Pergilah Suamiku - Bab 40 Bertengkar Di Atas Ranjang
Saat anak kecil bertanya, muka pun mengerut, mata hitam bercahaya dipenuhi dengan kepolosan, keraguan dan penasaran.
Maag Dave pun sakit lagi, muka pria itu pun menggelap, di dalam hatinya tergoret sebuntalan asap yang berapi.
Itu Kesal!
Pria itu kesal bukan main!
Tapi mengapa pria itu harus mengakui di depan anak kecil ini, jika anak itu kembali nanti memberitahu Elaine, wanita itu bisa salah kaprah mengira bahwa dia di hati pria itu dianggap masih memiliki tempat?
Muka Dave karena sakit maag pun memucat dan suram.
Sikap diam pria itu juga tidak membuat jarak antara pria itu dan Reece menjauh, malah memberikan Reece semacam persetujuan diam-diam dari Dave.
“Papa, teman sebangkuku si gendut bilang bahwa suami istri dua orang bertengkar di kepala ranjang, baikan kembali di akhir ranjang, kamu kesal seperti ini melukai diri sendiri tidak ada gunanya.”
Karena perkataan Reece ini, muka Dave seketika menjadi hitam melebur menjadi satu dengan kegelapan malam di luar sana.
Pria itu dan Elaine, dalam 3 tahun ini sangat jelas batasannya, bisa menggunakan kata semesra ini kah? Ditambah lagi si gendut sebangkunya yang mengatakan ke anak itu, sialan!
Takutnya lagi-lagi adalah Elaine wanita yang pantas mati itu yang mengajari anak perempuan itu!
“Siapa bilang aku marah? Siapa yang mau bertengkar di kepala ranjang dan baikan kembali di akhir ranjang dengan Elaine?!” Dave dengan amarah mengatakan habis, seakan amarahnya belum reda: “Aku dan mamamu tidak ada hubungan!”
Dave menjulurkan tangan, mengambil bubur yang diletakkan Reece di atas kepala ranjang, menuangkan seteguk penuh.
Suhu buburnya pas-pas, rasanya harum dan kental, melebur di dalam mulut, maagnya menjadi hangat karena bubur ini, sakit di maag-nya juga berkurang sedikit.
Alis Dave agak naik, awalnya mengira bubur yang dimasak anak kecil bisa makan sudah lumayan, tidak menyangka rasanya lumayan.
Pria itu setengah menggoyang-goyangkan bulu alis yang langsing panjang, melihat sejenak Reece.
Elaine bisa ada seorang anak perempuan yang begitu perhatian berbagi dan menyelesaikan masalah, nasibnya sungguh baik!
Sebagaimana Elaine rela membiarkan anak perempuan kesayangannya diantar kemari untuk masak untuk pria itu, kalau begitu pria itu masih perlu sungkan apa lagi?
Belum sampai semenit, meminum bubur itu masuk ke dalam perutnya, dalam perutnya yang kosong berkurang, kesakitannya juga perlahan melemah, ekspresi suram di mukanya, akhirnya perlahan menurun.
Dan Dave sekali mengambil bubur, mata Reece berkilau.
Muka anak itu menjadi senang, senyum di mukanya cerah dan bersih, Dave melihat sejenak ke arah anak itu, anak kecil itu mengedip-ngedipkan mata, penasaran.
Ekspresi muka pria sepotong gelap suram, dalam hati menghela dingin!
Reece melihat suasana hati Dave sepertinya tidak baik, tapi ini juga tidak menganggu perasaan senang Reece.
Reece diam-diam tersenyum menundukkan kepala melihat-lihat kamar Dave, mata anak perempuan itu sangat bersih, saat melihat kamar membawa hal baru.
Anak itu hanya merasa di dalam kamar Dave hitam-hitam, putih-putih, abu-abu, sangat lah monoton, malah gelas berwarna emas mengkilap di atas meja di samping lemari baju itu terlihat sangat langka.
Reece melangkahkan kaki pendeknya menginjit-nginjit berjalan ke sana, sekali mendekati, baru melihat dengan jelas ternyata yang dilihatnya adalah sebuah trofi.
Tapi, karena berjarak dekat, penampilan sebenarnya yang di atas meja pun terbongkar keluar.
Trofi dan medali yang berharga, di TK-nya Reece secara keseluruhan tidak melihat beberapa trofi.
Tapi di atas meja Dave diletakkan semeja penuh.
“Papa? Ini semua adalah trofimu kah?”
Seluruh muka Reece dengan kagum melihat ke arah Dave, pria itu memang masih jengkel makan bubur yang dimasak Reece, sekarang berhadapan dengan sorotan mata Reece, gadis kecil itu seakan sepertinya sedang menunjukkan kelemahannya.
Dalam hati Dave tiba-tiba naik rasa puas diri yang sulit untuk diabaikan.
Pria memperjelas suara dengan dingin seperti es menjawab sepatah: “Iya.”
Kegembiraan Reece lebih tinggi lagi, memuji yang terbesar, bertanya ke Dave: “Papa papa, bagaimana mendapatkan trofi ini?”
Dave menyoroti sejenak, berkata: “Begitu banyak trofi, aku bagaimana mungkin bisa ingat jelas? Di atasnya bukannya ada sertifikat kan? Mamamu tidak mengajarimu mengenal huruf kah?”
Sorotan mata Reece bergerak ke atas di atas meja yang dipenuhi trofi, kekaguman di atas anak itu semakin dalam, berkata: “Aku sudah lama ingin mendapatkan trofi itu dari acara pekan olah raga di TK, tapi selalu saja tidak bisa medapatkan.”
“Papa kamu hebat sekali, bisa mendapatkan begitu banyak trofi.”
Reece dengan tidak rela melepaskan tangan memegang-megang yang ini, dan juga membelokkan tangan memegang-megang yang itu.
Ujung mulut Dave agak tidak bisa terdeteksi melompat sesaat, terakhir sedikit ketidak nyamanan di hatinya juga sekali disapu pun menjadi kosong.
Benar-benar tidak disangka, pada akhirnya trofi-trofi di atas meja itu yang dia rasa boleh ada boleh tidak itu, bisa membuatnya di hadapan Reece mengambil kembali hatinya!
Pria menyipit-nyipitkan mata yang dalam dan tidak mudah dipahami itu, dari samping tubuhnya pecahan-pecahan cahaya lampu, seakan semua menyambar masuk ke dalam matanya, sangat lah terang!
Kesukaan Reece terhadapa trofi sampai tidak rela melepas tangan, setiap menyentuh satu membalikkan satu sertifikat, ekspresi kekaguman di muka kecil itu sangat penuh, dalam mulut kecilnya bergumam sesuatu, suara kecil anak perempuan itu, Dave hanya samar-samar mendengar beberapa kalimat.
“Papa ternyata masih bisa main hangar, bisa piano?? Ini huruf apa?”
Ujung alis mata Dave agak miring ke atas membawa sedikit kebanggan kecil.
Kegemarannya tersebar dengan luar, bahkan pria itu masih ada satu kegemaran, pria itu tidak suka berhenti di tengah jalan, setiap hal yang disukainya akan dikerjakan sampai sempurna dan terbaik.
Kediaman Bo ada satu kamar khusus yang digunakan untuk meletakkan semua keberhasilan yang didapatnya dari kecil sampai besar, apa lah yang di atas meja itu? hanya lah sebuah ujung di gunung es?
Hanya saja ketika dia pindah tinggal sendiri, pembantu yang membereskan barang-barang mengira pria itu pasti mau membawa beberapa, pria itu merasa berlebihan, semuanya dirapikan keluar, ditumpuk di dalam kamar yang tidak boleh orang masuk ini.
Dave merapatkan sebentar ujung bibir, sisi telinganya terus menerus melayang satu dua kata sanjungan Reece, tanpa disadari hati pria itu senang.
“Papa, kamu boleh kasih aku satu tidak, aku hanya ingin satu trofi!”
Reece tiba-tiba membalikkan badan, melihat kearah Dave yang duduk di atas ranjang, mata anak itu lembab, saat menanyakan nada suaranya dipenuhi pengharapan.
Dave mengencangkan alis, dalam matanya yang sempit dan panjang itu memancarkan selapis sinar yang akrab membuat Reece agak gelisah.
“Papa?”
Dave dengan dalam membuka mulut: “Kenapa, kamu sekarang baru umur 3 tahun sudah mau belajar mendapatkan hasil tanpa berjuang? Mau tanpa berusaha pun mendapatkan trofi?”
Suaranya begitu serius, Reece dengan tidak rela hati meletakkan kembali, dengan nada suara yang membawa sedikit kesungguhan yang kokoh: “Tunggu aku sudah besar, juga bisa sama hebat seperti Papa, juga mengambil trofi sebanyak ini.”
Dave melihat sepasang mata Reece yang bercahaya berkilauan, menjulurkan tangan mengelus-elus kepalanya sendiri.
Sial!
Aneh!
Pria itu bisa-bisanya mengosongkan keluar emosinya, seperti pengganguran saja, membantu Elaine wanita yang pantas mati itu untuk mendidik anak?
Pasti karena anak haram ini terlalu tepat waktu mengantarkan nasi, menyelamatkan perutnya, jadi baru lah pria itu bisa begitu berhati lembut seperti ini mengurusi urusan orang lain.
Sepasang pandangan mata Dave yang tajam melihat ke arah Reece, anak itu sangat tidak rela meletakkan trofi yang ada di tangannya, membengkokkan badannya kembali ke samping Dave.
Anak itu baru saja mau membuka mulut, sorotan mata tiba-tiba berhenti di atas bingkai foto yang terletak di atas lemari di samping kepala ranjang yang berada di samping tangan Dave.
Dave mengikuti sorotan mata Reece melihat ke sana, pupil mata menyusut.
Di dalam bingkai foto itu terpampang foto bersama Dave dan Jenny, foto bersama mereka dulu.
Novel Terkait
Yama's Wife
ClarkCinta Yang Terlarang
MinnieMenaklukkan Suami CEO
Red MapleLove From Arrogant CEO
Melisa StephanieAir Mata Cinta
Bella CiaoMi Amor
TakashiBlooming at that time
White RosePredestined
CarlyPergilah Suamiku×
- Bab 1 Matilah
- Bab 2 Kematian Elaine
- Bab 3 Tiga Tahun Kemudian
- Bab 4 Ibu, Apa itu Selingkuh
- Bab 5 Selingkuhan Suamimu
- Bab 6 Cindy Adik Saya yang Sangat Akrab
- Bab 7 Aku Memberi Kamu Dua jam
- Bab 8 Reputasimu Hancur
- Bab 9 Anak Haram
- Bab 10 Aku Hamil
- Bab 11 Anak Di Perutmu Milik Siapa
- Bab 12 Hatiku Sakit Melihatnya
- Bab 13 Pakaian Dalam
- Bab 14 Ditentukan Elaine
- Bab 15 Bonus Yang Tidak Pantas
- Bab 16 Besok Tidak Perlu Datang Kerja
- Bab 17 Pemilik perusahaan ini bermarga Bo, bukan Lu!
- Bab 18 Saling Berpelukan
- Bab 19 Elaine Memeluk Pria Lain
- Bab 20 Kamu Yakin Masih Mau Makan?
- Bab 21 Istri Sepupumu Loh!
- Bab 22 Dave, Kamu Belum Cukup Buat Onar?
- Bab 23 Apakah Dia Mempertanyakan Moralnya?
- Bab 24 Muntah Bersama, Tapi Aku Karena Hamil
- Bab 25 Mengapa Mempersulit Seorang Wanita?
- Bab 26 Haruskah melapor ke polisi?
- Bab 27 Memang Istrimu Yang Dipatahkan Kakinya
- Bab 28 Dia Mengkhawatirkan Elaine ?
- Bab 29 Hasil Tes DNA
- Bab 30 Reece Mungkin Benar Anakmu
- Bab 31 Ibumu sudah Meninggal? Sampai Sekarang Masih Belum Datang?
- Bab 32 Kamu Selingkuhan Ibu Anak Ini?
- Bab 33 Apakah Papa Tidak Menyukai Aku?
- Bab 34 Papa Sayang Reece, Lebih-lebih Sayang Mama
- Bab 35 Kamu Pasti Akan Kembali
- Bab 36 Papa Mengatakan Reece Anak Haram?
- Bab 37 Papa, Boleh Mulai Makan!
- Bab 38 Mama Bilang Telur Bergizi
- Bab 39 - Kamu Jangan Menganggu Aku!
- Bab 40 Bertengkar Di Atas Ranjang
- Bab 41 Tante Dikoran Disebut Pelakor
- Bab 42 Pergi Mengambil Mayat
- Bab 43 Akting Apa?!
- Bab 44 Kalau Punya Nyali Cari Dave Nyatakan Cinta!
- Bab 45 Sudah Sakit Begini, Masih Panggil Namanya?
- Bab 46 Presiden Direktur Bo, apa yang baru saja kamu lakukan?
- Bab 47 Kenapa Dia Mau Pergi ?!
- Bab 48 Mengapa Tahu Kata Sandi Ponselku?
- Bab 48 Kehilangan Reece
- Bab 50 Bukan Pertama Kali Kehilangan Reece
- Bab 51 Panggilan yang terakhir
- Bab 52 Jangan Cari Masalah Untuk Dirimu Kalau Kamu Tidak Jemput
- Bab 53 Menunggunya Datang Memohon!
- Bab 54 Katakan Kamu Murahan Maka Aku Akan Meminjamkannya!
- Bab 55 Dia Khawatir Pada Elaine? Bagaimana Mungkin!
- Bab 56 Apakah Ia Idiot?Kenapa Mengejar?
- Bab 57 Aku Adalah Istri Dave Bo
- Bab 58 Berbahaya!
- Bab 59 Elaine Itu Siapa, Apa Pantas Dia Menggendongnya?
- Bab 60 Bekas Luka Yang Mengerikan
- Bab 61 Menebus Dosa Bukan Berarti Dia Harus Mati (1)
- Bab 61 Menebus Dosa Bukan Berarti Dia Harus Mati (2)
- Bab 62 Papa, Apakah Kamu Sangat Hebat Berkelahi (1)
- Bab 62 Papa, Apakah Kamu Sangat Hebat Berkelahi (2)
- Bab 63 Papa Tolong Jangan Memukul Reece (1)
- Bab 63 Papa Tolong Jangan Memukul Reece (2)
- Bab 64 Menjaga Putrimu Di Rumah? (1)
- Bab 64 Menjaga Putrimu Di Rumah? (2)
- Bab 65 Dia Memanjakan Elaine ? (1)
- Bab 65 Dia Memanjakan Elaine ? (2)
- Bab 66 Papa, Jangan Pukul Aku, Oke? (1)
- Bab 66 Ayah, Jangan Pukul Aku (2)
- Bab 67 Apakah Mama Sedang Bertengkar Dengan Papa? (1)
- Bab 67 Apakah Mama Sedang Bertengkar Dengan Papa? (2)
- Bab 68 Tidak Perlu Kamu Bilang, Aku Juga Akan Pergi! (1)
- Bab 68 Tidak Perlu Kamu Bilang, Aku Juga Akan Pergi! (2)
- Bab 69 Di Forum Internet Terdapat Biodatamu (1)
- Bab 69 Di Forum Internet Terdapat Biodatamu (2)
- Bab 70 Sampai Jumpa Hari Senin (1)
- Bab 70 Sampai Jumpa Hari Senin (2)
- Bab 71 Apakah Mama Berkelahi Dengan Orang Lain (1)
- Bab 71 Apakah Mama Berkelahi Dengan Orang Lain (2)
- Bab 72 Papa Bilang Jenny Adalah Pacarnya (1)
- Bab 72 Papa Bilang, Jenny Adalah Pacarnya (2)
- Bab 73 Mama, Aku Tidak Mau Pergi Sekolah (1)
- Bab 73 Mama, Aku Tidak Mau Pergi Sekolah (2)
- Bab 74 Aku Akan Minta Maaf Dengan Si Gendut (1)
- Bab 74 Aku Akan Minta Maaf Dengan Si Gendut (2)
- Bab 75 Direktur Qin Mau Meminta Bantuan Dariku? (1)
- Bab 75 Direktur Qin Mau Meminta Bantuan Dariku? (2)
- Bab 76 Melakukan Kekerasan Di Malam Hari (1)
- Bab 76 Melakukan Kekerasan Di Malam Hari (2)
- Bab 77 Mama Selama Ini Membohongiku (1)
- Bab 77 Mama Selama Ini Membohongiku (2)
- Bab 78 Diinjak (1)
- Bab 78 Diinjak (2)
- Bab 79 Bertiga Seperti Keluarga (1)
- Bab 79 Bertiga Seperti Keluarga (2)
- Bab 80 Papamu Banyak Sekali ! (1)
- Bab 80 Papamu Banyak Sekali ! (2)
- Bab 81 Jangan Lupa Kamu Ini Istri Siapa ! (1)
- Bab 81 Jangan Lupa Kamu Istrinya Siapa (2)
- Bab 82 Mengancammu Seperti Ini, Sudah Kulakukan Tiga Tahun Yang Lalu (1)
- Bab 82 Jika Ingin Mengancammu, Tiga Tahun Yang Lalu Aku Sudah Melakukannya (1)
- Bab 83 Direktur Elaine Pintar Menyapa (1)
- Bab 83 Direktur Elaine Pintar Menyapa (2)
- Bab 84 Apakah Kamu Mau Bertemu Kakek Nenekmu ?(1)
- Bab 84 Apakah Kamu Mau Bertemu Kakek Nenekmu ?(2)
- Bab 85 Kusarankan Lebih Baik Kamu Pergi Kerja! (1)
- Bab 85 Kusarankan Lebih Baik Kamu Pergi Kerja! (2)
- Bab 86 Menyiksa Istri, Apakah Kau Ingin Aku Mentertawakanmu? (1)
- Bab 86 Menyiksa Istri, Apakah Kamu Ingin Aku Mentertawakanmu? (1)
- Bab 87 Mengapa Aku Harus Cemburu? (1)
- Bab 87 Mengapa Aku Harus Cemburu? (2)
- Bab 88 Pilih Aku Atau Dia? (1)
- Bab 88 Pilih Aku Atau Dia? (2)
- Bab 89 Bantu Aku Menghubungi Kakak Ipar (1)
- Bab 89 Membantu Menghubungi Istri Kakak (2)
- Bab 90 Waktu Tuan William yang Berharga (1)
- Bab 90 Waktu Tuan William yang Berharga (2)
- Bab 91 Rapat Tertutup! Bahkan Sampai Subuh ! (1)
- Bab 91 Rapat Tertutup! Bahkan Sampai Subuh! (2)
- Bab 92 Bisakah Kamu Tidak Mengganggu Mama Lagi (1)
- Bab 92 Bisakah Kamu Tidak Mengganggu Mama Lagi (2)
- Bab 93 Dia, Elaine,Baru adalah Target Semua Orang (2)
- Bab 93 Dia, Elaine,Baru adalah Target Semua Orang (2)
- Bab 94 Hanya Bujuk Lelaki Tua Saja, Apa Hebatnya ?! (1)
- Bab 94 Hanya Bujuk Lelaki Tua Saja, Apa Hebatnya ?! (2)
- Bab 95 Para Ipar (1)
- Bab 95 Para Ipar (2)
- Bab 96 Karena Sumsum Tulangmu Berharga?! (1)
- Bab 96 Karena Sumsum Tulangmu Berharga ?! (2)
- Bab 97 Emangnya Siapa Dia, Apa Pantas Aku Mohon Padanya? (1)
- Bab 97 Emangnya Siapa dia, Apa Pantas Aku Mohon Padanya? (2)
- Bab 98 Mama, Apakah Kakek Benar-benar Sedang Memukul Papa?
- Bab 98 Mama, Apakah Kakek Benar-benar Sedang Memukul Papa? (2)
- Bab 99 Nenek, Mamaku Bukan Pembawa Bencana (1)
- Bab 99 Nenek, Mamaku Bukan Pembawa Bencana (2)
- Bab 100 Ma, Aku Selalu Menghormatimu (1)
- Bab 100 Ma, Aku Selalu Menghormatimu (2)
- Bab 101 Nenek, Kamu Terlihat Lebih Cantik Daripada Mereka Semua
- Bab 102 Aku Tidak Punya Anak Sebenar Ini
- Bab 103 Aku Sendiri Disalahkan Tidak Masalah, Tapi Reece Tidak Boleh
- Bab 104 Direktur Elaine apa yang anda lakukan disini? Menertawakanku?
- Bab 105 Aku Hanya Ingin Mendapatkan Janjimu
- Bab 106 Bahkan Jika Aku Dibunuh, Aku Tidak Akan Menuruti Keinginanmu!
- Bab 107 Aku Benar Seharusnya Membiarkanmu Mati Di Tangan Sopir Itu
- Bab 108 Nenek, Apa Kamu Tidak Sehat
- Bab 109 Dave, Aku Bisa Mengulur, Ibu Tidak Mampu
- Bab 110 Pa, Dave Tidak Menganiaya Istri!
- Bab 111 Tak Perlu Mengobatiku, Aku Tak Akan Mati!
- Bab 112 Dia Diam Dan Mengangguk
- Bab 113 Matanya mirip Dave
- Bab 114 Pada Saat Itu Dia Menikah Ke Keluarga Bo, Bukankah Demi Uang?
- Bab 115 Kamu Duduk Mendekat, Memberinya Makan
- Bab 116 Ini Adalah Rumahnya, Kenapa Dia Harus Pergi?
- Bab 117 Papa, Apakah Kamu Bermarga Bo?
- bab 118 Reece, Tidurlah Bersama Nenek
- Bab 119 Aku Demi Kebaikanmu
- Bab 120 Jenny
- Bab 121 Kenapa Dia Merasa Bersalah?
- Bab 122 Siapa Yang Menyuruh Bibi Zhang Masuk ?
- Bab 123 Jijik
- Bab 124 Akan Kuhancurkan Tanda Cintamu Dan Jenny!
- Bab 125 Mama, Hari Ini Aku Tidak Ingin Pergi ke Sekolah.
- Bab 126 Bertengkar Adalah Arti Benci dan Cinta
- Bab 127 Benar! Aku Adalah Aktor Dadakan
- Bab 128 Dengan Nama Menyiksa Istri Ini Saja, Dia Harus Bercerai Tanpa Meminta Apapun
- Bab 129 Kenapa, Kamu Sangat Memuja Elaine?
- Bab 130 Wanita Itu Menutup Teleponnya?!
- Bab 131 Direktur Qin Tidak Bermaksud Menjelaskan Masalah Video Kepadaku ?
- Bab 132 Harusnya Ayahku Mengaturkan Jabatan Direktur Keuangan Untukmu !
- Bab 133 Dia Tetap Saja Menyiapkan Segalanya Untuk Jenny Lin
- Bab 134 Aku Hampir Mengira Direktur Qin Adalah Pencuri
- Bab 135 Cowok Brengsek Mengubah Tingkah Lakunya
- Bab 136 Membawa Istri dan Anak Tercinta Ke Taman Bermain
- Bab 137 Hidup Papa !!!
- Bab 138 Bawa Kamu Makan Es Krim
- Bab 139 Nona Bo
- Bab 140 Mama, Sakit Perut...
- Bab 141 Aku Sengaja Memberi Anakmu Makan Tiga Mangkuk Es Krim
- Bab 142 Ayah dan Ibu Menemaniku Tidur
- Bab 143 Penampilannya Saat Mengancamnya, Sangat Tidak Asing
- Bab 144 Mimpi
- Bab 145 Presiden Bo, Kamu Tidak Ingin Mejelaskan Gunting Yang Ada Di Tanganmu Kah?
- Bab 146 Rekomendasi Tempat Tes DNA
- Bab 147 Dave, Apakah Aku Membicarakan Kakak Ipar?
- Bab 148 Hubungan Direktur Lu dengan Direktur Qin sangat dekat
- Bab 149 Elaine Orang Itu, Pantaskah Aku Mendapatkan Cambuk Kedua Kalinya?
- Bab 150 Hati-hati, Tidak Antar !
- Bab 151 Aku Sendiri Yang Tidak Hati-Hati Sehingga Sobek
- Bab 152 Jika Tidak Berbicara Dengan Baik, Dia Tidak Akan Tidur
- Bab 153 Harto Feng
- Bab 154 Dave, Aku Tidak Akan Mencintaimu Lagi
- Bab 155 Mengapa Papa Bisa Tidur Di Lantai
- BAB 156 Hari Peringatan Abang Ketiga
- Bab 157 Ayah, Ini Salahku
- Bab 158 Mata Ayah Sangat Tajam
- Bab 159 Apakah Ini Adalah Didikan Keluarga Shen
- Bab 160 Biarkan Reece Ikut Dengan Anak Nakal Ini
- Bab 161 Kenapa Dia Mau Membantu Elaine?
- Bab 162 Kamu tidak suka bermain petak umpet dengan ibumu?
- Bab 163 Dave, aku tidak ingin mengancammu!
- Bab 164 Reece Qin Tidak Disini !
- Bab 165 Malam Ini Hujan Deras
- Bab 166 Kelihatannya Direktur Qin Kecanduan Berakting
- Bab 167 Dave, Aku Sudah Menyesal
- Bab 168 Elaine, Aku Sengaja Jatuh Ke Air
- Bab 169 Kembali Padamu?
- Bab 170 Reece Sudah Ditemukan
- Bab 171 Bajingan Itu Yang Telah Menyebabkan Semua Ini
- Bab 172 Dave, Jalan Ini Berbahaya
- Bab 173 Apakah Dia Khawatir Tentang Elaine?
- Bab 174 Elaine Sudah Mati?
- Bab 175 Gunung Longsor
- Bab 176 Yang Mana Obat Hemostatik
- Bab 177 Apa Kamu Tunggu Orang Cari Kesempatan?
- Bab 178 Dia Memiliki Banyak Pria
- Bab 179 Masuk Gunung Menyelamatkan Orang
- Bab 180 Demam Tinggi
- Bab 181 Kamu Temani Dia Saja
- Bab 182 Tidak Ingin Membiarkan Elaine Meninggal
- Bab 183 Dasar Ucapan Sial Dari Mulut Elaine
- Bab 184 Dave, Kamu Jangan Salahkan Aku
- Bab 185 Putraku, Belum Turun Gunung!
- Bab 186 Wanita Yang Pantas Mati Ini!
- Bab 187 Dave Sengaja Meninggalkan Elaine
- Bab 188 Elaine, Dave Ingin Membunuhmu!
- Bab 189 Reece Masih Di Rumah Lama Menunggumu
- Bab 190 Papa Menarik Tim Pencarian Dan Penyelamatan
- Bab 191 Elaine Berencana Membunuh Adik Keempat
- Bab 192 Binatang Itu Mencoba Membunuh!
- Bab 193 Biarkan Mereka Naik Gunung Dan Mencari Dave
- Bab 194 Qin Yan diselamatkan?
- Bab 195 Menyatukan Keluarga Kalian Bertiga
- Bab 196 Dave, Aku Harap Kamu Mati !
- Bab 197 Elaine Masih Istriku!
- Bab 198 Aku Satu-Satunya Pewaris Tunggal Keluarga Bo
- Bab 199 Berhenti!
- Bab 200 Lain Kali Pura-Pura Mati, Tunjukkan Trik Yang Baru
- Bab 201 Pembunuhan Itu Ilegal
- Bab 202 Wajah Direktur Qin Hari Ini Sangat Cantik
- Bab 203 Membunuh Sandera?
- Bab 204 Dave, Aku Hanya Punya Reece
- Bab 205 Aku Ingin Disini Menemani Reece
- Bab 206 Kerja Dengan Rapi
- Bab 207 Sistemnya Buruk
- Bab 208 Aku Pergi Denganmu
- Bab 209 Reece Maaf, Ibu Terlambat
- Bab 210 Predir Bo Punya Uang, Begitu Pelit
- Bab 211 100 Miliar Untuk Membeli Nyawa Seorang Anak
- Bab 212 Apakah Elaine Sedang Berpura-pura Lemah Di Depannya?
- Bab 213 Dipertanyakan Secara Terbuka
- Bab 214 Jika Kamu Menginginkan Seseorang Berlutut Padamu, Aku Saja Yang Berlutut Padamu
- Bab 215 Mama, Ada Suara Apa Di Luar
- Bab 216 Adik Ipar Keempat, Jangan Dengarkan Omong Kosong Anak Kecil
- Bab 217 Kamu Benar-benar Menggadaikan Rumah David?
- Bab 218 Dave Kejam
- Bab 219 Ternyata Yang Berkomunikasi Dengan Mereka Itu Wanita
- Bab 220 Seharusnya Aku Membiarkannya Ditimpa Batu Hingga Mati
- Bab 221 Ayah Ibu, Apakah Kalian Bertengkar ?
- Bab 222 Untuk Apa Panggil Dokter
- Bab 223 Begitu Bodoh
- Bab 224 Masih Ada Orang Di Luar
- Bab 225 Elaine, Kamu Benar-Benar Terlalu Percaya Diri
- Bab 226 Ayah Akan Sakit Perut Jika Dia Tidak Makan
- Bab 227 Sandal Paman John
- Bab 228 Dave, Kami Harus Istirahat
- Bab 229 Aku Pergi Cari Reece
- Bab 230 Menggunakan Alasan Pekerjaan Untuk Keperluan Pribadi
- Bab 231 Dave, Apa Maksudmu?
- Bab 232 Kenapa, Main Trik?
- Bab 233 Mau!
- Bab 234 Berniat Mencari Pria Lain?!
- Bab 235 Tamu Intim yang Tak Terhitung
- Bab 236 Berpura-Pura Lagi Dengan Dia
- Bab 237 Jam Kerja
- Bab 238 Apakah Tidur Di Jam Yang Salah ?
- Bab 239 Dipaksa Minum
- Bab 240 Dave Datang Melakukan Tes DNA !
- Bab 241 Kemampuan Minum Direktur Elaine Kami Tidak Terlalu Baik
- Bab 242 Apa Kamu Menganggap Semua Laki - laki Di Dunia Ini Sama Butanya Dengan Kamu ?