Yama's Wife - Bab 128 Di Bawah Pancaran Sinar Mentari, Ini Terlalu Menyilaukan

Aku dari awal sudah bisa menebak bahwa Yasmine berkaitan erat dengan Devil Yama, dari ucapannya Nico Li, terlihat bahwa Yasmine mungkin pernah memiliki hubungan semacam itu dengan Devil Yama, dan bisa saja pernah menjadi salah satu wanitanya. Aku bukanlah bersikeras ingin mencari tahu, dulunya aku merasa hal terkait Yasmine mungkin adalah hal tabunya Devil Yama, tidak masalah kalau tidak mengungkitnya, tapi kemudian, aku menyadari Nico Li ternyata juga mengenal Yasmine, mungkin saja dendam di antara mereka bermula dari Yasmine.

Devil Yama sambil menyuruhku menjauhi Nico Li, sambil berselisih dengan Nico Li demi Yasmine. Atas dasar apa dia? Memangnya mereka boleh membatasi kebebasanku hanya karena dendam antara mereka berdua? Bukankah hal paling menyedihkan bagi seorang wanita yaitu tidak bisa memastikan posisi diri sendiri dalam hati prianya? Aku kira aku sudah cukup dekat dengan Devil Yama, tapi dia malah tidak bersedia memberitahukan apapun padaku.

Semakin memikirkannya, aku semakin merasa marah: "Akan kulakukan, mana mungkin tidak kulakukan? Sia-sia saja kalau menolak kesempatan mendapatkan uang. Nico, pernyataanmu tentang ini demi kebaikanku, tidak akan kupercaya. Aku tidak akan kembali menanyakan hal terkait dendam antaramu dengan Devil Yama, aku hanya ingin mengajukan sebuah permintaan, jangan pernah melibatkanku."

Aku berkata seperti ini karena merasa sikap Devil Yama yang melarangku berhubungan dengan Nico Li karena faktor masalah pribadinya sedikit keterlaluan terhadapku, secara terus terang adalah, kalau mereka saling dendam karena Yasmine, maka dia sangat tidak berhak mengaturku atas dasar hal ini. Aku pun memperingati Nico Li, untuk jangan melibatkanku dalam dendam di antaranya dan Devil Yama, dengan kata lain adalah dia tidak boleh memanfaatkanku, siapa tahu mungkin saja dia datang mencariku karena ingin memprovokasi Devil Yama? Pokoknya tidak ada yang mustahil di dunia ini, dan aku hanya ingin berterus terang.

Nico Li tidak menanggapi ucapanku secara langsung, hanya berkata: "Pulang sekolah di sore hari nanti, aku akan datang menjemputmu, begini dulu."

Aku langsung menutup panggilan, Devil Yama yang ada dalam liontin giok tidak bereaksi apapun, mungkin masih tidur, dia terus begini dalam beberapa hari ini, entah bakalan berlangsung sampai berapa lama.

Aku tidak melakukan persiapan apapun, walaupun aku tidak bisa apapun, tapi pokoknya Nico Li sendirilah yang mengajakku, aku bahkan juga bisa mendapatkan sebagian uang imbalan, bukanlah salahku kalau otaknya bermasalah. Saat nasib bagai mendapat durian runtuh menghampiriku, tentu saja harus kuterima dengan senang hati.

Sore hari saat pulang sekolah, aku berjalan ke pintu gerbang sekolah, depannya telah dipadati dengan mobil, aku melihat ada banyak mahasiswi masuk ke mobil masing-masing, saat baru saja hendak mendesah betapa banyaknya orang kaya di sekolah ini, aku secara tak sengaja melihat seorang perempuan dengan busana serba terbuka duduk di dalam mobil mewah, sambil memeluk seorang bapak tua botak dan memanggilnya ayah angkat.

Di bawah pancaran sinar mentari, gambaran ini terlalu menyilaukan......

Tiba-tiba, aku mendengar suaranya Nico Li, seketika langsung pergi melihat ke arah sumber suara, di dalam sebuah mobil hitam, Nico Li mengulurkan kepalanya dan melambaikan tangan menyapaku dari jendela mobil.

Bisa bayangkan bagaimana suasana hatiku saat itu? Aku merasa malu untuk naik ke mobil, khawatir orang lain akan menganggapku seperti wanita yang mencari muka di hadapan orang kaya......

Aku pura-pura tidak melihat dan mendengarnya, lalu memalingkan kepala dan pergi.

Setelah keluar cukup jauh, Nico Li mengemudikan mobil mengejarku: "Apa yang kamu lakukan?"

Aku menaiki mobil dengan perasaan tidak nyaman sambil berlagak tidak pernah terjadi apapun: "Lho, sudah beli mobil, kelihatannya kamu sudah mengelabui cukup banyak orang dan memeras banyak uang."

Sang pria menoleh dan berkata sambil melihatku: "Jangan mengalihkan topik, kenapa harus membuatku datang mengejarmu? Sengaja?"

Aku malu mengatakan alasan sebenarnya: "Tidak kok, aku tidak melihatmu tadi, memangnya kamu tadi ada di depan pintu gerbang?"

Dia tidak meladeniku, hanya memutar arah dan mulai berangkat.

Aku mengeluarkan sebutir mutiara energi negatif dan memasukkannya dalam mulut, Nico Li tiba-tiba bertanya: "Kenapa kamu begitu ingin mengetahui hal tentang Yasmine? Apakah karena faktor sifat natural seorang wanita yang mudah penasaran?"

Aku memejamkan mata dan bersandar ke belakang: "Haha, bukan begitu, aku hanya ingin tahu apa yang menyebabkan dendam semendalam ini di antara kamu dan Devil Yama, setiap bertemu selalu ingin berkelahi. Ngomong-ngomong, bukankah kamu seharusnya memberi penjelasan padaku, aku seharusnya memanggilmu Nico atau Matteo?"

Sang pria berkata: "Terserah kamu saja, sebenarnya aku awalnya pun tidak tahu aku masih memiliki identitas lain sebagai Matteo, kemudian secara perlahan-lahan, aku menyadari aku akan berubah menjadi orang lain yang bahkan tak bisa kukenali. Kurang lebih seperti berkepribadian ganda, dari luar kelihatannya memang orang yang sama, tapi sebenarnya merupakan dua orang yang berbeda. Hari itu saat di Jembatan Jiaqin, aku tidaklah membohongimu, waktu itu, aku sama sekali tidak tahu adanya keberadaan Matteo Li dalam tubuhku."

Haruskah aku mempercayainya? Tapi lagipula tidak ada gunanya memperhitungkan hal ini, tidak peduli siapapun dia, tidak masalah kalau dia hanya ingin membagi rezeki denganku, tapi kalau sampai dia berani memanfaatkanku ataupun menjebakku, aku akan memaki leluhurnya tanpa peduli terhadap apapun.

Saat sampai di rumah Keluarga Hong, tingkatan gambaran kehidupan mewah orang kaya kembali diperbarui dalam hatiku, degnan rumah megah pribadi dan memiliki segala-galanya. Hanya saja suasana di sini terasa ganjil, karena di aula yang berada di lantai 1, ada orang yang meninggal.

Oh Tuhan......

Orang Keluarga Hong seharusnya masih menerapkan ritual pemakaman kuno, kalau tidak, mana mungkin akan berbuat seperti ini, bukankah akan beres setelah mengkremasikannya? Tapi mereka jelas terlihat tidak seperti itu.

Saat masuk ke dalam, aku melihat adanya sebuah peti mati dengan pinggir berlapisan emas, menarik, orang mati pun bisa semewah ini. Di depan aula terletak selembar foto, merupakan foto seorang bapak tua berambut putih, orang yang meninggal adalah pria yang sudah tua.

Sekumpulan orang mengelilingi aula sambil menangis, orang Keluarga Hong cukup banyak juga.

Nico Li berjalan dan mendekati orang bermarga Hong yang tadinya datang ke sekolah mencariku dan berbicara sejenak, aku tidak bisa mendengar mereka dengan jelas, setelah itu, aku dan Nico Li di bawa ke kamar tamu lantai atas.

Nico Li yang ada di sampingku membereskan peralatan yang dibawanya, pokoknya merupakan barang yang diperlukan untuk menjalankan ritual. Aku merasa sedikit resah karena sebelumnya telah berkata hal ini sedikit rumit terhadap orang yang bermarga Hong itu, bagaimana kalau dia hanya ingin memintaku melakukan ritual mendoakan kematian sang mendiang? Dia pasti akan ketakutan dengan satu ucapanku itu bukan?

Aku berpikir sejenak, lalu bertanya pada Nico Li: "Ingin melakukan ritual mendoakan kematian sang mendiang atau apa ini?"

Dia melirikku sekilas, lalu berkata: "Kalau hanya sekedar begitu, untuk apa aku memanggilmu datang? Untuk menonton pertunjukan?"

Aku menghela napas lega, bagus kalau ada masalah, kalau benar-benar tidak ada masalah yang merepotkan, ucapanku itu akan menjadi tamparan para wajahku sendiri.

Saat Nico Li melihat aku terlihat merasa lega, dia memandangku dengan tatapan bagaikan sedang melihat orang sakit jiwa: "Ada apa denganmu? Kamu malah merasa lega saat ada masalah dalam keluarga orang lain, sikap apa ini?"

Aku pergi duduk di kursi yang ada di samping dengan santai: "Bukan, hanya saja saat si marga Hong pergi ke sekolah mencariku tadi, aku berkata masalahnya ini sangat rumit. Bagaimana kalau hanya sekedar ingin melakukan ritual mendoakan kematian, sia-sia saja aku menakutinya bukan? Bukankah ini sama saja dengan menampar wajah sendiri......"

Dia tertawa setelah mendengarnya: "Yang benar saja kamu...... tapi memang benar, dugaanmu benar-benar tepat, masalah dalam Keluarga Hong sangatlah rumit, ada hal yang bisa kita atasi, juga ada hal yang tidak mampu kita tangani. Kita cukup melakukan kewajiban kita saja, sisanya, anggap saja kita tidak tahu."

Aku tidak mengerti hal apa yang dimaksud tidak mampu ditangani dari mulutnya, tapi aku tidaklah bertanya terlalu banyak, karena nantinya aku pasti akan mengetahuinya. Biasanya aku dikira sebagai orang yang sangat penasaran atas berbagai hal, tapi sebenarnya, terkadang aku bisa tidak begitu penasaran.

Sesaat kemudian, orang bermarga Hong menyuruh orang datang mengabarkan kami sudah boleh turun ke bawah, Nico Li tidak membawakan barang apapun, dan langsung turun ke bawah dengan tangan kosong.......

Novel Terkait

Memori Yang Telah Dilupakan

Memori Yang Telah Dilupakan

Lauren
Cerpen
3 tahun yang lalu
Cinta Tapi Diam-Diam

Cinta Tapi Diam-Diam

Rossie
Cerpen
3 tahun yang lalu
Balas Dendam Malah Cinta

Balas Dendam Malah Cinta

Sweeties
Motivasi
3 tahun yang lalu
Uangku Ya Milikku

Uangku Ya Milikku

Raditya Dika
Merayu Gadis
2 tahun yang lalu
Kamu Baik Banget

Kamu Baik Banget

Jeselin Velani
Merayu Gadis
2 tahun yang lalu
Harmless Lie

Harmless Lie

Baige
CEO
3 tahun yang lalu
Cintaku Yang Dipenuhi Dendam

Cintaku Yang Dipenuhi Dendam

Renita
Balas Dendam
3 tahun yang lalu
Sang Pendosa

Sang Pendosa

Doni
Adventure
2 tahun yang lalu