Inventing A Millionaire - Bab 208 Bingung

Marshella Deng malas peduli tentang apa yang dipikirkan Yolanda Tang, lagipula Yolanda yang menyinggung tersinggung, yang rugi juga ayah Yolanda, tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Dia menoleh lagi dan memberi pelajaran pada Arnold He, "Jangan berpikir seolah-olah kamu sangat punya banyak uang saja, hadiahmu itu bukanlah apa-apa, sudah cukup membuatku malu tahu!"

Kedatangan empat tokoh besar satu persatu. Ditambah dengan pendapatan toko Taobao Natalie Ning, pertahanan psikologis Marshella Deng benar-benar dikalahkan. Sekarang dia hanya ingin menjadi orang yang tidak terlihat, sebaiknya tidak ada yang melihat dirinya.

Sangat disayangkan bahwa putra dan calon menantu perempuannya malah membuat dirinya menunjukkan wajahnya.

Meskipun Alex Liao yang terkenal terkejut barusan, Arnold He masih sedikit tidak rela ketika dia menyebutkan hadiah itu, dia berkata, “Memang ada apa dengan hadiah yang kuberikan, dari awal memang yang terbaik. Siapa di keluarga kita yang memberi lebih bagus dari punyaku?"

“Di keluarga kita memang tidak ada, tapi teman-teman kakak iparmu itu memberi hadiah yang bagus!” Marshella Deng berkata, “Ketika CEO Liao datang, dia mengirim jutaan pesanan untuk bergabung dengannya. Apakah lelaki gemuk tadi itu terlihat tidak mencolok? Dia adalah kepala eksekutif Fernaldy Real Estate, dengan aset lebih dari satu miliar RMB, dia memberi hadiah dua kotak daun teh, 600.000 RMB/0.5kg, dia memberi hadiah sebanyak 1kg. Lalu wanita cantik itu, dia GM di perusahaan cabang Keluarga Ji, dia memberi hadiah banteng emas murni, beratnya 2kg, harganya mencapai lebih dari 700.000 RMB. Coba katakan, dibandingkan dengan hadiah-hadiah mereka, hadiahmu itu seperti apa?"

Arnold He dan Yolanda Tang merasa bodoh saat mendengarnya, hadiah lebih dari satu juta tidak pernah terpikirkan oleh mereka.

Saat membeli hadiah 7000~8000 RMB saja Yolanda Tang masih berkata Arnold He gila, padahal tidak terlalu datang ke tempat kakak sepupunya, untuk apa memberi barang sebagus itu, mereka tidak mengerti cara untuk menghargai.

Tapi sekarang, dia tidak punya pikiran seperti itu lagi.

Ini masih belum berakhir, Marshella Deng berkata lagi, "Pria jangkung barusan, wakil ketua Dewan Perdagangan, Raja Buah Howard Xia! Kamu tahu Howard’s Fruit? Orang-orang ini sangat dekat dengan kakak iparmu.”

Raut muka Arnold He penuh dengan ketidakpercayaan, dan secara naluriah bertanya, "Tidak mungkin ... bagaimana bisa seseorang seperti Shawn Li bisa memiliki hubungan pribadi dengan karakter-karakter seperti itu? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya!"

“Kamu tanya aku, aku tanya siapa?” Marshella Deng memelototinya dan berkata, “Lalu toko ini. Apakah kamu merasa ini tidak bagus itu tidak bagus saat pertama masuk? Kuberitahu padamu, tolong jangan bicarakan ini lagi. Kamu tahu berapa banyak penjualan toko Taobao kakak iparmu dalam sebulan sekarang? Minimal 6 juta! Selain itu pasangan suami istri itu masih merupakan pemegang saham utama di perusahaan diet, mereka menghabiskan 8 juta untuk membeli saham, katanya penjualan mereka bisa mencapai 100 juta RMB dalam setahun, laba bersih lebih di atas 70%! "

Arnold He merasa bodoh, Yolanda Tang tercengang, penjualan bulanan 6 juta, sudah angka yang mengejutkan bagi mereka. Namun, dibandingkan dengan penjualan tahunan sebesar 100 juta, itu tidak signifikan.

Karena tiba-tiba angkanya melonjak tinggi, jarak ini sangat besar.

“Tidak, tidak mung …."

"Jangan bilang tidak mungkin lagi, faktanya ada di depan mata, kakakmu dan pasangannya sudah tidak seperti dulu lagi. Apa kamu tidak lihat bibi dan pamanmu berbicara lebih banyak dalam kelompok keluarga setiap hari? Ketika menantunya tidak bisa dulu, apa kamu melihat mereka berbicara?” kata Marshella Deng.

Raut wajah Arnold He dan Yolanda Tang menjadi kusam, apa yang dikatakan Marshella Deng membuat mereka terlalu kaget, agak sulit untuk dicerna untuk sementara waktu.

Marshella Deng tidak berkata apa-apa, sebenarnya setelah memilah-milah berita yang didapatnya hari ini, dia juga merasa agak sesak.

Terlalu terkejut, terlalu kaget, itu seperti melihat seorang pengemis yang tiba-tiba melepas mantel kotornya, lalu memperlihatkan baju besi emas di dalamnya.

Jelas-jelas enam bulan lalu masih belum seperti ini, kenapa tiba-tiba terjadi perubahan besar?

Sebelumnya mereka terlalu rendah diri. Atau karena alasan lain?

Marshella Deng tidak berani bicara, juga tidak berani bertanya.

Robert Huo dan Natalie Ning sedang berbicara dengan Nova Ji, Fernaldy Fang dan lainnya di depan pintu, setelah sekian lama, orang-orang besar ini pergi satu per satu dan mereka pun kembali ke toko.

Selama mereka pergi, kerabat jauh lebih pendiam, melihat sekeliling satu per satu, dan tidak ada yang mau bicara.

Bicara apa?

Bicara apapun tetap merasa canggung, masih lebih baik tutup mulut saja.

Apa yang disebut melewati satu hari terasa seperti satu tahun, ya seperti sekarang ini. Yang terpenting adalah, belum ada orang yang berani berakta mau pergi.

Pemandangan sebesar itu telah disiapkan, dan akan sangat memalukan untuk berkata mau pergi saat ini.

Hanya Ardi Ning dan Cornelia Deng yang merupakan pasangan paling normal, dengan senyuman di seluruh wajah mereka, membuka kotak rokok yang baru saja diberikan Fernaldy Fang, mengambil isinya dan memberikannya pada juru masak.

Meskipun ada satu atau dua ratus bungkus rokok, sangat menyakitkan untuk membubarkan dengan cara ini, tapi karena diberikan oleh orang lain, Ardi Ning juga bisa mengertakkan gigi dan menerimanya. Hanya saja, meski harga rokoknya mahal, namun tidak sebaik yang diharapkan, dan ada sedikit rasa pedas di tenggorokan.

Beberapa orang merokok sampai terbatuk. Tapi tidak ada yang berani membuangnya begitu saja.

Apakah ada yang berani membuang rokok yang diberikan oleh CEO Fernaldy Real Estate?

Kalau tidak terbiasa merokok, berarti kamu tidak memahami selera kelas atas!

Ketika Robert Huo kembali, dia melihat sekelompok orang merokok tanpa suara, merasa toko itu seperti sedang terbakar. Natalie Ning sedikit mengernyit, tanpa sadar menutupi hidungnya.

Kebanyakan wanita tidak menyukai bau asap, begitu pula Natalie Ning.

Melihat gadis itu mengerutkan kening, Ardi Ning dengan cepat mematikan rokok di tangannya, dan yang lainnya secara alami mengikutinya.

Melihat sekelompok orang dengan cepat menyeka mata mereka, malah membuat Natalie Ning merasa tidak enak.

Robert Huo memasukkan cerutu ke dalam kantong teh dan menyerahkannya kepada Ardi Ning, dia berkata, "Ayah, bawalah semua ini, aku tidak merokok, aku juga tidak terlalu suka teh."

“Aku merasa tidak enak ….” Ardi Ning terlihat senang dan ragu-ragu, daun teh seharga 600.000/0.5kg, dia akan merasa sayang sekali jika meminumnya. Meneguknya itu ibarat membuang uang.

"Tidak ada perlu dirasa tidak enak, aku juga tidak meminumnya. Menyimpannya adalah pemborosan." Robert Huo tersenyum.

Natalie Ning ikut membujuk, "Dia memintamu mengambilnya, ambil saja. Bukankah bibi tadi berkata, kalian telah bekerja keras seumur hidup, dan inilah waktunya untuk menikmatinya."

Beberapa orang di samping tampak canggung ketika mendengarnya, yang mereka katakan sebenarnya dari sudut yang konyol, mereka tidak terlalu peduli pada siapa pun.

Sekarang Natalie Ning mengatakannya lagi, seolah mereka tampak berlebih.

Putri dan menantu sudah berkata demikian, Ardi Ning tidak munafik lagi, dia menerimanya dan berkata, "Baiklah, aku akan menyimpannya nanti, ini adalah harta karun yang berharga! Disimpan beberapa tahun, mungkin saja akan naik harganya!"

“Lihatlah seperti apa dirimu, gadis itu memintamu untuk meminumnya, malah menunggu naik harga, setiap hari hanya memikirkan uang saja!” kata Cornelia Deng.

“600.000/0.5kg, apakah kamu bersedia meminumnya?” balas Ardi Ning.

“Teh Guanyin tidak lebih baik dari Teh Pu’er, tidak bisa disimpan lama, sekarang teh baru, saat yang tepat untuk meminumnya. Kalau disimpan beberapa tahun, rasanya tidak seenak saat ini,” kata Robert Huo.

Ardi Ning tercengang, lalu menghela nafas, "Baiklah, kalau begitu aku akan mencobanya saat pulang nanti, mari coba cicipi teh yang legendaris. Oh iya, adik ketiga suka minum teh, nanti kita cicipi bersama, mari kita coba rasa teh itu!"

Ferdi Ning dan yang lainnya mengangguk tidak wajar.

Ardi Ning tidak benar-benar ingin mengajak mereka minum teh. Teh seharga ratusan ribu bahkan tidak cukup untuk diminum sendiri, apalagi untuk orang ini. Perkataan ini hanya untuk dipamerkan saja.

Semua orang memahami pikirannya, tetapi tidak ada yang akan membongkar arti sesungguhnya saat ini.

Kalau benar-benar ingin menebalkan muka dan memintanya, meski Ardi Ning memberikannya, ini akan menjadi lelucon seumur hidup.

Membandingkan antar kerabat terkadang lebih serius daripada orang asing, tentu saja, tidak ada yang mau jadi bahan lelucon seumur hidup.

Setelah beberapa saat, setelah Ardi Ning dan Cornelia Deng cukup menikmati kesenangan langka ini, mereka melambaikan tangan dan mendesak semua orang untuk bergegas ‘pergi’, jangan menunda bisnis putri dan menantunya itu.

Tentu saja, mengundang orang-orang besar untuk makan siang tidak dapat dihindari, Ardi Ning juga akhirnya memutuskan untuk makan di hotel bintang lima.

Sekarang belum waktunya makan, tapi bisa main kartu dan mengobrol dulu.

Setelah sekelompok orang pergi, toko segera menjadi lebih sepi, Natalie Ning akan memulai siaran langsung, agar pelanggan melihat proses memasak juru masak, Eugene Ning berjalan kemari sambil tersenyum dan berkata, "Kak, kakakku yang baik …."

Novel Terkait

Takdir Raja Perang

Takdir Raja Perang

Brama aditio
Raja Tentara
2 tahun yang lalu
Doctor Stranger

Doctor Stranger

Kevin Wong
Serangan Balik
2 tahun yang lalu
You Are My Soft Spot

You Are My Soft Spot

Ella
CEO
2 tahun yang lalu
Menantu Hebat

Menantu Hebat

Alwi Go
Menantu
2 tahun yang lalu
Cinta Adalah Tidak Menyerah

Cinta Adalah Tidak Menyerah

Clarissa
Kisah Cinta
3 tahun yang lalu
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Jenny
Percintaan
3 tahun yang lalu
Asisten Wanita Ndeso

Asisten Wanita Ndeso

Audy Marshanda
CEO
2 tahun yang lalu
My Charming Lady Boss

My Charming Lady Boss

Andika
Perkotaan
3 tahun yang lalu