Inventing A Millionaire - Bab 177 Menyelidiki

Mendengar ancamannya, Robert Huo malah menghela nafas. Dengan berkata begini, lawannya ini bisa dibilang sudah setengah mempercayai dirinya. Dia seharusnya tidak akan melakukan kekerasan macam menendang kursi lagi.

“Aku bukan orang bodoh, jadi aku tentu paham berbohong pada kalian hanya akan mendatangkan mudarat. Silahkan kalian melakukan penyelidikan.” Robert Huo menegaskan sikap.

“Bagus kalau begitu” Dave Tong mendengus dingin dan bertutur pada pria berbelati: “Plester mulutnya. Kalian berdua berjaga di sini untuk awasi dia.”

Kemudian, pria itu mengajak dua bawahannya yang lain untuk berangkat.

Awalnya berniat kembali menggugah dua bawahan yang berjaga, Robert Huo kini malah tidak bisa bicara karena mulutnya disegel dengan selotip.

Rasa sakit pada bekas tusukan di pergelangan kaki membuat pria itu terus terjaga dan tenang. Ia tidak berani bergerak secara semborno. Meski berhasil membuat pihak lawan menunda “eksekusi” pada dirinya, ini bukanlah tujuan akhir Robert Huo.

Ia menyuruh Dave Tong mencari Natalie Ning karena di dekat istrinya itu ada Jack Dong.

Siapapun yang mendatangi Natalie Ning pertama-tama akan masuk tatapan pengawal pribadi itu.

Hanya dengan sekali menatap, siapa pun akan tahu bahwa orang-orang ini bukan orang baik. Ia berharap Jack Dong bisa memiliki firasat buruk dan membuntuti mereka sampai kemari.

Tentu saja, ini skenario yang paling optimistis.

Andai gagal, Robert Huo wajib memikirkan cara lain.

Selain membayangkan skenario penyelamatannya, Robert Huo juga menyaring orang-orang yang ia buat tidak senang belakangan ini. Analisa terakhirnya berujung pada dua orang.

Orang pertama adalah Thiago Huo, sementara orang kedua adalah Denovan Ji.

Meski begitu, berdasarkan pemikiran Robert Huo, berhubung dirinya punya video Thiago Huo di tangan, pria itu seharusnya tidak berani macam-macam.

Lebih-lebih, andai orang-orang ini merupakan suruhannya, setelah berhasil menculik dirinya, hal pertama yang mereka seharusnya perintahkan adalah menghapus video itu.

Terkait Denovan Ji, dirinya dan Nova Ji telah menyinggung keluarga Ji terlalu keras. Bukan tidak mungkin pria itu berencana melampiaskan ketidaksenangan pada dirinya.

Memikirkan hal ini, Robert Huo berkeluh dirinya terlalu ceroboh.

Andai masih merupakan Shawn Li, ia akan berada jauh dari segala macam bahaya. Sungguh, hanya menggunakan nama yang berbeda saja akan membuat nasib seseorang berubah seratus delapan puluh derajat……

Ia hanya bisa bilang bahwa kehidupannya akhir-akhir ini terlalu stabil, jadi ia kehilangan kewaspadaan yang cukup.

Dengan kata lain, akibat segala sesuatunya berjalan terlalu mulus, pria itu jadi lupa bahwa dunia juga punya sisi gelap.

Kecerdikan bisa membuat hidup seseorang berkembang maju dengan sangat mulus. Tetapi, ingat, di tengah kemajuan itu, di antara orang-orang yang dilewati pasti ada saja yang bertemperamen kurang baik dan berkarakter buruk. Mereka akan mengerahkan segala cara untuk melampiaskan rasa cemburu!

Ya, orang bisa cemburu hanya karena kamu merebut pusat perhatian dari diri mereka!

Robert Huo sebelumnya hanya ingin Jack Dong untuk melindungi Natalie Ning. Ia tidak ingin kejadian terdahulu terulang lagi. Saking fokus dengan keselamatan istri dan putrinya, ia rela mengabaikan kemungkinan soal keselamatan dirinya sendiri yang terancam.

Bila sekarang dipikir lebih jauh, sikapnya itu terlalu memandang remeh.

Nampaknya punya Jack Dong seorang tidaklah cukup. Ia perlu mencari satu pengawal pribadi yang bisa mendampingi dirinya ke mana pun.

Sosok Seamus Tang melintas di benaknya pertama kali.

Putra dari keluarga praktisi seni bela diri ini berkemampuan tidak jauh beda dengan Jack Dong. Mereka sama-sama murid jempolan dalam bela diri masing-masing. Andai bisa merekrutnya, ia yakin dirinya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan urusan keamanan lagi.

Namun, Seamus Tang sekarang sudah berstatus supir sekaligus pengawal pribadi Yacob Zhao. TIdaklah mudah merebut seseorang dari professor tua itu.

Omong-omong, ini hal yang bisa dipertimbangkan di masa mendatang. Yang sekarang lebih mendesak adalah memikirkan bagaimana ia bisa keluar dari bahaya.

Ketika Robert Huo dengan hati-hati mengamati sekeliling untuk mencari solusi, Dave Tong dan dua bawahannya sudah sampai pusat kota.

Gedung kantor yang disebutkan Robert Huo sangat mudah ditemukan. Mempertimbangkan keamanan pribadinya, Dave Tong tidak memunculkan diri, melainkan menugaskan bawahannya untuk mencari tahu keberadaan istri “tawanan” mereka. Satu bawahannya lagi ditugaskan pergi ke The Fort Restaurant.

Berhubung Robert Huo dan Natalie Ning baru menyewa kantor ini kurang dari seminggu, mayoritas orang gedung tidak mengenal mereka. Tidak memperoleh jawaban yang memuaskan setelah menanyai beberapa orang, bawahan yang ditugaskan di gedung langsung saja naik dan mengetuk pintu.

Pintu kantor terbuka. Natalie Ning memandang pria tidak dikenal itu dan bertanya, “Mencari siapa?”

Pria itu melongok ke dalam kantor dan bertanya, “Ini New Hope Corp?”

“Betul. Kamu siapa?”

“Oh, ada seorang yang memperkenalkan perusahaan kalian padaku dan menyuruhku berkunjung kemari. Dengar-dengar bisnis kalian cukup bagus, satu bulan bisa dapat jutaan yuan ya?”

Tidak merasa ragu dengan tamunya, si wanita mengangguk sembari tersenyum: “Bisnis kami akhir-akhir ini memang sangat bagus. Kamu kemari untuk beli produk penurun berat badan? Kalau boleh tahu, siapa teman yang memperkenalkan kami padamu?”

“Oh, kalian jual produk penurun berat badan? Kalau begitu aku mungkin salah perusahaan. Maaf.”

Si pria berbalik badan dan pergi.

Natalie Ning memandangi punggung tamunya dengan bingung. Jika salah perusahaan, mengapa tamu ini tahu nama New Hope Corp?”

Ketika si wanita ingin bertanya lagi, si pria sudah jauh.

Wanita itu pun menggeleng dan menutup pintu. Ketika menengok ke arah jam dinding, ia tersadar bahwa waktu sudah berlalu lebih dari satu setengah jam sejak Robert Huo pergi. Mengapa dia belum kembali ya?

Berhubung jarak sekolah tidak jauh, dia seharusnya dari tadi sudah balik.

Tidak memikirkannya lebih jauh, Natalie Ning berasumsi Gaby uring-uringan di perjalanan karena menginginkan sesuatu. Berdasarkan sikap suaminya yang sangat memanjakan dia, apa pun yang dimintanya pasti bakal langsung dipenuhi, entah itu es krim, mainan, atau apa pun.

Memikirkan hubungan suami dan putrinya yang teramat baik, senyum di wajah wanita itu merekah semakin lebar.

Bisnis yang sukses dan keluarga yang bahagia adalah impian terbesarnya dalam hidup ini.

Sementara itu, pria barusan memasuki lift. Saat ia baru menekan tombol lantai satu, Jack Dong bergegas masuk.

Ia tidak berdiri di posisi yang bisa menghadap pria itu, melainkan bersandar tenang di sudut. Tanpa memedulikannya juga, pria bawahan Dave Tong menekan tombol tutup lift.

Di lantai pertama, Jack Dong sengaja diam dan membiarkan orang itu keluar dulu.

Kemudian, ia dengan perlahan mengikutinya dari belakang. Sekeluarnya dari gedung, pria itu masuk ke sebuah van lama yang terparkir di sisi jalan.

Di kursi penumpang depan van, ada seseorang yang daritadi menunggunya. Karena kaca tertutup, Jack Dong tidak bisa mengamatinya dengan jelas. Ia secara samar hanya bisa melihat bahwa orang itu berambut botak.

Begitu van melaju dengan kencang, si pria mengamati plat nomornya sejenak. Begitu mobil sudah lenyap dari pandangan mata, Jack Dong mengernyitkan alis.

Ketika dulu hidup di jalanan, ia sudah pernah menjumpai orang dengan karakter apa pun. Secara eksplisit, ia bisa melihat pria ini agak ganjil.

Tetapi, berhubung pihak pria itu tidak mengusiknya, ia tidak ingin mencari masalah duluan. TIdak peduli pihak orang itu ingin berbuat apa, baru bergerak pada saatnya nanti sama sekali tidak akan terlambat.

Hal yang terpenting adalah Jack Dong takut pihak mereka ingin sengaja memancingnya keluar duluan. Ah, terlalu memusingkan kemungkinan-kemungkinan ini tidak begitu berfaedah. Tidak peduli apa skenario mereka, pada akhirnya ia pasti akan bisa memahaminya dan menyusun perlawanan bila diperlukan.

Untuk menjamin keamanan Natalie Ning, Jack Dong memutuskan untuk tidak menyusul. Sebagai gantinya, ia mencatat nomor plat van itu. Pria itu setelahnya kembali ke kantor.

Satu jam kemudian, Robert Huo masih belum kembali.

Natalie Ning, yang tengah duduk di depan komputer, menjadi sedikit khawatir. Wanita itu bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pembeli dengan tenang. Ketika ia hendak menelepon si suami, ponselnya berdering.

Ia membaca identitas si penelepon. Itu nomor ponsel guru sekolah.

Setelah panggilan tersambung, suara bingung dari guru terdengar dari seberang: “Ibunya Gaby, mengapa kamu belum datang untuk menjemput putrimu?”

Natalie Ning terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia membalas: “Suamiku yang pergi jemput. Apakah dia belum datang?”

“Belum. Semua anak sekarang sudah dijemput, hanya putrimu saja yang belum.” Guru menanggapi balik.

Suara tidak puas Gaby terdengar dari jauh: “Ibu, aku sudah sangat lapar. Cepat jemput!”

“Baik, baik, aku segera ke sana. Sungguh maaf!”

Natalie Ning mengambil jaket, menutup telepon, dan berusaha menghubungi Robert Huo.

Ia hanya mendengar ucapan “nomor yang Anda hubungi tidak terpasang atau sedang tidak aktif”. Wanita itu seketika jadi gelisah.

Suaminya sudah pergi lebih dari dua jam, namun tidak datang ke sekolah. Apakah dia mengalami sesuatu dalam perjalanan?

Natalie Ning langsung berpikir bahwa dia terlibat kecelakaan mobil. Berhubung dia jalan kaki, bisa juga dia terjatuh ketika tidak begitu berkonsentrasi pada jalanan. Yang jadi misteri, mengapa ponselnya dimatikan?

Setengah jam kemudian, begitu si wanita tiba di sekolah, Gaby langsung menunjukkan ekspresi kesal padanya.

Natalie Ning menghampiri dia dan meraih tangannya. Dengan raut tidak enak hati, ia bertutur pada guru Gaby: “Aku sungguh minta maaf. Suamiku bilang dia mau jemput Gaby, mungkin dia mengalami sesuatu di perjalanan jadi tidak tiba-tiba juga. Maaf telah membuatmu menunggu begitu lama…...”

“Aku menunggu tidak masalah kok. Aku hanya khawatir anakmu kelaparan saja. Cepatlah pulang, hari sudah cukup sore.” Guru menjawab ramah.

Gaby adalah siswi yang aktif, dewasa, dan memiliki pencapaian akademi sangat baik. Murid macam ini adalah murid favorit para guru. Jika ia bukan murid favorit, guru bisa-bisa malas menemaninya menunggu jemputan……

“Maaf ya. Lain kali tidak akan begini lagi.” Natalie Ning meminta maaf lagi dan mengamati si guru bergegas pergi.

Gaby meraih tangan ibunya dan bertanya, “Ayah di mana? Bukankah kamu bilang dia mau datang menjemputku?”

Novel Terkait

Love Is A War Zone

Love Is A War Zone

Qing Qing
Balas Dendam
3 tahun yang lalu
Wonderful Son-in-Law

Wonderful Son-in-Law

Edrick
Menantu
2 tahun yang lalu
The Campus Life of a Wealthy Son

The Campus Life of a Wealthy Son

Winston
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Istri ke-7

Istri ke-7

Sweety Girl
Percintaan
3 tahun yang lalu
Craving For Your Love

Craving For Your Love

Elsa
Aristocratic
2 tahun yang lalu
Mata Superman

Mata Superman

Brick
Dokter
2 tahun yang lalu
Love From Arrogant CEO

Love From Arrogant CEO

Melisa Stephanie
Dimanja
2 tahun yang lalu
Hidden Son-in-Law

Hidden Son-in-Law

Andy Lee
Menjadi Kaya
2 tahun yang lalu