Marriage Journey - Bab 282 Kembali Ke Rumah Keluarga Leng
“Apa yang kamu lakukan? Jangan kira kamu yang sudah mabuk bisa menggila di sini, siapa yang tidak pernah patah hati, kamu kira di dunia ini hanya kamu seorang yang patah hati? Ketika kamu menyakiti orang lain, pernahkah kamu memikirkan orang lain juga akan sedih.”Ucap Laras dengan marah.
Laras tidak tahan melihatnya membuat onar di sini, dia marah menyalahkan Decky,
Laras tidak pernah semarah ini padanya, tidak peduli apa pun yang dia lakukan, Laras tidak akan menyalahkannya seperti hari ini, Decky tertekan oleh nafas dingin Laras, sampai menarik kembali tangannya.
Dia menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.
Melihatnya seperti ini, Laras kehilangan setengah amarahnya, dia tahu dengan emosi Decky, dia tidak akan menundukkan kepalanya dan mengakui kekalahan, kalau bukan karena biasanya tidak terlalu perhitungan dengan Decky, Decky juga tidak mungkin menenangkan amarahnya.
Pria paruh baya itu tidak berani mengatakan apa-apa ketika keadaan memburuk, hanya menatap Laras bertanya dimana mobilnya.
Laras menyerahkan kunci dari sakunya, “Kamu ikut kami saja.”
Dia memapah Decky berjalan di depan, dan pria paruh baya itu mengikuti mereka dari belakang.
Tidak lama kemudian tiba di depan mobil, pria paruh baya ini sering menjadi supir pengganti di sekitar, dan pernah menyetir segala jenis mobil, melihat mobil sport Laras yang harganya mencapai milyaran dan merupakan mobil edisi terbatas, dia sedikit takut.
“Lebih baik kalian ganti supir lain, kalau mobil kalian lecet, kerja kerasku selama beberapa tahun akan hilang.”
Untuk menghilangkan kekhawatirannya, Laras berkata: “Setirlah dengan tenang, kalau terjadi sesuatu tidak perlu pertanggung jawabanmu.”
Mendengar kata-kata ini dari Laras, pria itu seperti memakan sebuah pil penenang hati, langsung memasukkan kunci dan menyalakan mobil.
Tentu saja, kekhawatirannya masuk akal, Kalau dia tidak sengaja menggores mobil sport ini, biaya perbaikan mobil saja akan menghabiskan gajinya selama beberapa tahun.
Melihat keduanya adalah tuan muda orang kaya, dia semakin berhati-hati, dan hanya menanyakan alamat, tanpa mengatakan yang lain,
Sunroof mobil terbuka, Decky yang mabuk ditiup angin merasa lebih sadar sedikit.
Dia memegangi kepalanya dan berkata, “Kepalaku sakit sekali.”
Laras memapahnya dan berkata: “Sebentar lagi sampai di rumah, aku akan meminta kepala Petugas Zhang memerintahkan pelayan untuk memasakkan semangkuk sup untukmu, setelah meminumnya akan lebih baik, Anggur Lafite sangat kuat dan memabukkan, malam ini kamu tidur yang baik, besok pagi seharusnya sudah baik-baik saja.”
Mobil melaju dengan sangat lambat, butuh waktu sekitar 20 menit bagi supir itu menyetir mobil sampai ke rumah keluarga Leng.
Ketika pria paruh baya itu memarkir mobil di depan rumah, dia tercengang.
Dia banyak melihat vila orang kaya, tetapi tidak pernah melihat vila semewah ini, meskipun hanya memiliki dua lantai, tetapi memiliki 20-an kamar,
Dari segi desain, rumahnya super mewah, persis seperti kastil yang dilihat pria ini di TV.
Langit sudah gelap, tetapi vila mewah ini terang menderang seperti siang hari.
Di bawah vila ada taman, wewangian bunga yang tertiup angin membuat orang tidak tahan untuk berimajinasi, seolah telah datang ke istana.
Supir pengganti itu membukakan pintu mobil, membantu Laras memapah Decky turun, lalu keduanya mengantar Decky ke kamarnya.
Laras menidurkannya, lalu berbalik menjelaskan beberapa kata kepada kepala Petugas Zhang, baru berbalik pergi bersama supir pengganti itu,
Decky berbaring di tempat tidur dan hatinya merasa sangat kesal.
Awalnya ingin minum untuk menghilangan kegundahan di hati, tidak disangka bertemu Hendi di sana, dan berkelahi dengannya.
Alasan berkelahi dengannya tidak perlu diragukan lagi karena Sifa,
Decky mengeluh: “Mengapa orang-orang di sekitarku membantu wanita ini berbicara, ilmu hitam apa yang digunakan wanita ini untuk membingungkan semua orang dan membuat mereka semua mengelilinginya, mengapa kakek mendengarkan fitnahnya.”
“Karena kamu sudah pergi, maka jangan kembali lagi, kenapa kamu merusak kehidupan damaiku, mencegahku mencintai Yuli, apa tujuanmu?”
“Tok tok tok……”Terdengar ketukan di pintu.
Kemudian terdengar suara Andy, “Tuan muda, makan malam sudah jadi, semuanya sedang menunggumu.”
Suasana hati Decky sangat buruk sekarang, dia sama sekali tidak memiliki niat untuk makan malam, tetapi begitu mengingat wajah tegas kakek, dia menjawab, “Iya, aku segera turun.”
Sejak Sifa pindah ke rumah keluarga Leng, dia akan melihat wajah yang membuatnya jijik setiap kali dirinya makan.
Bisnis keluarga Leng sangat besar, tentu saja ada aturan saat makan, kursi ditata berjejer, dan Tuan Besar Leng duduk di tengah.
Duduk di sampingnya adalah ayah dan ibu Decky, di samping ibunya adalah tempat yang diberikan untuknya.
Sebagai nona muda keluarga Leng, tentu saja Sifa duduk di sampingnya.
Di sebelah Sifa ada sebuah kereta dorong bayi yang modis, anak itu bermain dengan tangan kecilnya di kereta dorong, tanpa mengeluarkan suara.
Mendengar senandung anak itu, kakek Decky menunjukkan senyuman di wajahnya, dia menganggap cicit ini lebih penting dari nyawanya.
Makan malam ini sangat mewah, sepuluh lauk dan satu sup, dan semuanya adalah hidangan favorit semua orang.
Menghadapi hidangan mewah di meja, Sifa tidak bisa senang.
Sejak dia tinggal di rumah keluarga Leng, dia merasa dirinya seperti burung kecil yang dikurung di sangkar, tidak ada kebebasan sedikit pun.
Bahkan ketika dia keluar ada pelayan yang mengikutinya, seolah takut terjadi sesuatu pada tuan muda kecil, meskipun dia tahu kakek sangat menyayangi anaknya, tetapi dia tidak menyukai kehidupan seperti ini.
Melihat Sifa menaruh anaknya di sisi kanannya, ibu Decky sedikit tidak senang, dia bangkit dari kursi, berjalan ke hadapan kereta bayi, dan ingin menggendongnya.
Ketika tangannya baru menyentuh anak itu, anak itu menangis keras.
Tuan Besar Leng melototinya, “Anak itu bagus-bagus main di dalam kereta, kamu malah ingin menggendongnya, membuatnya terkejut, kalau kamu mengejutkan cicitku, aku tidak akan mengampunimu.”
Kata-kata Tuan Besar Leng, membuatnya gemetar ketakutan, dan segera melepaskan anak itu.
Dia tidak punya tempat untuk melampiaskan amarahnya, lalu melirik Sifa, berkata dengan marah: “Anak seusia ini sudah bisa mengenali orang, tetapi malah tidak mengenali aku neneknya, semua ini salahmu tidak membiarkan cucuku mendekatiku, kalau tidak aku yang memeluknya juga tidak akan menangis.”
Mendengar tuduhannya, Sifa merasa sangat sedih, bibirnya gemetar, kata-katanya tersangkut di tenggorokannya dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
Melihat dia tidak bersuara, ibu Decky semakin kurang ajar, “Kalau anak ini dididik seperti ini olehmu, apakah dia akan mengenaliku neneknya ini? Meskipun kamu membenciku, kamu juga tidak perlu merusak hubunganku dengan cucuku.”
Tuan Besar Leng tahu ibu Decky tidak pernah senang melihat Sifa, sering mencari masalah dan menyalahkannya.
Tadi dia menuduh Sifa dan Sifa tidak berkata apa-apa, itu sudah cukup menghormatinya, tetapi dia malah semakin menindas Sifa, Tuan Besar Leng tidak tahan melihatnya lagi.
Dia mengetuk tongkatnya dengan keras ke lantai beberapa kali, “Tok tok tok…”
“Susah payah akhirnya satu keluarga bisa berkumpul, bisakah kalian membiarkanku menghabiskan makanan ini? Sebelum makan, kalau ada yang membuat masalah lagi, jangan salahkan aku mengusirnya keluar.”
Novel Terkait
Back To You
CC LennyCinta Pada Istri Urakan
Laras dan GavinLoving Handsome
Glen ValoraUntouchable Love
Devil BuddyAir Mata Cinta
Bella CiaoMilyaran Bintang Mengatakan Cinta Padamu
Milea AnastasiaMenunggumu Kembali
NovanMarriage Journey×
- Bab 1 : Kanker Lambung Stadium Terakhir
- Bab 2 : Kamu Kotor
- Bab 3 : Decky Menidurinya
- Bab 4 : Menghindar Bagaikan Ular Berbisa
- Bab 5 : Berikan Jantungku Kepadanya
- Bab 6 : Aku Merasa Aku Kotor !
- Bab 7 Transplantasi Dihentikan
- Bab 8 Hamil ?
- Bab 9 Anak Haram Siapa
- Bab 10 Kamu Tidak Pantas Menjadi Seorang Ibu
- Bab 9 Aku Tidak Punya Rumah
- Bab 12 Hasil Terburuk
- Bab 13 Wanita Tidak Tahu Malu
- Bab 14 Wanitaku
- Bab 15 Itu Anakku
- Bab 16 Shen, Kamu Tidak Pantas!
- Bab 17 Berubah Seiring Berjalannya Waktu
- Bab 18 Orang Seperti Apa
- Bab 19 Tamu Yang Tiba-tiba Datang Tanpa Diundang
- Bab 20 Membusuk Di Sekitarku
- Bab 21 Sedikit Berubah
- Bab 22 Harapan Mendapatkan Kekecewaan
- Bab 23 Bersimpati
- Bab 24 Bertemu di Rumah Sakit Secara Tidak Sengaja
- Bab 25 Keadaan Darurat
- Bab 26 Wanita Kuat
- Bab 27 Tidak Boleh Mati!
- Bab 28 Terserah!
- Bab 29 Mengkhawatirkanku?
- Bab 30 Seperti Sepasang Suami Istri
- Bab 31 Curiga
- Bab 32 Aku Nyonya Leng
- Bab 33 Kamu Mengorok
- Bab 34 Bawa Masuk
- Bab 35 Isi Hati
- Bab 36 Aku Sudah Memperkerjakan Pembantu Untukmu
- Bab 37 Shen Yang Berbeda
- Bab 38 Pembukuan?
- Bab 39 Kamu Hari Ini Cantik Sekali
- Bab 40 Makan Malam Keluarga Leng
- Bab 41 Serangan Balik
- Bab 42 Wanita Dengan Dua Watak
- Bab 43 Kami Akan Berusaha
- Bab 44 Secercah Harapan, Beratus Kali Lipat Usaha
- Bab 45 Menjadi Asistennya?
- Bab 46 Wanita Ini Tidak Gampang
- Bab 47 Rumor
- Bab 48 Bercanda Berlebihan
- Bab 49 Jaga Dirimu Dengan Baik (1)
- Bab 50 Jaga Dirimu Dengan Baik (2)
- Bab 51 Wanita Cantik, Marsha
- Bab 52 Pria Munafik
- Bab 53 Biarkan Aku Menemanimu Di Saat Sedih
- Bab 54 Wanita Pemberani
- Bab 55 Dengan Begini Apakah Kita Sudah Menjadi Teman?
- Bab 56 Aku Akan Melindungimu Mulai Dari Sekarang
- Bab 57 Bukankah Kamu Suka Seperti Ini?
- Bab 58 Bisakah Kamu Membawakanku Pakaian
- Bab 59 Tidak Peduli Apa Tujuanmu, Kamu Telah Berhasil
- Bab 60 Momen Yang Memalukan
- Bab 61 Tetap Terasa Dingin
- Bab 62 Apakah Dia Telah Pergi?
- Bab 63 Cemburu
- Bab 64 Lihat Saja Pulang Nanti
- Bab 65 Semakin Menarik Semakin Berbahaya
- Bab 66 Kekecewaan Dan Keputusasaan Datang Dari Harapan
- Bab 67 Tolong aku!
- Bab 68 Situasi Berbahaya
- Bab 69 Pegang Erat Tanganku
- Bab 70 Wanita Bertekad Dengan Pisau
- Bab 71 Tuhan Tahu Betapa Khawatirnya Dia
- Bab 72 Perubahan Mendadak
- Bab 73 Aku Dan Dia Pilih Salah Satu
- Bab 74 Jangan Bergerak!
- Bab 75 Melepaskanmu
- Bab 76 Kamu Tidak Pantas Menyukai Dia!
- Bab 77 Niat Licik
- Bab 79 Dia Sedang Sakit, Penyakit Yang Tidak Dapat Disembuhkan
- Bab 79 Laras, Tolong Menjaga Rahasia Ini
- Bab 80 Kondisi Penyakit Semakin Memburuk
- Bab 81 Perhatian Yang Tiba-Tiba
- Bab 82 Kehangatan
- Bab 83 Gaun Motif Bintang
- Bab 84 Sangat Cocok Denganmu
- Bab 85 Penghargaan Untukmu!
- Bab 86 Pikiran Ariana
- Bab 87 Lebih Perhatian Dari Dirinya Sendiri?
- Bab 88 Pusat Perhatian Semua Orang
- Bab 89 Tubuhmu Begitu Jujur?
- Bab 90 Beri Kesempatan?
- Bab 91 Mau Jadi Wanita Sejatiku?
- Bab 92 Wanita Yang Sedang Jatuh Cinta Memang Berbeda
- Bab 93 Hidup yang Didambakan
- Bab 94 Ngambek?
- Bab 95 Bagaimana Menghadapinya
- Bab 96 Tidak Ada Yang Lebih Mencintaimu Daripada Aku
- Bab 97 Merebut Wanita Orang Lain
- Bab 98 Harus Memperlakukannya Dengan Baik
- Bab 99 Pelecehan Seksual Dan Kekerasan
- Bab 100 Luka Hati
- Bab 101 Masalah Ini Tidak Begitu Sederhana
- Bab 102 Takut Akan Kepergiannya Yang Mendadak
- Bab 103 Kamu Suka Dia Kan?
- Bab 104 Aku Tidak Mau Bermain-Main Lagi
- Bab 105 Aku Jatuh Cinta Dengannya, Apakah Ada Yang Salah?
- Bab 106 Perjanjian Perceraian
- Bab 107 Ayo Kita Mulai Dari Awal Hubungan Kita?
- Bab 108 Selama Aku Ingin Kamu Milikku, Maka Kamu Hanya Bisa Jadi Milikku
- Bab 109 Kalau Merindukannya, Harusnya Pergi Langsung Menemuinya Tidak Peduli Seberapa Jauh Itu
- Bab 110 Aku Hanya Mencintai Satu Pria
- Bab 111 Gunung Es Ribuan Tahun Telah Meleleh?
- Bab 112 Romantis
- Bab 113 Sifa, Wanitaku
- Bab 114 Tidakkah Harus Memberiku Penghargaan?
- Bab 115 Takut Semua Ini Hanyalah Mimpi
- Bab 116 Penurunan Suhu Secara Tiba-tiba
- Bab 117 Mengibaskan Ekor
- Bab 118 Dia Tidak Bisa
- Bab 119 Mengapa Dia Melakukan Ini
- Bab 120 Cemburu
- Bab 121 Mengambil Inisiatif
- Bab 122 Perasaan Bukan Sesuatu Yang Dapat Dikendalikan
- Bab 123 Benar-Benar Menganggap Dirimu Sebagai Anak Dari Keluarga An
- Bab 124 Aku Tidak Akan Meremehkan Seseorang Sepertimu
- Bab 125 Memasuki Ranah Hiburan
- Bab 126 Status Sosial
- Bab 127 Sekolah Akting
- Bab 128 Cari Masalah?
- Bab 129 Kesempatan Membuktikan Diri
- Bab 130 Membentuk Tim Proyek
- Bab 131 Tidak Akan Melupakan Pelajaran
- Bab 132 Kura-kura Tua Akhirnya Berubah Cerdas
- Bab 133 Membuat Rencana Baru
- Bab 134 Mengambil Langkah Yang Tidak Biasa
- Bab 135 Bermain Dengan Api
- Bab 136 Apa Kamu Merindukan Aku ?
- Bab 137 Kebuntuan Investigasi
- Bab 138 Kekalahan
- Bab 139 Bisa Terpikirkan Aku, Itu Sudah Cukup
- Bab 140 Pertikaian Yang Jelas Sekali
- Bab 141 Tidak Kenal Akrab
- Bab 142 Kemunculan Yang Mengejutkan
- Bab 143 Kehangatan Sementara
- Bab 144 Krisis
- Bab 145 Menyelamatkan Korban
- Bab 146 Juna Lai
- Bab 147 Kamu Adalah Ayah Yang Baik
- Bab 148 Penyelidikan
- Bab 149 Kebenaran
- Bab 150 Keputusan Akhir
- Bab 151 Serangan Balik Yang Kuat
- Bab 152 Tertawalah Kalau Senang
- Bab 153 Bisakah Kamu Membantuku
- Bab 154 Apa Pun Yang Terjadi, Tolong Selamatkan Anakku
- Bab 155 Punya Hak Apa Kamu
- Bab 156 Jangan Mati Di Dalam Mobilku!
- Bab 157 Kabar Baik
- Bab 158 Kamu Tunggu Saja!
- Bab 159 Beritahu Aku Kalau Itu Bukan Sungguhan
- Bab 160 Pria Lain
- Bab 161 Kamu Coba Saja
- Bab 162 Perang Dingin
- Bab 163 Rasa Cemburu Yang Berlebihan
- Bab 164 Jangan Lupa Masalah Sebelumnya
- Bab 165 Sayang, Santai saja
- Bab 166 Kesempatan Yang Bisa Disembuhkan Dari Penyakit
- Bab 167 Selamat Ulang Tahun
- Bab 168 Rencana
- Bab 169 Rencana (2)
- Bab 170 Meskipun Tidak Percaya
- Bab 171 Aku Berharap Kamu Mati
- Bab 172 Badai Rumor
- Bab 173 Dia Yang Tidak Normal
- Bab 174 Perjanjian Perceraian
- Bab 175 Menginginkannya dengan Ganas
- Bab 176 Anakku ...
- Bab 178 Apakah Kondisi Ini Bisa Membaik?
- Bab 179 Gangguan Tanpa Henti
- Bab 180 Tidak Menghalangimu!
- Bab 181 Roda Berputar
- Bab 182 Apakah Kamu Orang Dunia Hiburan!
- Bab 183 Sadar Sepenuhnya
- Bab 184 Pergi
- Bab 185 Awalan Baru
- Bab 186 Masa Lalu Yang Tidak Bisa Dikenang
- Bab 187 Bangun
- Bab 188 Curhat
- Bab 189 Marsha Pergi
- Bab 190 Tindakan Kecil
- Bab 191 Terekspos
- Bab 192 Mencari Kesempatan
- Bab 193 Selalu Merindukannya
- Bab 194 Aku Ingin Dia Mati
- Bab 195 Sherly
- Bab 196 Pernah Mencintainya
- Bab 197 Menutup Pameran Lukisan
- Bab 198 Berangkat Ke Amerika Serikat
- Bab 199 Gerakan Janin
- Bab 200 Perhatian Hendi
- Bab 201 Sama Sekali Tidak Tahu Pameran Lukis Ditutup
- Bab 202 Diam-Diam Menyelidiki
- Bab 203 Menuju Apartemen
- Bab 204 Yuli Sakit Parah
- Bab 205 Menerima Pukulan
- Bab 206 Tidak Bisa Menghadapi Tekanan
- Bab 208 Tekanan Sifa
- Bab 208 Mendatangi
- Bab 209 Terpancing Emosi
- Bab 211 Kecemasan
- Bab 212 Kabar Mendadak
- Bab 213 Perasaan Bertentangan
- Bab 213 Penyebaran Sel Kanker
- Bab 214 Pertahanan Satu-Satunya
- Bab 215 Kedatangan Decky
- Bab 217 Tubuh Yang Lemah
- Bab 218 Kemarahan Yang Tidak Terkendali
- Bab 219 Diri Yang Tidak Berdaya
- Bab 219 Tubuh Lemah
- Bab 220 Memberi Tugas Secara Rahasia
- Bab 221 Menjaga Sepenuh Hati
- Bab 222 Menerima Pengobatan
- Bab 223 Mengatur Secara Rahasia
- Bab 224 Mengenang Masa Kecil
- Bab 225 Mendadak Pulang
- Bab 226 Bertemu Yuli
- Bab 227 Suasana yang Menekan
- Bab 228 Mengetahui Balas Dendam Dari Hendi
- Bab 229 Kerahasiaan Laras
- Bab 230 Kabar Baik Mendadak
- Bab 231 Yuli Akan Segera Bangun
- Bab 232 Ariana Memicu Keributan Besar
- Bab 233 Menjerat Tanpa Akhir
- Bab 234 Melihat Trik Licik Ariana
- Bab 235 Kabar Baik
- Bab 236 Insiden Ariana
- Bab 237 Yuli Bangun
- Bab 238 Mendapatkan Tanggapan
- Bab 239 Minta Enam Milyar
- Bab 240 Sudah Boleh Pulang
- Bab 241 Terus Berpikir
- Bab 242 Kembali Normal
- Bab 243 Panggilan Telepon Dari Ibu Leng
- Bab 244 Ketenangan Yang Akan Segera Hancur
- Bab 245 Tidak Ingin Membebani Hendi
- Bab 246 Kabar Baik Yang Tiba-Tiba Datang
- Bab 247 Dipaksa Kembali
- Bab 248 Diantar Lagi Ke Gerbang Pintu Rumah Keluarga Leng
- Bab 249 Hendi Mencari Dengan Sangat Panik
- Bab 250 Menanyakan Dan Menyalahkan
- Bab 251 Mendapat Saham
- Bab 252 Bertengkar
- Bab 253 Mengingat Masa Lalu
- Bab 254 Kekecewaan Tidak Berujung
- Bab 255 Menyewa Rumah Di Luar
- Bab 256 Bertemu Dengan Laras
- Bab 257 Hendi Kembali
- Bab 258 Tragedi
- Bab 259 Mengubah Pemikiran
- Bab 260 Pertemuan Yang Canggung
- Bab 262 Benar-Benar Kehilangan Harapan
- Bab 262 Sengketa Di Ruang Tamu
- Bab 264 Jatuh
- Bab 265 Mencoba Membuat Tuduhan Palsu
- Bab 266 Pertengkaran Antar Teman Baik
- Bab 267 Pikiran Yang Jahat
- Bab 268 Dia Sedang Berbohong
- Bab 269 Melakukan Kepalsuan
- Bab 270 Damai
- Bab 271 Tes DNA
- Bab 272 Ayo Bicarakan Ini Denganku
- Bab 273 Penghinaan
- Bab 274 Dilema
- Bab 275 Dilema
- 276 Menolak Cek
- 277 Berkomunikasi dengan Kakek
- BAB 278 Kecewa
- 279 Dalam Suasana Hati yang Buruk
- Bab 280 Bertemu Hendi Di Bar
- Bab 281 Main Tangan
- Bab 282 Kembali Ke Rumah Keluarga Leng
- Bab 283 Punya Pemikiran Masing-masing
- Bab 284 Diperingatkan
- Bab 285 Tidak Boleh Mengalah
- Bab 286 Dikalahkan
- Bab 287 Tidak Puas
- Bab 288 Kekhawatiran
- Bab 289 Diskusi Tak Berhasil
- Bab 290 Rapat di Ruang Kerja
- Bab 291 Tiga Persyaratan
- Bab 292 Mengikat
- Bab 293 Pembagian Warisan
- Bab 294 Mengobrol Secara Terbuka