Yama's Wife - Bab 45 Dia Tidak Akan Bertahan Hidup

Aku meletakkan pulpen dan berjalan ke podium dan berkata kepada Rachel Zhao, "Guru, aku ... merasa sedikit tidak enak badan. Bolehkah aku pergi ke toilet?"

Rachel Zhao memandangku dan berkata, "Pergilah, jangan memaksakan dirimu jika kamu benar-benar tidak sehat, aku akan membawamu ke ruang UKS."

Aku tersenyum tidak wajar dan berkata, “Tidak apa-apa… hanya… masalah biasa setiap wanita.” Rachel Zhao berkata tiba-tiba, “Pergilah.”

Aku bergegas keluar kelas, aku tidak pergi ke toilet, melainkan pergi ke taman sekolah yang relatif tersembunyi. Dikatakan bahwa itu adalah taman, tetapi kenyataannya tidak ada bunga, semuanya rumput, dan tidak ada yang mengurusnya.

Seperti yang diharapkan, Raphael Bai lebih pintar. Begitu mencapai kaki depannya, dia mengejarnya: "Ratu kecil, aku sedang mencari Raja Yama."

Aku melepas liontin giok dan berkata, "Ini, kamu katakan sendiri padanya, aku akan kembali ke kelas untuk ujian."

Raphael Bai mengambil liontin giok, aku berbalik dan pergi.

Kembali ke kelas, aku mengambil pulpen dan melanjutkan mengerjakan soal, merasa ada yang menyodokku di punggung, aku menoleh untuk melihat, Yunisha Chen menatapku sambil menyeringai dan berkata, "Bibi ada di sini?"

Yunisha Chen adalah orang yang terkenal di kelas, gadis yang suka bergaul di kota, yang sudah dimanja sejak kecil, dan biasanya memandang rendah diriku. Dia sangat suka berdandan, dia sering membual tentang betapa kayanya dia.

Dia pasti pernah mendengarku ketika dia sedang berbicara dengan Rachel Zhao barusan, aku tidak ingin berbicara dengannya, tahu dia akan mengejekku, mengapa aku harus meladeninya?

Begitu aku menoleh, ia kembali menyodok punggungku: "Soal ini sulit, bisakah kamu memberikanku contekkan?"

Aku tidak menghiraukannya, dia terus menusuk dari belakang, dan akhirnya langsung menendang kursiku, dia tidak menendang terlalu keras, tapi kelas dalam keadaan sunyi sekarang, dan suaranya agak mendadak, aku sedikit marah, tapi aku tidak mau memprovokasi dia. Jika aku bermasalah dengannya, jangan harap bisa hidup tenang di sekolah. Tapi sekarang dia sangat menyebalkan, aku sangat kesal.

"Apa yang kamu mau?" Aku berbisik.

Yunisha Chen berkata: "Beri aku contekkan."

Aku tidak mau: "Kerjakan saja sendiri."

Dia menepuk punggungku lagi, dan itu sedikit menyakitkan: "Aku tidak mau, jika kamu tidak mmberiku contekkan, aku pasti akan mengganggumu terus."

Aku sedikit tak bisa tahan lagi: "Bagaimana dengan menyontek? Hasil yang diperoleh palsu dan tidak ada artinya sama sekali. Sebaiknya kamu belajar untuk mendapatkan hasil yang baik sendiri."

Dia mendengus jijik dan berkata: "Keluargaku kaya, dan aku tidak perlu bergantung pada universitas yang bagus. Aku hanya perlu menghabiskan waktu sampai lulus. Keluargaku akan mengatur pekerjaan untukku, jadi tidak perlu menceramahiku, cepat beri aku contekkan!"

Rachel Zhao sepertinya mendengar suara kami, dan melihat ke arah kami: "Yunisha Chen, apa yang kamu lakukan? Kerjakan soal dengan baik, jangan ganggu orang lain!"

Yunisha Chen terdiam beberapa saat, tapi setelah beberapa saat dia berkata di belakang aku: "Alice Fan, tunggu saja pembalasanku."

Aku tidak menghiraukan dia, menunggu ujian, belnya berbunyi setelah pelajaran selesai, dan aku berjalan keluar kelas setelah menyerahkan ulangan, aku ingin keluar mencari udara segar, dan terlalu lelah dalam ujian.

Begitu aku keluar dari kelas, Yunisha Chen mengikuti rombongan kakak-kakaknya, saat aku sampai di tangga, mereka memblokirku di pojok. aku melirik Rachel Zhao, yang memegang kertas ujian dan sudah berjalan ke arah yang berlawanan dan jauh, sama sekali tidak bisa meminta bantuan lagi: "Apa yang ingin kalian lakukan?"

Yunisha Chen dengan sombong berkata: "Bukankah tadi kamu sangat sombong? Dasar orang kampungan, meliatmu saja sudah membuatku sangat kesal!"

Aku memandangi pakaian olah raga putih dan sepatu santai yang aku kenakan, tidak terlihat kampungan, tapi di mata mereka aku orang kampungan. Sekelompok anak laki-laki lewat, menonton di sini dan bersorak.

“Yunisha Chen, apa yang kalian lakukan?” Tanya Davis Li dari kelas sebelah.

Davis Li putih dan tampan, tapi dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, dan dekat dengan gadis seperti Yunisha Chen. Pokoknya aku merasa hubungan mereka tidak terlalu baik.

Yunisha Chen berkata dengan rajin, "Wanita jalang ini telah mempermalukanku, aku harus memberinya pelajaran!"

Aku langsung berkata, "Itu karena salahmu sendiri, kamu tidak belajar dan mau menyontek, apa-apaan seperti itu?"

Yunisha Chen mengangkat tangannya dan menampar wajahku, aku mengertakkan gigi dan berkata, "Sudah cukup, kan? Jika tidak ada apa-apa lagi, aku pergi dulu."

Yunisha Chen sangat marah hingga ingin menamparku lagi, tapi Davis Li menahannya: "Sudahlah, jangan membuat masalah, apa kamu tidak mau lulus? Ayo pergi..."

Yunisha Chen ditarik oleh Davis Li, dan aku menyentuh pipi kiri yang sakit, merasa sedikit panik. Aku bukan orang yang pembuat onar, tapi aku tidak paham kalau orang dari desa harus di tindas?

Aku hendak pergi, dan tiba-tiba melihat Raphael Bai dan Devil Yama berdiri di sana di ujung koridor, Yunisha Chen dan Davis Li sedang berjalan di sana. Raphael Bai mengangkat tangannya, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, itu seharusnya bukan hal yang baik. aku buru-buru berteriak, "Jangan--!"

Orang-orang di lorong itu semua melihatiku, seperti melihat orang sakit jiwa...

Yunisha Chen memarahi: "Kamu gila?!"

Melihat Raphael Bai meletakkan tangannya, aku menghela nafas lega dan langsung kembali ke kelas dan kembali duduk di kursi.

Devil Yama dan Raphael Bai juga mengikuti, dan kadang-kadang orang lewat di mana mereka berdiri, dan mereka juga melewati tubuh mereka, tubuh mereka saat ini seperti bayangan, dan kebanyakan orang tidak dapat melihat mereka dengan mata telanjang.

Mereka pasti melihat saat aku ditampar, tapi aku masih merasa sedikit malu ...

"Kenapa kamu tidak melawan?"

Devil Yama bertanya dengan dingin.

Aku melihat sekeliling dan menutupi wajah dengan buku dan berbisik, "Aku tidak ingin membuat masalah, aku disini untuk belajar, bukan untuk bertengkar dengan orang."

Dia mendengus jijik: "Tidak bisa apa-apa!"

Aku tidak berani memutar matanya ke hadapannya: "Ya, aku orang kampungan, aku tidak ada hubungannya dengan apa-apa, apakah itu baik untuk menimbulkan masalah? Aku adalah orang biasa, aku tidak bisa bermasalah dengan orang seperti itu."

Dia berdiri di samping dan memandangku dengan merendahkan: "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang aku takuti. Jika aku ingin dia mati, dia tidak akan bertahan hidup!"

Novel Terkait

Pergilah Suamiku

Pergilah Suamiku

Danis
Pertikaian
2 tahun yang lalu
Unlimited Love

Unlimited Love

Ester Goh
CEO
2 tahun yang lalu
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Jenny
Percintaan
3 tahun yang lalu
Wahai Hati

Wahai Hati

JavAlius
Balas Dendam
2 tahun yang lalu
Pengantin Baruku

Pengantin Baruku

Febi
Percintaan
2 tahun yang lalu
Rahasia Istriku

Rahasia Istriku

Mahardika
Cerpen
3 tahun yang lalu
Gue Jadi Kaya

Gue Jadi Kaya

Faya Saitama
Karir
2 tahun yang lalu
My Tough Bodyguard

My Tough Bodyguard

Crystal Song
Perkotaan
2 tahun yang lalu