My Cold Wedding - Bab 171 Mengadu Kecerdasan dan Keberanian

Sepertinya David menjadi kesenangan di panggil “Tuan Muda”, menaik-naikkan alisnya, dengan menurut kemudian melepaskan apronnya, dia ragu beberapa saat, kemudian kedua tangannya mulai menyelip ke pinggang Bella memakaikan apron dengan baik, barulah dia pergi.

Tangan dan kaki Bella sangat lincah, aneka macam sayuran dengan waktu yang singkat sudah tersajikan di atas meja, David dan Nino dengan cepat melahap makanan, mereka makan dengan sangat senang sampai tak mampu berkata-kata.

Setelah makan, mereka satu per satu meletakkan piring dan mangkok kosong di dalam bak cuci piring, perut besar dan bundar yang sudah kekenyangan itu berguling di atas sofa dan berlomba siapa yang lebih tinggi.

Setelah Bella selesai mencuci piring dan mangkok, dia berjalan kesana berkata: “Nino kemari, kita sudah harus pulang.”

Nino sedang di gendong di atas kepala David, tertawa sangat riang, mendengar itu suara tawa nya langsung menghilang: “ibu, apa kita boleh pulang lebih malam lagi?”

Bella ada sedikit tidak tega, kemudian melihat ke arah jam yang bergantung di dinding, baru jam 7 lewat.

“Baiklah, hanya sebentar saja ya, jika tidak kendaraan umum sudah tidak ada lagi.”

Nino menjadi riang kembali, memeluk leher David dengan menaik-turunkan badan dengan kegirangan.

Bella juga bergabung duduk di atas ujung sofa, kemudian melihat-lihat kertas gambar desain yang dia ambil dari dalam map, gambar itu di desain sampai dia harus begadang, ada beberapa bagian kecil yang masih kurang terselesaikan dengan teliti, terutama struktur rangkaian sendi mortise dan tenon bangunan, jika ada kesalahan informasi sedikit saja, sangat mungkin bisa menyebabkan ketidak stabilan pada bangunan.

Setelah berhitung sebentar, mengoreksi beberapa hal, tiba-tiba terdengar suara dari belakang tubuhnya: “Lantai ke 3 bagian pondasi di bagian tenggara, perhitungan rangkaian sendi mortise dan tenon tidak begitu benar.”

Saat Bella memutar kepalanya, David langsung mengambil pensil dari tangan Bella, langsung duduk di sampingnya menganalisa, kemudian menggunakan batang pensil untuk melakukan perbandingan di gambar awal: “Kamu lihat, bangunan ini tidak seimbang, tapi bagian timur mengarah ke selatan sekitar 30 derajat, perhitungan di rancangan mu sebenarnya tidak masalah, tapi saat musim semi Kota Harriford akan ada periode Cuaca lembab berkelanjutan, pada saat itu terjadi angin laut akan berbalik berhembus kembali ke daratan, dan kebetulan itu mengarah ke tenggara. Kelembaban udara akan terus meningkat drastis, susunan kualitas pada kayu asli sangat mungkin terpengaruh oleh udara yang basah, yang bisa menyebabkan penyusutan.”

Bella terus mencari dimana letak kesalahan, tapi kemudian saat David menjelaskan dia langsung menyadarinya.

Ternyata karena Cuaca lembab yang berkelanjutan!

Dia mendapat pencerahan, kemudian mengambil pensil dari tangan David dan menghitung ulang pondasi struktur sendi mortise dan tenon, kemudian menambah sedikit berat di pondasi di bagian tenggara, setelah itu barulah dia bernapas lega.

Tidak bisa di elakkan, dalam bidang arsitektur, David mempunyai penglihatan yang akurat, dan selain itu dia sangat berpengalaman.

Di seluruh negara yang mempunyai periode cuaca lembab yang berkelanjutan total hanya ada beberapa, jika di serahkan kepada arsitek provinsi lain, mereka bisa saja melewatkan poin ini.

Pensil sudah di tarik dari dalam genggaman, punggung tangan David masih bisa merasakan kehangatan dari sentuhan jari Bella.

Jarinya bergerak kesana kemari, ada sedikit penyesalan.

“Masih ada bagian yang salah?” Bella bertanya.

David menaikkan sebelah alisnya: “Bukannya tidak aku melihatnya?”

“…..Kau…mau lihat atau tidak.”

David tertawa kecil, kemudian menarik kertas gambar desain dari tangan Bella, memeriksa secara teliti, “Sebenarnya yang sudah kamu kerjakan sudah bagus, jauh lebih baik dari beberapa desainer di perusahaanku, hanya saja kamu masih kurang perngalaman, masih harus berlatih mengerjakan beberapa projek, barulah bisa lebih ahli.”

Bella ragu-ragu: “Apakah desain gambar masih ada yang salah?”

“Masih ada beberapa kesalahan kecil,” David dengan puas mengembalikan gambar desain itu kepada Bella: “Mulai besok kamu langsung melapor ke Perusahaan LS dan mengikuti beberapa projek, aku akan mengutus beberapa desainer untuk membantu mu.”

“….Jangan, aku masih kuliah, masih ada teman seangkatan kan.”

David langsung membalas: “Panggil saja teman-teman seangkatan mu datang ke Perusahaan LS, dengan mereka bisa magang disini, mereka pasti akan sangat senang.”

Sangking senangnya, Johan hampir gila.

“YA TUHAN, BENARKAH? Eric Lee secara pribadi mengundang ku untuk magang di Perusahaan LS?”

Telinga Bella sampai hampir tuli oleh suara teriakan nya yang memekakkan telinga itu, menjauhkan telepon dari telinga: “Iya, pergi magang juga bagus, pasti bisa mempelajari banyak hal.”

Sebenarnya Bella ingin langsung menolak, tapi setelah berpikir kembali, dia tidak mungkin karena keegoisan diri sendiri merampas kesempatan bagus untuk magang teman-temannya, akhirnya dia menyetujui dengan terpaksa.

Setelah menelepon Johan, dan melihat Johan yang meledak kegirangan disana, dia jadi tidak tahu harus senang atau sedih.

Dengan berat dia menutup telepon, Bella kembali memandang ke arah jam dinding.

Bagaimana baru jam 7 lewat 40 menit?

Barusan mereka lumayan lama memperbaiki gambar desain, di tambah lagi mendiskusikan hal mengenai projek, baru memakan waktu 40 menit?

“Masih pagi,” David ke dapur mengambil beberapa buah, memanggil Nino datang makan.

Bella melihat ke meja kopi, kemudian melihat ke sofa, terakhir pergi ke dapur dan kembali: “Dimana handphone ku? Nino, apa kamu melihat handphone ibu?”

Barusan dia menelepon Johan dengan telepon Villa, kemudian kembali mencari handphone nya, tapi tetap tidak menemukannya.

Nino dengan mulut yang di penuhi buah stroberi: “Tidak ada bu, apakah ibu meninggalkannya di lantai atas?”

Bella langsung terburu-buru lari ke lantai atas, kemudian menyingkirkan sepasang Transformer dan mencari-cari, masih belum ketemu.

“David.” Dengan tatapan serius dia melihat David: “Dimana handphone ku?”

David mengangkat bahunya: “Aku juga tidak tahu.”

Bella mencurigainya: “Sungguh tidak tahu?”

“Kalau begitu aku akan mencarikannya untukmu?”

Saat Bella tidak mencarinya, barulah dia melihat handphone yang dia letakkan di atas meja, kemudian menghidupkan layar-----

Masih juga jam 7 lewat 40.

Tapi….dia masih merasa ada yang janggal.

Saat David tidak lengah, Bella langsung melangkah ke sisi lain sofa, kemudian menyalakan laptop-nya.

Saat itu juga dia marah sampai gemetar.

Dia menunjuk ke arah sudut kanan yang menunjukkan waktu, dengan tidak percaya: “DAVID, KAU….SEKARANG SUDAH JAM 11 MALAM LEBIH!”

“Ou, sudah larut sekali,” David menggendong Nino: “Nino malam ini tinggal disini saja ya? Boleh tidur sambil memeluk Transformer.”

Nino ingin mengiyakan, dengan mata yang berkedip-kedip bertanya: “Apakah ibu juga akan menginap?”

Tidak menunggu Bella berbicara, David langsung mendahului: “Tentu saja, ibu juga menginap.”

Nino langsung mengangguk: “Baiklah!”

“DAVID!” Bella emosi tidak tertahan: “Apa kau sengaja mengatur jam menjadi lambat?”

David mengerutkan alisnya, dengan suara kecil menjawab: “Didepan anak kecil tidak boleh sembarang berteriak, bisa mengangetkan anak kecil.”

Emosi Bella yang meluap-luap tiba-tiba hilang seperti bola kulit yang mengempis, “Aku tidak…aku hanya menyampaikan pertanyaanku.”

“Benar, aku yang mengaturnya.” David dengan terus terang mengaku.

Bella menatapnya kesal: “Aku seharusnya tidak mempercayai mu.”

David kemudian menjelaskan: “Aku tidak ada cara lain lagi, aku hanya ingin bersamamu sebentar lagi saja.”

Bella tidak mempedulikan nya, kemudian mengajak Nino pulang: “Nino, ayuk ikut ibu pulang.”

Nino dengan bermalas-malasan keluar dari pelukan David, kemudian menarik tangan Bella: “ibu, jam segini kendaraan umum sudah tidak jalan lagi.”

“He…” Suara tawa David keluar: “Benar, pemberhentian bus terdekat dari Villa ini juga memakan waktu 20 menit dengan mobil, dan juga sudah tidak ada taksi yang lewat, kecuali kamu mengendarai mobil sendiri.”

Bella sudah membuka pintu setengah, kemudian berhenti terpaku.

“Jadi……” Suara David dari belakang menyelimuti nya: “Apa kamu bisa membawa mobil?”

Bella menggertak kan giginya dengan kesal, dia sungguh tidak bisa mengendarai mobil….

Dengan tenang David duduk di atas sofa, kunci mobil berayun-ayun di telunjuk nya: “Tidak usah kembali lagi, beristirahatlah disini semalam saja, aku mengadu kecerdasan dan keberanian denganmu selama seharian juga sudah sangat melelahkan, tidak ada berpikir hal lain lagi.”

Tidak tahu mengapa, Bella merasa mata David, seperti menyiratkan tatapan melihat mangsa.

Novel Terkait

My Only One

My Only One

Alice Song
Balas Dendam
3 tahun yang lalu
You're My Savior

You're My Savior

Shella Navi
Cerpen
3 tahun yang lalu
Cinta Tak Biasa

Cinta Tak Biasa

Susanti
Cerpen
2 tahun yang lalu
King Of Red Sea

King Of Red Sea

Hideo Takashi
Pertikaian
2 tahun yang lalu
The Comeback of My Ex-Wife

The Comeback of My Ex-Wife

Alina Queens
CEO
2 tahun yang lalu
Sang Pendosa

Sang Pendosa

Doni
Adventure
2 tahun yang lalu
Awesome Guy

Awesome Guy

Robin
Perkotaan
2 tahun yang lalu
Behind The Lie

Behind The Lie

Fiona Lee
Percintaan
2 tahun yang lalu