Be Mine Lover Please - Bab 32 Telurmu Tidak Pecah Kan?

Sejak hari valentine, hubungan Nikita Su dan Leonard Li berubah menjadi semakin ambigu. Sementara Henny An demi menyambut kehebohan hari Valentine menjadi begitu stres.

Redaksi Majalah Rosewood, Henny An menunduk kepala dengan serius mendengarkan teguran direktur redaksi majalah.

“Henny, perusahaan Fu melarang dan mengunci perkembangan majalah kita, dan sekarang semua berita yang bisa menjadi headline tidak bisa diwawancarai. Kalau ini terus berlanjut, maka redaksi majalah kemungkinan besar harus ditutup.” Tegur direktur redaksinya dengan sangat serius.

Henny An sambil membungkuk lagi meminta maaf, dengan suara kecil berkata: “Maaf, direktur, ini semua salahku, sehingga ikut menyusahkan dan membuat rugi redaksi majalah.”

Melihat sikap tulusnya, nada bicara direktur menjadi lebih lembut: “Aku tidak tahu kamu bagaimana bisa memprovokasi direktur Fu. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menariknya kembali. Hari ini cari waktu untuk mengunjungi perusahaan Fu dan cari orang yang bersangkutan untuk meminta maaf.”

Henny An dalam hati sudah memaki Calvin Fu habis-habisan, tapi dia saat ini hanya bisa mengangguk setuju: “Baik, aku akan mencarinya sore ini juga.”

Direkturnya berdiri, menepuk pundaknya, dan berseru: “Bicara baik-baik dengannya, kalau tidak, nanti bukan hanya majalah kita yang akan sial tapi masa depanmu di media ke depannya juga akan ikut berdampak.”

Henny An mengangguk penuh semangat, menyetujui pernyataan direkturnya: “Iya, iya, jangan khawatir, direktur, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat direktur Fu melepaskan majalah kecil kita.”

Akhirnya setelah berhasil melewati omelan direktur, Henny An berjalan keluar dari ruangan dan menghela nafas lega. “Bagaimana dengan kabarmu?” Tanya koleganya Ani dengan prihatin.

“Direktur sepertinya sudah menopause, dan kemampuan mengomelnya lebih baik dari sebelumnya,” kata Henny An. Setelah itu, dia berjalan menuju gerbang.

Melihat ini, Anu berlari ke depan dan bertanya dengan bingung: “Pemimpin redaksi, kamu mau kemana?”

Henny An berbalik, mengedipkan matanya, tersenyum dan menjawab: “Pergi menyelesaikan masalah, sekalian membersihkan telinga.” Kemudian, dia meninggalkan perusahaan majalah itu.

Tak lama, Henny An tiba di lantai bawah perusahaan Fu. Satu tangannya menyangga kepalanya, Henny An bertanya-tanya bagaimana dia bisa naik ke atas dengan lancar. Saat dia memutar otak untuk berpikir, sosok yang dikenalnya terlihat di depan matanya.

Melihatnya, Henny An dengan cepat berlari maju, mengulurkan tangan, dan menghadang jalan Calvin Fu: “Tuan Fu, mari kita bicarakan.”

Calvin Fu dengan wajah tanpa ekspresi meliriknya: “Menyingkir.”

Henny An baru mau berbicara, asisten yang berdiri di samping Calvin Fu maju, menahan Henny An, dengan suara tidak enak berkata: “Nona, direktur kami sangat sibuk, kalau ada kepentingan, silahkan buat janji dulu.”

Melihat Calvin Fu yang berjalan masuk ke gedung utama, Henny An menghindari asisten itu dan terus mengejarnya, berlari sampai di depannya: “Tuan Fu, kalau kamu masih marah karena kejadian hari itu, aku sekarang juga bisa meminta maaf denganmu. Tapi, kamu tidak bisa karena masalah pribadi seperti ini lalu pergi menyusahkan redaksi majalah kami.”

“Sudah selesai?” Tanya Calvin Fu begitu tenang.

Henny An menganggukan kepala, tersenyum padanya: “Iya, tuan Fu yang berhati besar, harusnya tidak akan perhitungan dengan orang-orang kecil seperti kami kan?”

Calvin Fu meletakan satu tangannya di kantong, tidak mengatakan apapun, langsung pergi melewatinya. Melihat sikapnya, emosi di hati Henny An langsung naik. “Calvin, kenapa diam saja, ngomong dong.” Teriak Henny An dengan tidak puas.

Calvin Fu meliriknya dingin: “Ya kalau kamu memang sudah selesai dengan ucapanmu, pergilah menyingkir dari sini.” Setelah mengatakan itu, dia melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung perusahaannya.

Karena hari ini dia sudah ada disini, jadi dia tidak mungkin melewatkannya dan melakukan perjalanan yang sia-sia. Memikirkan hal ini, Henny An berlari secepat mungkin masuk ke dalam gedung, dengan tangan di pinggul, berteriak: “Calvin, kamu ini masih laki-laki bukan? Bukannya cuma kecium sekali ya? Lagipula yang rugi itu aku, lalu apa yang menjadi masalah untukmu?”

Mendengar ini, staf meja depan resepsionis memandang mereka dengan heran. Dan wajah Calvin Fu menjadi sangat muram. Dan Henny An sendiri sudah tidak peduli untuk tentang ini.

“Aku kan sudah minta maaf padamu, kenapa kamu masih begitu perhitungan. Kalau kamu benar-benar tidak mau menerimanya, balas cium aku saja, dengan begitu kita akan menjadi imbang.” Kata Henny An dengan mendiktaktur dan dia kemudian menoleh, menggerakkan pipinya ke depan...

Dengan mata sedikit menyipit, tubuh Calvin Fu dipenuhi dengan tekanan udara yang rendah dan menakutkan. Dia tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi memerintah: “Bawa dia keluar dan jangan pernah ijinkan dia masuk ke sini lagi.”

Sebelum dia selesai berbicara, penjaga keamanan yang sudah menunggu di samping mengangguk dengan hormat, dan dengan cepat melangkah maju, memegang tubuh Henny An dan mengangkatnya keluar. Melihat ini, Henny memberontak keras: “Calvin, dasar brengsek, biarkan aku turun!”

Tidak peduli bagaimana dia berteriak, Calvin Fu terus berjalan ke lift seolah-olah dia tidak mendengarnya. Henny An terlempar keluar dari gedung dan jatuh ke tanah dengan keras.

Dia memegang pantatnya dengan kesakitan, menatap tajam gedung di depannya dengan kesal: “Calvin, menurutmu aku akan mati seperti ini hah? Tunggu saja, aku akan menemukan berita berharga...”

Perusahaan Yitian bertanggung jawab atas dekorasi dan desain Taman Mutiara, oleh karena itu, setiap minggu, pihak perusahaan Yitian harus pergi ke perusahaan Li untuk memeriksa bagian desain yang relevan hingga berulang kali untuk memastikan tidak ada yang miskom.

Sampai di perusahaan Li, mengingat terakhir kali Nikita Su meninggalkan tempat itu dengan panik, dan jantungnya berdebar kencang. Dia hari itu telah melakukan tindakan yang berat, dan tidak tahu apakah Leonard Li terluka atau tidak. Saat memikirkan ini dia merasa semakin gugup.

Di dalam ruang pertemuan, Nikita Su duduk tenang di kursinya, menunggu Leonard Li meninjau bagian yang sesuai dari gambar desain untuk proyek tersebut minggu ini. Setelah menunggu sekitar setengah jam, Girno Chen keluar dari sana.

“Asisten Chen, apakah ada instruksi dari direktur Li?” Nikita Su bertanya dengan cepat.

Girno Chen menghampirinya dan menjawab sambil tersenyum: “Direktur bilang tidak ada masalah dengan gambar desain dan biarkan proyek berlanjut dengan semestinya.”

Mendengar perkataannya, Nikita Su merasa lega. Baru saja mau pergi, setelah memikirkannya, dia berhenti. “Asisten Chen, direktur baru-baru ini…Tidak ada masalah kan?” Nikita Su bertanya dengan hati-hati.

Girno Chen memandangnya dengan bingung, dan bertanya dengan penasaran: “Direktur? Direktur akhir-akhir ini baik-baik saja.”

Dengan pipi memerah, Nikita Su tersenyum dan mengangguk, mengambil gambar desainnya, dan berjalan keluar. Begitu dia berjalan ke pintu masuk lift, dia mendengar Girno Chen mengejarnya: “Nona Su, direktur memintamu untuk masuk dan berbicara dengannya.”

Setelah beberapa detik ragu, Nikita Su akhirnya mengikutinya masuk ke ruangan direktur. Mengetuk pintu, setelah mendapat izin baru masuk ke dalam. Melihatnya yang bekerja di sana dengan sangat serius, Nikita Su tidak melangkah maju dan menunggu di depan dengan tenang.

Setelah selesai menangani pekerjaannya, Leonard Li berdiri dan mendatanginya. Dia tidak berbicara, hanya menatapnya.

Dilihatnya seperti itu, Nikita Su dengan canggung memecah keheningan itu: “Direktur Li, ada apa mencariku?”

“Aku yang harusnya menanyakan ini padamu. Apa tidak ada kata yang perlu dikatakan padaku?” Leonard Li balik bertanya.

Dengan kepala menunduk, tangan di letakan di depannya, Nikita Su terlihat ragu-ragu. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya, dengan tersipu, bertanya dengan suara rendah, “Yah...Kamu hari itu tidak terluka kan?”

Sengaja berpura-pura bingung, Leonard Li bertanya seolah tidak mengerti: “Hari itu?”

Untuk beberapa saat telinganya terasa panas, dan mata Nikita Su dengan cepat berputar menolak untuk melihat ke arahnya: “Hm itu...Telurmu tidak pecah, kan? Maaf, aku hari itu tidak bermaksud begitu.”

Leonard Li bisa merasakan kegugupannya. “Pukulannya cukup berat, dan hampir pecah.” Jawab Leonard Li.

Nikita Su membuka mulutnya karena terkejut, menatapnya kosong. Setelah beberapa lama, Nikita Su membungkuk dan meminta maaf: “Aku benar-benar minta maaf, aku saat itu juga karena panik...Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Bagaimana menurutmu?” Leonard Li tidak menjawab pertanyaan itu.

Nikita Su merasa bersalah, dia menggigit bibirnya, matanya penuh permintaan maaf. Leonard Li awalnya ingin menggodanya, tapi akhirnya tidak tahan melihatnya seperti ini.

Dia mengambil langkah maju dan persempit jarak antara satu sama lain, mengambil tangannya dan tiba-tiba meletakkannya di atas bola telurnya. Mata Nikita Su membelalak karena terkejut, suhu di pipinya meningkat.

Dia ingin menarik tangannya, tapi Leonard Li memegangnya dengan erat. Panas di telapak tangannya membuatnya merasa bingung harus bagaimana. “Elus elus saja agar tidak ada apa-apa.” Leonard Li mengucapkan kata-katanya dengan serius.

Nikita Su mencoba melepaskan diri, memandangnya dengan kesal: “Jangan menggodaku.” Di balik celana setelan itu, dia bisa merasakan suhu miliknya. Hangat, mengenai kekerasannya dia tidak bisa mengatakannya.

Dia suka melihatnya yang malu-malu, suka yang tak bisa dikatakan dengan jelas. “Kamu hampir saja membuat milikku tidak bisa berfungsi lagi, dan sekarang tidak ingin memberikan kompensasinya padaku?” Kata Leonard Li dengan santai. Sambil mengatakan itu, dia menggunakan sedikit tenaga untuk menurunkan tangannya ke area kontaknya yang lebih besar.

Nikita Su menepuk tangannya dengan kesal, dan berkata dengan marah: “Leonard, lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan benar-benar marah.”

Melihat godaannya sudah cukup, Leonard Li melepaskannya, bibirnya terangkat: “Tidak ada lain kali ya, atau kalau ada, kamu harus memberiku kompensasi dengan dirimu langsung.”

Setelah mendapat kebebasan, Nikita Su langsung mundur selangkah, dengan malu memanglingkan wajahnya: “Nah kamu juga tidak boleh membullyku.”

Leonard Li dengan natural maju, mengangkat tangannya dan menjatuhkan tangannya di atas kepala Nikita Su. Dia mengambil segenggam rambutnya melingkarkan di jarinya, kemudian dengan suara rendah berkata: “Begini juga termasuk membully ya?”

Di tengah kekesalan Nikita Su menyadari, menghadapi godaan Leonard Li, dia memang kesal, tapi tidak ada sikap jijik. Ketika menyadari akan hal ini, dalam hatinya sedikit merasa gugup, perasaan ini, dia tidak menyukainya.

“Kalau tidak ada hal lainnya, aku pergi dulu ya.” Nikita Su mengatakan itu dengan cepat, tanpa menunggu jawabannya, langsung lari dari sana. Melihat langkahnya, di mata Leonard Li terlihat senyuman.

Keluar dari gedung perusahaan Li, Nikita Su terdiam di tempat: “Detak jantungku mengapa berdegup begitu kencang?”

Malam hari, di apartemen Jingyuan, Nikita Su dan Henny An duduk di ruang tamu menonton acara idol. Hanya pikiran keduanya, tidak berada dalam acara film itu. “Laki-laki itu sungguh lebay, orang cuma kecium saja, responnya bisa sebesar itu.” Henny An dengan kesal mendumel.

Nikita Su mengangguk, dengan setuju berkata: “Iya semua lelaki itu lebay.”

“Oh ya Nikita, proses perceraianmu dengan Aldo bagaimana?” Tanya Nikita Su dengan penuh perhatian.

Saat makan malam hari itu, Nikita Su memberi tahu keluarga Ye tentang tekadnya untuk bercerai. Dia pikir dengan cara ini segalanya akan berjalan lancar. Tapi pada akhirnya, tidak ada reaksi sama sekali. Sampai saat ini masih belum ada angin berita tentang itu.

Henny An menepuk pundaknya, tersenyum dan menghibur: “Jangan khawatir, kamu bisa bercerai dengannya kok. Aku kemarin sudah menghubungi kakak senior Marcus Gu. Dia adalah teman baikku dan dia pasti akan membantumu memenangkan gugatan ini.”

Nikita Su hanya berdehem, teleponnya tiba-tiba berdering. Melihat nomor penelepon, Nikita Su menjadi gugup, dia menoleh, dan berbisik kepada Henny An, “Sepertinya ada kemajuan.”

Novel Terkait

My Cold Wedding

My Cold Wedding

Mevita
Menikah
3 tahun yang lalu
More Than Words

More Than Words

Hanny
Misteri
2 tahun yang lalu
CEO Daddy

CEO Daddy

Tanto
Direktur
2 tahun yang lalu
Istri ke-7

Istri ke-7

Sweety Girl
Percintaan
3 tahun yang lalu
My Charming Lady Boss

My Charming Lady Boss

Andika
Perkotaan
3 tahun yang lalu
Kisah Si Dewa Perang

Kisah Si Dewa Perang

Daron Jay
Serangan Balik
2 tahun yang lalu
Lelah Terhadap Cinta Ini

Lelah Terhadap Cinta Ini

Bella Cindy
Pernikahan
3 tahun yang lalu
Mr Lu, Let's Get Married!

Mr Lu, Let's Get Married!

Elsa
CEO
2 tahun yang lalu