The True Identity of My Hubby - Bab 130 Kecelakaan (3)
Tiga hari kemudian, Clarissa Yuan akhirnya siuman, tetapi dia masih belum boleh keluar dari ruang perawatan intensif.
Selain Keluarga Yi yang akan datang sesekali, sebagian besar Kak Sarah yang menemaninya di rumah sakit. Bahkan Julius Yi sendiri saja jarang menemaninya.
Mengenai pekerjaan Clarissa Yuan, mau tidak mau meminta tolong kepada Kelvin Qin untuk menyelesaikannya.
Hari ini setelah selesai rapat, Kelvin Qin mengumpulkan keberanian dan bertanya kepada Justin Yi, "Direktur Yi, apakah saya boleh menanyakan sesuatu......... apakah keadaan Kakak Yuan sudah membaik?"
Justin Yi mengerutkan kening, dan meliriknya sekilas dengan datar berkata, "sudah membaik."
"Oh, baguslah kalau begitu." Kelvin Qin mengangguk-anggukan kepalanya, dan tidak bertanya lebih jauh.
Justin Yi menutup berkas, beranjak dan jalan menuju ke ruangan Direktur Utama.
Carter Yi melihat ekspresi anaknya yang muram, dengan bingung bertanya, "kenapa?"
Justin Yi memberikan data statistik aset kepada Carter Yi dan berkata, "ayah, ada suatu hal yang harus aku beritahu kepada kamu, dana penjualan Floral Garden Kota F belum ditarik sama sekali. Penanggung jawabnya adalah Juwono, aku seharusnya tidak bertanya. Tetapi ketika dana tidak masuk, aku tidak dapat membuka proyek Waterfront Park. Juwono terus mencari alasan untuk menghalanginya, membuat aku tidak dapat menyelidiki penjualan Floral Garden.
Carter Yi membalik-balikan berkas yang dia bawakan dan berkata, "mengenaik masalah in aku sudah pernah bertanya kepada Juwono, dia mengatakan dikarenakan ada beberapa kontrak penjualan yang bermasalah, sehingga menghambat penarikan dana."
"Tetapi, yang aku tahu bahwa dia meminjamkan semua uangnya kepada perusahaan investasi."
"Apa yang kamu katakan?" Carter Yi terkejut.
"Serta orang yang memiliki hubungan di dalam ini adalah Noah Tsu."
"Noah Tsu? Mengapa dia berbuat seperti itu?" Carter Yi murka dan menggebrak meja, kembali bertanya, "bocah itu memberi pinjaman berapa banyak kepada Perusahaan Wind Investment?"
"Jumlah penjualan dari Floral Garden untuk saat ini kurang lebih 180 juta." Justin Yi menatap wajah Carter Yi yang sedang murka, dia ragu-ragu sejenak dan berkata, "ayah, ada suatu masalah aku tidak tahu harus....."
"Sudah sampai di sini, masih ingin menutupinya!"
"Mengenai masalah aku dan Gwendolyn Tsu, kita.......sudah putus."
"Kamu dan Gwendolyn sudah putus?" Carter Yi kembali terkaget dan berkata, "kenapa?"
"Masalah ini tidak bisa dijelaskan dengan beberapa kata saja. Ayah, yang aku ingin memperingatkan kamu adalah Noah Tsu melakukan semua ini dikarenakan ingin menekan Perusahaan Besar Yi, dan terobosan mereka adalah Juwono. Jadi..... demi keamanan, untuk beberapa waktu ini Anda harus mengawasi Juwono dengan baik, aku khawatir dia akan dibeli oleh Noah Tsu."
"Justin Yi! Dia itu adikmu, apakah kamu tidak kelewatan? Carter Yi menatap Justin Yi. Semakin bertambah ekspresi marah pada mukanya dan berkata, "Juwono memberi pinjaman kepada Perusahaan Wind Investment untuk dengan uang menghasilkan uang juga. Meskipun cara yang digunakannya salah, akan tetapi tidak mungkin tidak bisa membedakan baik dan buruk seperti yang kamu katakan. Dia itu putra aku Carter Yi, ada alasan apa dia membantu Perusahaan Besar Tsu? Kamu terlihat dengan jelas memiliki prasangka kepada dia!"
"Ayah, bukan begitu maksudku." Justin Yi tidak tahu harus berbuat apa.
"Sudahlah, mengenai Juwono aku akan memarahinya. Mengenai Noah Tsu dia hanya marah sesaat, kamu cukup membujuk Gwendolyn Tsu saja pasti akan baik-baik saja."
"Ayah..."
"Tidak peduli menggunakan cara apapun, Gwendolyn Tsu harus menjadi menantu dari Keluarga Yi, tidak ada yang perlu didiskusikan." Carter Yi memotong pembicaraan dia.
Justin Yi menggertakan gigi, pada akhirnya dia tidak bisa menahannya dan berkata, "pernikahan tidak bisa dipaksakan. Lagipula Gwendolyn Tsu yang tidak bersedia untuk menikah. Ayah, selama kita berhati-hati, kita tidak perlu takut kepada Noah Tsu bukan?"
"Aku tidak takut kepadanya, hanya tidak berharap menambah musuh dalam dunia bisnis. Apalagi musuh yang sekuat itu. Terpenting menikah dengan Keluarga Tsu, menjadi sanak saudara, seumur hidup kita tidak perlu khawatir akan timbulnya masalah perusahaan bisa bangkrut, apa kamu mengerti?" Carter Yi dengan kesal melempar berkas yang ada di tangannya dan melanjutkan, "kamu pasti lebih paham mengenai masalah ini dibanding aku. Aku tidak perlu mengulangnya kembali. Wanita hanya perlu dikejar dan dibujuk, dalam bagian ini kamu memang tidak sebaik Juwono."
Ekspresi Justin Yi sangat muram, dia menundukkan kepalanya sekali ke arah ayahnya, langsung membalikkan badannya dan keluar ruangan.
Begitu Justin Yi keluar, Carter Yi segera menelepon ke kantor Juwono Yi, menggunakan suara yang sangat kencang berkata, "segera menyuruh Juwono Yi untuk ke ruangan saya!"
Yang menjawab panggilannya merupakan sekretaris, dia terkaget-kaget, dia terdiam sebentar lalu dengan tergagap menjawab, "Ke... ketua Direktur, Direktur Yi tidak datang hari ini....."
"Tidak datang lagi?"
"Iya...iya benar."
Carter Yi menggertakan giginya dan berkata, "kamu bantu saya untuk menghubungi dia, dimana pun dia berada, dia harus muncul dihadapan saya dalam waktu 10 menit."
"Baik..." Sang sekretaris memutuskan panggilan dengan gemetar.
10 menit tentu saja tidak mungkin. 20 menit kemudian, Juwono Yi masuk ke dalam ruangan ayahnya dengan ekspresi bersalah.
Sebenarnya pada saat dia mendapatkan panggilan dari sekretaris, dia sudah dapat menebak akan membahas masalah apa. Tetapi melihat wajah Carter Yi yang sudah membiru karena murka, tentu dia merasa sangat takut di dalam hatinya.
"Ayah...." Dia memanggil dengan suara pelan.
Carter Yi mengambil berkas yang ada di meja, melemparnya dan berteriak, "anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu menggunakan uang perusahaan dan menaruhnya di riba? Dalam jumlah yang besar pula!"
Juwono Yi memutar lehernya, dan bertanya tanpa rasa takut, "kakak kedua bukan yang melapor kepada Anda?"
"Apakah ini poin pentingnya?"
"Ayah." Juwono Yi menggunakan ekspresi membujuk dan berkata, "aku lakukan ini agar perusahaan mendapat lebih banyak keuntungan, dua sen bunga, bayangkan saja dalam satu bulan hanya bunganya saja kita sudah mendapatkan keuntungan yang banyak."
Mendengar penjelasannya, Carter Yi semakin marah hingga ingin memuntahkan darah, dengan wajah datar berkata, "Juwono Yi, aku memberimu batas waktu sebelum proyek Waterfront Park dimulai, kembalikan semua dana ke dalam rekening perusahaan."
"Ayah, aku sudah tanda tangan kontrak selama 1 tahun dengan Perusahaan Wind Investment."
"Aku tidak peduli kamu menggunakan cara apapun, intinya kamu harus mengembalikan semua uang dalam jangka waktu tercepat, keluar!
"Ayah....." Juwono Yi masih memohon.
"Aku minta kamu keluar!"
"Ayah." Juwono Yi berteriak dan berkata, "meskipun perusahaan membutuhkan uang, tetapi aku sudah memberinya kepada mereka, bagaimana aku bisa memintanya kembali. Kamu bukannya tidak pernah meminjam uang, tidak mungkin tidak tahu kegunaan kontrak bukan?"
"Kamu...!" Carter Yi beranjak berdiri, dadanya sangat nyeri. Salah satu tangannya memegang dada, tangan lainnya menahan di atas meja, menatapnya dan berkata, "kamu berani melawan aku........?"
"Ayah, ayah........anda kenapa? Aku tidak sengaja untuk melawan Anda." Juwono Yi dengan cepat melangkah maju, memapah tubuh ayahnya dan menenangkannya berkata, "ayah.......Anda jangan marah, aku salah, besok aku akan meminta kembali uangnya."
Juwono Yi memapah ayahnya ke atas bangku, sambil mencari obat pada laci, sambil menelepon asistennya untuk bantu mencari.
5 menit kemudian, Carter Yi yang jatuh pingsan dinaikkan ke dalam ambulans.
Di luar ruangan pertolongan pertama, Justin Yi dan Juwono Yi berdiri berjauhan.
Gloria dengan cemas bertanya kepada dua bersaudara tersebut, "sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ayah kalian tiba-tiba jatuh pingsan?"
Justin Yi melirik Juwono Yi sekilas dan berkata, "tanyalah kepada putramu yang baik."
"Ada apa?" Gloria bertanya kepada Juwono Yi, dengan cemas berkata, "cepat katakanlah, jika nenekmu mengetahui kamu yang membuat ayahmu seperti ini, kamu tidak akan dimaafkan."
Juwono Yi kembali melototi Justin Yi dan menyalahkannya berkata, "jika kamu tidak melapor kepada ayah, ayah tidak akan marah dan mengalami kejadian seperti ini bukan?"
"Dana hampir mendekati 200 juta, kamu pikir bisa menyembunyikannya dari dia berapa lama?" Justin Yi melototi dia kembali.
"Itu urusan aku, tidak ada hubungannya dengan kamu!"
"Masalah perusahaan itu masalah kita semua, bagaimana bisa tidak ada hubungan dengan aku?"
Gloria terbatuk sekali, dengan nada dingin bertanya, "Tuan Muda Kedua, kamu bahkan belum menikah dengan Gwendolyn Tsu, tetapi kamu sudah bersikap seolah-seolah kamu yang mengatur semuanya."
Nada Justin Yi menjadi dingin dan berkata, "ini tidak ada hubungannya dengan menikahi Gwendolyn Tsu atau tidak."
Gloria sangat sadar dalam hatinya, apabila Justin Yi menikah dengan Gwendolyn Tsu, maka posisi direktur utama di masa yang akan datang sudah pasti milik dia. Pada saat itu, sepasang suami-istri bekerja sama. Tidak perlu mengungkit Julius Yi, pada akhirnya Juwono Yi yang paling disayang pun harus bersender di pinggir.
Jadi dia tidak bisa berdiam diri, dia harus mencari jalan terbaik untuk putranya.
"Semoga Tuan baik-baik saja, jika tidak, tidak tahu harus memberi penjelasan apa kepada nenek." Gloria berucap, kembali melanjutkan, "tidak tahu kenapa akhir-akhir ini begitu sial, keluarga kita terus menerus timbulnya masalah."
Untungnya, dengan cepat Carter Yi didorong keluar oleh dokter dari ruangan pertolongan pertama. Gloria buru-buru menghampiri dokter dan menanyakan kabarnya.
Dokter melirik pasien, dengan ekspresi berat berkata, "pasien sudah berumur, jantungnya semakin tidak baik. Usahakan jangan memancing emosinya dan membuatnya kelelahan."
"Baik, kami akan memperhatikannya." Gloria menganggukan kepalanya.
"Pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari, kalian atur terlebih dahulu untuk rawat inap." Dokter langsung pergi setelah berbicara.
Melihat sang ayah baik-baik saja, Justin Yi dan Juwono Yi akhirnya merasa tenang.
Julius Yi datang ke rumah sakit, Kak Sarah langsung membuka suara berkata, "tadi Nyonya Muda menanyakan apakah anaknya selamat atau tidak, aku tidak berani memberitahunya bahwa anaknya sudah tidak ada. Tetapi terus menyembunyikannya juga bukan suatu ide yang baik, tetapi tidak tahu harus bagaimana mengatakannya."
Julius Yi terdiam sejenak, mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata, "tunggu kondisi dia membaik, aku akan memberitahunya secara langsung."
"Iya." Kak Sarah menganggukan kepalanya.
"Siapa yang ada di dalam sekarang?" Julius Yi menoleh ke arah ruangan pasien, dia mendegar suara tangisan dari dalam.
"Ibu dari Nyonya Muda. Nyonya Yuan sudah datang." Kak Sarah tersenyum pasrah dan berkata, "dia menangis histeris mendegar kabar Nyonya Muda kecelakaan."
"Temani aku masuk ke dalam." Julius Yi berkata.
Kak Sarah mengiyakan, memapahnya jalan ke depan pintu ruangan dan mendorong pintunya.
Teresa Wang sedang menangis dan berbaring di atas tubuh anaknya serta berkata, "Clarissa, apakah kamu mendengar suara ibu? Clarissa kamu tidak boleh mati! Ibu sudah sadar akan kesalahan ibu, tidak seharusnya ibu terus merepotkan kamu, tidak seharusnya memaksa kamu menikah ke dalam Keluarga Yi, tidak seharusnya mencuri cincin milikmu. Ibu sudah sadar akan kesalahan ibu........kamu jangan tinggalkan ibu begitu saja....!"
Novel Terkait
Cinta Tapi Diam-Diam
RossieMy Superhero
JessiBehind The Lie
Fiona LeeYour Ignorance
YayaWanita Yang Terbaik
Tudi SaktiDemanding Husband
MarshallUangku Ya Milikku
Raditya DikaThe True Identity of My Hubby×
- Bab 1 Déjà vu
- Bab 2 Bawa Dia
- Bab 3 Apa Bisa Tidak Dilaporkan Ke Polisi
- Bab 4 Menikahi Pria Buta
- Bab 5 Ini Maharnya
- Bab 6 Pindah ke daerah orang kaya
- Bab 7 Bertemu kepala keluarga
- Bab 8 Merk terkenal palsu
- Bab 9 Keluarga dia
- Bab 10 Menikah demi uang
- Bab 11 Pernikahan
- Bab 12 Mabuk
- Bab 13 Malam Pengantin Baru
- Bab 14 Membeli Mobil Untuknya
- Bab 15 Memanggilnya Nyonya Muda
- Bab 16 Penolong Dari Masalah
- Bab 17 Pertama Kali Bertemu
- Bab 18 Makan Bersama
- Bab 19 Mengacaukan Dunia
- Bab 20 Masa Lalunya
- Bab 21 Beli Satu Gratis Satu
- Bab 22 Bertemu Secara Kebetulan
- Bab 23 Tombol Milik Siapa?
- Bab 24 Ternyata Bukanlah Mimpi
- Bab 25 Sangat Mirip Dengan Seseorang
- Bab 26 Sakit Lambung(1)
- Bab 27 Sakit Lambung (2)
- Bab 28 Mabuk (1)
- Bab 29 Mabuk(2)
- Bab 30 Mabuk (3)
- Bab 31 Hanya Cantik Saja Tidak Berguna
- Bab 32 Dia Hanya Buta
- Bab 33 Tidak Pernah Masuk ke Kamarnya
- Bab 34 Suami Istri Tidak Perlu Terlalu Sungkan
- Bab 35 Cincin Pertunangan(1)
- Bab 36 Cincin Pertunangan (2)
- Bab 37 Membawa Teman Ke Rumah
- Bab 38 Tiba-tiba Menampakkan Diri
- Bab 39 Banyak Bicara Maka Banyak Salah
- Bab 40 Membantu Dia Melakukan Operasi Wajah Secara Gratis
- Bab 41 Terjadi Kecelakan Mobil (1)
- Bab 42 Terjadi Kecelakaan Mobil (2)
- Bab 43 Masa Lalu Yang Tidak Diketahui
- Bab 44 Menjadi Marah
- Bab 45 Dimana Anaknya
- Bab 46 Mimpi Buruk Lagi (1)
- Bab 147 Mimpi Buruk Lagi (2)
- Bab 48 Memilih Mundur
- Bab 49 Menemaninya Sampai Pertunjukan Selesai
- Bab 50 Apakah Sudah Mengakui Kesalahannya?
- Bab 51 Tidak Berani Bertemu Orang
- Bab 52 Menolak Makan
- Bab 53 Jangan Keras Kepala
- Bab 54 Pria Asing
- Bab 55 Ingin Pelukan
- Bab 56 Bersembunyi Sendiri
- Bab 57 Tertidur di Hotel
- Bab 58 Keamanannya
- Bab 59 Rumor
- Bab 60 Berterima Kasih Atas Bantuannya
- Bab 61 Dikejar orang yang ingin membunuhnya?
- Bab 62 Tiba-tiba berkunjung
- Bab 63 Meminta bantuannya
- Bab 64 Mendoakannya dengan berbesar hati
- Bab 65 Menolak berulang kali
- Bab 66 Pusing Mual
- Bab 67 Berlelucon
- Bab 68 Strategi Yuliana 1
- Bab 69 Strategi Yuliana 2
- Bab 70 Mulai Sekarang Saling Tidak Melanggar
- Bab 71 Rencana jahat berhasil
- Bab 72 Rencana jahat berhasil 2
- Bab 73 Keluarga Yi sudah memiliki cucu pertama
- Bab 74 Memaksa menikah
- Bab 75 Fitnah
- Bab 76 Tidak takut diolok-olok
- Bab 77 Dia atau bukan
- Bab 78 Kekecewaan yang berasal dari pengharapan (1)
- Bab 78 Kekecewaan yang berasal dari pengharapan (2)
- Bab 78 Kekecewaan yang berasal dari pengharapan (3)
- Bab 79 Ada Kecurigaan (1)
- Bab 79 Ada Kecurigaan (2)
- Bab 79 Ada Kecurigaan (3)
- Bab 80 Akan Segera Menjadi Ayah (1)
- Bab 80 Akan Segera Menjadi Ayah (2)
- Bab 80 Akan Segera Menjadi Ayah (3)
- Bab 81 Tuan Muda Pertama Tidak Punya Masa Depan? (1)
- Bab 81 Tuan Muda Pertama Tidak Punya Masa Depan? (2)
- Bab 82 Bukan Sengaja Menguping (1)
- Bab 82 Bukan sengaja ingin mendengar (2)
- Bab 83 Sakit (1)
- Bab 83 Sakit (2)
- Bab 83 Sakit (3)
- Bab 84 Penghinaan Di Depan Publik (1)
- Bab 84 Penghinaan Di Depan Publik (2)
- Bab 85: Menjadi Tidak Sopan (1)
- Bab 85 Menjadi Tidak Sopan (2)
- Bab 86 Kecurigaan Gwendolyn (1)
- Bab 86 Kecurigaan Gwendolyn (2)
- Bab 86 Kecurigaan Gwendolyn (3)
- Bab 87 Sudah Hamil (1)
- Bab 87 Sudah Hamil (2)
- Bab 88 Siapa Ayah dari anak ini (1)
- Bab 88 Siapa Ayah dari anak ini (2)
- Bab 89 Anak ini tidak boleh dipertahankan (1)
- Bab 89 Anak ini tidak boleh dipertahankan (2)
- Bab 90 Janji Dulu (1)
- Bab 90 Janji Dulu (2)
- Bab 90 Janji Dulu (3)
- Bab 91 Bertengkar (1)
- Bab 91 Bertengkar (2)
- Bab 92: Membuktikan Satu Hal (1)
- Bab 92 Membuktikan Satu Hal (2)
- Bab 93 Sebuah Masalah (1)
- Bab 93 Sebuah Masalah (2)
- Bab 94 Tuan Muda Menghilang (1)
- Bab 94 Tuan Muda Menghilang (2)
- Bab 94 Tuan Muda Menghilang (3)
- Bab 95 Tuan Muda Menghilang (4)
- Bab 95 Tuan Muda Menghilang (5)
- Bab 96 Mencari tahu (1)
- Bab 96 Mencari tahu (2)
- Bab 97 Mengajaknya menonton konser musik (1)
- Bab 97 Mengajaknya menonton konser musik (2)
- Bab 98 Kebetulan bertemu (1)
- Bab 98 Kebetulan bertemu (2)
- Bab 99 Tidak akan menyerah (1)
- Bab 99 Tidak akan menyerah (2)
- Bab 100 Tuan Muda menggila (1)
- Bab 100 Tuan Muda menggila (2)
- Bab 101 Menggila karena alkohol (1)
- Bab 101 Menggila karena alkohol 1 (2)
- Bab 101 Menggila karena alkohol 2 (1)
- Bab 102 Menggila karena alkohol 2 (2)
- Bab 103 Menjadi istri orang (1)
- Bab 103 Menjadi istri orang (2)
- Bab 104 Emosinya (1)
- Bab 104 Emosinya (2)
- Bab 105 Terjebak Api (1)
- Bab 105 Terjebak Api (2)
- Bab 106 Lebih Mengejutkan Dibanding Melukai (1)
- Bab 106 Lebih Mengejutkan Dibanding Melukai (2)
- Bab 107 Intrik Melawan Satu Sama Lain
- Bab 108 Di Depan Umum (1)
- Bab 108 Di Depan Umum (2)
- Bab 109 Tidak Akan Meninggalkanmu (1)
- Bab 109 Tidak Akan Meninggalkanmu (2)
- Bab 110 Kesalahpahaman (1)
- Bab 110 Kesalahpahaman (2)
- Bab 111 Bukankah kamu hilang ingatan? (1)
- Bab 111 Bukankah kamu hilang ingatan? (2)
- Bab 112 Sayang sekali kamu tidak bisa melihatnya (1)
- Bab 112 Sayang sekali kamu tidak bisa melihatnya (2)
- Bab 113 Kenapa tiba-tiba jadi tidak senang? (1)
- Bab 113 Kenapa tiba-tiba jadi tidak senang? (2)
- Bab 114 Saling Balas Dendam (1)
- Bab 114 Saling Balas Dendam (2)
- Bab 115 Melindungi Dengan Tubuh
- Bab 116 Terluka Dan Pingsan
- Bab 117 Bertengkar (1)
- Bab 117 Bertengkar (2)
- Bab 118 Terkena Flu
- Bab 119 Hal di luar perkiraan
- Bab 120 Tidak ingin terus seperti ini (1)
- Bab 120 Tidak ingin terus seperti ini (2)
- Bab 121 Jangan Takut, Ada Aku (1)
- Bab 121 Jangan Takut, Ada Aku (2)
- Bab 122 Cincin Pernikahan (1)
- Bab 122 Cincin Pernikahan (2)
- Bab 123 Terlambat Pulang(1)
- Bab 123 Terlambat Pulang (2)
- Bab 124 Memintanya Bantuannya (1)
- Bab 124 Memintanya Bantuannya (2)
- Bab 125 Cincin Itu Hilang
- Bab 126 Pengakuan Dia
- Bab 127 Pertama Kalinya di Hina Pria (1)
- Bab 128 Pertama Kalinya di Hina Pria (2)
- Bab 128 Kecelakaan
- Bab 129 Kecelakaan (Bagian 2)
- Bab 130 Kecelakaan (3)
- Bab 131 Kita Berpisah Saja
- Bab 132 Harus Menikah Dengan Dia (1)
- Bab 132 Harus Menikah Dengan Dia (2)
- Bab 133 Saya Memberikanmu Dua Pilihan
- Bab 134 Ada Yang Mencurigakan (1)
- Bab 134 Ada Yang Mencurigakan (2)
- Bab 135 Dia Merasa Bersalah
- Bab 136 Ditolak Mentah-mentah (1)
- Bab 136 Ditolak Mentah-mentah (2)
- Bab 137 Regenerasi
- Bab 138 Hari Sulit, Aku Masih Bisa Melewatinya
- Bab 139 Pertengkaran Panas
- Bab 140 Penebusan Kesalahan
- Bab 141 Kesepian Sorang Diri
- Bab 142 Balas Dendam Kebencian
- Bab 143 Perempuan Dan Laki-Laki Sama Saja
- Bab 144 Mengadopsi Anak
- Bab 145 Meninggalkannya
- Bab 146 Bawa Dia Pergi
- Bab 147 Suami Istri Sehati
- Bab 148 Apa Kebenarannya
- Bab 149 Petir di Siang Bolong
- Bab 150 Pergi dari Rumah
- Bab 151 Terlihat Asing
- Bab 152 Balik Melawan
- Bab 153 Dengan Enggan
- Bab 154 Paman yang Asing (1)
- Bab 154 Paman yang Asing (2)
- Bab 155 Permintaan Maaf (1)
- Bab 155 Permintaan Maaf (2)
- Bab 156 Permintaan Maaf (Bagian 3)
- Bab 157 Memberanikan Diri Sekali
- Bab 158 Perjanjian ( 1)
- Bab 158 Perjanjian ( 2)
- Bab 159 Menyembunyikan Sangat Dalam ( 1)
- Bab 159 Menyembunyikan Sangat Dalam (2)
- Bab 160 Rencana Gagal
- Bab 161 Berkhianat
- Bab 162 Tentang Surat Wasiat (1)
- Bab 162 Tentang Surat Wasiat (2)
- Bab 163 Kenapa Selalu Dia yang Berkorban
- Bab 164 Selalu Menemanimu (1)
- Bab 164 Selalu Menemanimu (2)
- Bab 165 Hidup dalam Ketakutan
- Bab 166 Ancaman yang Jelas (1)
- Bab 166 Ancaman yang Jelas (2)
- Bab 167 Aku Juga Bisa Bermain Trik
- Bab 168 Konflik
- Bab 169 Memanfaatkan Kekacauan Ini
- Bab 170 Kejadian Tidak Terduga
- Bab 171 Menghidupinya seumur hidup
- Bab 172 Marah
- Bab 173 Membantu
- Bab 174 Kebohongannya
- Bab 175 Levin
- Bab 176 Bayang-bayang yang Familiar
- Bab 177 Diam-diam Membawa Mereka Pulang
- Bab 178 Dirinya yang Dulu
- Bab 179 Belajar Berbohong
- Bab 180 Siapa yang Mengatakan Ingin Cerai
- Bab 181 Semuanya demi dia
- Bab 182 Pembagian warisan
- Bab 183 Ada kamu saja sudah cukup
- Bab 184 Kesempatan terakhir
- Bab 185 Yuliana melahirkan! (1)
- Bab 185 Yuliana melahirkan (2)
- Bab 186 Memohon Untuk Dimaafkan
- Bab 187 Justin Yi
- Bab 188 Perubahan Baik
- Bab 189 Kebenaran
- Bab 190 Senang Terlalu Awal
- Bab 191 Penculikan
- Bab 192 Penculikan 2
- Bab 193 Terjatuh Dari Lantai Tiga
- Bab 194 Menjadi Orang Buta Sesungguhnya?
- Bab 195 Keberanian Untuk Tetap Hidup
- Bab 196 Balas Dendam
- Bab 197 Ini adalah pembalasan karma
- Bab 198 Kesadaran yang kacau
- Bab 199 Rahasia pada dirinya
- Bab 200 Rahasia pada dirinya 2
- BAB 201 Misteri Charlie Shen Hilang
- Bab 202 Kasih Kalian Melihat Sebuah Dokumen
- Bab 203 Memberi Kalian Melihat Sebuah Dokumen 2
- Bab 204 Memberi Kalian Melihat Sebuah Dokumen 3
- Bab 205 Memaksa Dia Berlutut
- Bab 206 Negosiasi
- Bab 207 Dicurigai
- Episode 208 Kekanak-kanakan
- Bab 209 Mengingat Masa Lalu
- Bab 210 Janji Sebelum Berpisah
- Bab 211 Masuk Kembali ke Rumah Sakit.
- Bab 212 Pergi
- Bab 213 Anakku Ada dimana?
- Bab 214 Harapan Baru
- Bab 215 Persetujuan Perceraian
- Bab 216 Keteguhan Hatinya
- Bab 217 Berakting Seperti di Film Hollywood
- Bab 218 Dibawa Pergi Oleh Polisi
- Bab 219 Frans Tsu Kembali
- Bab 220 Undangan Pernikahan
- Bab 221 Pertemuan Tidak Disengaja Yang Mencanggungkan
- Bab 222 Acara Pernikahan
- Bab 223 Malam pengantin
- Bab 224 Bertemu lagi dan menjadi orang asing
- Bab 225 Dipecat
- Bab 226 Pemikiran yang tidak seharusnya ada
- Bab 227 Terjadi pertengkaran
- Bab 228 Dihina
- Bab 229 Anak-anak hilang
- Bab 230 Anak-anak hilang 2
- Bab 231 Meminta Bantuan Padanya
- Bab 232 Foto Keluarga
- Bab 233 Kanker
- Bab 234 Menyadari Sesuatu
- Bab 235 Kecuali Meminta Maaf Padaku
- Bab 236 Hanya bisa membantu sampai disini
- Bab 237 Mabuk (1)
- Bab 237 Mabuk (2)
- Bab 238 Kegilaan saat mabuk
- Bab 239 Bertemu untuk yang terakhir kalinya (1)
- Bab 239 Betemu untuk yang terakhir kalinya (2)
- Bab 240 Tes DNA
- Bab 241Menggoda Suamiku
- Bab 242 Menghindar (1)
- Bab 242 Menghindar (2)
- Bab 243 Bertemu Setiap Hari
- Bab 244 Siapa Ayah dari Anak-anak (1)
- Bab 244 Siapa Ayah dari Anak-anak (2)
- Bab 245 Biarkan Aku Hidup
- Bab 246 Biarkan Aku Hidup (2)
- Bab 247 Pergi menjauh
- Bab 248 Fakta
- Bab 249 Natasia Hilang (1)
- Bab 249 Natasia Hilang (2)
- Bab 250 Bukan Sengaja Membohongi
- Bab 251 Hukuman dari Dia
- Bab 252 Kontrak (1)
- Bab 252 Kontrak (2)
- Bab 253 Surat perceraian
- Bab 254 Suami istri yang tidak saling mencintai
- Bab 255 Liam
- Bab 256 Liam 2
- Bab 257 Berbuat jahat lagi
- Bab 258 Panik
- Bab 259 Orang yang Berbahaya (1)
- Bab 260 Orang yang Berbahaya (2)
- Bab 261 Menolong Dia atau Tidak
- Bab 262 Tidak Memiliki Tenaga Untuk Berjuang
- Bab 263 Apakah Aku Salah?
- Bab 264 Tidak Berubah (1)
- Bab 264 Tidak Berubah ( 2)
- Bab 265 Kemarahan yang Menyerang Hati
- Bab 266 Berkumpul
- Bab 267 Keadaan yang Baik
- Bab 268 Akibat Membuat Dia Marah
- Bab 269 Bencana
- Bab 270 Mau Membantunya Tidak
- Bab 271 Jangan Lompat Gedung
- Bab 272 Menandatangani Surat Perceraian
- Bab 273 Apa Kamu Masih Akan Menikahiku?
- Bab 274 Masih Mencintainya
- Bab 275 Reaksi Evelin
- Bab 276 Tidak Ingin Ribut Lagi
- Bab 277 Permintaan Maafnya
- Bab 278 Undangan Pernikahan
- Bab 279 Tidak menginginkan anak
- Bab 280 Akhirnya bersama
- Bab 281Pemikiran yang saling bertentangan
- Bab 282 Pernikahan
- Bab 283 Perasaan itu terbalaskan
- Bab 284 Kebahagiaan berlangsung selamanya (akhir)
- Bab 284 Kebahagiaan berlangsung selamanya (akhir)