Be Mine Lover Please - Bab 37 Tinggal Dan Tenang Di Sisiku

Perkembangan berita tak meningkat. Dan dalam 2 hari, popularitas beritanya berangsur-angsur menurun. Ya saat tidak ada kabar baru, maka tidak akan ada orang yang mau terus mengikuti beritanya.

Kehidupan Nikita Su telah kembali seperti semula. Perjalanannya setiap hari antara Jingyuan dan perusahaan Yitian, dan dia sesekali melakukan perjalanan ke perusahaan Li untuk membahas pekerjaan. Dan beginilah hidupnya.

Sebagai seorang desainer yang bertanggung jawab, Nikita Su tidak hanya menggambar rancangan desain di perusahaan, tetapi sesekali pergi ke lokasi konstruksi untuk memeriksa kemajuan proyek dan memeriksa kemajuan dekorasi.

Siang hari, selesai makan, Nikita Su berangkat menuju Taman Mutiara. Setelah menunjukkan izin kerja, Nikita Su akhirnya diizinkan memasuki lokasi pembangunan. Dalam proses proyek pembangunan, orang tak berkepentingan di larang masuk.

Ada lebih dari selusin vila di Taman Mutiara, dan hampir setiap vila dirancang asli dan tanpa duplikasi. Nikita Su mengambil buku catatan dan dengan cermat mencatat kemajuan setiap vila di atas kertas.

Ada jarak tertentu antara masing-masing vila, dan setelah berjalan beberapa waktu Nikita Su merasa sedikit lelah, hingga akhirnya memilih beristirahat di taman dalam Taman Mutiara. Sebagai area vila mewah kelas atas, Taman Mutiara secara alami memiliki peralatan luar ruangan seperti alat kebugaran dan alat olahraga lainnya.

Nikita Su duduk bersila di bangku, memandang lingkungan sekitarnya, dia selalu merasa kalau beberapa bagian gambar desain perlu direvisi. Saat sedang berpikir keras, sebuah suara yang dikenal datang: “Kamu kenapa datang kesini?”

Nikita Su reflek mengangkat kepalanya, dan entah kapan, Leonard Li sudah berdiri di sampingnya. “Paman, kamu jalan kok tidak ada suaranya?” Tanya Nikita Su.

Leonard Li tidak menjawab, tetapi melihat ke buku catatannya: “Apakah ada masalah di sini?”

Mendengar itu, Nikita Su menunjuk ke ruang terbuka di depan dan berkata: “Nah, dalam rencana awal, peralatan fitnes harusnya ditempatkan di sini. Tapi menurutku jika hanya digunakan untuk fitnes, ruang terbukanya agak besar...Tapi setelah melihat tata letak keseluruhan, tempat yang diperlukan telah dibagi sesuai rencana awal.”

Leonard Li duduk di sampingnya, mengikuti tatapannya, dan diam. Dia kemudian mengambil gambar desain di tangannya, sambil berpikir berkata. “Kamu bisa membagi area di sini dan menggunakannya sebagai taman bermain untuk anak-anak,” kata Leonard Li dengan tenang.

Mendengar itu, mata Nikita Su bersinar terang, dan dia berkata dengan riang, “Iya ya, kok aku tidak kepikiran. Hampir setiap keluarga pasti memiliki anak, dan kita juga harus mempertimbangkan sarana untuk anak-ana. Paman, kamu hebat sekali...”

Mendengar pujian langka yang di tujukan padanya, mata Leonard Li bersinar dengan senyuman: “Iya, aku pernah punya anak.”

Nikita Su menatapnya keheranan, matanya penuh dengan keterkejutan: “Paman, kamu punya anak? Mengapa aku tidak pernah dengar Aldo cerita?” Kalau Leonard Li memang punya anak, keluarga Ye pasti tidak punya alasan untuk tidak tahu akan hal ini. Dia sudah pernah dengar kalau Leonard Li pernah menikah, tetapi istrinya meninggal setelah tak lama menikah.

Mata Leonard Li dengan cepat berkilat karena sedih dan dia terdengar menyalahkan dirinya sendiri, berkata dengan suara rendah, “Anaknya sudah di surga.” Beberapa kata itu terdengar begitu berat.

Nikita Su menyadari kalau dia telah menanyakan apa yang seharusnya tidak dia tanyakan, dan dengan cepat meminta maaf: “Maaf, paman, aku seharusnya tidak boleh membuka luka dan kesedihanmu.”

Leonard Li menatap ke kejauhan, menjawab dengan tenang: “Tidak apa-apa, semua sudah berlalu. Ya sudah aku akan pergi berpatroli ke lokasi konstruksi, dan setelah itu akan mengantarmu pulang.” Leonard Li setelah itu berdiri.

“Tidak perlu, aku juga sudah beres, aku bisa pulang sendiri.” Nikita Su berkata dengan cepat, dia tidak ingin banyak berhubungan dengannya.

Leonard Li menatapnya dengan sesuatu yang berkilauan di matanya. Saat dia akan pergi, tiba-tiba terdengar suaranya: “Jangan memanggilku paman lagi.” Setelah itu, dia mengajak sekelompok orang yang bersamanya pergi dari sana.

Melihat mereka pergi, Nikita Su menghela nafas lega. Memikirkan topik barusan, pikiran Nikita Su melayang ke masa 3 tahun yang lalu. Dia masih ingat musim panas itu ketika dia dibawa ke ruang bersalin dan melahirkan seorang bayi. Dan setelah beberapa jam melahirkan, dia jatuh pingsan karena kesakitan, ketika dia bangun, bayi itu sudah di bawa pergi.

Sampai sekarang, dia masih belum tahu di mana anak itu berada dan seperti apa bentuknya. Meskipun dia selama ini tidak pernah menyebutkan cerita ini, tapi di dalam hatinya masih merindukannya.

Dia tidak bisa melupakan saat dia hamil 5 bulan dan sedang berjalan di dekat vila, nasib sialnya melihat Aldo Ye yang seharusnya masih koma. Dan Aldo Ye yang seharusnya gembira telah bangun dari tidur panjang seketika merasa terpukul keras. Dia bertanya siapa ayah anak itu, Nikita Su tidak tahu. Dia memaksanya untuk mengeluarkan anak itu, tetapi dia hanya bisa diam dan kemudian menolaknya.

Sambil menghela nafas panjang, Nikita Su menarik diri dari ingatan masa lalu. Dia mengusap kakinya dan melanjutkan sisa pekerjaan. Tidak peduli apa yang sudah dia alami, kehidupan harus tetap berlanjut.

Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada guntur dari atas langit. Nikita Su mengangkat kepalanya, baru menyadari pada titik tertentu, langit sudah tertutup awan gelap. Melihat hujan akan turun, Nikita Su langsung berlari ke depan mencari tempat berteduh.

Sebelum mencapai vila berikutnya, hujan sudah turun. Nikita Su menerobos hujan dan akhirnya sampai ke vila untuk berteduh dari hujan. Tubuhnya sudah basah kuyup, tapi dia mengabaikannya dan langsung menyeka noda air hujan di buku catatan dengan tisu.

“Hujan sepertinya akan berhenti dalam beberapa waktu.” Sambil bersandar di pintu, Nikita Su melihat hujan dan berpikir seperti itu.

Waktu berlalu sedikit demi sedikit, tapi hujan tak kunjung berhenti. Dia merasa sedikit kedinginan dan rumahnya masih dalam tahap pembangunan, jadi dia hanya bisa berjongkok di tanah. Tapi untungnya, ini bukan musim dingin.

Dalam penantian panjang, sosok yang akrab tiba-tiba muncul dari tirai hujan. Di bawah payung, wajahnya terlihat jelas. Melihat Nikita Su, Leonard Li langsung mempercepat langkahnya dan mendatanginya. “Kehujanan?” Suara terdengar penuh perhatian.

Nikita Su mengangguk dan berkata sambil tersenyum masam: “Orang yang sial, keluar rumah saja bisa kehujanan.”

Leonard Li diam, mengesampingkan payungnya, melepas jasnya dengan rapi, dan memakaikannya pada tubuh Nikita Su, “Paman...”

“Panggil namaku.” Mengenai panggilan ini, Leonard Li sangat kukuh.

Setelah memikirkannya, Nikita Su akhirnya mengikuti perkataannya: “Leonard.” Ada bau khas di jasnya, dan bekas suhu tubuh di jasnyay membuatnya merasa hangat. Dia saat ini padahal hanya mengenakan kemeja putih, tapi entah kenapa masih terlihat sangat tampan.

Leonard Li mengambil payung, berkata dengan ringan, “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

Sambil mengerutkan kening, Nikita Su menunjuk ke 2 vila lainnya: “Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Salah satu penyakitnya ini adalah, dia tidak suka melakukan sesuatu setengah-setengah.

Leonard Li mendengar itu melihatnya: “Hm, aku akan menemanimu.” Setelah mengatakan itu, menarik tangannya, dan membawanya pergi ke tempat tujuannya.

Berdiri di sampingnya, keduanya berbagi dalam satu payung. Tangannya masih di genggam olehnya, sebuah kehangatan membasahi hatinya. Nikita Su sedikit memberontak, dengan ragu berkata: “Lepaskan aku.”

Leonard Li menoleh, memperingatinya: “Kalau tidak mau kebasahan, tinggal dan tenang di sisiku.”

Karena tadi dia memberontak, membuat jasnya sedikit basah. Melihat itu, Nikita Su menundukan kepala, hanya bisa mendengarkannya. Sampai di tempat tujuan, Nikita Su masuk ke dalam dan Leonard Li berdiri di depan, dengan wajah tanpa ekspresi menunggunya.

Nikita Su selesai menangani pekerjaannya kemudian menatapnya, dia merasakan getaran yang tidak dapat dijelaskan di dalam hatinya, getaran yang begitu hangat. Nikita Su berlari ke sisinya, tersenyum: “Lama ya? Tenang yang berikutnya akan diselesaikan dengan cepat.”

Bibir Leonard Li membentuk lengkungan yang sangat dangkal: “Tidak apa-apa, aku punya cukup kesabaran untuk menunggumu.”

Entah kenapa, telinga Nikita Su menjadi panas setelah mendengar ini. Dia seperti memiliki arti lain dari kata-katanya itu. “Ayo pergi.” Sambil menarik pikirannya, Nikita Su mencoba untuk tetap tenang.

Hanya berdehem, Leonard Li kembali menggenggam tangannya. Hanya kali ini, dia tidak melawan. Keduanya lalu lalang di tengah hujan, dengan pemandangan berbeda-beda. Nikita Su tidak sengaja memalingkan kepalanya, melihat jarak terdekatnya yaitu wajah Leonard Li, jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.

Seolah-olah menyadari perhatiannya, Leonard Li menoleh ke belakang, dan mata mereka berdua tanpa sengaja bertemu. “Air liurnya.” Kata Leonard Li acuh tak acuh.

Nikita Su dengan cepat mengangkat tangannya, lalu menyadari kalau dia sedang ditipu, dan dengan kesal berkata: “Leonard, kamu membohongiku.”

Leonard Li mengangkat lengannya, telapak tangannya jatuh ke rambutnya, suaranya diwarnai dengan senyuman, dan itu terdengar menyenangkan di telinga: “Siapa yang menyuruhmu begitu polos, mudah dibohongi.”

Nikita Su dengan kesal meninjunya, memutuskan untuk mengabaikannya dan melihat ke depan, tidak lagi menyimpang. Melihat sikapnya yang seperti anak kecil, dari mata Leonard Li terlihat begitu penuh kasih.

Saat keduanya berjalan keluar dari Taman Mutiara, langit tanpa diduga berubah menjadi cerah. Tampaknya hujan barusan hanya memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk berdua. “Cari taksi disini susah, aku antar saja.” Leonard Li menutup payungnya dan berkata dengan tenang.

Hujan barusan mengganggu ritme pikirannya, dan Nikita Su butuh lebih banyak waktu untuk menyesuaikan kondisinya. “Tidak, cuaca setelah hujan bagus, dan cocok untuk jalan kaki. Ya sudah aku pergi dulu, sampai jumpa.” Nikita Su berkata singkat, sebelum menunggu jawabannya, dia sudah berjalan maju dengan cepat.

Seolah menebak kalau dia akan mengelak, Leonard Li berhenti selama dua detik lalu dengan cepat mengikuti langkahnya. “Kamu kenapa ikut?” Nikita Su menatapnya dengan heran.

Dengan satu tangan di kantong celananya, Leonard Li mengangkat bahu: “Cuacanya bagus, ingin jalan-jalan.”

Sudut mulutnya bergerak melihat Bugatti Veyron yang perlahan mengikuti di belakangnya, Nikita Su memberinya sorotan mata. Karena dia telah mengatakan itu, maka dia tidak bisa menolak dan mengusirnya karena jalan ini juga bukan miliknya.

Saat keduanya sampai di perempatan, Nikita Su berbalik dan menghadapnya: “Hey, disini sudah gampang cari taksi kok, ya sudah kita pisah disini saja ya.”

Terkadang tidak baik untuk menekan seseorang terlalu erat, Leonard Li memahami kebenaran ini. Dia kemudian membungkuk untuk memberinya pelukan, dan berkata dengan tenang, “Ya, baiklah.”

Leonard Li melepaskannya, berbalik dan berjalan menuju mobil mewah. Melihat mobil itu pergi, Nikita Su menoleh ke belakang. Dia menemukan selama dia melakukan kontak dengan Leonard Li, hatinya pasti akan mengalami perubahan halus dan pasti. Tapi perasaan ini bukanlah hal yang baik.

Sambil menekan dadanya, Nikita Su terus berkata pada dirinya sendiri: “Harus tahan dan kuat, dan jangan banyak berhubungan dengannya, kalau tidak...” Kehadiran Leonard Li sungguh mengganggunya dan memengaruhi hatinya.

Setelah menghela nafas panjang, Nikita Su menghentikan taksi. Terkadang, cinta dan tidak cinta bukan dikendalikan oleh otak. Ya karena kalau tidak, di dunia ini tidak akan ada begitu banyak orang yang terjebak dalam cinta.

Dan ada kalimat yang mengatakan kalau kebersamaan adalah pengakuan cinta abadi.

Novel Terkait

Baby, You are so cute

Baby, You are so cute

Callie Wang
Romantis
2 tahun yang lalu
Cinta Dibawah Sinar Rembulan

Cinta Dibawah Sinar Rembulan

Denny Arianto
Menantu
3 tahun yang lalu
 Habis Cerai Nikah Lagi

Habis Cerai Nikah Lagi

Gibran
Pertikaian
2 tahun yang lalu
CEO Daddy

CEO Daddy

Tanto
Direktur
2 tahun yang lalu
Mi Amor

Mi Amor

Takashi
CEO
3 tahun yang lalu
Villain's Giving Up

Villain's Giving Up

Axe Ashcielly
Romantis
2 tahun yang lalu
Istri Yang Sombong

Istri Yang Sombong

Jessica
Pertikaian
3 tahun yang lalu
Cinta Tapi Diam-Diam

Cinta Tapi Diam-Diam

Rossie
Cerpen
3 tahun yang lalu