Milyaran Bintang Mengatakan Cinta Padamu - Bab 219 Lamaran Yang Romantis
"Memangnya ada?" aku menundukkan kepala dengan tidak enak hati. Aku hanya menyampaikan maksud ibu dengan agak tersembunyi. Yaitu ibu tidak keberatan kalau Jonathan mengakui Frederik Ouyang.
Jonathan menarik dasinya, lalu melempar ke samping, "Kedepannya kurangi ikut campur terhadap masalah ini." selesai berkata, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku mendengar bunyi air di dalam kamar mandi. Dikatakan begitu oleh Jonathan, hatiku sedikit sedih.
Aku menundukkan kepala dan berpikir. Tiba-tiba ponsel berbunyi, membuatku tersadar. Aku melihat ponsel. Ternyata Refaldy Ying yang menelepon ke sini. Kelihatannya Yuna Mai telah memberitahu Refaldy Ying kalau dia hari ini melihatku di samping sungai.
Aku menekan tombol dengar, lalu menjawab "halo" dengan lelah. Suara Refaldy Ying yang penuh kekhasan terdengar dari ujung sambungan.
"Hari ini di samping sungai, kenapa tidak datang melihatku?" ternyata benar, begitu buka mulut langsung mengatakan hal ini.
"Kalau tidak ada yang penting ngapain bertemu denganmu?" aku membalas, lalu bertanya lagi, "Oh iya, Yuna sudah menyatakan perasaannya padamu. Gadis yang begitu baik, kenapa ditolak?"
"Kelihatannya aku salah menelepon." Refaldy Ying tersenyum mengejek.
"Pertimbangan Yuna baik-baik. Meskipun umurnya kecil, tapi lumayan baik. Kalau menikah, jangan jadikan cantik sebagai standar, jadikan sikap sebagai standar." selesai berkata, Refaldy Ying yang ada di ujung sambungan tertawa.
"Jadi maksudmu adalah, aku harus menikahi yang jelek, yang penting sikapnya baik saja." Refaldy Ying sengaja membalikkan maksud perkataanku.
"Aku malas meladenimu. Tidak ada masalah sengaja mencari masalah denganku. Kalau sampai Jonathan keluar dari kamar mandi, melihat aku mengobrol dengan pria lain, mungkin wajahnya akan ...." belum selesai berkata, Jonathan sudah keluar dari kamar mandi.
Aku segera memasukkan ponsel ke dalam selimut, berpura-pura memandang sekitar.
Jonathan mengeringkan rambut, menatapku dengan bingung dan bertanya, "Melakukan perbuatan salah apa?"
"Tidak ada." aku segera menjawab. Mataku karena terbuka besar dan karena itu semakin mudah menarik perhatian Jonathan. Dia melempar handuk, lalu mengambil ponselku yang ada di dalam selimut dengan cepat, tajam, dan terpercaya.
Setelah itu dia langsung berkata halo pada telepon. Mungkin Refaldy Ying yang ada di ujung sambungan juga sudah berbicara.
Jonathan berjalan ke balkon sambil membawa ponselku. Aku ingin pergi ke sana untuk menguping pembicaraan mereka. Tapi baru saja turun dari ranjang, Jonathan sudah membalikkan badan dan menatapku.
Aku pun hanya bisa naik lagi ke atas ranjang. Jonathan berbicara lama dengan Refaldy Ying dengan ponselku.
Saat dia masuk, dia menyodorkan ponsel kepadaku dan berkata, "Kedepannya kalau kamu mengobrol dengan pria lain di belakangku, maka kamu matilah sudah."
Aku menganggukan kepala dan menjawab "baik" dengan patuh.
Keesokan paginya, saat aku bangun sudah agak siang. Ibu mungkin sudah membawa Bernice dan Bella keluar jalan-jalan. Bahkan Bibi Chang juga tidak ada di rumah. Ini benar-benar agak aneh. Hari ini adalah akhir pekan, tapi tidak ada yang di rumah.
Setelah aku masak di dapur, makan kenyang, aku pergi ke ruang tamu dan menonton sebentar. Ponselku berbunyi lagi, telepon masuk dari Refaldy Ying.
Kemarin dimarahi begitu lama oleh Jonathan, muka pria ini benar-benar tebal. Masih berani menelepon ke sini.
Aku menjawab dengan kesal. Dia memberitahuku dia terjatuh dan sekarang ada di rumah sakit. Di Kota F, dia tidak memiliki keluarga, jadi menyuruhku pergi membantunya.
Begitu mendengar itu, aku langsung mengganti baju dan pergi ke sana. Waktu itu di Perancis saat melaksanakan operasi, Refaldy Ying yang membantuku mengaturnya. Sekarang dia terluka, aku juga seharusnya membantunya.
Setelah sampai di rumah sakit, aku menelepon Refaldy Ying. Bocah itu malah tidak mengangkat. Aku mengitari rumah sakit dengan bodoh, lalu mencari tahu di meja resepsionis. Sama sekali tidak ada pasien dengan nama itu.
Bocah itu. Cari mati ya dia. Berani sekali mengelabuiku. Sudah bosan hidup?
Lain kali kalau membohongiku lagi, aku pukul dia sampai wajahnya hancur. Aku keluar dari rumah sakit dengan lelah. Begitu naik ke mobil, telepon dari Refaldy Ying datang. Aku langsung mengangkatnya dan memarahi. Setelah memarahinya cukup banyak kata-kata jahat. Refaldy Ying memberitahuku, tadi dia menungguku lama, lalu menyuruh Yuna Mai menjemputnya dari rumah sakit.
Seketika aku tidak bisa berkata apa-apa. Pagi hariku berlalu begitu saja.
Saat aku pulang ke rumah Keluarga Yi, remote yang digunakan untuk membuka gerbang malah rusak. Aku menekan untuk waktu yang lama tapi tetap tidak bisa terbuka. Aku turun dari mobil, menekan password, tapi malah salah.
Memangnya otakku yang rusak, bahkan tidak bisa mengingat password?
Tenang, tenang. Aku memberitahu diriku sendiri. Hari ini berjalan buruk karena aku lupa melihat ramalan. Aku mengeluarkan ponsel lalu menelepon Jonathan. Tersambung tapi tidak ada yang angkat.
Setelah menelepon telepon rumah, juga tidak ada yang angkat. Sebenarnya ada apa ini. Kenapa rasanya begitu aneh?
Di saat aku sedang bingung-bingungnya, pintu rumah Keluarga Yi tiba-tiba terbuka otomatis. Aku menatap dengan bingung. Terlihat karpet merah panjang yang tergelar sampai ke pintu masuk rumah.
Jonathan muncul di hadapanku. Dia hari ini memakai tailcoat berwarna hitam. Di belakangnya Bernice dan Bella berdandan seperti putri kerajaan. Juga ada Refaldy Ying dan Yuna.
Sebenarnya ada apa ini? Aku tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi.
Jonathan mengulurkan tangan dengan sangat gentle. Aku dibuat bingung dengan adegan di depan mata ini. Apa akan diadakan pesta besar di rumah? Atau dansa? Atau merayakan ulang tahun seseorang?
Kelihatannya semua ini dipersiapkan untukku. Tapi hari ini bukan ulang tahunku kok?
Aku mengerutkan dahi, menatap Jonathan dengan bingung dan bertanya, "Hari ini hari apa. Apakah aku melewatkan sesuatu?"
Jonathan tersenyum datar. Orang-orang di belakang juga ikut tertawa bahagia. Aku benar-benar tidak mengerti apa arti senyum-senyum mereka yang senang itu. Tapi ada satu hal yang bisa dipastikan. Senyum seperti itu bisa menular, bisa membuat orang senang.
"Christine, masih ingat apa yang aku katakan padamu?" mata Jonathan menatapku dengan sangat dalam, dan suaranya sangatlah lembut.
Beberapa tahun ini hubunganku dan Jonathan sangatlah rumit. Meskipun perkataannya tidak banyak, tapi perkataan yang dia katakan padaku lumayan banyak. Memangnya mau aku tebak-tebak sendiri kalimat mana yang penting?
Aku tersenyum datar dan berkata, "Jangan putar-putar lagi. Kalau masih putar-putar, otakku akan pusing."
"Aku berkata ingin memberikanmu lamaran yang romantis dan pernikahan yang besar. Apa kamu masih ingat?" begitu Jonathan selesai berkata, hidungku seketika terasa asam.
Mataku seketika merah. Aku ingat Jonathan memang pernah mengatakan itu, tapi waktu itu aku tidak terlalu peduli. Dipikir-pikir anak juga sudah ada dua. Tunggu hari dimana suasana hati agak baik, cukup pergi ke biro urusan sipil untuk rujuk, dan melanjutkan hari-hari dengan sederhana saja kedepannya. Tidak disangka dia sengaja mempersiapkan begitu banyak kejutan bagiku.
Bersama dengan Jonathan begitu lama, aku tidak pernah merasa dia romantis. Tapi aku salah, aku dibuat terharu sampai ingin memeluknya, menciumnya, tapi masih ada banyak orang lain di sini. Aku tidak berani berbuat begitu terang-terangan.
"Christine, sakit hari ini CEO Yi yang suruh aku akting. Kamu jangan marah padaku ya." Refaldy Ying memanfaatkan suasana hatiku yang baik, dan menjelaskan kebohongan tadi paginya padaku.
Yuna Mai juga berjalan mendekatiku dan berkata dengan iri, "Kakak Mo, kamu benar-benar sangat bahagia."
Yang Yuna Mai katakan ini benar. Saat ini aku benar-benar sangat bahagia. Ada perasaan kebahagiaan yang datang setelah penderitaan. Tangan Jonathan yang sangat indah terulur di hadapanku. Mataku sekarang sudah meleleh dalam matanya yang penuh kasih.
Aku pelan-pelan menaruh tanganku di atas tangannya. Tangannya perlahan-lahan menutup, mengambil tas tentengku. Saat dia mau berlutut satu kaki, aku segera menariknya dan berkata, "Tidak perlu begitu resmi. Aku bersedia menikah denganmu. Sangat-sangat bersedia."
"Ya ampun, ya ampun, ya ampun. Ternyata Christine begitu tidak tahu malu." Refaldy Ying mengejek dari belakang.
Lutut kanan Jonathan sudah menyentuh lantai. Dia menggenggam tanganku dan berkata, "Christine, kamu sudah pernah melamarku beberapa kali. Hari ini giliran aku yang melamarmu secara resmi. Ini sudah seharusnya."
Bibirku bergetar karena terharu. Di mataku sepertinya hanya ada keberadaan Jonathan.
"Terima kasih kamu muncul dalam kehidupanku. Terima kasih kamu mempertaruhkan nyawa dengan melahirkan dua putri lucu untukku. Terima kasih seumur hidup ini kamu membuatku merasakan bahagianya dilamar oleh wanita. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kamu berikan di setiap saat padaku. Christine, yang aku lakukan mungkin tidak cukup baik. Mungkin kadang kala aku membuatmu kesal sampai rasanya mau membunuh orang. Mungkin kadang kala aku sangat sibuk sampai lupa menjagamu, tapi aku selalu sangat mencintaimu. Aku percaya kedepannya aku akan lebih mencintaimu. Apa kamu bersedia menikah dengan pria yang penuh kekurangan ini?"
Pengakuan cinta Jonathan yang sangat dalam membuatku menangis hebat.
Aku tidak tahu perkataan romantis seperti ini dia ambil darimana, atau mungkin dia sudah menghafalnya dari awal, tapi aku sangat terharu sampai airmataku tidak bisa berhenti mengalir.
Aku percaya semua wanita sangat emosional. Meskipun kedepannya pria mungkin tidak akan mewujudkan janji mereka, tapi saat ini membuat orang merasa sangat senang sampai tidak bisa berpikir logis.
Aku menganggukan kepala kencang dan langsung menjawab, "Bersedia. Aku bersedia. Tidak ada bunga segar, tidak ada cincin, tidak ada pesta apapun, aku juga bersedia. Karena kamu sangat tampan."
Jonathan menjilat bibir dan menatapku dengan tidak berdaya, "Bisa lebih merusak suasana tidak?"
Aku menggelengkan kepala dan mendesak, "Cepat pakaikan cincin padaku dong!"
Mengatakan begitu lama, cincin belum juga dipakaikan padaku. Bagaimana kalau dia mengatakan tidak jadi? Bagaimana kalau aku masih berada dalam alam mimpi. Semua yang begitu romantis tidak ada hasil yang nyata, bukankah sia-sia.
Jonathan memakaikan kembali cincin yang waktu itu aku tinggalkan di kamar pasien. Dia berdiri, kedua tangan memegang kepalaku, lalu menciumku.
Terdengar sorakan dari samping. Tapi aku malah sama sekali tidak terpengaruh apa-apa. Rasanya seperti dunia ini hanya tersisa kami berdua, kami tidak hentinya menciumi satu sama lain.
Hari pernikahan kita juga sudah ditentukan. Jonathan pesankan di Hotel Imperial. Awalnya aku tidak mau, tapi dia ngotot, aku pun tidak ada pendapat apapun lagi. Apa yang dinamakan menikah mengikuti seseorang, yang jelas ikuti dia saja.
Setengah bulan sebelum hari pernikahan, aku mendapat terima dari Vivian. Katanya, dia sudah meninggalkan Frederik Ouyang.
Aku tanya kenapa.
Kata dia, dia tahu kalau ayah kandung Jonathan adalah Frederik Ouyang. Dia merasa sedikit canggung. Kalau dia terus bersama di sisi Frederik Ouyang, terus membuat hubungan Frederik Ouyang dan Jonathan tidak bisa baik. Dan juga statusnya sendiri tidak yakin benar atau tidak.
Aku terdiam, bertanya padanya ingin kemana.
Dia tertawa pahit di ujung smabungan, tidak menjawab pertanyaanku, hanya mendoakan semoga aku bahagia, lalu menutup telepon.
Vivian pergi. Selama ini dia hidup dalam kebohongannya sendiri, berada dalam sekeliling pria-pria kaya, tapi pada akhirnya dia sudah mengerti dan malah meninggalkan Kota F.
Pada hari dimana Vivian pergi, aku pergi ke rumah Keluarga Ouyang. Melihat pria yang berbaring di atas ranjang, pebisnis yang dulunya sangat berhasil, sekarang terbaring dengan rambut putih bercampur hitam di atas ranjang.
Ketika dia melihatku, dia tersenyum pahit dengan tidak berdaya.
Novel Terkait
Pernikahan Kontrak
JennyRahasia Istriku
MahardikaHalf a Heart
Romansa UniverseSuami Misterius
LauraMore Than Words
HannyMilyaran Bintang Mengatakan Cinta Padamu×
- Bab 1 Malam Yang Menyedihkan
- Bab 2 Sawah Yang Kering Ada Orang Yang Menyirami
- Bab 3 Istri dan Mertua Tidak Akur
- Bab 4 Kekasih Ardy
- Bab 5 Wanita Yang Paling Bodoh
- Bab 6 Konflik
- Bab 7 Aku Tidak Suka Dimanfaatkan Orang
- Bab 8 Bercerai
- Bab 9 Mogok Makan
- Bab 10 Membuat Kesepakatan
- Bab 11 Bercerai Tanpa Mendapatkan Harta Sama Sekali
- Bab 12 Mengenang Kembali
- Bab 13 Pesta
- Bab 14 Dia Pacarku
- Bab 15 Menantang
- Bab 16 Aroma Tubuh Laki-Laki Lain
- Bab 17 Hamil
- Bab 18 Tertekan
- Bab 19 Makan Aku Saja Kalau Masih Lapar
- Bab 20 Wanita Yang Tidak Berpendidikan
- Bab 21 Aku Mau Anak Ini
- Bab 22 Tiba-Tiba Kembali
- Bab 23 Tidak Boleh Melakukan Saat Hamil
- Bab 24 Anggap Aku Pinjam Darimu
- Bab 25 Cinta Yang Abnormal
- Bab 26 Wanita Jahat
- Bab 27 Berikan Aku Kesempatan Untuk Menjagamu
- Bab 28 Menolak Tanpa Perasaan
- Bab 29 Tidak Bisa Memilikinya
- Bab 30 Bagaimana Caranya Agar Kamu Bisa Menerima Cintaku
- Bab 31 Kecelakaan Mobil
- Bab 32 Jual diri
- Bab 33 Konspirasi Mengerikan
- Bab 34 Melamar
- Bab 35 Perpisahan
- Bab 36 Kebenaran yang Pahit
- Bab 37 Mempermainkan Pria
- Bab 38 Kamu Menikahiku
- Bab 39 Baiklah, Aku Mengalah Padamu
- Bab 40 Martabat seorang pria
- Bab 41 Menahan Ejekan
- Bab 42 Pertunjukan Pertama
- Bab 43 Kamu Sangat Cantik
- Bab 44 Sulit Membaca Hati Manusia
- Bab 45 Makan Malam
- Bab 46 Wanita asing
- Bab 47 Kami Sudah Menikah
- Bab 48 Laki-laki Aneh
- Bab 49 Bunuh diri
- Bab 50 Terkurung
- Bab 51 Menyerahlah
- Bab 52 Perlakukan Aku Dengan Baik Seumur Hidupmu
- Bab 53 Pembicaraan Tentang Masa Depan Satu Sama Lain
- Bab 54 Air Mata yang Terlalu Banyak
- Bab 55 Hanya yang Memenggal Bisnis yang Bisa Bertarung
- Bab 56 Penyesalanmu Sudah Terlambat
- Bab 57 Nenek Meninggal
- Bab 58 Kelahiran Anak
- Bab 59 Mencintainya Maka Meninggalkannya
- Bab 60 Tak Sanggup Lagi
- Bab 61 Waktu Tiga Tahun
- Bab 62 Jangan Sentuh Teman Sekamarku
- Bab 63 Brutal dan Berdarah Dingin
- Bab 64 Model Rambut Baru Sangat Jelek
- Bab 65 Bagaimana Membuatnya Senang
- Bab 66 Menarilah di Hadapanku
- Bab 67 Masih Istrinya
- Bab 68 Bertemu Anakku
- Bab 69 Karma
- Bab 70 Tidak Meninggalkanmu
- Bab 71 Menanyakan Masalah Lama dan Baru Bersamaan
- Bab 72 Terluka
- Bab 73 Plagiarisme
- Bab 74 Jika Ingin Uang, Bukalah Harga
- Bab 75 Mati Tersiksa
- Bab 76 Pria pujaanku
- Bab 77 Membagi harta
- Bab 78 Memaksanya mengatakan kebenaran
- Bab 79 Aku jahat, aku tidak baik hati
- Bab 80 Kamu lebih membutuhkanku
- Bab 81 Wanita yang kasihan (1)
- Bab 81 Wanita yang kasihan (2)
- Bab 82 Siapa yang menopause (1)
- Bab 82 Siapa yang menopause (2)
- Bab 83 Aku tidak ingin menjadi pengganti (1)
- Bab 83 Aku tidak ingin menjadi pengganti (2)
- Bab 84 Mendapatkan keuntungan besar (1)
- Bab 84 Mendapatkan keuntungan besar (2)
- Bab 85 Menghancurkan reputasi (1)
- Bab 85 Menghancurkan reputasi (2)
- Bab 86 Tertawa Di Atas Penderitaan Orang Lain (1)
- Bab 86 Tertawa Di Atas Penderitaan Orang Lain (2)
- Bab 87 Melahirkan Semakin Banyak Anak Semakin Banyak Berkah (1)
- Bab 87 Melahirkan Semakin Banyak Anak Semakin Banyak Berkah (2)
- Bab 88 Menaruh Obat (1)
- Bab 88 Menaruh Obat (2)
- Bab 89 Konspirator Terbesar (1)
- Bab 89 Konspirator Terbesar (2)
- Bab 90 Mati Menggantikanku (1)
- Bab 90 Mati Menggantikanku (2)
- Bab 91 Adakan Pernikahan (1)
- Bab 91 Adakan Pernikahan (2)
- Bab 92 Dimanfaatkan Oleh Orang Lain (1)
- Bab 92 Dimanfaatkan Oleh Orang Lain (2)
- Bab 93 Satu Anak Lain Dari Keluarga Yi (1)
- Bab 93 Satu Anak Lain Dari Keluarga Yi (2)
- Bab 94 Semua Kenyataan (1)
- Bab 94 Semua Kenyataan (2)
- Bab 95 Apa Lagi Yang Kamu Sembunyikan Dariku (1)
- Bab 95 Apa Lagi Yang Kamu Sembunyikan Dariku (2)
- Bab 96 Aku adalah barang duplikat
- Bab 96 Aku adalah barang duplikat (2)
- Bab 97 Sengaja mempermainkan orang (1)
- Bab 97. Sengaja mempermainkan orang (2)
- Bab 98 Lelaki Baik, Perempuan Jahat (1)
- Bab 98 Lelaki Baik, Perempuan Jahat (2)
- Bab 99. Keluar (1)
- Bab 99. Keluar (2)
- Bab 100. Penghargaan Ibu Rumah Tangga Paling Besar Hati (1)
- Bab 100. Penghargaan Ibu Rumah Tangga Paling Besar Hati (2)
- BAB 101 Aku Sangat Pelit (1)
- BAB 101 Aku Sangat Pelit (2)
- BAB 102 Selain Membuat Kamu Marah, Apakah Aku Tidak Ada Kelebihan (1)
- BAB 102 Selain Membuat Kamu Marah, Apakah Aku Tidak Ada Kelebihan (2)
- BAB 103 Pelakor Yang Dicari (1)
- BAB 103 Pelakor Yang Dicari (2)
- BAB 104 Cukup Memberi Kamu Muka (1)
- BAB 104 Cukup Memberi Kamu Muka (2)
- BAB 105 Kamu Mengapa Begitu Ganteng (1)
- BAB 105 Kamu Mengapa Begitu Ganteng (2)
- BAB 106 Tuhan Tidak Memberikannya Hati Berbelas Kasih (1)
- BAB 106 Tuhan Tidak Memberikannya Hati Berbelas Kasih (2)
- BAB 107 Cinta Lama Bersatu Kembali (1)
- BAB 107 Cinta Lama Bersatu Kembali (2)
- BAB 108 Apa Kamu Pernah Mengkhianati Aku (1)
- BAB 108 Apa Kamu Pernah Mengkhianati Aku (2)
- BAB 109 Apa Layak Bernilai Sepuluh Juta Yuan (1)
- BAB 109 Apa Layak Bernilai Sepuluh Juta Yuan (2)
- BAB 110 Apa Kamu Sudah Pergi Pemeriksaan Ulang? (1)
- BAB 110 Apa Kamu Sudah Pergi Pemeriksaan Ulang? (2)
- Bab 111 Hobi Khusus (1)
- Bab 111 Hobi Khusus (2)
- Bab 112 Berhati Lembut (1)
- Bab 112 Berhati Lembut (2)
- Bab 113 Mulutmu Cukup Manis (1)
- Bab 113 Mulutmu Cukup Manis (2)
- Bab 114 Apa Kamu Hamil Lagi (1)
- Bab 114 Apa Kamu Hamil Lagi (2)
- Bab 115 Pertengkaran (1)
- Bab 115 Pertengkaran (2)
- Bab 116 Buktikan Seberapa Murninya (1)
- Bab 116 Buktikan Seberapa Murninya (2)
- Bab 117 Bernice Hilang (1)
- Bab 17 Bernice Hilang (2)
- Bab 118 Wanita Licik (1)
- Bab 118 Wanita Licik (2)
- Bab 119 Pria Itu Butuh Dirayu (1)
- Bab 119 Pria Butuh Dibujuk (2)
- Bab 120 Mengapa Kamu Begitu Beruntung (1)
- Bab 120 Mengapa Kamu Begitu Beruntung (2)
- Bab 121 Kita Benar-Benar Harus Mengobrol (1)
- Bab 121 Kita Benar-Benar Harus Mengobrol
- Bab 122 Dengan Mudah Berkata Cerai (1)
- Bab 122 Dengan Mudah Berkata Cerai (2)
- Bab 123 Siapa yang Cantik (1)
- Bab 123 Siapa Lebih Tampan (2)
- Bab 124 Kalau Tidak Tertabrak Tidak Akan Menyerah (1)
- Bab 124 Kalau Tidak Tertabrak Tidak Akan Menyerah (2)
- Bab 125 Berterima Kasih Atas Jasamu yang Tidak Mau (1)
- Bab 125 Berterima Kasih Atas Jasamu yang Tidak Mau (2)
- Bab 126 Pulang Ke Rumah Menjadi Wanita Rumahan (1)
- Bab 126 Pulang Ke Rumah Menjadi Wanita Rumahan (2)
- Bab 127 Wanita Dengan Logika Yang Berantakan (1)
- Bab 127 Wanita Dengan Logika Yang Berantakan (2)
- Bab 128 Serpihan Ingatan (1)
- Bab 128 Serpihan Ingatan (2)
- Bab 129 Antar Aku Pulang (1)
- Bab 129 Antar Aku Pulang (2)
- Bab 130 Jika Memotong Rambut, Muka Akan Terlihat Besar (1)
- Bab 130 Jika Memotong Rambut, Muka Akan Terlihat Besar (2)
- Bab 131 Berapa Banyak Beban Yang Kamu Tanggung (1)
- Bab 131 Berapa Banyak Beban Yang Kamu Tanggung (2)
- Bab 132 Ingatanku Sudah Kembali (1)
- Bab 132 Ingatanku Sudah Kembali (2)
- Bab 133 Membantumu (1)
- Bab 133 Membantumu (2)
- Bab 134 Kamu Panik, Artinya Kamu Merasa Bersalah (1)
- Bab 134 Kamu Panik, Artinya Kamu Merasa Bersalah (2)
- Bab 135 Apa Kamu Pacaran (1)
- Bab 135 Apa Kamu Pacaran (2)
- Bab 136 Kembali Single (1)
- Bab 136 Kembali Single (2)
- Bab 137 Namamu Adalah Mantan Suami (1)
- Bab 137 Namamu Adalah Mantan Suami (2)
- Bab 138 Apa Aku Boleh Kembali Ke Rumah Keluarga Mo (1)
- Bab 138 Apa Aku Boleh Kembali Ke Rumah Keluarga Mo (2)
- Bab 139 Aku yang terbodoh (1)
- Bab 139 Aku yang terbodoh (2)
- Bab 140 Kamu selalu dapat membuat penilaian yang akurat (1)
- Bab 140 Kamu selalu dapat membuat penilaian yang akurat (2)
- Bab 141 Wanita yang kelihatannya tidak berbahaya (1)
- Bab 141 Wanita yang kelihatannya tidak berbahaya (2)
- Bab 142 Kesedihan yang dalam (1)
- 142 Kesedihan yang dalam (2)
- Bab 143 Kamu sepertinya takut pada diriku (1)
- Bab 143 Kamu sepertinya takut padaku (2)
- Bab 144 Aku akan berteriak jika kamu begini (1)
- Bab 144 Aku akan berteriak jika kamu begini (2)
- Bab 145 Aku ingin dia membuktikannya secara langsung(1)
- Bab 145 Aku ingin dia membuktikannya secara langsung(2)
- Bab 146 Jangan Menikah Lagi Untuk Ketiga Kalinya
- Bab 147 Siaran Langsung
- Bab 148 Apa Kedepannya Kamu Akan Mendengar Perkataanku
- Bab 149 Aku Lebih Baik Lanjut Tidak Tahu Malu Saja
- Bab 150 Yang Aku Pedulikan Adalah Hatimu
- Bab 151 Menyimpan Rahasia
- Bab 152 Masa Lalu yang Pahit
- Bab 153 Hukuman Berdiri Menghadap Dinding
- Bab 154. Ingin Melihatmu Untuk Terakhir Kalinya
- Bab 155. Perempuan Tidak Berotak Sangat Menyebalkan
- Bab 156 Kepergian Jonathan
- Bab 157 Perempuan Yang Paling Tidak Tau Malu
- Bab 158 Menarik Spanduk Menyambut Anda
- BAB 157 Perempuan Yang Paling Tidak Tau Malu
- Bab 160 Menikah Kembalilah Denganku
- Bab 161 Seorang Wanita Yang Menyedihkan
- Bab 162 Wanita Melakukan Begitu Banyak Hal Untuk Apa
- Bab 163 Menyuruh Frederik Ouyang Datang Memohon Aku
- Bab 164 Marga Aku Mo, Jadi Beraneh-aneh Saja
- Bab 165 Aku Tidak Ada Perasaan Aman
- Bab 166 Siklus Karma
- Bab 167 Suamiku terlihat tampan saat meninju orang
- Bab 168 Hanya Sebagai Alat
- Bab 169 Hukuman atas keributan
- Bab 170 Apakah kamu mengharapkan akhir seperti Ini?
- Bab 171 Sifat Kejam Manusia
- Bab 172 Melihat Matahari Terbit Untuk Terakhir Kali
- Bab 173 Riwayatku Berakhir Hari Ini
- Bab 174 Aku Akan Bela Keadilan Untukmu
- Bab 175 Terang-terangan Menginginkanmu
- Bab 176 Ikut Campur
- Bab 177 Sekretaris Pria yang Lebih Cantik dari Perempuan
- Bab 178 Sebenarnya Siapa yang Berbohong
- Bab 179 Terkenal Mendadak
- Bab 180 Kamu Paling Cocok Menjadi Istri CEO
- Bab 181 Teman Kantor Yang Tidak Masuk Akal
- Bab 182 Pria kaya selalu playboy
- Bab 183 Kejagoan menjilatnya bagus
- Bab 184 Melakukan siasat senjata makan tuan
- Bab 185 Acara Persahabatan
- Bab 186 Berbaliklah dan kamu bisa melihatku
- Bab 187 Dipecat
- Bab 188 Kamu juga bukan orang yang baik
- Bab 189 Merebut Karyawan
- Bab 190 Acara tahunan perusahaan
- Bab 191 Aku Ingin Berdansa Denganmu, Apa Kamu Bersedia?
- Bab 192 Kata-Kata Itu Tidak Menyakiti Aku
- Bab 193 Kamu Adalah Orang Gila
- Bab 194 Ada Yang Suka Padamu
- Bab 195 Ayo Kita Melahirkan Anak Laki-Laki
- Bab 196 Hubungan yang rumit
- Bab 197 Saat olahraga pagi tenang sedikit
- Bab 198 Memperkenalkan pacar untukmu
- Bab 199 Berjalan-jalan romantis di malam musim dingin
- Bab 200 Kehabisan kata-kata menghadapi keluarga ini
- Bab 201 Alat Keamanan Diri
- Bab 202 Dendam apakah kamu terhadapku
- Bab 203 Bella, bangunlah
- Bab 204 Ketulusan hati mendatangkan keajaiban
- Bab 205 Wanita yang kasar
- Bab 206 Percaya Dengan Keajaiban
- Bab 207 Selamanya Mengabaikanmu
- Bab 208 Kamu Sudah Takut
- Bab 209 Saya Hanya Akan Memiliki Dua Anak Perempuan Seumur Hidup
- Bab 210 Tolong Bantu Aku Pulihkan Penglihatan
- Bab 211 Aku ingin bertemu dengan Jonathan sebelum aku menjalankan operasi
- Bab 212 Aku belum pernah melihat wanita sekejam dia
- Bab 213 Mengusir kamu dari rumah ini
- Bab 214 Biarkan diriku ikut lenyap juga
- Bab 215 Orang yang berpura-pura baik
- Bab 216 Bisa-bisanya Datang Meminta Uang Dengan Tidak Tahu Malu
- Bab 217 Kamu Jangan Sembarangan Bicara
- Bab 218 Aku Masih Belum Cukup Tidur
- Bab 219 Lamaran Yang Romantis
- Bab 220 Jangan Bercanda Lagi
- Bab 221 Ending (1)
- Bab 221 Ending (2)