Inventing A Millionaire - Bab 45 Marah

Melihat ke anaknya yang terlihat sedih, Cornelia Deng datang menarik-narik dirinya, lalu Ardi Ning baru menaruh kue bulan tersebut.

Namun kemudian, dia menunjuk ke kepiting tersebut dan bertanya: “Kepiting juga iya?”

“Aku yang beli kepiting itu.” Robert Huo tidak memilih untuk menyembunyikan, hanya saja saat Ardi Ning mengambil kepiting tersebut hendak ingin membuangnya, ia berkata lagi: “Tapi Gaby yang menemani aku untuk membelinya, katanya dia ingin memilih kepiting yang paling besar untuk Kakek, hampir terjepit tangannya.”

Gerakan Ardi Ning berhenti lagi, Cornelia Deng memeluk cucunya dengan tidak tega: “Di jepit kepiting ya? Di mana? Coba aku lihat.”

Gaby menggelengkan kepala, berkata: “Tidak terjepit, saat dia mengulurkan supitnya, Ayah langsung memukulnya dia pun langsung lari, hebat sekali”

Ekspresi wajah dan nada yang seperti sedang memamerkan dari anak ini, memuat Cornelia Deng tidak tahan, di saat ini, tidak boleh ketawa juga, dia pun hanya bisa menahan tertawanya.

Tidak boleh membuang kue bulan, kepiting juga tidak boleh dibuang, ini membuat Ardi Ning sangat tidak senang.

Menurut bayangan, ia seharus mengambil barang dan melemparnya untuk menunjukkan emosinya, juga untuk menunjukkan wibawanya sebagai orang tua, sekarang batal semua, ditambah lagi wajah Eugene Ning yang terlihat tertawa diam-diam itu, membuat Ardi Ning merasa semakin kesal.

“Apa yang lucu, kamu sangat senang kah? Masuk ke dalam sana!” Kata Ardi Ning sambil marah.

Eugene Ning tidak berani melawannya di saat seperti ini, temperamen Ayahnya ini dia juga tahu, mengambil sapu untuk memukul orang saat marah itu sudah biasa.

Menolehkan kepalanya ke Robert Huo lalu menunjukkan tatapan banyak berdoalah kamu, lalu dia sambil membawa kue bulan dan kepiting tersebut masuk ke dalam, sebelum masuk ke dalam, dia sengaja berkata: “Kak, kamu ke sini membantu aku mengurus kepiting ini, aku tidak tahu cara mengukusnya.”

Natalie Ning berjalan ke depan dengan tidak sadar, namun ia teringat Robert Huo yang ada di samping, dia berhenti lagi, menunjukkan ekspresi memohon kepada Ayahnya.

Walaupun tidak mengatakan apa-apa, namun ekspresi wajah Natalie Ning, sudah mengatakan semuanya.

Semua kesulitan yang dilewati anak perempuannya ini, Ardi Ning tahu, dia merasa tidak tega, namun ia pun merasa kecewa juga terhadap anaknya.

Seorang pria yang tidak berguna, mengapa kamu masih mengikuti dia?

Bahkan jika tidak ada yang mau lagi setelah cerai dan membawa anak, Ayah dan Ibu bukannya tidak bisa menghidupi kamu juga, mengapa kamu tidak pulang ke rumah!

Karena merasa tidak tega terhadap anak perempuan sendiri, makanya setelah Ardi Ning bertemu dengan Robert Huo, ia pun langsung bersikap dingin seperti sebuah es gunung.

Hanya saja sekarang, Natalie Ning yang terlihat kasihan itu, membuat dirinya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kalau benar-benar mengusir Robert Huo pergi, menurut pengalaman tahun sebelumnya, kemungkinan besar Natalie Ning juga akan mengikuti dia pergi.

Menggunakan kata-kata yang Natalie Ning katakan, seorang wanita jika sudah menikah, bagaimanapun situasinya, dia harus tetap setia mengikuti Suaminya.

Walaupun Shawn Li ini bukanlah orang yang baik, namun sudah menikah dengannya, harus melakukan yang terbaik untuk melindunginya, ini adalah tugas seorang istri.

Konsep seperti ini, kebetulan adalah ajaran dari Ardi Ning dan Cornelia Deng sejak ia kecil, mereka pun tidak memiliki posisi untuk membantahnya.

“Kakek, kepiting yang dikukus Ayah sangat enak, aku ingin makan kepiting yang dikukus Ayah!” Gaby sambil menarik tangan Ardi Ning sambil menggoyangkan tangannya.

Melihat cucu kesayangan yang sambil bersikap manja, membuat Ardi Ning semakin tidak tega untuk bersikap kejam, tapi membiarkan Robert Huo masuk ke dalam dengan begitu saja, dirinya merasa malu.

Saat itu, ada sebuah mobil van berhenti di samping.

Menurunkan jendela mobil, seorang pria yang seumuran dengan Ardi Ning menunjukkan kepalanya dan menyapa Natalie Ning: "Wah, Natalie sudah pulang yah.”

“Paman Gu.” Natalie Ning membalikkan badan dan menyahutnya.

Ocean Gu sambil menganggukkan kepala dengan senang, lalu melihat lagi ke Ardi Ning, berkata: “Kak Ning, anak perempuan mu sudah pulang, kenapa tidak membiarkan masuk ke dalam? Oh, ini menantu kamu itu kan? Namanya siapa itu? Li, Li……”

Suasana hati Ardi Ning memang tidak senang, melihat dia mengacau di sini, ia pun merasa semakin kesal: “Dia siapa memang ada urusan apa dengan kamu, cepat bawa mobilmu, kamu telah menghalangi toko aku tahu tidak!”

“Kamu lihatlah kamu ini, pagi-pagi sudah marah-marah, mengapa, usahanya kurang lancar?” Ocean Gu sambil menepuk-nepuk pintu mobil dengan tertawa keras, berkata: “Sudah ku duga barang yang dimasukkan kamu itu tidak bagus, coba lihat aku, buah berkualitas tinggi dari luar kota, modalnya hanya perlu bensin satu kali perjalanan, tapi orang yang datang beli pun menjadi banyak, sama saja tidak rugi, sudah aku bilang suruh kamu pergi bersama aku, kamu tidak mau, pada dasarnya beberapa hari ini tidak ada pelanggan yang datang membeli bukan?”

Ardi Ning semakin kesal setelah dikata seperti demikian, membentaknya dengan berkata: “Kamu ini sudah selesai belum, sudah hebat kamu usahanya lancar? Cepat enyahlah!”

“Baik baik baik, aku pergi, coba lihat kamu marah sampai segitunya, okelah, Natalie, Paman pulang ke toko dulu ya, kalau ingin makan buah datang ke toko saja, Paman ambil buat kamu!” Ocean Gu selesai berkata dengan senang, lalu ia pergi dengan perlahan di bawah tatapan Ardi Ning yang terlihat ingin memakan orang itu.

“Si bangsat ini, Cuma karena usahanya lancar beberapa hari saja, sudah berani sok-sok an di depan aku!” Kata Ardi Ning sambil marah.

Toko buah Ocean Gu, sama seperti tokonya, mereka semua berada di sebelah pintu keluar masuk komplek ini. Hanya saja satu ada di kiri dan satu lagi ada di kanan.

Tidak tahu juga apakah karena orang-orang di komplek ini terbiasanya berlari ke sebelah kiri, atau karena ada lebih banyak toko di sebelah kiri, siapa pun yang datang untuk membeli buah, kebanyakan dari mereka datang ke tokonya Ardi Ning.

Hal ini, sudah membuat Ocean Gu merasa tidak senang selama puluhan tahun.

Toko yang sama, kualitas barang juga sama, mengapa semuanya ke tokonya Ardi Ning.

Kali ini kebun buah Pak Yang dihancurkan oleh tanah longsor, tidak ada orang yang mendapatkan barang bagus, Ocean Gu juga sangat tegas, langsung mencari keponakannya untuk mengemudi ke luar provinsi untuk memasukkan sejumlah barang.

Belum lagi, berdasarkan kualitas yang jelas lebih baik daripada barang Ardi Ning mereka, dia pun merebut kembali setengah dari usahanya.

Sekarang tokonya, orang yang datang membeli buah sampai mengantre, dan toko Ardi Ning sini hanya ada 2 3 orang saja.

Terkadang ada beberapa pelanggan yang sudah langganan, namun juga perpilih-pilih.

Melihat usaha yang semakin buru, Robert Huo malah berkunjung, sekarang dirinya dibuat kesal oleh Ocean Gu, bagaimana Ardi Ning bisa merasa bahagia.

Melihat ekspresi wajahnya yang terlihat kurang enak itu, sambil menutupi dadanya sambil terengah-engah, Natalie Ning langsung berlari ke depannya dan berkata: “Ayah, kamu kenapa? Apakah jantung Ayah merasa tidak enak lagi? Eugene, Eugene, obat Ayah di mana!”

Penyakit Aritmia Ardi Ning sudah sangat lama, semakin berumur pun semakin parah, di rumah sering tersedia obat Aritmia.

Eugene Ning sambil mengambil obat tersebut dari berlari keluar dari dalam, Natalie Ning langsung menuangkan satu butir obat dan berikan kepada Ardi Ning, sambil mengelus punggungnya dengan lembut, berkata: “Ayah, badan kamu kurang sehat jangan sering marah-marah,”

Perhatian dari anak perempuannya, membuat hati Ardi Ning merasa hangat.

Walaupun beberapa tahun tidak bertemu, anak kandung tetap anak kandung, tidak pernah berubah.

Melihat kekhawatiran yang ada di dalam tatapan Natalie Ning, dan matanya yang memerah, Ardi Ning menghelakan nafas, menepuk tangannya, berkata: “Aku tidak kenapa-napa, sebentar saja sudah sembuh.”

“Kak, ini sudah penyakit lama Ayah, tidak kenapa-napa.” Eugene Ning sambil berkata di samping.

Natalie Ning menolehkan kepala lalu melototinya dan berkata: “Ayah sudah berumur, memangnya masih bisa seperti dulu? Aku tidak ada di rumah, kamu harus sering memperhatikan Ayah tahu tidak! Dan juga, kamu juga sudah tidak kecil lagi, jangan sering membuat Ayah marah!”

Eugene Ning dengan wajah yang terlihat sedih, berkata: “Aku mana berani membuat dia marah, karena memang penjualan buah akhir-akhir ini tidak bagus, dia sendiri khawatir sampai tidak bisa makan.”

“Dulu bukannya usaha kita baik-baik saja?” Natalie Ning bertanya dengan bingung.

Cornelia Deng menghelakan nafas di samping, lalu ia menceritakan masalah kebun buah terjadi tanah longsor, : “Bukan salah Ayahmu juga marah-marah, coba kamu bilang si Kak Gu itu juga, yasudah kalau merebut usaha kita, setiap hari dia lewat depan rumah kita masih sengaja memamerkannya, dan juga karena aku dan Ayahmu tidak bisa mengemudi, takut juga pergi ke luar kota malah ditipu oleh orang lain, kalau tidak, mana mungkin masih membiarkan dia bersikap sombong seperti itu?”

Ardi Ning dan Cornelia Deng berdua merupakan warga negara yang jujur , dan mereka bahkan belum pernah bepergian dari provinsi ini seumur hidup mereka, dulu, usaha toko buah itu bagus karena kualitasnya bagus dan mereka juga jujur.

Tapi di saat kritis, kualitas seperti ini bagus. Sebaliknya, malah menjadi kendala bagi mereka.

Terlalu jujur, tidak berpengetahuan, membuat mereka berdua tidak berani membeli persediaan barang dari orang asing dengan mudah, karena takut ditipu.

Lagi pula, bagus atau tidaknya buah ini terkadang tidak terlihat dari luar, tunggu kamu membelinya dan menaruhnya selama 2 hari, semua kualitas buruknya akan terlihat.

Natalie Ning juga tidak memiliki cara yang bagus, hanya bisa membujuk Ardi Ning agar tetap tabah, usaha kalau tidak bagus yasudah, jangan terlalu memasukkan ke dalam hati.

Lalu, dia menggoyangkan botol obat, lalu ia sadar kalau di dalam botol tersebut tersisa satu butir obat, dan bertanya: “Di rumah masih ada obat lagi?”

“Sepertinya sisa sebotol ini saja.” Jawab Eugene Ning.

“Ayah, kamu dan Ibu masuk ke dalam untuk beristirahat dulu, aku pergi membeli dua botol obat untuk persediaan di rumah.” Habis ngomong, Natalie Ning membalikkan badan dan menarik Robert Huo ke arah toko obat.

“Ayah, Kakak lebih perhatian daripada aku, coba kamu lihat tadi dia terlihat sangat khawatir, sampai air mata pun hampir terjatuh, menurut aku, kita jangan terlalu mempermasalahkan masalah ini lagi dengan dia, melakukan sesuatu itu jangan sampai keterlaluan, kamu sudah memarahinya daritadi, si Shawn Li juga diam-diam saja.” Eugene Ning menggunakan kesempatan itu untuk sambil membujuk.

Novel Terkait

After The End

After The End

Selena Bee
Cerpen
3 tahun yang lalu
Mbak, Kamu Sungguh Cantik

Mbak, Kamu Sungguh Cantik

Tere Liye
18+
2 tahun yang lalu
Memori Yang Telah Dilupakan

Memori Yang Telah Dilupakan

Lauren
Cerpen
3 tahun yang lalu
Unplanned Marriage

Unplanned Marriage

Margery
Percintaan
2 tahun yang lalu
The Revival of the King

The Revival of the King

Shinta
Peperangan
2 tahun yang lalu
Excellent Love

Excellent Love

RYE
CEO
2 tahun yang lalu
Istri Yang Sombong

Istri Yang Sombong

Jessica
Pertikaian
3 tahun yang lalu
My Perfect Lady

My Perfect Lady

Alicia
Misteri
2 tahun yang lalu