My Cold Wedding - Bab 8 Asalkan Bisa Menyelamatkan Satu Nyawa
Setelah keluar dari klinik, tubuh Bella sempoyongan.
Jane dengan cepat menyanggahnya: “Apakah kamu masih baik-baik saja?”
Bella menahan air matanya, menggelengkan kepala: “Uangnya tidak cukup, masih tidak cukup...Kakak Jane,aku masih ada kornea mata, masih ada liver, tolong bawa aku...”
Jane dari tasnya mengeluarkan segepok uang dan memberikannya pada Bella: “Kalau kamu masih ngotot, nyawa kamu akan hilang. Uang ini kamu ambil dulu, jangan menolak lagi, nanti kalau kamu ada uang baru kembalikan padaku.”
“Kak Jane...”
“Sudah, sudah, cepat kirim uang ini ke adikmu.”
Selesai mengirim uang, Bella menelepon Doni: “Doni, uang sudah masuk belum?”
Doni masih dengan perasaan tidak puas berkata: “Sudah, kak, lain kali kirimnya tepat waktu ya, sekelas cuma aku sendiri yang terakhir bayar, memalukan sekali.”
“Iya, lain kali kakak akan kirim tepat waktu, maafkan kakak ya.”
Doni tiba-tiba terpikir kalau dirinya sangat ingin membeli sebuah alat game, teman-teman di kelasnya sudah banyak yang membelinya, dan dia sudah lama menginginkannya, dia mulai berbohong: “Kak, minggu depan aku masih harus membayar baju sekolah, 20 juta, kakak secepatnya kirim ke aku ya! Kali ini jangan sampai telat ya.”
20 juta, baju di sekolahan anak kaya raya begitu mahal kah...
Bella menggigit bibirnya: “Baiklah, kamu belajar baik-baik ya, sisanya jangan dipikirin, ada kakak yang membantumu.”
“Iya, iya, aku tutup ya teleponnya, ingat kirim uang, semakin cepat semakin baik.” Doni dengan tidak sabar menutup telepon.
Jane membawa Bella pulang ke klub malam, mengangkat dagunya membantunya mengobati luka di wajahnya: “Vanny sungguh keterlaluan memperlakukanmu hingga seperti ini.”
Dalam ingatan Bella, hari itu yang menginjak wajahnya sepertinya adalah kakaknya, dan ternyata dia salah, orang itu adalah Vanny.
Jane berkata, “Tidak tahu Vanny mendengar kabar David dan kakakmu dari mana, lalu mengikuti bentuk wajah kakakmu pergi oplas, dia berniat menggoda David, tapi akhirnya tidak berhasil malah di hina habis-habisan, makanya dia melampiaskan kemarahannya padamu.”
Bella akhirnya mengerti, Vanny selama ini tidak suka padanya, luka di wajahnya dua kali, juga nyawa anak di dalam kandungannya, semua hancur dan mati karena perbuatannya.
“David menyerahkan Vanny padaku, menyuruhku memberinya pelajaran, aku akan meminta pertanggung jawabannya atas perbuatannya padamu.”
Bella ingin mengucapkan terima kasih, tapi merasa kata terima kasihnya tidak berarti.
Satu minggu kemudian.
Luka di wajah Bella membaik, Jane sedang membantunya mengobati luka di wajahnya.
Ada orang datang mencari Jane: “David direktur perusahan LS datang, menanyakan keberadaan Bella dan Vanny dimana.”
Jane mengernyitkan dahinya berdiri: “Bawa Vanny pergi menemuinya, bilang kalau Mawar terluka dan izin kerja.”
Bella masih ragu-ragu, akhirnya membuka suara: “Terima kasih kak Jane, aku sebaiknya pergi kesana, setidaknya dengan seperti ini aku bisa menyelamatkan satu nyawa, terserah dia mau bagaimana menyiksaku.”
Setelah keluar, dia melihat Vanny yang terlihat canggung.
Dia sepertinya belum lama melakukan operasi plastiknya, wajahnya masih terlihat tidak natural, melihat matanya yang memancarkan aura kebencian: “Melihat tuan David datang langsung cepat mengejarnya, masih tidak tega meninggalkan hartanya? Masih berpura-pura menjadi wanita suci!”
Bella menundukkan wajahnya, “Ayo jalan.”
Kalau saja dia punya cara lain, pasti tidak akan jatuh dan bergantung pada kehidupan dan kegiatan di klub malam, dan kalau dipikir-pikir Vanny juga orang yang patut di kasihani, sama sepertinya cuma karena tuntutan kehidupan membuatnya menjadi picik.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Anqila, David bagaimana mungkin tidak ingat?
Bella dari awal sudah mempersiapkan dirinya, dia tahu David datang kesini hanya untuk menyiksanya.
Masih di kamar VIP yang biasanya, tapi kali ini hanya ada David sendiri disana.
Matanya menatap Bella: “Bukannya bilang tidak ada uang pergi? Uang adikmu 60 juta datang dari mana?”
Dia tahu?
Iya juga, di kota H semua yang ingin dia tahu, bukan suatu hal yang sulit.
“Bella, dasar kau pelacur, hanya berbaring membuka kaki sudah bisa mendapatkan uang, orang sepertimu bagaimana bisa menyerah pada pekerjaan yang mudah seperti ini?” Dia menunjuk kakinya: “Bukannya kamu bilang kamu mau jadi anjing liar? ayo sini, berlutut!”
Bella menggigit bibirnya, dia memberi tahu dirinya, Bella, kamu harus tahan, asalkan bisa menyelamatkan nyawa dan mengumpulkan uang untuk Doni, asalkan masih bisa hidup, apalah arti harga diri? apalah arti moral? Semuanya adalah miliknya saat di keluarganya, bukan milik Mawar yang saat ini bekerja menemani tamu di klub malam.
Kedua lututnya menyentuh tanah, tubuhnya condong ke arah kaki David.
Dirinya begitu rendah seperti semut.
Bir yang begitu dingin dari kepalanya turun ke bawah, satu botol demi satu botol, luka di wajahnya terbakar karena cairan bir yang keras, rasanya panas dan sangat sakit.
“Dulu kamu memikirkan berbagai cara agar bisa menikah denganku, juga karena melihat kekayaan keluargaku kan?” David berbicara sambil menggertakan giginya.
Bibir Bella bergetar, dari hatinya paling dalam berteriak: Bukan, semuanya aku lakukan karena aku cinta padamu...
Bella tersenyum pahit menggelengkan kepala, kata-kata ini kalau keluar dari mulutnya, David pasti hanya akan menganggapnya sebuah lelucon.
Rasa cintanya, bahkan tidak sebanding dengan sehelai rambut Anqila, hidupnya hanya pantas di bawah kaki Anqila.
“Aku beli satu botol bir, kamu mau jual berapa?” David membuka satu botol bir lagi, menumpahkannya ke seluruh badan Bella, bunyi 'tik-tik' air bir jatuh ke lantai membentuk genangan.
Bella menutup matanya: “200 ribu.”
“Heh, baiklah, lagi pula aku punya banyak uang, hari ini kamu minum berapa botol, aku beli berapa botol.”
Bella dengan cepat mengangkat kepalanya: “Sungguh?”
David mengangkat ujung bibirnya, “Tentu saja.”
Uang baju sekolah adiknya belum terbayar, segala pekerjaan yang menghasilkan uang akan dia terima.
“Baik, aku minum.”
Pelayan bir membawa 2 kotak vodka ke dalam, bau bir di dalam ruangan itu begiti menyengat membuat kepala Bella pusing.
Donasi darah paling tinggi hanya bisa menarik 400ml darah, tapi dia memaksa dokter mengambil darahnya hingga 800ml, wajahnya sekarang terlihat pucat.
Membuka tutup botol, dia langsung menegak bir, dalam ruangan hanya terdengar suaranya yang meneguk bir.
“Satu botol.” Bella meletakkan satu botol bir yang sudah kosong di atas meja, lalu mengambil satu botol lainnya dan menegaknya.
“Dua botol.”
“...”
“Lima botol.” Kadar alkohol begitu tinggi, Bella sudah tidak mampu berlutut, tapi masih dengan mengernyitkan dahi tidak berhenti menegak bir, dia minum terlalu terburu-buru hingga tersegak, membuat air mata dan ingusnya juga ikut keluar.
Lima kertas cek di buang ke wajahnya, suara David terdengar bergema: “Satu juta, lanjutkan.”
Rasa sakit di kepalanya seperti mau pecah, air matanya mengaburkan pandangannya, Bella menggelengkan kepalanya: “Tidak bisa, tidak bisa minum lagi, aku sungguh tidak bisa...”
“1 juta sudah membuat kamu puas?” David menepuk tempat kosong di sebelahnya, menyuruh Vanny duduk disana.
Vanny kesenangan dengan cepat pergi ke sebelah David, membiarkan David memegang dahunya melihat bagian kiri-kanan wajahnya.
“Siapa namamu?”
“Vanny, tuan David, nama saya Vanny.”
“Hari ini, nama kamu Anqila.” David saat ini juga minum banyak bir, melihat wajah Vanny yang di depannya tidak begitu jelas, “Anqila, kamu sudah meninggalkan ku 4 tahun lamanya, kamu tahu tidak aku begitu merindukanmu?”
Vanny terkejut bahagia menaruh tangan David di dadanya: “Tuan David, aku juga merindukanmu, aku bisa melakukan apa saja untukmu...”
“Hehe,” Pandangan mata David mengabur, dia menunjuk Bella yang ada di bawah kakinya, bertanya pada Vanny: “Anqila menurutmu, dia murahan tidak?”
“Murahan sekali, melihat pria kaya langsung mendekatinya!” Vanny dengan sengaja menjelekkan Bella, “Tuan David, suruh dia pergi dari sini saja ya? Saya mempunyai banyak cara untuk membuat tuan bahagia, saya jamin akan melayani tuan hingga tuan puas.”
“Tidak buru-buru, suruh dia lanjutkan minumnya.” Tangan David memegang botol bir, mengangkat dagu Bella membuatnya tidak bisa menutup mulutnya, dia hanya bisa menelan bir yang dipaksa masuk ke dalam mulutnya, perlawanannya tidak berguna sama sekali, batuknya yang hebat tidak membuatnya lepas dari paksaan David, air bir yang dingin dari wajahnya turun hingga ke seluruh tubuhnya, membuat tubuhnya kini basah kuyup.
Novel Terkait
Untouchable Love
Devil BuddyPRIA SIMPANAN NYONYA CEO
Chantie LeeThe Gravity between Us
Vella PinkyCinta Yang Terlarang
MinnieIstri Yang Sombong
JessicaMarriage Journey
Hyon SongKisah Si Dewa Perang
Daron JayMy Cold Wedding×
- Bab 1 Pernikahan Yang Hancur
- Bab 2 Tidak Mau Bercerai, Saya Hanya Bisa Membiarkan Dirinya Kehilangan Pasangannya
- Bab 3 Sepertinya Perkataan Saya Tidak Kamu Ingat Dengan Baik
- Bab 4 Kamu Menggangap Saya Tidak Berani Membunuhmu?
- Bab 5 Musuh Yang Tidak Dapat Di Kalahkannya
- Bab 6 Derita yang Dia Rasakan Harus Kamu Rasakan Juga
- BAB 7 Tidak Punya Jalan untuk Melarikan Diri
- Bab 8 Asalkan Bisa Menyelamatkan Satu Nyawa
- Bab 9 Harga Dirinya Terjual
- Bab 10 Ini Adalah Takdir Wanita
- Bab 11 Orang Lain Tidak Menginginkanmu, Tetapi Aku Menginginkanmu
- Bab 12 Gimana Jika Dia Benar-benar Mati?
- Bab 13 Berikan Kompensasi Anqila Pada Cindy
- Bab 14 Kebeneran Berdarah
- Bab 15 Melihat Ke Belakang
- Bab 16 Mengapa Kamu Tidak Bisa Mempercayaiku, Meskipun Hanya Sekali?
- Bab 17 Aku akan Memenuhinya dalam Waktu Satu Hari
- Bab 18 Diluar Kebenaran
- Bab 19 Aku Tidak Membunuh
- Bab 20 Kehidupan Di Penjara
- Bab 21 Video Pengawasan
- Bab 22 Pertempuran Pertama
- Bab 23 Dia Tidak Mengecewakanku, Rupanya Cukup Ganas
- Bab 24 Kita Akan Bertemu Lagi
- Bab 25 Kehidupan Yang Berantakan
- Bab 26 Kenyataan Memaksaku Untuk Menjadi Cuek
- Bab 27 Kehangatan yang Lama Tak di Rasakan
- Bab 28 Besok Kita Cerai
- Bab 29 Bukannya Aku Tak Pernah Berusaha
- Bab 30 Aku Tak Melihat Apapun
- Bab 31 Sahabat Wanita Yang Antusias
- Bab 32 Aku Sudah Cukup Dipermalukan
- Bab 33 Gosip Yang Merajalela Di Dunia Maya
- Bab 34 Kamu Ada Bukti Apa Berani Mengatainya
- Bab 35 Aku Menunggu Surat Pengadilanmu
- Bab 36 Grup A dan B
- Bab 37 Karyawan Sementara
- Bab 38 Masih Ingat Impianku Waktu Kecil?
- Bab 39 Kamu Tidak Aman Sendirian
- Bab 40 Masalah Reputasi Individu
- Bab 41 Siapa Bilang Kamu Tidak Mampu Membelinya
- Bab 42 Jelas Jelas Aku Sedang Memarahimu
- Bab 43 Keputusan Bukan Ditangannya
- Bab 44 Bahaya Ketika Mabuk
- Bab 45 Keluar Dari Mulut Harimau
- BAB 46 Rahasia ANQILA
- Bab 47 Bella, Kemari!
- Bab 48 Meskipun Aku Dijual, Aku Juga Tidak Akan Mau Uangmu
- Bab 49 Kalau Begitu Tidak Usah Cerai
- Bab 50 Aku Bukanlah Anqila
- Bab 51 Pesta Makan Menjelang Perceraian
- Bab 52 Sepertinya Ia Tidak Terburu-buru Untuk Bercerai
- Bab 53 Kamu yang Paling Mengerti Dia
- Bab 54 Ide Yang Cukup Bagus
- Bab 55 Aku Memiliki Cara untuk Menangkapmu Kembali
- Bab 56 Tangan Mana yang Menyentuhnya?
- Bab 57 Selera Yang Aneh
- Bab 58 Sengaja Mempersulit
- Bab 59 Spesifikasi Bercerai
- Bab 60 Bersiap Untuk Pergi Keluar Negeri
- Bab 61 Dia Sedang Mandi, Ada Perlu Apa, Sampaikan Saja Padaku
- Bab 62 Uangnya, Anggap Saja Aku Yang Meminjamnya Darimu
- Bab 63 Bella Akan Kembali Kujaga
- Bab 64 Mungkinkah Hamil?
- Bab 65 Lahir Kalau Memang Ada
- Bab 66 Masyarakat Di Kota Ini Bermain
- Bab 67 Apakah Kamu Merasa Sekotor Itu?
- Bab 68 Panggil Saya Suamimu
- Bab 69 Karena Sudah Tidak Peduli, Baru Bisa Sesadis Ini
- Bab 70 Masa Lampau Itu
- Bab 71 Selamat Tinggal,David
- Bab 72 Perceraian
- Bab 73 Petemuan Ini Seperti Takdir
- Bab 74 Kenapa Tidak Berani Melihatku
- Bab 75 Menjadi Kekasihku
- Bab76 Dia Tidak Punya Kaki Sampai Harus Di Antar?
- Bab 77 Aku Memberikanmu Satu Kali Kesempatan Untuk Mencintaiku
- Bab 78 Dijual Ke David
- Bab 79 Hanya Menyampaikan Ini, Jaga Diri Dengan Baik
- Bab 80 Perjodohan
- Bab 81 Adegan Familiar
- Bab 82 Petani Dan Ular
- Bab 83 Ini Hanya Kompensasi
- Bab 84 Mulai Sementara
- Bab 85 Menjalankannya Bersama Akan Ada Hasil
- Bab 86 Bella, Jalan Kita Masih Panjang
- Bab 87 Anak Tidaklah Bersalah
- Bab 88 Jika Ini Semua Bukanlah Cinta
- Bab 89 Kakak Ipar
- Bab 90 Identifikasi Orang Tua-Anak
- Bab 91 Kamu Hanya Menganggap Saya Masa Lalu
- Bab 92 Lagu Ulang Tahun
- Bab 93 Bersama Dalam Kesulitan
- Bab 94 Saya Tidak Bilang Selesai
- Bab 95 Willy
- Bab 96 Kita Menikah Kembali
- Bab 97 Atas Dasar Wanita Saya
- Bab 98 Balas Dendam Cindy
- Bab 99 Aku Tidak Taruhan Dengan Orang Gila
- Bab 100 Apakah Kamu Pernah Mencintaiku?
- Bab 101 Hanya Bisa Memilih Satu
- Bab 102 Aku Adalah Bajingan
- Bab 103 Aku Tahu Kamu Tidak Mencintai Aku
- Bab 104 Mimpi Besar Dan Belum Tersadar
- Bab 105 Berakting
- Bab 106 Bella, Aku Datang Mencarimu
- Bab 107 Jangan Usir Aku
- Bab 108 Pertunjukkan dari Ketiga Laki-laki
- Bab 109 Konfrontasi Kamar Mandi
- Bab 110 Bajingan Kecil
- Bab 111 Mesin Cuci Yang Kesepian
- Bab 112 Ibu-Anak Anti-View
- Bab 113 David Adalah Lelakiku
- Bab 114 Jika Kamu Tak Buka, Aku Yang Bantu Membukanya
- Bab 115 Kejujuran
- Bab 116 Aku Pasti Bisa Membawamu Ke Puncak
- Bab 117 Harga Diriku Melarangku Mengulangi Kesalahan Yang Sama
- Bab 118 Kembalilah, Ya?
- Bab 119 Menikah Dengan Sekali Lagi
- Bab 120 Kita Menikah Saja
- Bab 121 Tidak Bisa Berhasil Belajar
- Bab 122 Gembi Gu Dalam Bahaya
- Bab 123 Aku Ingin Kamu dengan Senang Hati Menikah Denganku
- Bab 124 Mulai Hari Ini, Kamu Harus Selalu Berada di Sampingku
- Bab 125 Hutang Wanitaku, Biar Aku Yang Membayarnya
- Bab 126 Keadaan Yang Baik
- Bab 127 Semua Ini Karena Sup Ayam
- Bab 128 Di Antara Kita Mana Ada Lagi Hubungan Keluarga Yang Bisa Dianggap
- Bab 129 Kebenaran Yang Tersembunyi dan Terlihat
- Bab 130 Akulah Alasannya
- Bab 131 Ucapan Buruk Yang Menjadi Nyata
- Bab 132 Menggoda
- Bab 133 Mengulang Trik Lama
- Bab 134 Aku Pernah Mencintaimu
- Bab 135 Bawa Aku Pergi
- Bab 136 Ayuk Ke Pantai
- Bab 137 Pembunuh
- Bab 138 Melarang
- Bab 139 Pergilah, Aku Membiarkanmu Pergi
- Bab 140 Kecepatan Hidup dan Mati
- Bab 141 Kali Ini, Giliranku Yang Menunggumu
- Bab 142 Patah Hati
- Bab 143 Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 144 Aku Hanya Mau Satu Jawaban
- Bab 145 Memulai Kehidupan Baru
- Bab 146 Negara Asing
- Bab 147 Jika Suatu Hari Nanti Aku Bisa Melupakannya
- Bab 148 Tom
- Bab 149 Di Dunia Ini, Mana Ada Begitu Banyak
- Bab 150 Ditakdirkan Bersama tapi Terpisah oleh Lautan
- Bab 151 Selamat Tinggal yang Tidak Bisa Terucapkan
- Bab 152 Aku Membencinya, Aku Mencintainya
- Bab 153 Reinkarnasi Kehidupan
- Bab 154 Aku Akan Membayarnya dengan Segala Milikku
- Bab 155 Kembali ke Negeri Asal
- Bab 156 Berpapasan yang Terlewatkan
- Bab 157 Jika Suatu Hari Aku Membohongimu
- Bab 158 Eric Lee
- Bab 159 Dia Adalah Sumber Segala Ketakutanku
- Bab 160 Jangan Menolakku Ya
- Bab 161 Pada Akhirnya Kembali Bertemu
- Bab 162 Kamu Masih Membenciku
- Bab 163 Bintang di Langit, Dia di Hati
- Bab 164 Hanya Masa Lalu
- Bab 165 Tidak Ada Satupun Yang Bisa Dibandingkan Dengannya
- Bab 166 Aku Hanya Ingin Berbuat Baik Kepadamu
- Bab 167 Menebus Kesalahan
- Bab 168 Hebat
- Bab 169 Pengajaran Berkualitas
- Bab 170 Hai Orang Asing
- Bab 171 Mengadu Kecerdasan dan Keberanian
- Bab 172 Masih Ada Berapa Lama Waktu Dihabiskan Untuk Merasa Kesal
- Bab 173 Kapitalis Jahat
- Bab 174 Hati Kecil
- Bab 175 Keangkuhan, Fanatik, Sok Berkuasa, dan Tidak Gampang Menyerah
- Bab 176 Tuan Kelima
- Bab 177 Identitas Nino
- Bab 178 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan
- Bab 179 James Pahlawan tiada tanding
- Bab 180 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan (3)
- Bab 181 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya
- Bab 182 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (5)
- Bab 183 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (6)
- Bab 184 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (7)
- Bab 185 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (8)
- Bab 186 Karnaval Terakhir
- Bab 187 Pertaruhan Hidup
- Bab 188 Biar Aku yang Menemanimu Mati
- Bab 189 Jangan Tanya Tentang Masa Depan
- Bab 190 Epilog
- Bab 190 Epilog (2)
- Bab 191 Epilog (Benar) (1)
- Bab 191 Epilog (Benar) (2)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (1)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (2)
- Bab 193 Wawancara Suami Istri
- Bab 194 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (7)
- Bab 195 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (8)
- Bab 196 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (9)