Waiting For Love - Bab 19 Pria Itu Bagaikan Seekor Cheetah Yang Memantau Mangsanya Dari Kegelapan

Clarice Lu tidak terbiasa menumpangi mobil pria yang tidak dikenal, tetapi mobil Lewis Tang jelas sebuah pengecualian. Ia ingin mendapatkan proyek darinya, dan menumpang mobilnya adalah salah satu cara untuk mencari muka di hadapannya.

"Baik, maaf merepotkan." Clarice Lu membuka pintu lalu naik.

Suasana di dalam mobil sangat hening. Lewis Tang tengah sibuk membolak-balik laporan keuangan periode ini, ia terlihat sangat serius. Dari bagasi mobil yang sempit terkadang juga terdengar suara tumpukan kertas yang saling bersenggolan.

Clarice Lu duduk di sampingnya dengan kaku. Ia tahu akan terasa kurang sopan bila ia mengganggunya. Tetapi, kalau ia tidak berbicara apapun, ia sama saja membuang kesempatan mencari muka di hadapan Lewis Tang.

"CEO Tang, menurutmu seberapa besar peluang Perusahaan Entertainment HU dalam tender ini?"

Lewis Tang berhenti membolak-balik lembaran kertasnya. Ia tidak mendongak, tatapan matanya tetap tertuju pada berkas yang ada di tangannya. Matanya sangat fokus, membuat siapa pun tidak akan bisa menebak suasana hatinya.

"Menurutmu?" Lewis Tang bertanya balik.

"Saya......" Clarice Lu belum selesai menjawab, tiba-tiba Range Rover yang mereka tumpangi mengerem mendadak.

"Eh!" Clarice Lu berteriak terkejut, tubuhnya yang tidak mengenakan sabuk pengaman terhempas ke depan.

Ketika ia memperbaiki posisi duduknya, Lewis Tang menatapnya dalam-dalam.

Clarice Lu akhirnya sadar, bahwa barusan, ketika mobil mengerem mendadak, tangannya bukan bertumpu pada sisi samping mobil, melainkan meraba selangkangan Lewis Tang.

Clarice Lu merasa "sesuatu" yang ia sentuh itu menegang dengan cepat dan menghangat.

Dalam sekejap, Clarice Lu merasa dirinya seperti udang rebus. Telinganya juga memerah. Situasi sangat canggung, Clarice Lu bahkan lupa melepas tangannya.

Sementara itu, Lewis Tang duduk tenang seperti sebongkah gunung. Tubuhnya memancarkan hawa hangat. Ia memegang tangan Clarice Lu, lalu melepaskan tangan kecil dan lembut itu dari tubuhnya.

Clarice Lu sudah menarik tangannya, tetapi kehangatan itu tetap terasa. Tangannya lama-lama terasa seperti terbakar.

Clarice Lu mendongakkan kepala dan menatap Lewis Tang dengan canggung. Ia hanya melihat sudut bibir Lewis Tang terangkat seperti orang yang tengah berpura-pura tersenyum. Pria itu menatapnya seperti seekor cheetah yang sedang memantau mangsanya dari kegelapan.

"Maaf, CEO Tang, barusan ada mobil yang menerobos lampu merah dan menghalangi laju kita, saya hampir saja menabraknya. Anda dan Nona Lu tidak apa-apa kan?" supir bertanya panik.

"Kami sangat baik," ujar Lewis Tang tanpa pikir panjang. Ia akhirnya mengalihkan tatapannya dari wajah wanita itu. Clarice Lu entah kenapa merasa ada makna tersembunyi di balik kata "sangat baik" itu.

Clarice Lu dalam hati bertanya-tanya mengapa Lewis Tang sangat tenang. Tekanan udara yang rendah di dalam mobil membuatnya agak kesulitan bernafas, jadi ia buru-buru berkata pada supir, "Saya sudah sampai, tolong pinggirkan mobil di depan."

Range Rover hitam itu merapat ke sisi jalan. Tanpa menunggu mobil sepenuhnya berhenti, Clarice Lu langsung buru-buru membuka pintu dan turun.

Beberapa saat berlalu, dan mobil itu tetap diam di sisi jalan.

Kaca jendela perlahan turun dan menampilkan sisi samping wajah Lewis Tang yang menatap tajam. Ia menaruh satu tangannya di atas jendela, lalu tiba-tiba membuka telapak tangannya persis di hadapan Clarice Lu. Clarice Lu bahkan bisa melihat dengan jelas garis tangan pria itu.

"Pulpen."

"Oh." Clarice Lu belum memahami maksud Lewis Tang, tetapi ia refleks mengeluarkan sebuah pulpen dari tas tentengnya. Ia sama sekali tidak menyangka, ketika ia menyerahkan pulpen itu ke Lewis Tang, pria itu menahan tangannya lalu menuliskan sebaris nomor telepon di atasnya.

Novel Terkait

Ternyata Suamiku Seorang Sultan

Ternyata Suamiku Seorang Sultan

Tito Arbani
Menantu
4 tahun yang lalu

My Lady Boss

George
Dimanja
4 tahun yang lalu

Hei Gadis jangan Lari

Sandrako
Merayu Gadis
4 tahun yang lalu

After The End

Selena Bee
Cerpen
5 tahun yang lalu

Si Menantu Buta

Deddy
Menantu
4 tahun yang lalu

Unlimited Love

Ester Goh
CEO
4 tahun yang lalu

Awesome Guy

Robin
Perkotaan
3 tahun yang lalu

See You Next Time

Cherry Blossom
CEO
5 tahun yang lalu