Terpikat Sang Playboy - Bab 43 Si Wanita Penggoda Pemikat Hati!

Satu setengah jam kemudian.

Tania keluar dari ruangan kantor dengan kaki gemetar.

Ah! Dia hanya menyirami Alex dengan secangkir kopi, tetapi dia melakukan hal yang lebih parah selama dua jam kepada Tania, dia sangat bersemangat membuat orang marah, Tuhan sungguh tak punya mata, bagaimana bisa membiarkan masalah ini terjadi, tidak membuatnya menjadi kakek Alex.

Meja kantor di depan kosong, Tania pun duduk di meja tersebut, dia memandangi ruang kantor tersebut dengan kepala dan tangan.

Orang lain melihat Tania begitu lama di ruangan tersebut, keluar dengan rambut yang basah dan juga mengganti baju, bisa dibayangkan, apa yang terjadi tadi di dalam ruangan tersebut

Ekspresi wajah Melinda sangat dingin, dia menggenggam dokumen tersebut dengan tangan yang gemetar, dia sudah menemani laki-laki tersebut selama delapan tahun, dengan mudahnya direbut oleh orang lain, dia sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dia tidak rela, benar-benar tidak rela.

Tania menghembuskan napas, berencana untuk benar-benar ingin berinvestasi di perkejaan ini, dia menoleh ke arah Melinda, “Melinda, serahkan pekerjaanmu kepadaku.”

Melinda pun langsung berdiri dan melempar dokumen-dokumen tersebut tepai di depan Tania, “Semuanya ada di sini, kamu lihat sendiri.”

Gaya bicaranya tidak sopan, membuat seketaris manajer lainnya tercengang, sepertinya perang dunia akan segera dimulai.

Tania terdiam sejenak, dan mengeluarkan senyum santai di wajahnya, mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen yang berada di atas meja tersebut ke arah wajah Melinda, kemudian bersandar di kursi, menatap wajahnya tapi tak berbicara sedikit pun.

Melinda juga karena demi dirinya sendiri sekilas bertindak seperti itu dan kemudian menyesalinya, emosi seperti ini muncul sejak berita pernikahannya tersebar, selalu mengganggu pikirannya, dia harusnya bisa mengendalikannya.

Mereka berdua ada yang berdiri dan ada yang duduk, suasananya sangat aneh dan canggung.

Perlahan, Tania yang memandangi Melinda tanpa suara tersebut membuat Melinda merasa tertekan, dia pun menundukkan kepalanya, “Maaf...”

“Tidak apa-apa, kembalilah duduk, lain kali tanganmu jangan terkilir lagi ya”, Tania memberinya senyum yang lebar, seperti tidak pernah terjadi hal yang sama sebelumnya.

Dia tidak perlu berdebat dengannya, tidak ingin menjatuhkan harga dirinya.

Melinda dengan penuh tenaga mengepal tangannya dan meletakkannya di depan dadanya, berbalik dan kembali duduk di posisi semula, konfrontasi ini membuatnya mengerti, Tania begitu pandai.

Tania pun sibuk membolak-balikkan dokumen, jika ada sesuatu yang tak dimengerti ia pun segara bertanya, waktu dengan cepat telah lewat jam 10.

Telepon di mejanya berdering, dia mengangkat, “ Halo..”

“Seketaris, mana teh hijau saya” suara manja Alex terdengar.

“Aku sangat sibuk, jika kamu tidak haus, minum sedikit tidak akan membuatmu mati, cukup, jangan mengangguku.” Tania pun segera menutup telepon.

Alex menatap telepon, terdiam sejenak, sekarang siapa bos sebenarnya.

Melinda yang duduk disekitar melihat Tania begitu fokus memerhatikan dokumen-dokumen tersebut, kesempatan telah datang, dia berdiri diam-diam, menyeduh teh dan membawanya masuk ke dalam ruangan kantor direktur,duduk di sampingnya kemudian meletakan teh.

“Terima kasih, kamu masih bisa melakukan sesuatu”, Alex mengambil teh tersebut dan meminumnya.

Aku tahu di waktu yang sesingkat ini kamu harus minum, selain itu, aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini”, ucap Melinda.

Alex meketakkan cangkir tehnya: “aku juga tahu terburu-buru menurunkan posisi jabatanmu, ini sangat tidak adil untukmu, atau kamu di tempatkan ke departemen lain sebagai pengawas.”

“Aku tidak mau mau, aku ingin tetap berada di sisimu”, Melinda pun memeluknya dengan mengeluh.

“Melinda, kamu jangan seperti ini....” Alex menepuk-nepuk pundaknya, mencoba menenangkannya.

Tania mengangkat kepalanya dari tumpukan-tumpukan dokumen tersebut, melihat Melinda tak berada di tempat duduknya, hatinya merasa, wanita penggoda ini tak bisa dibiarkan sebenatar, pergi menggoda hati suaminya.

Dengan cepat ia berdiri dari kursinya, dengan mengenakan sepatu high heel dia pun pergi masuk ke dalam ruangan kantor tanpa mengetuk pintu.

Novel Terkait

Love In Sunset

Love In Sunset

Elina
Dikasihi
7 tahun yang lalu
Cinta Tapi Diam-Diam

Cinta Tapi Diam-Diam

Rossie
Cerpen
6 tahun yang lalu
Angin Selatan Mewujudkan Impianku

Angin Selatan Mewujudkan Impianku

Jiang Muyan
Percintaan
6 tahun yang lalu
Sederhana Cinta

Sederhana Cinta

Arshinta Kirania Pratista
Cerpen
6 tahun yang lalu
Air Mata Cinta

Air Mata Cinta

Bella Ciao
Keburu Nikah
6 tahun yang lalu
Menaklukkan Suami CEO

Menaklukkan Suami CEO

Red Maple
Romantis
5 tahun yang lalu
The Winner Of Your Heart

The Winner Of Your Heart

Shinta
Perkotaan
6 tahun yang lalu
Love and Trouble

Love and Trouble

Mimi Xu
Perkotaan
5 tahun yang lalu