My Cold Wedding - Bab 10 Ini Adalah Takdir Wanita
Kakek David shock mundur beberapa langkah, terduduk di atas sofa, wajahnya memucat, deru nafasnya tak beraturan: “Bella...Kamu, sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
Bella tergesa mencari obat kakek, lalu menyuapkan obat ke dalam mulut kakek: “Kakek, kamu minum obat dulu...”
“Bilang padaku! David ya yang memaksamu?!”
Air mata Bella mulai luruh, melihat David yang menatap tajam dirinya, lalu memanglingkan muka. Dia tidak berani melawan David, karena dia masih harus melindungi Doni darinya, Bella hanya bisa mengatakan kebohongan: “Tidak, dia tidak memaksaku, aku sendiri yang bersedia melakukan itu...Kakek!”
Kakek sesak nafas, wajahnya merah kebiruan, tubuhnya seperti mau roboh.
“Kakek!” David menyuap obat lagi ke dalam mulut kakek lalu mencekik leher Bella menariknya keluar rumah: “Menyingkir dari sini!”
Bunyi 'Peng' hempasan pintu yang menutup memekakkan telinga.
Bella berdiri di pintu luar tidak tahu harus pergi atau tetap menunggu disana.
Kakek David selama ini selalu bersikap baik padanya, memperlakukan dia seperti anaknya sendiri, kakek juga satu-satunya orang yang mengakui Bella sebagai mantu dari keluarga David, tapi sakit kakek David 2 kali kambuh ini semuanya disebabkan oleh Bella...
Bella merasa menyesal karena dirinya yang tak berdaya, dia baru mau mengetuk pintu rumah tapi mendengar suara seseorang yang familiar dari belakang: “Sungguh tidak tahu malu, sudah di usir keluar rumah masih ada muka mengetuk pintu lagi.”
Bella melihat ke belakang seorang wanita dengan dress limited editionnya juga dandanannya yang wah, Bella dengan suara rendah bergumam: “Kakak.”
Cindy marah: “Jangan panggil aku kakak, kamu itu hanya anak haram, keluarga kami tidak mengakuimu.”
Ayah Bella- Heri waktu muda dulu sangat terkenal, awalnya menikahi Fenny, Fenny melahirkan Anqila dan Cindy, juga seorang anak laki-laki bernama Delson yang dari lahir sudah lemah dan rentan sakit hidupnya bergantung pada obat, ayahnya lalu menggoda penari muda yang cantik-Yolanda, dan lahir lah Bella juga adiknya Doni.
Sikap Anqila dan Cindy terhadap Bella dan adiknya sangat tidak baik, tapi karena adiknya Doni merupakan anak laki-laki yang paling sehat di keluarganya, bahkan istri sah Fenny tidak berani berkata kasar padanya, tapi tidak dengan Bella, ibu kandung dan adik kandungnya tidak begitu menganggapnya, dari dulu dia adalah korban bullyan Anqila dan Cindy.
Tatapan mata Cindy melewati Bella, melihat pintu besar rumah keluarga David: “Hehe, ibunya seperti itu wajar sekali anaknya seperti ini, punya ibu yang hanya wanita simpanan, melahirkan anak perempuan juga tidak jauh-jauh darinya yang murahan, pergi ke klub malam bersama banyak pria bergumul, sungguh seperti anjing bodoh yang tidak bisa berubah untuk tidak makan kotorannya sendiri.”
Bella malas meladeni Cindy, “Aku pergi dulu.”
“Tunggu tunggu--” Cindy menghadang Bella, menarik tangan Bella meletakkannya di perutnya, tertawa ringan: “Bella, kalau sadar diri cepatlah bercerai dengan David, aku saat ini sedang mengandung anaknya.”
Bella tersentak mengangkat kepalanya, matanya melotot tidak mampu percaya, cinta David terhadap Anqila begitu dalam, bagaimana bisa...
Cindy dengan bangga tertawa, menekan tangan Bella tidak membiarkannya pergi: “Hehehe, mau bagaimana lagi, cuma bisa pasrah karena aku punya kakak seperti Anqila, sebelum pergi dari dunia masih sempat menitipkanku pada David, bahkan meminta David untuk menjagaku baik-baik...”
“Dia itu kakak iparmu!” Bella emosi seluruh badannya bergetar: “Kamu mengandung anak kakak iparmu sendiri tidak takut menjadi bahan omongan seluruh orang di kota H?!”
“Aku takut apa?” Cindy melepaskan tangan Bella,
kedua tangannya saling melipat di depan dada, menatap remeh Bella: “Waisat Anqila sebelum pergi ingin aku hidup bahagia, aku dan anak yang ada di dalam hidupku harus hidup bahagia dan derajat yang tinggi selamanya...”
Dan di waktu ini, wajah Cindy seketika berubah, dengan panik menarik tangan Bella, berteriak: “Bella aku mohon, aku tahu kamu benci padaku, kamu ada dendam apa lampiaskan padaku, tolong biarkan anakku hidup, aku mohon...”
Pintu rumah terbuka, bayangan tubuh David muncul, Bella melihat Cindy dengan perutnya menabrakkan dirinya sendiri ke arahnya, lalu terjatuh di lantai berteriak kesakitan: “Perutku sakit sekali, David, tolong aku, tolong selamatkan anak kita...”
“Cindy--!”
David berlari dengan langkah besar menghampiri Cindy langsung memeluknya, David menatap tajam Bella seolah mau membakarnya habis-habis: “Bella, kalau Cindy dan anakku ada apa-apa, aku akan menghabisimu!”
“David, bukan aku...”Bella dengan histeris menggelengkan kepala.
Cindy di dalam pelukan David mengangkat kepalanya, merasa terbully: “Barusan disini cuma ada kita berdua, kalau bukan kamu berarti aku sendiri yang mencelakai anakku? Aku sudah dengan niat baik ingin memperhatikan keadaanmu, tapi kamu malah berbuat seperti ini padaku!”
Mata David begitu kelam, Bella bisa merasakan kemarahannya yang begitu besar.
“Minggir!” David menggendong Cindy, kakinya menginjak perut Bella, Bella kesakitan hingga meringkuk, dan mendengar suara David yang dengan lembut memperhatikan keadaan Cindy: “Kamu jangan takut, ada aku disini, anak kita tidak akan ada apa-apa.”
Darah di dalam tubuh Bella mendingin: “David, kamu sungguh dengannya...”
David menatap Bella dingin seperti menatap sampah: “Benar, Cindy tengah mengandung anakku. Bella, masalah hari ini aku sudah mencatatnya, tunggu keadaan kakek dan Cindy membaik, aku akan membalas semuanya!”
David menggendong Cindy masuk ke dalam rumah, Cindy dalam gendongan David melihat Bella dengan perasaan puas.
Pintu rumah di tutup, dan Bella lagi-lagi di tinggal sendirian di luar rumah.
Pembantu rumah melihat Bella kasihan, menghampirinya dan menyanggahnya berdiri: “Kamu cepat pergi dari sini, nona Anqila sudah tiada, sakit kakek yang selalu kambuh, tuan muda tidak akan melepaskanmu...”
Bella tertawa pahit, ekspresi tawanya daripada menangis lebih menyeramkan: “Terima kasih.”
Memegang tangan pembantu dengan gemetaran berdiri, tiba-tiba datang sebuah tamparan keras menamparnya hingga kembali terjatuh, Jesy menghampirinya dan menjambaknya: “Kamu berani menyentuh cucuku? Aku akan membunuhmu!”
“Aku tidak mencelakainya!” Bella membela diri: “Aku bahkan tidak tahu di perutnya ada anak, aku bagaimana mungkin mau mendorongnya mencelakainya?!”
Jesy tidak mau mendengar pembelaan Bella,“Kamu ini ya cuma seorang wanita yang tidak bisa melahirkan anak, cepat pergi dari rumah kami!”
Bella dengan sadis di usir dari rumah, dia kembali ke klub malam langsung masuk ke kamarnya dan menangis hebat semalaman.
Dia tidak tahu dirinya salah apa, tapi semuanya terjadi hingga seperti ini?
Waktu Jane datang ke kamar, dia menghela nafas: “Inilah takdir wanita, harus jujur dan berbudi, harus sopan patuh pada keluarga, harus melahirkan anak dan juga harus menahan kehadiran wanita simpanan.”
Bella hanya membisu.
Jane melihatnya kasihan: “Berita di koran aku sudah melihatnya, mawar, apa rencanamu?”
Bella menggelengkan kepala: “Aku tidak tahu...”
“Boleh pulang ke rumah?”
Rumah?
Bella memejamkan mata, dia harus pulang, harus membawa uang 20 juta memberikannya pada Doni.
Malam jam 8, langit begitu gelap.
Bella turun dari bus umum, menguraikan rambutnya sedikit menutupi keningnya, menyelusuri jalan menuju villa keluarganya.
Keluarganya saat ini sudah bangkrut, tapi harga diri ayahnya begitu tinggi dan memaksakan diri untuk tinggal di villa, masih menganggap dirinya orang kaya bermain judi besar-besaran membuat tetangganya tak habis pikir, tapi Heri tidak mempedulikannya pandangan para tetangganya terhadapnya.
Sekali masuk rumah, bau asap rokok yang berat membuat mata Bella pedih mengeluarkan air mata.
Heri bersama temannya bermain judi, melihat Bella pulang sekilas malas mengangkat wajah: “Pulang bawa uang tidak? Kalau tidak bawa uang pergi dari sini tidak usah pulang.”
Novel Terkait
Unplanned Marriage
MargeryIstri kontrakku
RasudinCEO Daddy
TantoThe Sixth Sense
AlexanderTernyata Suamiku Seorang Sultan
Tito ArbaniLelaki Greget
Rudy GoldSi Menantu Buta
DeddyMy Cold Wedding×
- Bab 1 Pernikahan Yang Hancur
- Bab 2 Tidak Mau Bercerai, Saya Hanya Bisa Membiarkan Dirinya Kehilangan Pasangannya
- Bab 3 Sepertinya Perkataan Saya Tidak Kamu Ingat Dengan Baik
- Bab 4 Kamu Menggangap Saya Tidak Berani Membunuhmu?
- Bab 5 Musuh Yang Tidak Dapat Di Kalahkannya
- Bab 6 Derita yang Dia Rasakan Harus Kamu Rasakan Juga
- BAB 7 Tidak Punya Jalan untuk Melarikan Diri
- Bab 8 Asalkan Bisa Menyelamatkan Satu Nyawa
- Bab 9 Harga Dirinya Terjual
- Bab 10 Ini Adalah Takdir Wanita
- Bab 11 Orang Lain Tidak Menginginkanmu, Tetapi Aku Menginginkanmu
- Bab 12 Gimana Jika Dia Benar-benar Mati?
- Bab 13 Berikan Kompensasi Anqila Pada Cindy
- Bab 14 Kebeneran Berdarah
- Bab 15 Melihat Ke Belakang
- Bab 16 Mengapa Kamu Tidak Bisa Mempercayaiku, Meskipun Hanya Sekali?
- Bab 17 Aku akan Memenuhinya dalam Waktu Satu Hari
- Bab 18 Diluar Kebenaran
- Bab 19 Aku Tidak Membunuh
- Bab 20 Kehidupan Di Penjara
- Bab 21 Video Pengawasan
- Bab 22 Pertempuran Pertama
- Bab 23 Dia Tidak Mengecewakanku, Rupanya Cukup Ganas
- Bab 24 Kita Akan Bertemu Lagi
- Bab 25 Kehidupan Yang Berantakan
- Bab 26 Kenyataan Memaksaku Untuk Menjadi Cuek
- Bab 27 Kehangatan yang Lama Tak di Rasakan
- Bab 28 Besok Kita Cerai
- Bab 29 Bukannya Aku Tak Pernah Berusaha
- Bab 30 Aku Tak Melihat Apapun
- Bab 31 Sahabat Wanita Yang Antusias
- Bab 32 Aku Sudah Cukup Dipermalukan
- Bab 33 Gosip Yang Merajalela Di Dunia Maya
- Bab 34 Kamu Ada Bukti Apa Berani Mengatainya
- Bab 35 Aku Menunggu Surat Pengadilanmu
- Bab 36 Grup A dan B
- Bab 37 Karyawan Sementara
- Bab 38 Masih Ingat Impianku Waktu Kecil?
- Bab 39 Kamu Tidak Aman Sendirian
- Bab 40 Masalah Reputasi Individu
- Bab 41 Siapa Bilang Kamu Tidak Mampu Membelinya
- Bab 42 Jelas Jelas Aku Sedang Memarahimu
- Bab 43 Keputusan Bukan Ditangannya
- Bab 44 Bahaya Ketika Mabuk
- Bab 45 Keluar Dari Mulut Harimau
- BAB 46 Rahasia ANQILA
- Bab 47 Bella, Kemari!
- Bab 48 Meskipun Aku Dijual, Aku Juga Tidak Akan Mau Uangmu
- Bab 49 Kalau Begitu Tidak Usah Cerai
- Bab 50 Aku Bukanlah Anqila
- Bab 51 Pesta Makan Menjelang Perceraian
- Bab 52 Sepertinya Ia Tidak Terburu-buru Untuk Bercerai
- Bab 53 Kamu yang Paling Mengerti Dia
- Bab 54 Ide Yang Cukup Bagus
- Bab 55 Aku Memiliki Cara untuk Menangkapmu Kembali
- Bab 56 Tangan Mana yang Menyentuhnya?
- Bab 57 Selera Yang Aneh
- Bab 58 Sengaja Mempersulit
- Bab 59 Spesifikasi Bercerai
- Bab 60 Bersiap Untuk Pergi Keluar Negeri
- Bab 61 Dia Sedang Mandi, Ada Perlu Apa, Sampaikan Saja Padaku
- Bab 62 Uangnya, Anggap Saja Aku Yang Meminjamnya Darimu
- Bab 63 Bella Akan Kembali Kujaga
- Bab 64 Mungkinkah Hamil?
- Bab 65 Lahir Kalau Memang Ada
- Bab 66 Masyarakat Di Kota Ini Bermain
- Bab 67 Apakah Kamu Merasa Sekotor Itu?
- Bab 68 Panggil Saya Suamimu
- Bab 69 Karena Sudah Tidak Peduli, Baru Bisa Sesadis Ini
- Bab 70 Masa Lampau Itu
- Bab 71 Selamat Tinggal,David
- Bab 72 Perceraian
- Bab 73 Petemuan Ini Seperti Takdir
- Bab 74 Kenapa Tidak Berani Melihatku
- Bab 75 Menjadi Kekasihku
- Bab76 Dia Tidak Punya Kaki Sampai Harus Di Antar?
- Bab 77 Aku Memberikanmu Satu Kali Kesempatan Untuk Mencintaiku
- Bab 78 Dijual Ke David
- Bab 79 Hanya Menyampaikan Ini, Jaga Diri Dengan Baik
- Bab 80 Perjodohan
- Bab 81 Adegan Familiar
- Bab 82 Petani Dan Ular
- Bab 83 Ini Hanya Kompensasi
- Bab 84 Mulai Sementara
- Bab 85 Menjalankannya Bersama Akan Ada Hasil
- Bab 86 Bella, Jalan Kita Masih Panjang
- Bab 87 Anak Tidaklah Bersalah
- Bab 88 Jika Ini Semua Bukanlah Cinta
- Bab 89 Kakak Ipar
- Bab 90 Identifikasi Orang Tua-Anak
- Bab 91 Kamu Hanya Menganggap Saya Masa Lalu
- Bab 92 Lagu Ulang Tahun
- Bab 93 Bersama Dalam Kesulitan
- Bab 94 Saya Tidak Bilang Selesai
- Bab 95 Willy
- Bab 96 Kita Menikah Kembali
- Bab 97 Atas Dasar Wanita Saya
- Bab 98 Balas Dendam Cindy
- Bab 99 Aku Tidak Taruhan Dengan Orang Gila
- Bab 100 Apakah Kamu Pernah Mencintaiku?
- Bab 101 Hanya Bisa Memilih Satu
- Bab 102 Aku Adalah Bajingan
- Bab 103 Aku Tahu Kamu Tidak Mencintai Aku
- Bab 104 Mimpi Besar Dan Belum Tersadar
- Bab 105 Berakting
- Bab 106 Bella, Aku Datang Mencarimu
- Bab 107 Jangan Usir Aku
- Bab 108 Pertunjukkan dari Ketiga Laki-laki
- Bab 109 Konfrontasi Kamar Mandi
- Bab 110 Bajingan Kecil
- Bab 111 Mesin Cuci Yang Kesepian
- Bab 112 Ibu-Anak Anti-View
- Bab 113 David Adalah Lelakiku
- Bab 114 Jika Kamu Tak Buka, Aku Yang Bantu Membukanya
- Bab 115 Kejujuran
- Bab 116 Aku Pasti Bisa Membawamu Ke Puncak
- Bab 117 Harga Diriku Melarangku Mengulangi Kesalahan Yang Sama
- Bab 118 Kembalilah, Ya?
- Bab 119 Menikah Dengan Sekali Lagi
- Bab 120 Kita Menikah Saja
- Bab 121 Tidak Bisa Berhasil Belajar
- Bab 122 Gembi Gu Dalam Bahaya
- Bab 123 Aku Ingin Kamu dengan Senang Hati Menikah Denganku
- Bab 124 Mulai Hari Ini, Kamu Harus Selalu Berada di Sampingku
- Bab 125 Hutang Wanitaku, Biar Aku Yang Membayarnya
- Bab 126 Keadaan Yang Baik
- Bab 127 Semua Ini Karena Sup Ayam
- Bab 128 Di Antara Kita Mana Ada Lagi Hubungan Keluarga Yang Bisa Dianggap
- Bab 129 Kebenaran Yang Tersembunyi dan Terlihat
- Bab 130 Akulah Alasannya
- Bab 131 Ucapan Buruk Yang Menjadi Nyata
- Bab 132 Menggoda
- Bab 133 Mengulang Trik Lama
- Bab 134 Aku Pernah Mencintaimu
- Bab 135 Bawa Aku Pergi
- Bab 136 Ayuk Ke Pantai
- Bab 137 Pembunuh
- Bab 138 Melarang
- Bab 139 Pergilah, Aku Membiarkanmu Pergi
- Bab 140 Kecepatan Hidup dan Mati
- Bab 141 Kali Ini, Giliranku Yang Menunggumu
- Bab 142 Patah Hati
- Bab 143 Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 144 Aku Hanya Mau Satu Jawaban
- Bab 145 Memulai Kehidupan Baru
- Bab 146 Negara Asing
- Bab 147 Jika Suatu Hari Nanti Aku Bisa Melupakannya
- Bab 148 Tom
- Bab 149 Di Dunia Ini, Mana Ada Begitu Banyak
- Bab 150 Ditakdirkan Bersama tapi Terpisah oleh Lautan
- Bab 151 Selamat Tinggal yang Tidak Bisa Terucapkan
- Bab 152 Aku Membencinya, Aku Mencintainya
- Bab 153 Reinkarnasi Kehidupan
- Bab 154 Aku Akan Membayarnya dengan Segala Milikku
- Bab 155 Kembali ke Negeri Asal
- Bab 156 Berpapasan yang Terlewatkan
- Bab 157 Jika Suatu Hari Aku Membohongimu
- Bab 158 Eric Lee
- Bab 159 Dia Adalah Sumber Segala Ketakutanku
- Bab 160 Jangan Menolakku Ya
- Bab 161 Pada Akhirnya Kembali Bertemu
- Bab 162 Kamu Masih Membenciku
- Bab 163 Bintang di Langit, Dia di Hati
- Bab 164 Hanya Masa Lalu
- Bab 165 Tidak Ada Satupun Yang Bisa Dibandingkan Dengannya
- Bab 166 Aku Hanya Ingin Berbuat Baik Kepadamu
- Bab 167 Menebus Kesalahan
- Bab 168 Hebat
- Bab 169 Pengajaran Berkualitas
- Bab 170 Hai Orang Asing
- Bab 171 Mengadu Kecerdasan dan Keberanian
- Bab 172 Masih Ada Berapa Lama Waktu Dihabiskan Untuk Merasa Kesal
- Bab 173 Kapitalis Jahat
- Bab 174 Hati Kecil
- Bab 175 Keangkuhan, Fanatik, Sok Berkuasa, dan Tidak Gampang Menyerah
- Bab 176 Tuan Kelima
- Bab 177 Identitas Nino
- Bab 178 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan
- Bab 179 James Pahlawan tiada tanding
- Bab 180 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan (3)
- Bab 181 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya
- Bab 182 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (5)
- Bab 183 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (6)
- Bab 184 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (7)
- Bab 185 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (8)
- Bab 186 Karnaval Terakhir
- Bab 187 Pertaruhan Hidup
- Bab 188 Biar Aku yang Menemanimu Mati
- Bab 189 Jangan Tanya Tentang Masa Depan
- Bab 190 Epilog
- Bab 190 Epilog (2)
- Bab 191 Epilog (Benar) (1)
- Bab 191 Epilog (Benar) (2)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (1)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (2)
- Bab 193 Wawancara Suami Istri
- Bab 194 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (7)
- Bab 195 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (8)
- Bab 196 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (9)