My Cold Wedding - Bab 9 Harga Dirinya Terjual
Tidak tahu sudah berapa banyak bir yang diminum, Bella hanya mengingat cahaya aneh di ruangan yang berkelap-kelip, memancar ke tubuh 2 orang yang ada di sofa, David mengelus wajah Vanny, ekspresinya yang begitu dalam tak terjelaskan: “Anqila, Anqila, aku sangat merindukanmu...”
David mencium Vanny dengan penuh hasrat, dan dengan penuh perasaan mulai melucuti pakaian Vanny, di depan mata Bella mereka berdua saling bergumul melakukan seks melepaskan hasrat masing-masing.
Vanny dengan bangga melihat Bella, suaranya terdengar nyaring: “David, kamu hebat sekali, pelan sedikit...”
Butir-butir air dari wajah Bella mengalir tidak tahu entah itu air mata atau air bir.
Bella sudah tidak bisa membedakan, udara di ruangan seketika diselimuti bau percintaan, leher Bella seperti tercekik akan bau itu dan membuat paru-parunya sakit.
Ketika mereka selesai dengan pergumulannya, di bawah lantai sudah tertata rapi 16 botol bir.
David tanpa menghitung nominal cek, mencabut beberapa lembar cek dan melemparkannya ke Bella: “Mau uang, itu pungut sendiri!” Cek berwarna merah jambu berterbangan jatuh ke lantai, Bella berlutut di lantai, memungut satu lembar cek, dengan hati yang sesak, memungut satu lembar lainnya lagi, setelah memungutnya, satu lembar terakhir jatuh di depan kaki Vanny, Bella baru mau mengulurkan tangannya memungut, cek dengan sengaja di pijak oleh Vanny, Vanny tertawa, dan dengan suara puas bertanya: “Mau ya?”
Cek digenggaman tangannya baru 4 juta lebih, masih belum cukup membayar baju sekolah Doni, setiap lembar cek baginya saat ini sangat berguna.
Dan sudah di posisi seperti ini, dia bisa apa?
Vanny hanya dengan wajahnya yang mirip dengan Anqila bisa mendapatkan perlakuan istimewa dari David, Bella berusaha melawan pun hasilnya nihil.
Akhirnya dia dengan pasrah mengatakan: “Aku mau.”
“Kalau mau, ayo sini aku mau dengar kamu gonggong dulu?” Wajah Vanny tersenyum bahagia.
Kepala Bella rasanya sudah mau pecah, dengan mengernyitkan dahi menahan rasa sakit, efek dari bir yang di minumnya membuatnya ingin muntah.
Plak--
Tangan yang penuh tenaga menampar pipi Bella, membuatnya terjungkal, kepalanya menabrak lemari bir, satu lemari isi bir berjatuhan menimpa dan pecah mengenai tubuhnya, botol kaca bir yang pecah menyebabkan luka darah di tubuhnya.
“Anqila menyuruhmu menggonggong, kamu gak dengar ya?!” David memecahkan satu botol bir, dengan ujung pecahan bir yang tajam menyaretnya di leher Bella: “Cepat gonggong!”
Bella karena kesakitan mulai sedikit sadar, air mata yang hangat mulai luruh, dia menangis sambil tertawa: “David, kamu lihat dengan jelas, dia bukan Anqila!”
Kata-kata itu baru keluar dari mulut Bella, dan David dengan penuh tenaga menghempas beberapa lembar cek, “Diam! Kamu bukannya cuma mau uang? Ini, cepat gonggong!”
Vanny tersenyum bahagia mendekati Bella dan David, tubuhnya meringkuk ke dalam pelukan David, dengan pandangan mengejek melihat Bella: “Iya, aku memang bukan Anqila, tapi dia hanya dengan wajahku yang mirip Anqila akan selalu memanjakanku, kalau kamu sudah sadar ayo gonggong, kalau mood aku udah baik, aku bisa jadi akan meminta pada David untuk memberikanmu uang lebih banyak lagi.”
David menggendong tubuh Vanny kembali ke sofa: “Kamu peduli sama dia buat apa, dia yang sudah menyakitimu, ini adalah balasan untuk dia...”
Dua orang kembali bergumul, tak lama terdengar nafas mereka yang terengah-engah, bunyi sofa yang keriat-keriut karena aktifitas mereka, dan suara David yang terus memanggil nama Anqila.
Bella menyentuh wajahnya, tangannya berlumuran darah segar.
Sudahlah, seperti ini saja, dia dari awal sudah tahu akhirnya akan seperti ini, untuk apa bersedih lagi?
Bella membungkukkan badan memungut uang, satu lembar demi satu lembar saling berdempetan, dia tanpa tenaga bersandar di belakang sofa dengan gemetaran menghitung lembar cek di tangan, dan setelah di gabungkan, 16 juta.
Di tambah dengan hasil menjual darah, akhirnya cukup hingga 20 juta.
Bella menghela nafas panjang, lumayan, walaupun harga dirinya sudah terjual, tapi tidak juga rugi, karena dia bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya baju adiknya.
Bella diam-diam meninggalkan ruangan.
Akhirnya Bella kembali melihat matahari, dan hari ini sudah hari ketiga semenjak kejadian itu.
Saat itu dia minum bir terlalu banyak dan hampir keracunan, keluar dari kamar terjatuh tak sadarkan diri, akhirnya setelah 3 hari hanya terbaring di lantai dia hari ini bisa kembali berjalan normal.
Bella mengirim uang 20 juta ke adiknya, dan terus mengingatkan adiknya untuk rajin belajar.
Setelah telepon terputus, tiba-tiba ada telepob dari kakek David.
“Kakek.”
Kakek David mendengar Bella masih memanggilnya kakek, hatinya lega: “Gosip di majalah itu sungguhan? Kamu dan David benar-benar bercerai?”
Bella mengingat kakek David yang selalu menjaganya, hatinya tidak tega mengatakan kebenaran sesungguhnya, Ayah David tinggal di luar negeri, jarang pulang ke rumah, ibu David juga tidak suka padanya, di rumah cuma kakek David yang menjaga dan melindunginya.
“Kakek, kamu jangan marah, aku dan David walaupun sudah bercerai tapi aku akan tetap menganggapmu sebagai kakekku dan orang yang berjasa dalam hidupku.”
“Sembarangan!” Suara kakek terdengar emosi: “Malam ini kamu pulang makan di rumah, anak kurang ajar itu kalau dia memperlakukanmu dengan buruk bilang sama kakek, kakek akan membantumu! Anak muda zaman sekarang kok bisa menganggap remeh pernikahan, kamu sekarang dimana? Aku suruh supir pergi menjemputmu.”
Bella tidak bisa mengelak, juga takut membuat darah tinggi kakek kumat lagi, dia hanya bisa memberi tahu alamatnya dan membiarkan supir menjemputnya.
Sampai di rumah keluarga David, Bella merasa dejavu.
Waktu datang pertama kali hari itu adalah hari pernikahan, setelah menikah David membuangnya ke villa yang jauh dan tak tahu dimana letaknya, dia mau keluar dari villa harus berjalan jauh hingga sampai di stasiun bus.
Ibu David-Jesy dengan puas berkata: “David akhirnya cerai juga denganmu, kalau bukan karena kamu, aku saat ini pasti sudah bisa menggendong cucu!”
Alis Bella mengkerut, mengingat anaknya yang sudah meninggalkannya, hatinya masih terasa begitu sakit.
Kakek David dengan tongkatnya dari lantai atas menghampirinya, dengan suara keras berkata: “Kamu ngomong sembarangan apa? Melihat mereka bercerai kamu begitu bahagia ya?”
Jesy tidak terima, tapi juga tidak berani melawan kakek David di depan Bella, jadi hanya dengan suara kecil mendumel: “Dia hanya seekor induk ayam yang tidak bisa bertelur, seharusnya sudah dari awal dibuang!”
Dumelannya masih terdengar oleh kakek.
“Diam kamu!” Kakek dengan emosi membuncah memukul tongkatnya ke lantai, “Pergi makan, kasih makan Bella supaya badannya sehat, ini kamu lihat badannya sekarang kurus sekali.”
Jesy tidak puas berjalan pergi, sebelum pergi matanya melototi Bella dan bergumam: “Padahal sudah bukan bagian keluarga kami, tapi masih berani datang kesini, sungguh tidak punya urat malu.”
Kakek David menghela nafas, menarik Bella duduk di atas sofa, bertanya: “Kamu jangan takut, ayo ngomong sama kakek, gosip yang di tulis di majalah itu sebenarnya apa?”
Bella melihat majalah yang di sodorkan kakek padanya, matanya pedih, foto itu foto saat dirinya yang tanpa busana dikelilingi Beni dan teman-temannya, walaupun cahaya gelap tapi masih bisa terlihat wajahnya yang panik dan ketakutan.
【Bella perform penuh gairah di pesta, hot topik!】
Kecuali judul yang cemerlang, isi dari berita di tulis begitu panjang lengkap bagaimana dia dari kecil hingga bersahabat baik dengan Anqila dan akhir dia mencelakai Anqila, menjadi nona muda di keluarganya, semua di tulis dengan kata-kata pedas, hanya kurang nama di tulis dan Bella hampir di cap menjadi seorang perempuan yang amat sangat kejam dan tak bermoral.
Bagian akhir ada David yang menerima wawancara wartawan, dan disana dia mengatakan kalau dia dan Bella sudah bercerai dari awal.
“Majalah gosip zaman sekarang bisa sekali mengarang cerita, Bella dari kecil aku sudah melihatnmu, dari kecil sudah patuh, ini pasti musuh demi bisnis dan sengaja mendorong ke bawah keluarga kita hingga berani melakukan ini padamu.”
Perasaan Bella sekarang campur aduk, dia harus bagaimana menjelaskan ini semua pada kakek, karena foto di dalama majalah benar foto dia?
Dia dari awal sudah bukan Bella yang patuh lagi, dia sekarang hanyalah seorang pelacur yang rela menjatuhkan harga diri hanya untuk mendapatkan uang!
Dari pintu tiba-tiba terdengar suara Jesy yang bahagia: “Anakku sudah pulang!”
Wajah David terlihat suram tiba di ruang tamu, dengan dingin menatap Bella: “Kakek, berita di majalah itu semuanya benar.”
“Anak kurang ajar, kamu bagaimana bisa mengatakan itu pada istrimu? Omong kosong di majalah ini kamu juga percaya?”
David tertawa hambar, matanya menatap tajam wajah Bella yang sekarang sudah pucat pasi: “Foto ini aku sendiri yang menjepretnya bagaimana mungkin bisa palsu?”
Novel Terkait
My Only One
Alice SongMy Enchanting Guy
Bryan WuPernikahan Kontrak
JennyBeautiful Love
Stefen LeeIstri Yang Sombong
JessicaTen Years
VivianBalas Dendam Malah Cinta
SweetiesMy Cold Wedding×
- Bab 1 Pernikahan Yang Hancur
- Bab 2 Tidak Mau Bercerai, Saya Hanya Bisa Membiarkan Dirinya Kehilangan Pasangannya
- Bab 3 Sepertinya Perkataan Saya Tidak Kamu Ingat Dengan Baik
- Bab 4 Kamu Menggangap Saya Tidak Berani Membunuhmu?
- Bab 5 Musuh Yang Tidak Dapat Di Kalahkannya
- Bab 6 Derita yang Dia Rasakan Harus Kamu Rasakan Juga
- BAB 7 Tidak Punya Jalan untuk Melarikan Diri
- Bab 8 Asalkan Bisa Menyelamatkan Satu Nyawa
- Bab 9 Harga Dirinya Terjual
- Bab 10 Ini Adalah Takdir Wanita
- Bab 11 Orang Lain Tidak Menginginkanmu, Tetapi Aku Menginginkanmu
- Bab 12 Gimana Jika Dia Benar-benar Mati?
- Bab 13 Berikan Kompensasi Anqila Pada Cindy
- Bab 14 Kebeneran Berdarah
- Bab 15 Melihat Ke Belakang
- Bab 16 Mengapa Kamu Tidak Bisa Mempercayaiku, Meskipun Hanya Sekali?
- Bab 17 Aku akan Memenuhinya dalam Waktu Satu Hari
- Bab 18 Diluar Kebenaran
- Bab 19 Aku Tidak Membunuh
- Bab 20 Kehidupan Di Penjara
- Bab 21 Video Pengawasan
- Bab 22 Pertempuran Pertama
- Bab 23 Dia Tidak Mengecewakanku, Rupanya Cukup Ganas
- Bab 24 Kita Akan Bertemu Lagi
- Bab 25 Kehidupan Yang Berantakan
- Bab 26 Kenyataan Memaksaku Untuk Menjadi Cuek
- Bab 27 Kehangatan yang Lama Tak di Rasakan
- Bab 28 Besok Kita Cerai
- Bab 29 Bukannya Aku Tak Pernah Berusaha
- Bab 30 Aku Tak Melihat Apapun
- Bab 31 Sahabat Wanita Yang Antusias
- Bab 32 Aku Sudah Cukup Dipermalukan
- Bab 33 Gosip Yang Merajalela Di Dunia Maya
- Bab 34 Kamu Ada Bukti Apa Berani Mengatainya
- Bab 35 Aku Menunggu Surat Pengadilanmu
- Bab 36 Grup A dan B
- Bab 37 Karyawan Sementara
- Bab 38 Masih Ingat Impianku Waktu Kecil?
- Bab 39 Kamu Tidak Aman Sendirian
- Bab 40 Masalah Reputasi Individu
- Bab 41 Siapa Bilang Kamu Tidak Mampu Membelinya
- Bab 42 Jelas Jelas Aku Sedang Memarahimu
- Bab 43 Keputusan Bukan Ditangannya
- Bab 44 Bahaya Ketika Mabuk
- Bab 45 Keluar Dari Mulut Harimau
- BAB 46 Rahasia ANQILA
- Bab 47 Bella, Kemari!
- Bab 48 Meskipun Aku Dijual, Aku Juga Tidak Akan Mau Uangmu
- Bab 49 Kalau Begitu Tidak Usah Cerai
- Bab 50 Aku Bukanlah Anqila
- Bab 51 Pesta Makan Menjelang Perceraian
- Bab 52 Sepertinya Ia Tidak Terburu-buru Untuk Bercerai
- Bab 53 Kamu yang Paling Mengerti Dia
- Bab 54 Ide Yang Cukup Bagus
- Bab 55 Aku Memiliki Cara untuk Menangkapmu Kembali
- Bab 56 Tangan Mana yang Menyentuhnya?
- Bab 57 Selera Yang Aneh
- Bab 58 Sengaja Mempersulit
- Bab 59 Spesifikasi Bercerai
- Bab 60 Bersiap Untuk Pergi Keluar Negeri
- Bab 61 Dia Sedang Mandi, Ada Perlu Apa, Sampaikan Saja Padaku
- Bab 62 Uangnya, Anggap Saja Aku Yang Meminjamnya Darimu
- Bab 63 Bella Akan Kembali Kujaga
- Bab 64 Mungkinkah Hamil?
- Bab 65 Lahir Kalau Memang Ada
- Bab 66 Masyarakat Di Kota Ini Bermain
- Bab 67 Apakah Kamu Merasa Sekotor Itu?
- Bab 68 Panggil Saya Suamimu
- Bab 69 Karena Sudah Tidak Peduli, Baru Bisa Sesadis Ini
- Bab 70 Masa Lampau Itu
- Bab 71 Selamat Tinggal,David
- Bab 72 Perceraian
- Bab 73 Petemuan Ini Seperti Takdir
- Bab 74 Kenapa Tidak Berani Melihatku
- Bab 75 Menjadi Kekasihku
- Bab76 Dia Tidak Punya Kaki Sampai Harus Di Antar?
- Bab 77 Aku Memberikanmu Satu Kali Kesempatan Untuk Mencintaiku
- Bab 78 Dijual Ke David
- Bab 79 Hanya Menyampaikan Ini, Jaga Diri Dengan Baik
- Bab 80 Perjodohan
- Bab 81 Adegan Familiar
- Bab 82 Petani Dan Ular
- Bab 83 Ini Hanya Kompensasi
- Bab 84 Mulai Sementara
- Bab 85 Menjalankannya Bersama Akan Ada Hasil
- Bab 86 Bella, Jalan Kita Masih Panjang
- Bab 87 Anak Tidaklah Bersalah
- Bab 88 Jika Ini Semua Bukanlah Cinta
- Bab 89 Kakak Ipar
- Bab 90 Identifikasi Orang Tua-Anak
- Bab 91 Kamu Hanya Menganggap Saya Masa Lalu
- Bab 92 Lagu Ulang Tahun
- Bab 93 Bersama Dalam Kesulitan
- Bab 94 Saya Tidak Bilang Selesai
- Bab 95 Willy
- Bab 96 Kita Menikah Kembali
- Bab 97 Atas Dasar Wanita Saya
- Bab 98 Balas Dendam Cindy
- Bab 99 Aku Tidak Taruhan Dengan Orang Gila
- Bab 100 Apakah Kamu Pernah Mencintaiku?
- Bab 101 Hanya Bisa Memilih Satu
- Bab 102 Aku Adalah Bajingan
- Bab 103 Aku Tahu Kamu Tidak Mencintai Aku
- Bab 104 Mimpi Besar Dan Belum Tersadar
- Bab 105 Berakting
- Bab 106 Bella, Aku Datang Mencarimu
- Bab 107 Jangan Usir Aku
- Bab 108 Pertunjukkan dari Ketiga Laki-laki
- Bab 109 Konfrontasi Kamar Mandi
- Bab 110 Bajingan Kecil
- Bab 111 Mesin Cuci Yang Kesepian
- Bab 112 Ibu-Anak Anti-View
- Bab 113 David Adalah Lelakiku
- Bab 114 Jika Kamu Tak Buka, Aku Yang Bantu Membukanya
- Bab 115 Kejujuran
- Bab 116 Aku Pasti Bisa Membawamu Ke Puncak
- Bab 117 Harga Diriku Melarangku Mengulangi Kesalahan Yang Sama
- Bab 118 Kembalilah, Ya?
- Bab 119 Menikah Dengan Sekali Lagi
- Bab 120 Kita Menikah Saja
- Bab 121 Tidak Bisa Berhasil Belajar
- Bab 122 Gembi Gu Dalam Bahaya
- Bab 123 Aku Ingin Kamu dengan Senang Hati Menikah Denganku
- Bab 124 Mulai Hari Ini, Kamu Harus Selalu Berada di Sampingku
- Bab 125 Hutang Wanitaku, Biar Aku Yang Membayarnya
- Bab 126 Keadaan Yang Baik
- Bab 127 Semua Ini Karena Sup Ayam
- Bab 128 Di Antara Kita Mana Ada Lagi Hubungan Keluarga Yang Bisa Dianggap
- Bab 129 Kebenaran Yang Tersembunyi dan Terlihat
- Bab 130 Akulah Alasannya
- Bab 131 Ucapan Buruk Yang Menjadi Nyata
- Bab 132 Menggoda
- Bab 133 Mengulang Trik Lama
- Bab 134 Aku Pernah Mencintaimu
- Bab 135 Bawa Aku Pergi
- Bab 136 Ayuk Ke Pantai
- Bab 137 Pembunuh
- Bab 138 Melarang
- Bab 139 Pergilah, Aku Membiarkanmu Pergi
- Bab 140 Kecepatan Hidup dan Mati
- Bab 141 Kali Ini, Giliranku Yang Menunggumu
- Bab 142 Patah Hati
- Bab 143 Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 144 Aku Hanya Mau Satu Jawaban
- Bab 145 Memulai Kehidupan Baru
- Bab 146 Negara Asing
- Bab 147 Jika Suatu Hari Nanti Aku Bisa Melupakannya
- Bab 148 Tom
- Bab 149 Di Dunia Ini, Mana Ada Begitu Banyak
- Bab 150 Ditakdirkan Bersama tapi Terpisah oleh Lautan
- Bab 151 Selamat Tinggal yang Tidak Bisa Terucapkan
- Bab 152 Aku Membencinya, Aku Mencintainya
- Bab 153 Reinkarnasi Kehidupan
- Bab 154 Aku Akan Membayarnya dengan Segala Milikku
- Bab 155 Kembali ke Negeri Asal
- Bab 156 Berpapasan yang Terlewatkan
- Bab 157 Jika Suatu Hari Aku Membohongimu
- Bab 158 Eric Lee
- Bab 159 Dia Adalah Sumber Segala Ketakutanku
- Bab 160 Jangan Menolakku Ya
- Bab 161 Pada Akhirnya Kembali Bertemu
- Bab 162 Kamu Masih Membenciku
- Bab 163 Bintang di Langit, Dia di Hati
- Bab 164 Hanya Masa Lalu
- Bab 165 Tidak Ada Satupun Yang Bisa Dibandingkan Dengannya
- Bab 166 Aku Hanya Ingin Berbuat Baik Kepadamu
- Bab 167 Menebus Kesalahan
- Bab 168 Hebat
- Bab 169 Pengajaran Berkualitas
- Bab 170 Hai Orang Asing
- Bab 171 Mengadu Kecerdasan dan Keberanian
- Bab 172 Masih Ada Berapa Lama Waktu Dihabiskan Untuk Merasa Kesal
- Bab 173 Kapitalis Jahat
- Bab 174 Hati Kecil
- Bab 175 Keangkuhan, Fanatik, Sok Berkuasa, dan Tidak Gampang Menyerah
- Bab 176 Tuan Kelima
- Bab 177 Identitas Nino
- Bab 178 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan
- Bab 179 James Pahlawan tiada tanding
- Bab 180 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan (3)
- Bab 181 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya
- Bab 182 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (5)
- Bab 183 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (6)
- Bab 184 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (7)
- Bab 185 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (8)
- Bab 186 Karnaval Terakhir
- Bab 187 Pertaruhan Hidup
- Bab 188 Biar Aku yang Menemanimu Mati
- Bab 189 Jangan Tanya Tentang Masa Depan
- Bab 190 Epilog
- Bab 190 Epilog (2)
- Bab 191 Epilog (Benar) (1)
- Bab 191 Epilog (Benar) (2)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (1)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (2)
- Bab 193 Wawancara Suami Istri
- Bab 194 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (7)
- Bab 195 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (8)
- Bab 196 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (9)