My Cold Wedding - Bab 103 Aku Tahu Kamu Tidak Mencintai Aku
Di rumah sakit.
Orang-orang di rumah sakit sudah tertidur, menunjukkan muka sedang tertidur lelap. David duduk di sisi ranjang sambil memegang tangan Bella. Melihat infus yang menetes setetes demi setetes, mengalir masuk ke dalam tubuh Bella.
Kalimat dokter masih terngiang di telinganya, "Tubuh nona Bella terlalu lemah. Anemianya sudah kritis. Jika lebih serius, kemungkinannya akan koma. Luka di pergelangan tangannya bukan masalah, hanya perlu disterilkan dan diperban maka akan pelan-pelan sembuh."
Tangan Bella terletak di dalam genggaman tangannya, kurus, pucat, dan dapat terlihat jelas urat biru dipunggung tangannya. Terdapat lapisan tipis seperti gumpalan daging di jarinya, saat dipegang teksturnya terasa keras. Selain melakukan pekerjaan rumah seharusnya tidak ada kegiatan lain bukan yang menggunakan tangan? Kenapa bisa ada gumpalan ini?
Albert mengetok pintu lalu masuk, "Direktur, ambulans sudah mengirim nona Cindy ke beberapa rumah sakit, dan tidak ada rumah sakit yang menerimanya. Lalu mereka menelpon dan bertanya padamu jika kita tidak menolongnya, maka nona Cindy benar-benar akan meninggal, apakah kita tetap tidak mau menolong?"
David memegang tangan Bella sambil mengkerutkan alisnya dengan sengaja, "Bagaimana kondisinya?"
"Terlalu banyak darah yang keluar, sehingga mengakibatkan koma. Selain luka di rahimnya yang belum sembuh, kali ini, karena terjatuh parah, tulang belakangnya juga terluka. Walaupun kali ini dapat tertolong, dia juga harus duduk di kursi roda selamanya."
David berkata dengan suara rendah, "Maka duduklah, bukankah dia ingin mendorong Bella hingga meninggal? Maka biarkan dia merasakan tidak dapat berdiri lagi untuk seumur hidupnya."
Albert mengangguk kemudian keluar untuk melanjutkan kesibukannya.
Di luar jendela, bulan sudah tergantung dan langit sudah dipenuhi bintang-bintang.
"David ... aku mohon, biarkan aku tetap memiliki anak ini. Aku bersedia cerai, aku rela pergi dan meninggalkan rumah ini, aku rela meninggalkan semua ini. Aku bisa segera bercerai, kemudian pergi sejauh-jauhnya dan tidak pernah muncul lagi di hadapanmu. Tapi izinkan aku untuk tetap memiliki anak ini, ya? Boleh, ya? Aku mohon padamu ..."
Bella yang sedang bermimpi, tanpa sadar menarik tangannya, dengan bercucuran air mata, Bella menangis memohon.
Anak itu ....
Sebenarnya David tidak memiliki perasaan seorang ayah. Pada waktu itu, dia hanya berpikir, membiarkan anak ini hidup hanya akan menimbulkan kerepotan di kemudian hari. Namun sekarang dia sangat menyesal dengan keputusannya waktu itu.
.
Jika anak itu masih hidup, mungkin sekarang dia sudah berumur 4 tahun? Sudah bisa berlari, sudah bisa memeluknya, sudah bisa bermanja padanya dan dengan suara anak kecil yang lucu memanggilnya dengan panggilan ayah ....
Paling bagus kalau anak itu adalah perempuan, sama cantiknya seperti Bella, bertubuh kecil, wangi, sekali lihat saja sudah dapat membuat hati orang meleleh.
"David, kenapa kamu tidak percaya padaku?" air mata Bella semakin banyak, turun ke atas bantal, membuat bantal menjadi basah sebagian besar. Bella yang masih terperangkap dalam mimpi terus berkata, "Aku ingin dengan sekuat tenaga baik kepada ayah dan ibu, baik kepada kakak adik, aku tidak pernah berpikir untuk menyakiti siapapun, satu-satunya kesalahanku adalah menikah denganmu ... David, kesalahanku biar aku saja yang tanggung, tapi biarkan anak ini tetap hidup, dia masih sangat kecil ..."
David merasa hatinya seperti sayur yang dimasak dalam baskom kimchi, sangat asam rasanya. Dengan suara parau, David berkata, "Tidak usah takut, setelah tubuhmu kembali sehat, kita pasti akan punya anak."
Bella Xin seperti dapat mendengar suara David lalu berkata, "Tidak akan ... tidak akan punya anak lagi, tidak akan lagi ..."
"Bella, sadarlah ..." David mencium dahinya, seperti cerita dongeng yang pangeran tampan mencium putri cantik hingga akhirnya terbangun.
Namun "putri cantik" tidak kelihatan gembira, dalam matanya yang berair terdapat sedikit lamunan, setelah melihat wajah David dengan jelas, tatapannya berubah dingin.
"Kenapa kamu di sini?" Bella memberontak ingin berdiri, tapi kedua bahunya seperti tertahan oleh sesuatu, hingga bergerak sedikit saja sudah terasa sakit yang luar biasa.
"Jangan banyak gerak." Davidmenahan bahu Bella, kemudian membantu menyelimutinya, "Dokter berkata kamu harus istirahat baik-baik, mau ambil apa, kasih tau aku, aku bantu ambilkan."
Bella melihat sekeliling, ternyata memang tidak ada apa-apa.
Kesedihan dalam mimpi masih tersisa, Bella mengernyitkan dahi, "Dimana Cindy?"
"Ngapain urusan dia?" David bertanya dengan tidak senang, "Mau minum air?"
Bella menggelengkan kepala, "Aku tidak apa-apa, kamu jangan ada di sini. Pergi lihat Cindy saja, luka dia seharusnya lebih parah dariku."
"Aku mau menjagamu." David berkata dengan datar, namun dalam suaranya mengandung kharisma yang tidak dapat ditolak, "Kenapa anemiamu bisa begitu parah? Apa karena biasanya tidak teratur makan? Kulkas juga tidak berisi apa-apa, benar-benar tidak tahu wanita sepertimu biasanya bagaimana menjalani hidup."
Bella berkata dengan tidak senang, "Aku anemia karena pernah mendonorkan darah untuk Cindy, saat itu karena membutuhkan uang aku menjual darahku. Donor darah waktu itu hampir saja membuatku mati, tapi tidak ada hubungannya dengan masalah makan."
David menahan nafasnya, lalu membuka topik baru, "Kamu ingin makan apa? Aku pergi belikan."
"Aku ingin pulang," selesai berkata, Bella membalikkan badan lalu hendak turun dari ranjang, "Tidak ingin berada di rumah sakit, setiap masuk rumah sakit pasti salalu saja ada masalah buruk yang terjadi, aku ingin meninggalkan tempat ini."
"Baik, baik, baik," David bergegas membantunya berdiri, "Kamu jangan banyak gerak, tunggu sampai obatnya selesai diinfus, aku akan membawamu pulang, bagaimana?"
Bella menggelengkan kepala, mendadak duduk kembali ke atas kasur, "Aku tidak punya rumah lagi."
"Kakek sedang menunggu kepulangan kita." David berusaha membuat suaranya terdengar lembut, "Di paviliun ada pelayan, mereka bisa membantumu mengurusi kebutuhan sehari-hari, jadi bagaimana kalau kamu tinggal dulu di paviliun untuk sementara?"
"Itu rumah keluarga Kakek, bukan rumahku."
"Rumah keluarga Kakek berarti rumahmu juga," David berjongkok, kebetulan sama tingginya dengan Bella, "Bella, kita pergi rujuk bagaimana? Lalu melahirkan anak kita berdua."
Bella mendongak menatap David, wajahnya menyiratkan cemooh, "Kamu sudah memikirkannya baik-baik?"
"Iya, sudah kupikirkan baik-baik."
"Tapi aku belum memikirkannya," Bella menghirup napas, "Jika mengalami rasa sakit yang sama, rasanya aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi."
"Tidak akan," David memeluknya, "Kali ini kita jalani dengan baik, ya?"
"Apa masih bisa dijalani dengan baik?" Bella tertawa pahit, "Kamu masih ingat kan di villa masih ada papan memorial kakak pertama? Meskipun kita rujuk, kembali bersama, namun dengan melihat papan memorial kakak setiap hari, apa hatimu tidak ada sedikitpun perasaan bersalah?!"
Raut muka David berubah gelap, membuka mulutnya, dan dengan ragu-ragu berkata, "Aku akan mencari tanah yang bagus untuk mengubur Anqila baik-baik."
"Jadi? Wanita yang bersamamu, kakak pertama sudah meninggal, Cindy juga jika kali ini tidak meninggal maka akan sakit berat, lalu aku bagaimana?"
"Bella, kali ini tidak sama ..."
"Apanya yang beda?" Bella memotong perkataannya, "Kamu memilih rujuk apa karena kamu mencintaiku?"
"..."
Bella tertawa dengan suara menyedihkan, "Aku tahu, kamu tidak mencintaiku. Dari tatapan matamu, aku bisa melihat perasaan sedih, perasaan kasihan, dan perasaan bersalah. Namun satu-satunya yang tidak kutemukan, adalah perasaan cinta."
Novel Terkait
Thick Wallet
TessaMy Beautiful Teacher
Haikal ChandraAku bukan menantu sampah
Stiw boyThe True Identity of My Hubby
Sweety GirlUnperfect Wedding
Agnes YuSederhana Cinta
Arshinta Kirania PratistaPernikahan Kontrak
JennyMy Cold Wedding×
- Bab 1 Pernikahan Yang Hancur
- Bab 2 Tidak Mau Bercerai, Saya Hanya Bisa Membiarkan Dirinya Kehilangan Pasangannya
- Bab 3 Sepertinya Perkataan Saya Tidak Kamu Ingat Dengan Baik
- Bab 4 Kamu Menggangap Saya Tidak Berani Membunuhmu?
- Bab 5 Musuh Yang Tidak Dapat Di Kalahkannya
- Bab 6 Derita yang Dia Rasakan Harus Kamu Rasakan Juga
- BAB 7 Tidak Punya Jalan untuk Melarikan Diri
- Bab 8 Asalkan Bisa Menyelamatkan Satu Nyawa
- Bab 9 Harga Dirinya Terjual
- Bab 10 Ini Adalah Takdir Wanita
- Bab 11 Orang Lain Tidak Menginginkanmu, Tetapi Aku Menginginkanmu
- Bab 12 Gimana Jika Dia Benar-benar Mati?
- Bab 13 Berikan Kompensasi Anqila Pada Cindy
- Bab 14 Kebeneran Berdarah
- Bab 15 Melihat Ke Belakang
- Bab 16 Mengapa Kamu Tidak Bisa Mempercayaiku, Meskipun Hanya Sekali?
- Bab 17 Aku akan Memenuhinya dalam Waktu Satu Hari
- Bab 18 Diluar Kebenaran
- Bab 19 Aku Tidak Membunuh
- Bab 20 Kehidupan Di Penjara
- Bab 21 Video Pengawasan
- Bab 22 Pertempuran Pertama
- Bab 23 Dia Tidak Mengecewakanku, Rupanya Cukup Ganas
- Bab 24 Kita Akan Bertemu Lagi
- Bab 25 Kehidupan Yang Berantakan
- Bab 26 Kenyataan Memaksaku Untuk Menjadi Cuek
- Bab 27 Kehangatan yang Lama Tak di Rasakan
- Bab 28 Besok Kita Cerai
- Bab 29 Bukannya Aku Tak Pernah Berusaha
- Bab 30 Aku Tak Melihat Apapun
- Bab 31 Sahabat Wanita Yang Antusias
- Bab 32 Aku Sudah Cukup Dipermalukan
- Bab 33 Gosip Yang Merajalela Di Dunia Maya
- Bab 34 Kamu Ada Bukti Apa Berani Mengatainya
- Bab 35 Aku Menunggu Surat Pengadilanmu
- Bab 36 Grup A dan B
- Bab 37 Karyawan Sementara
- Bab 38 Masih Ingat Impianku Waktu Kecil?
- Bab 39 Kamu Tidak Aman Sendirian
- Bab 40 Masalah Reputasi Individu
- Bab 41 Siapa Bilang Kamu Tidak Mampu Membelinya
- Bab 42 Jelas Jelas Aku Sedang Memarahimu
- Bab 43 Keputusan Bukan Ditangannya
- Bab 44 Bahaya Ketika Mabuk
- Bab 45 Keluar Dari Mulut Harimau
- BAB 46 Rahasia ANQILA
- Bab 47 Bella, Kemari!
- Bab 48 Meskipun Aku Dijual, Aku Juga Tidak Akan Mau Uangmu
- Bab 49 Kalau Begitu Tidak Usah Cerai
- Bab 50 Aku Bukanlah Anqila
- Bab 51 Pesta Makan Menjelang Perceraian
- Bab 52 Sepertinya Ia Tidak Terburu-buru Untuk Bercerai
- Bab 53 Kamu yang Paling Mengerti Dia
- Bab 54 Ide Yang Cukup Bagus
- Bab 55 Aku Memiliki Cara untuk Menangkapmu Kembali
- Bab 56 Tangan Mana yang Menyentuhnya?
- Bab 57 Selera Yang Aneh
- Bab 58 Sengaja Mempersulit
- Bab 59 Spesifikasi Bercerai
- Bab 60 Bersiap Untuk Pergi Keluar Negeri
- Bab 61 Dia Sedang Mandi, Ada Perlu Apa, Sampaikan Saja Padaku
- Bab 62 Uangnya, Anggap Saja Aku Yang Meminjamnya Darimu
- Bab 63 Bella Akan Kembali Kujaga
- Bab 64 Mungkinkah Hamil?
- Bab 65 Lahir Kalau Memang Ada
- Bab 66 Masyarakat Di Kota Ini Bermain
- Bab 67 Apakah Kamu Merasa Sekotor Itu?
- Bab 68 Panggil Saya Suamimu
- Bab 69 Karena Sudah Tidak Peduli, Baru Bisa Sesadis Ini
- Bab 70 Masa Lampau Itu
- Bab 71 Selamat Tinggal,David
- Bab 72 Perceraian
- Bab 73 Petemuan Ini Seperti Takdir
- Bab 74 Kenapa Tidak Berani Melihatku
- Bab 75 Menjadi Kekasihku
- Bab76 Dia Tidak Punya Kaki Sampai Harus Di Antar?
- Bab 77 Aku Memberikanmu Satu Kali Kesempatan Untuk Mencintaiku
- Bab 78 Dijual Ke David
- Bab 79 Hanya Menyampaikan Ini, Jaga Diri Dengan Baik
- Bab 80 Perjodohan
- Bab 81 Adegan Familiar
- Bab 82 Petani Dan Ular
- Bab 83 Ini Hanya Kompensasi
- Bab 84 Mulai Sementara
- Bab 85 Menjalankannya Bersama Akan Ada Hasil
- Bab 86 Bella, Jalan Kita Masih Panjang
- Bab 87 Anak Tidaklah Bersalah
- Bab 88 Jika Ini Semua Bukanlah Cinta
- Bab 89 Kakak Ipar
- Bab 90 Identifikasi Orang Tua-Anak
- Bab 91 Kamu Hanya Menganggap Saya Masa Lalu
- Bab 92 Lagu Ulang Tahun
- Bab 93 Bersama Dalam Kesulitan
- Bab 94 Saya Tidak Bilang Selesai
- Bab 95 Willy
- Bab 96 Kita Menikah Kembali
- Bab 97 Atas Dasar Wanita Saya
- Bab 98 Balas Dendam Cindy
- Bab 99 Aku Tidak Taruhan Dengan Orang Gila
- Bab 100 Apakah Kamu Pernah Mencintaiku?
- Bab 101 Hanya Bisa Memilih Satu
- Bab 102 Aku Adalah Bajingan
- Bab 103 Aku Tahu Kamu Tidak Mencintai Aku
- Bab 104 Mimpi Besar Dan Belum Tersadar
- Bab 105 Berakting
- Bab 106 Bella, Aku Datang Mencarimu
- Bab 107 Jangan Usir Aku
- Bab 108 Pertunjukkan dari Ketiga Laki-laki
- Bab 109 Konfrontasi Kamar Mandi
- Bab 110 Bajingan Kecil
- Bab 111 Mesin Cuci Yang Kesepian
- Bab 112 Ibu-Anak Anti-View
- Bab 113 David Adalah Lelakiku
- Bab 114 Jika Kamu Tak Buka, Aku Yang Bantu Membukanya
- Bab 115 Kejujuran
- Bab 116 Aku Pasti Bisa Membawamu Ke Puncak
- Bab 117 Harga Diriku Melarangku Mengulangi Kesalahan Yang Sama
- Bab 118 Kembalilah, Ya?
- Bab 119 Menikah Dengan Sekali Lagi
- Bab 120 Kita Menikah Saja
- Bab 121 Tidak Bisa Berhasil Belajar
- Bab 122 Gembi Gu Dalam Bahaya
- Bab 123 Aku Ingin Kamu dengan Senang Hati Menikah Denganku
- Bab 124 Mulai Hari Ini, Kamu Harus Selalu Berada di Sampingku
- Bab 125 Hutang Wanitaku, Biar Aku Yang Membayarnya
- Bab 126 Keadaan Yang Baik
- Bab 127 Semua Ini Karena Sup Ayam
- Bab 128 Di Antara Kita Mana Ada Lagi Hubungan Keluarga Yang Bisa Dianggap
- Bab 129 Kebenaran Yang Tersembunyi dan Terlihat
- Bab 130 Akulah Alasannya
- Bab 131 Ucapan Buruk Yang Menjadi Nyata
- Bab 132 Menggoda
- Bab 133 Mengulang Trik Lama
- Bab 134 Aku Pernah Mencintaimu
- Bab 135 Bawa Aku Pergi
- Bab 136 Ayuk Ke Pantai
- Bab 137 Pembunuh
- Bab 138 Melarang
- Bab 139 Pergilah, Aku Membiarkanmu Pergi
- Bab 140 Kecepatan Hidup dan Mati
- Bab 141 Kali Ini, Giliranku Yang Menunggumu
- Bab 142 Patah Hati
- Bab 143 Aku Sangat Merindukanmu
- Bab 144 Aku Hanya Mau Satu Jawaban
- Bab 145 Memulai Kehidupan Baru
- Bab 146 Negara Asing
- Bab 147 Jika Suatu Hari Nanti Aku Bisa Melupakannya
- Bab 148 Tom
- Bab 149 Di Dunia Ini, Mana Ada Begitu Banyak
- Bab 150 Ditakdirkan Bersama tapi Terpisah oleh Lautan
- Bab 151 Selamat Tinggal yang Tidak Bisa Terucapkan
- Bab 152 Aku Membencinya, Aku Mencintainya
- Bab 153 Reinkarnasi Kehidupan
- Bab 154 Aku Akan Membayarnya dengan Segala Milikku
- Bab 155 Kembali ke Negeri Asal
- Bab 156 Berpapasan yang Terlewatkan
- Bab 157 Jika Suatu Hari Aku Membohongimu
- Bab 158 Eric Lee
- Bab 159 Dia Adalah Sumber Segala Ketakutanku
- Bab 160 Jangan Menolakku Ya
- Bab 161 Pada Akhirnya Kembali Bertemu
- Bab 162 Kamu Masih Membenciku
- Bab 163 Bintang di Langit, Dia di Hati
- Bab 164 Hanya Masa Lalu
- Bab 165 Tidak Ada Satupun Yang Bisa Dibandingkan Dengannya
- Bab 166 Aku Hanya Ingin Berbuat Baik Kepadamu
- Bab 167 Menebus Kesalahan
- Bab 168 Hebat
- Bab 169 Pengajaran Berkualitas
- Bab 170 Hai Orang Asing
- Bab 171 Mengadu Kecerdasan dan Keberanian
- Bab 172 Masih Ada Berapa Lama Waktu Dihabiskan Untuk Merasa Kesal
- Bab 173 Kapitalis Jahat
- Bab 174 Hati Kecil
- Bab 175 Keangkuhan, Fanatik, Sok Berkuasa, dan Tidak Gampang Menyerah
- Bab 176 Tuan Kelima
- Bab 177 Identitas Nino
- Bab 178 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan
- Bab 179 James Pahlawan tiada tanding
- Bab 180 James-- Pahlawan Tanpa Tandingan (3)
- Bab 181 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya
- Bab 182 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (5)
- Bab 183 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (6)
- Bab 184 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (7)
- Bab 185 James Tang Ekstra - Pahlawan Yang Tidak Ada Bandingannya (8)
- Bab 186 Karnaval Terakhir
- Bab 187 Pertaruhan Hidup
- Bab 188 Biar Aku yang Menemanimu Mati
- Bab 189 Jangan Tanya Tentang Masa Depan
- Bab 190 Epilog
- Bab 190 Epilog (2)
- Bab 191 Epilog (Benar) (1)
- Bab 191 Epilog (Benar) (2)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (1)
- Bab 192 Bagian Ekstra 一 Kehidupan Setelah Pernikahan (2)
- Bab 193 Wawancara Suami Istri
- Bab 194 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (7)
- Bab 195 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (8)
- Bab 196 Bagian Ekstra James Tang —— Pahlawan Hebat (9)