My Cold Wedding - Bab 119 Menikah Dengan Sekali Lagi

“David, jangan begini…”

“Lalu kamu ingin aku bagaimana? Katakanlah! Apapun yang kamu katakan aku pasti sanggup lakukan.”

Baru saja Bella ingin menjawab, tiba-tiba telepon terputus.

Layar telepon hitam, tekan apapun juga tidak menyala, lepas pasang baterai pun tidak berguna.

Bella berpikir untuk meminjam telepon Gembi untuk menelepon balik, langsung teringat, berhubung dia sudah tidak ingin mengingat masa lalunya, maka lebih baik tidak terjerat lagi.

Orang seperti David, sangat sadar atas keinginan diri sendiri, jika tidak mabuk, mungkin tidak akan menghubungi Bella lagi.

Lagipula, saat ini hanya ada Winston Liu di hati dan matanya, sama sekali tidak ada waktu untuk mengubris Bella.

Bella kemudian menyimpan handphone rusak itu kedalam tas, berencana untuk memperbaikinya esok hari, kemudian melanjutkan menonton konser.

Winston Liu di atas panggung bernyanyi dan menari, penuh karisma, dan juga melihatnya dari dekat, Bella juga harus mengakui, Winston Liu sungguh berbakat menjadi seorang artis.

Tubuh tinggi kaki yang panjang, wajahnya yang indah, sebuah paduan dari kelembutan anak laki-laki dan kegagahan seorang pria, memenuhi syarat pria idaman untuk seorang wanita.

Mata Gembi mulai berbinar-binar: “Dia sangat tampan bukan?”

Bella pun setuju: “Sangat tampan, tapi Gembi, ketampanan tidak akan bertahan selamanya, David juga tidak jelek, tapi nyatanya?”

Gembi sedikit tidak senang: “Winston Liu tidak akan sama seperti David.”

Bella melihat wajah Gembi yang mulai tidak senang, dia sadar dia sudah terlalu banyak membujuk, dan itu membuat Gembi tidak senang.

Hanya bisa terdiam.

Tapi bagaimanapun masih ada yang terasa salah…

“Gembi….”

“Jangan katakan lagi, Bella, jangan katakan lagi.” Gembi menarik dua sudut bibirnya, “Aku tahu kamu melakukan ini demi kebaikanku, tapi aku tahu apa yang aku mau.”

Bella selama ini mengira, bahwa Gembi hanyalah nona muda yang dimanja, dari kecil sampai dewasa dimanja oleh orang tua dan kakaknya, yang tidak tahu mengenai masalah dunia, selalu ramah dan polos, tapi dia tidak pernah melihat Gembi yang begini.

Mulai putus asa.

Dia pun menghela nafas, “Karena kamu sudah memutuskan, aku akan mendoakanmu bahagia. Gembi, kamu ingat, tidak peduli bagaimana kamu akan melewatinya, jika kamu butuh bantuan langsung hubungi aku.”

Raut wajah Gembi membaik, mengeluarkan handphone dan menjawab: “Jangan khawatir, aku akan menyimpan nomor teleponmu sekarang…Eh? Ada satu panggilan tidak terjawab.”

Bella berbisik dalam hati, mengintip, ternyata benar nomor David.

“David meneleponku untuk apa?” Gembi menoleh kearahnya: “Mencarimu?”

Bella mengeluarkan teleponnya yang rusak dari tas dan memperlihatkannya: “Teleponku tidak bisa dinyalakan lagi, barulah mencarimu.”

Gembi cemberut: “Dia masih berani mencarimu?”

Bella hanya mengangkat bahu, tidak ingin membicarakannya, memberi kode untuk melihat ke panggung, Winston Liu sedang menyanyikan sebuah lagu dengan tarian yang panas, jas biru tua itu di lempar ke lantai, tersisa baju tak berlengan hitam yang mengepas di tubuhnya, gerakannya menawan, Gembi seketika teralihkan sepenuhnya.

Saat konser berakhir, waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam.

Gembi berpamitan kepada Bella dan langsung bergegas ke belakang panggung, Bella tahu rencananya, kemudian memberikan dia uang tunai yang ada padanya, walaupun tidak terlalu berguna, tetapi hanya itulah yang bisa dia lakukan untuk mendukung Gembi.

Dia mengikuti kerumunan keluar dari stadium, saat keluar langsung diterpa semilir angin.

Kereta bawah tanah dan bus sudah tidak berjalan, dia agak menyesal tidak menyisakan uang transport untuk diri sendiri. Untung saja tempat ini tidak jauh dari apartemennya, hanya harus berjalan tiga empat blok, berjalan kaki juga tidak termasuk jauh.

Saat sudah sampai di bawah gedung apartemennya, Bella teringat di dalam kulkas sudah tidak ada makanan lagi, langsung pergi membeli beberapa mi instan barulah naik ke atas.

Saat membuka pintu, langsung terlihat sesosok orang yang familiar, duduk termenung di atas sofa.

Melihat dia sudah kembali, dengan bersusah payah mengangkat kepalanya, mata sudah tidak sanggup dibuka, dengan bersusah payah menyipitkan mata, jasnya sudah berantakan.

“Sudah kembali?”

Dengan goyah berdiri, tersandung-sandung berjalan kearahnya, dia kehilangan kendali tubuhnya dan menabrak sebuah meja kecil, mengeluarkan suara gesekan yang memekikkan telinga.

David jatuh ke lantai, kesakitan.

Kali ini benar-benar jatuh tidak berdaya, Bella bahkan tidak sempat mengganti sepatunya, langsung berlari ke arah David memapahnya berdiri, mengarahkannya duduk di atas sofa.

David masih ingin berdiri, tapi bahunya di tahan kuat oleh Bella: “Aku sudah bicara dengan jelas lewat telepon, kamulah yang bilang tidak ingin melihatku lagi, sekarang ada apa lagi?”

“Aku salah bicara, kutarik ucapanku.” David mengelus tangan Bella yang ada di bahunya, dengan sangat lembut berkata, “Kutarik ucapanku, bolehkah?”

“Kata-kata sudah terucap, bagaimana bisa ditarik?” Bella menarik tangannya, berbalik dan duduk di sofa seberangnya, dua orang terpisah oleh meja kecil, Bella masih bisa mencium bau alkohol yang kuat, “Berapa banyak yang kamu minum?”

“Tujuh belas botol.”

Bella terkesiap, kemudian menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan David: “Ini berapa?”

Tangannya di tahan, kemudian di kecup dengan lembut: “Ini adalah kamu.”

“Bagaimana cara kamu datang kemari?”

“Saya menyetir,” David bergumam tidak jelas, kemudian jatuh kebawah: “Lampu lalu lintas hari ini sangat aneh, kenapa ketiga lampunya semua merah?”

Bella berkata dalam hati, orang ini pasti mabuk parah.

“Sudah minum sebegitu banyak masih berani menyetir? Tidak mau hidup lagi?!”

“Tidak mau sudah tidak mau,” David menggeleng sembarangan, ingin berdiri tapi tenaga tidak cukup, kemudian terjatuh di atas tubuh Bella: “Aku menginginkanmu, hanya kamu...”

Bella mendorong dia: “Berdirilah, kita pergi ke rumah sakit.”

“Tidak mau!” David memeluk pinggangnya, nafasnya mulai tersendat-sendat, “Aku tidak apa, tidak perlu pergi.”

“Kamu tahu saat aku minum enam belas botol vodka, aku hampir mati keracunan?! David, jika kamu ingin mati jangan mati di tempatku juga!”

Kalimat itu tampaknya sedikit menyadari David.

Dia pelan-pelan mengangkat kepalanya, menatapnya dalam: “Jika aku mati, apakah kamu akan memaafkanku?”

Bella tersontak: “Kamu jangan begini....”

David memotongnya, kembali memohon: “Bisa tidak jangan pergi lagi? Atau...aku akan pergi denganmu?”

“David,” Bella berkata: “Tunggu kamu sadar, saat akal sehatmu kembali, baru kita bicarakan ini lagi.”

“Aku sangat berpikir jernih, sangat sangat jernih, aku tidak pernah berpikir sejernih ini.”

“Jadi apakah nanti saat kamu sadar justru akan melupakannya? Kamu akan menyebutku wanita jahat yang licik, simpan untuk dirimu sendiri.”

David termenung sejenak, seperti sedang berpikir keras, sangat lama, hingga akhirnya dia teringat dua cara lain yang bagus: “Kalau begitu kita langsung pergi registrasi, pergi ke Las Vegas Amerika, Bella, menikahlah denganku sekali lagi.”

Wanita suka bertanya kepada pria, apakah mereka mencintai dirinya sendiri atau tidak.

Tapi walaupun jawabannya adalah cinta, hatinya tetap ada keraguan.

Dalam hati seorang pria ada atau tidaknya wanita, hanya bisa dilihat dari apakah dia bersedia untuk bersumpah kepada wanita itu.

Sebuah kalimat “Menikahlah denganku” dibanding dengan “Aku mencintaimu”, tidak perlu mewah, namun lebih tulus, mampu menggerakkan hati seseorang.

Hati Bella pun mulai sedikit tergerak.

Tapi sedetik kemudian, dia mendengar suara dengkuran.

Novel Terkait

Predestined

Predestined

Carly
CEO
2 tahun yang lalu
The True Identity of My Hubby

The True Identity of My Hubby

Sweety Girl
Misteri
2 tahun yang lalu
Cinta Yang Dalam

Cinta Yang Dalam

Kim Yongyi
Pernikahan
2 tahun yang lalu
Ternyata Suamiku Seorang Sultan

Ternyata Suamiku Seorang Sultan

Tito Arbani
Menantu
2 tahun yang lalu
Jika bertemu lagi, aku akan melupakanmu

Jika bertemu lagi, aku akan melupakanmu

Summer
Romantis
2 tahun yang lalu
 Habis Cerai Nikah Lagi

Habis Cerai Nikah Lagi

Gibran
Pertikaian
2 tahun yang lalu
Back To You

Back To You

CC Lenny
CEO
2 tahun yang lalu
My Superhero

My Superhero

Jessi
Kejam
2 tahun yang lalu