Pertama, mereka ingin mengusir orang-orang terdekatnya satu per satu. Kedua, setelah orang-orang ini sudah diusir, mereka akan menyusupi orang-orang mereka ke posisi-posisi yang kosong. Pada saat itu, benar-benar akan jatuh ke tangan mereka.

Jelaslah, kantor CEO paling menarik untuk digetarkan karena itu tempat kerja pribadi Robert Huo. Andai ia mengubah orang setiap hari, tidak akan ada yang berani berkomentar.

Dengan mulai bergeraknya lawan, waktu yang tersisa untuk si pria tidak banyak.

Dengan perasaan terdesak, Robert Huo mengulurkan tangannya untuk memanggil taksi, lalu bergegas naik dengan tujuan kantor.

Hal yang perlu ia urusi kelewat banyak. Andai bisa, pria itu ingin punya delapan tangan seperti halnya seekor gurita.

Melihat kedatangan Robert Huo, Natalie Ning jelas merasa sangat senang. Tetapi, begitu terpikir sesuatu, suaranya jadi agak rendah: “Bagaimana pertemuanmu dengan Pan Simi hari ini?”

Tahu apa yang ingin istrinya tanyakan, si suami mengangguk: “Cukup oke.”

“Sungguh?” Si wanita terlihat sangat bahagia. Entah apa yang dipikirkannya, wajahnya tiba-tiba merona. Ia terlihat cantik dengan wajah merah ini.

Si pria jadi pusing sendiri. Apakah wanita ini benar-benar penuh nafsu?

“Halo, CEO Li.” Sisilia Jian berjalan mendekat dan menyapa Robert Huo terlebih dahulu. Kemudian, wanita itu menyerahkan sebuah berkas ke Natalie Ning dan menjelaskan: “Ini adalah rancangan kerangka manajemen yang kamu minta.”

Natalie Ning menerimanya, lalu menyerahkannya pada Robert Huo berbarengan dengan satu berkas lain yang ada di meja. Ia bertutur: “Momen kedatanganmu sangat pas. Aku menyuruh Sisilia Jian dan Owen Ning secara terpisah membuat rancangan kerangka manajemen. Bisakah kamu membantuku untuk melihat hasil kerja mereka? Volume pertanyaan hari ini telah meningkat sampai ke level di mana para staf layanan konsumen sudah kewalahan. Aku harus menghubungi perusahaan penyedia staf untuk mendiskusikan penambahan staf.”

“Baik, kamu urus saja, biar aku yang lihat.” Si suami mengangguk dan mulai membuka lembaran-lembaran dua berkas yang ada di tangan.

Sisilia Jian berdiri di sisi dan menatap Robert Huo dengan penuh harap. Saat melihatnya mengangguk, ia tidak bisa menahan senyum. Sebaliknya, saat ia mengerutkan kening, wanita itu akan menahan nafas.

Momen menanti “penghakiman” memang teramat menegangkan……

Owen Ning, yang duduk di kursi kerja sembari merapikan laporan, tidak sepeduli Sisilia Jian. Walau begitu, ia tetap merasa tidak tahan untuk tidak mendongak dan mengamati raut Robert Huo ketika mengecek rancangan miliknya.

Ia selalu bilang bahwa ia tidak menyukai Robert Huo dan Natalie Ning. Pria itu merasa mereka hanya bernasib baik dan bersikap sangat oportunis. Tetapi, dengan pengumpulan rancangan hari ini, tidak peduli karena identitasnya sebagai pria atau pun karena kepribadiannya yang angkuh, Owen Ning berharap karyanya dinilai lebih baik.

Dengan hasil ini, ia akan bisa membuktikan bahwa visinya lebih baik daripada Sisilia Jian!

Robert Huo membaca kedua rancangan dengan sangat cepat. Dengan levelnya sekarang, ia bisa menilai sebuah rancangan bisnis semudah seorang mahasiswa mengoreksi kertas ulangan milik siswa sekolah dasar.

Hanya dengan melihat sekilas, ia bisa mendapat pemahaman yang memadai.

Kelar membaca karya kedua bawahan, Robert Huo berkomentar kepada Sisila Jian: “Ada beberapa kesalahan kecil dalam jalan berpikirmu. Menurutku, kesalahan-kesalahan ini seharusnya tidak muncul. Terimalah rancangan ini kembali, lalu cek dengan seksama, revisi, dan kumpulkan lagi ke aku. Jika kesalahan-kesalahan itu bisa kamu perbaiki, aku anggap rancanganmu lulus ujian. Jika gagal diperbaiki, bonus lima ratus yuanmu terpaksa kupotong.”

Andai yang dikritisi adalah orang lain, sudah bersusah payah menulis rancangan namun tidak beroleh satu pun pujian, bahkan diancam bonusnya akan dipotong, orang itu pasti sudah mengumpat-umpat dalam hati.

Tetapi, tingkat kedewasaan Sisilia Jian jauh di atas mereka. Wanita itu buru-buru menerima sodoran rancangannya dan membalas: “Baik, aku segera memeriksa semuanya. Dalam pengumpulan selanjutnya, aku berani jamin kamu tidak akan kecewa!”

Setelahnya, ia langsung berjalan menuju meja kerja.

Si bos pria tidak membeberkan kesalahnnya secara konkrit karena berkeyakinan membiarkannya mencari tahu sendiri akan membuatnya lebih paham alasan poin itu dinilai salah. Alhasil, ia kedepannya akan berhenti melakukannya.

Sebaliknya, jika setiap kali kesalahan para bawahannya disebutkan secara eksplisit, begitu menghadapi situasi atau pun pekerjaan yang sama, bawahan-bawahan itu akan masih bingung harus berbuat apa.

Metode pengajaran ini merefleksikan pepatah “mengajari orang cara memancing lebih baik daripada langsung memberinya ikan.”

Habis mengevaluasi Sisilia Jian, Robert Huo berjalan menuju Owen Ning.

Tiba di depan mejanya, pria itu meletakkan berkas ke tangannya dan berkata: “Keseluruhan pemikiranmu cukup oke. Kamu terlihat punya fondasi teori yang sangat kokoh. Beberapa data internasional dan bagan perbandingan di dalamnya juga sangat bagus. Kerjaanmu pantas dijadikan template rancangan kerangka manajemen.”

Mendengar evaluasi ini, Sisilia Jian menundukkan kepala dengan sedikit putus asa. Sementara itu, sudut bibir Owen Ning agak terangkat akibat menahan senyum.

Si pria melirik si wanita. Ia sangat ingin menanyainya, sudah tahu kan kamu apa yang kubilang talenta alamiah?

Tetapi, detik berikutnya, Robert Huo menuturkan sesuatu yang tidak terduga: “Masalahnya, yang kita perlukan bukan template. Kalau hanya butuh template, kita bisa mencari berbagai template dalam hitungan detik di Internet. Situasi setiap perusahaan berbeda, jadi kita harus berproses dari situasi riil, termasuk dengan menganalisis kondisi psikologis, komposisi keluarga, dan situasi internal keluarga para pekerja. Setelah menganalisis semua itu barulah kita buat penilaian yang menyeluruh, lalu menyusun kerangka yang ideal. Jika tidak, yang kita dapatkan dari kegiatan ini bukanlah perbaikan, melainkan kehancuran. Rancanganmu harus kamu buat ulang dari awal. Jangan cuma caplok hal-hal yang ada di buku pelajaran, melainkan gabungkan juga dengan data-data yang tersedia di berbagai sumber untuk mengakomodasi realitas yang kompleks dan dinamis. Paham tidak!”

Ekspresi Owen Ning membeku. Ia sungguh tidak bisa berkata-kata.

Bawahan pria itu pikir, Robert Huo datang padanya untuk memuji. Siapa yang tahu, bagian awal evaluasinya sangat positif, tetapi bagian akhirnya luar biasa negatif!

Dengan kata-kata yang lebih sederhana, rancangan dirinya dinilai terlihat seperti emas di luar, namun busuk dan burik di dalam.

Sejujurnya, Robert Huo lebih memandang hebat Owen Ning.

Fondasi teori pemuda ini sangat kokoh, otaknya pun sangat encer. Yang jadi masalah adalah ia terlalu bergantung pada pengetahuan yang dipelajari dari guru dan dosen. Pria ini tidak begitu memahami cara berubah dan cara beradaptasi dengan situasi riil.

Kabar baiknya, masalah ini “hanya” disebabkan oleh pengalamannya yang masih sedikit. Robert Huo yakin, dengan menjalani banyak latihan, Owen Ning akan mampu jadi asisten yang baik.

Oleh karena itu, ia punya standar yang lebih tinggi buat si pria daripada si wanita.

Sayang, Owen Ning tidak berpikir sejauh itu. Ia menganggap evaluasi Robert Huo seratus persen merupakan wujud penghinaan.

Daripada positif di awal dan negatif di akhir, lebih baik kamu langsung bilang kualitas karyaku setara dengan sampah!

Wajahnya berubah menjadi merah, ekspresinya super kaku.

Melihat keanehannya, si bos pria mengerutkan kening dan bertanya, “Tidak ada komentar?”

Tangan Owen Ning yang memegang mouse sedikit memegang. Pria itu menjawab datar: “Aku paham. Aku akan membuat rancangan baru.”

“Untuk pendekatan manajemen yang bersifat manusiawi, kamu bisa berdiskusi dengan Sisilia Jian. Sebagai seorang wanita, dia lebih peka dengan hal-hal emosional macam ini. Berdiskusi dengannya akan memberimu perspektif yang lebih sesuai.” Robert Huo mengarahkan.

“Paham.” Owen Ning merespon dengan semakin singkat.

Sadar bawahan prianya tengah kesal, bos pria tidak banyak bicara lagi.

Melatih seseorang itu sangat sederhana. Asalkan orang ini bersedia mendengarkan masukan dengan sungguh-sungguh, sebodoh apa pun dirinya, Robert Huo tetap akan punya kepercayaan diri untuk melatihnya.

Tetapi, jika seseorang sombong dan tidak mau dikritik, ia tidak akan menyia-nyiakan banyak waktu untuk orang itu.

Setelah Robert Huo berbalik dan bergegas pergi, jari-jari Owen Ning semakin tegang.

Sisilia Jian, yang duduk di seberangnya, tahu bahwa dia tidak suka diajar seperti ini, apalagi oleh seseorang yang ia pandang sebelah mata.

Keduanya belum sepenuhnya berbaikan selepas pertengkaran terakhir. Tetapi, mereka bagaimana pun juga pernah berpasangan selama bertahun-tahun. Sempat ragu sejenak, Sisilia Jian membulatkan niat untuk berusaha menenangkan: “Niat CEO Li sebenarnya baik. Dia……”

“Diam!” Owen Ning membalas dengan dingin, “Kualifikasi apa yang kamu miliki untuk menghiburku? Dipuji satu dua kalimat, kamu benar-benar berpikir bahwa kamu lebih baik dariku? Jangan terus pakai kata-kata “niat dia sebenarnya baik”. Aku tidak butuh penenangan darimu, lebih-lebih simpatimu!”

“Kamu, kamu benar-benar tidak bisa diobati!” Paru-paru Sisilia Jian hendak meledak. Berniat menetramkan hati lawan bicaranya, ia malah kena makian. Siapa yang tidak emosi coba!

Novel Terkait

Istri kontrakku

Istri kontrakku

Rasudin
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Takdir Raja Perang

Takdir Raja Perang

Brama aditio
Raja Tentara
2 tahun yang lalu
Cinta Seumur Hidup Presdir Gu

Cinta Seumur Hidup Presdir Gu

Shuran
Pernikahan
2 tahun yang lalu
Innocent Kid

Innocent Kid

Fella
Anak Lucu
2 tahun yang lalu
Mr Huo’s Sweetpie

Mr Huo’s Sweetpie

Ellya
Aristocratic
2 tahun yang lalu
Mr. Ceo's Woman

Mr. Ceo's Woman

Rebecca Wang
Percintaan
2 tahun yang lalu
The Campus Life of a Wealthy Son

The Campus Life of a Wealthy Son

Winston
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Cinta Yang Paling Mahal

Cinta Yang Paling Mahal

Andara Early
Romantis
2 tahun yang lalu