Gue Jadi Kaya - Bab 120 Mengejar
Gavin meluangkan waktu untuk melihat reaksi di Internet dan dia merasa lega saat melihat bahwa sebagian besar diskusi membicarakan tentang dirinya.
Gavin sendiri sudah melakukan semua yang perlu dilakukan. Semua ini Gavin lakukan ini untuk mencegah Kezia meninggalkan sejarah gelap. Lalu terkait dengan bagaimana berkembang selanjutnya di masa depan bukanlah sesuatu yang bisa Gavin kendalikan.
Kezia juga tidak berpisah dari Gavin dan keduanya kembali ke hotel bersama.
Sekarang mereka berdua adalah saudara dan jika mereka sengaja berpisah maka akan membuat orang menjadi lebih curiga.
Saat keduanya masuk ke dalam mobil, Kezia berkata "Aku tidak menyangka, kalau kamu akan mengatakan itu."
"Lalu menurutmu aku akan mengatakan apa?"
"Itu cuma penjelasan biasa, semua orang akan seperti ini." Gavin adalah orang pertama yang Kezia temui, yang berani memperlakukan reporter seperti itu.
Gavin sekarang dianggap sebagai publik figur. Meskipun dia tidak dapat distereotipkan sebagai suatu tokoh tertentu, tapi dia menerima jauh lebih banyak perhatian dari orang lain, daripada diri Kezia sendiri.
Umumnya banyak orang akan berusaha untuk menyenangkan wartawan demi menjaga citra mereka, tetapi Gavin tidak berusaha menyenangkan mereka, bahkan sangat kasar serta secara terang - terangan mengancam mereka.
Bagaimana mengatakannya, Kezia mengira Gavin sangat tampan dan dia juga yakin kalau banyak orang akan berpikir begitu.
"Kamu tidak perlu menyenangkan orang-orang itu di masa depan. Aku akan membantumu memecahkan semua masalah yang kamu hadapi. Jadi kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu suka." Karena Gavin tidak membutuhkan investasi dari orang lain, sebab dia bisa melakukan apapun seorang diri. Sehingga dia tidak perlu terlalu merendah.
"Baiklah kalau begitu." Kezia mengerti, jadi inilah rasanya memiliki seseorang yang mendukungmu dari belakang. Sekarang Kezia memiliki Gavin di belakangnya dan perasaan aman.
Setelah keduanya kembali, Kezia kembali ke kamarnya sendiri untuk mempersiapkan kompetisi besok. Gavin juga telah kembali ke kamar, awalnya dia berniat untuk langsung beristirahat. Karena ada banyak hal yang sudah terjadi tadi malam, dimana hal itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
Tetapi sebelum dia bisa tidur, seseorang mengetuk pintu. Itu jelas bukan Ronald, karena Ronald baru saja berpisah dengannya dan Gavin merasa kalau hal ini ada hubungannya dengan sesuatu yang terjadi barusan. Gavin sangat penasaran pada siapa yang datang kepadanya saat ini. Lalu dia bangkit dan membuka pintu.
"Oh kamu to." Gavin terkejut saat melihat orang di luar pintu, yang ternyata adalah manajer hotel "Ada perlu apa?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam, sebagai bentuk ucapan terima kasih karena telah membantuku kemarin." Kata manajer itu.
"Kamu juga sudah memberiku rekaman itu, jadi anggap itu sebagai ucapan terima kasih." Gavin benar-benar tidak mengira kalau si manajer akan mengundang dirinya untuk makan malam. Belum lagi video rekaman itu juga sangat membantunya dan tidak dapat dibandingkan dengan Gavin yang hanya melakukan hal kecil padanya.
"Aku tidak suka berutang pada orang lain. Meskipun kamu tidak memiliki hak untuk meminta rekaman itu, tapi pihak hotel pasti akan tetap mau memberikannya padamu. Mungkin prosedurnya akan sedikit merepotkan, karena itulah aku membantumu." Kata manajer itu dengan tenang.
"Baiklah, jadi kita mau makan di mana?" Seorang wanita cantik mengundangnya untuk makan malam seperti itu. Akan sangat memalukan, kalau Gavin sampai menolak ajakannya, sehingga Gavin menyetujuinya.
"Ikut saja denganku." Melihat Gavin setuju, manajer itu berkata dengan gembira.
Gavin mengikutinya keluar, lalu keduanya masuk ke dalam mobil milik manajer. Kemudian mereka berdua pergi ke restoran yang sangat mewah. Hanya dari luar saja, Gavin bisa tahu kalau tempat itu pasti sangat mewah.
"Hei, kamu tidak perlu menghabiskan uang terlalu banyak, aku juga suka makan - makanan rumahan. Jadi aku tidak terlalu suka hal-hal yang mewah." Gavin berkata ketika si manajer saat turun dari mobil dan melihat restoran.
"Memang siapa yang bilang kalau makanan di dalam sangat mewah? Aku yakin kamu pasti akan sangat menyukainya. Ayo masuk." Kata manajer itu.
Gavin lalu mengikutinya dan ketika Gavin melihat menunya. Dia baru memercayai kata-kata manajer itu. Semuanya merupakan menu masakan rumahan dan bukan makanan barat. Gavin dengan senang memilih menu yang dia suka.
Setelah memesan makanan, manajer itu memperkenalkan diri dan berkata "Namaku Fania, senang bertemu denganmu."
"Ah, namaku Gavin Atmaja dan aku juga senang bertemu denganmu." Gavin berkata setelahnya.
"Aku tahu kamu adalah Gavin dan aku juga baru menyadarinya tadi malam. Kamu sudah pernah muncul di koran dan majalah beberapa hari yang lalu." Peristiwa Gavin sebelumnya telah menyebar luas, bahkan Fania juga mengetahuinya.
“Ah itu cuma hal sepele kok dan aku juga tidak menyangka kalau dampaknya akan sampai sebesar itu. Sebenarnya aku pergi ke pelelangan karena diundang. Jujur saja aku sebenarnya tidak tertarik dengan barang antik dan saat itu aku membelinya demi menjaga harga diriku. Aku pun juga tidak bisa menghargai hal semacam itu, jadi aku menyumbangkannya." Gavin benar-benar tidak tahu kalau hal itu akan berdampak sebesar itu saat.
Jika Gavin tahu kalau efeknya akan sampai sejauh itu, maka dia tidak akan melakukannya.
Gavin tidak pernah menjadi orang yang menerima begitu banyak perhatian. Meskipun dia kaya raya dan sebagian kecil orang memperhatikannya, tetapi perhatiannya sangat kecil sekali. Sekarang dia menjadi seperti selebriti dan dia tidak bisa berbuat apa - apa terhadap semua hal itus.
"Karena tindakanmu tidak ada maksud, makanya jadi sesuatu yang sangat mulia. Jujur saja, tidak semua orang berani mengeluarkan begitu banyak uang untuk melakukan hal seperti itu." Fania sangat mengagumi Gavin. Bahkan Fania semakin mengagumi Gavin meskipun hal itu dilakukan dengan tidak disengaja atau disengaja.
"Tidak ada orang yang lebih mulia dari siapa pun. Sebenarnya semua orang itu sama saja. Hanya saja hal itu tergantung pada apakah mereka memiliki keberanian atau tidak." Dan keberanian yang dimaksud, adalah uang.
"Ya, mungkin kamu benar." Fania berkata sambil tersenyum. Fania sangat menyukai Gavin, jadi mungkin inikah yang maksud dengan cinta pada pandangan pertama. Fania selalu ingin tahu, tentang pribadi Gavin yang sebenarnya, ketika dia melihat berita sebelumnya. Jadi dia mengingat - ingat sosoknya di pikirannya.
Fania sendiri juga sangat terkejut saat melihat Gavin di restoran tadi malam. Karena Fania sudah menyesuaikan mentalitasnya dan tidak membiarkan dirinya untuk menunjukkan salah tingkah.
Ketika Gavin berusaha melindunginya, Fania merasa kalau dia benar-benar tertarik dengan orang di depannya. Orang yang sangat baik, bahkan lebih menarik daripada siapa pun yang pernah dia lihat sebelumnya.
Terutama Gavin juga sangat kaya sekali, tetapi anehnya Gavin tidak memiliki aura seperti orang kaya dan juga tidak suka berpura-pura. Dia hanya melakukan apa yang dia suka dan bagi dia itu adalah yang terbaik.
Jadi dia menunggu sampai selesai makan dan bertanya pada Gavin "Apakah kamu sudah memiliki pacar?"
Itu adalah yang sangat berat. Bahkan jika Gavin tidak pernah menjalin hubungan, dia sudah tahu apa maksud dari Fania. Jadi dia tidak mau memberi harapan dan langsung berkata "Enggak."
Fania bertanya "Kalau begitu menurutmu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk menjadi pacarmu?"
"Apakah kamu ingin mendengar jawaban jujur atau bohong?" Gavin bertanya.
Dia masih perlu sedikit menjaga perasaan gadis itu, apalagi gadis itu yang berinisiatif mengajak dirinya makan malam.
"Kebohongan, soalnya aku merasa kalau kebohongan itu tidak begitu menyakitkan." Fania berkata sambil tersenyum kecut.
Arti kata-kata Gavin sudah jelas.
"Ada kemungkinan." Gavin berkata sambil tersenyum.
"Sejujurnya, ini pertama kalinya aku melihat orang yang begitu menawan sepertimu."
Novel Terkait
Menunggumu Kembali
NovanThe Great Guy
Vivi HuangBack To You
CC LennyHabis Cerai Nikah Lagi
GibranThe Revival of the King
ShintaHanya Kamu Hidupku
RenataThick Wallet
TessaGue Jadi Kaya×
- Bab 1 Uang Banyak Yang Jatuh Dari Langit
- Bab 2 Memandang Rendah
- Bab 3 Anjing Yang Memandang Rendah Orang
- Bab 4 Pergi Sana!
- Bab 5 Uang Kas Kelas
- Bab 6 Cerai
- Bab 7 Tuan Muda
- Bab 8 Beli!
- Bab 9 Tuan Muda Sanjaya
- Bab 10 Kakek!
- Bab 11 Orang Tidak Berguna Bagaikan Sampah
- Bab 12 Wajah Tidak Sabar
- Bab 13 Sedih
- Bab 14 Pelajar Miskin
- Bab 15 Orang Terpandang
- Bab 16 Saudara Miskin
- Bab 17 Kebenaran Terucap
- Bab 18 Mengantar Uang
- Bab 19 Halangan
- Bab 20 Dikeluarkan Dari Sekolah
- Bab 21 Mengadu
- Bab 22 Investasi
- Bab 23 Mengakui Kekalahan
- Bab 24 Salah Paham
- Bab 25 Berpura-Pura
- Bab 26 Pesta Kumpul Teman-Teman
- Bab 27 10 Miliar!
- Bab 28 Kebingungan Antara Yang Benar Dan Yang Salah
- Bab 29 Menjadi Pelindung
- Bab 30 Usaha
- Bab 31 Hambatan
- Bab 32 Pameran Kerja
- Bab 33 Berani Ikut Dalam Perekrutan
- Bab 34 Wawancara
- Bab 35 Manajer Hari
- Bab 36 Mengeluh
- Bab 37 Saldo Di Dalam Rekening
- Bab 38 Pilih Sendiri
- Bab 39 Tebak
- Bab 40 Orang Di Belakang Uang
- Bab 41 Undangan
- Bab 42 Tuan Sihotang
- Bab 43 Sebuah Pertunjukan Bagus
- Bab 44 Perjamuan Kencan Buta
- Bab 45 Mengacaukan Masalah
- Bab 46 Identitas
- Bab 47 Melakukan Sesuatu
- Bab 48 Bertambah Seorang Adik
- Bab 49 Menarik Orang
- Bab 50 Kontrak
- Bab 51 Membahas Tentang Perceraian Lagi
- Bab 52 Dua Miliar Rupiah
- Bab 53 Bergabung
- Bab 54 Resiko Yang Harus Ditanggung
- Bab 55 Tingkat Kepastian
- Bab 56 Penagihan Hutang
- Bab 57 Pembunuhan
- Bab 58 Beri Pelajaran
- Bab 59 Dijebak
- Bab 60 Pergi Untuk Mati
- Bab 61 Wanita Pembohong
- Bab 62 Melakukan Kerjasama
- Bab 63 Aku Menemukan Harta Karun Itu
- Bab 64 Kembali
- Bab 65 Penandatanganan Kontrak
- Bab 66 Audisi Bakat
- Bab 67 Kekurangan Orang
- Bab 68 Tersinggung
- Bab 69 Pemeliharaan
- Bab 70 Atas Nama Suami Dan Istri
- Bab 71 Pergi Ke Luar Negeri
- Bab 72 Tidak Akan Kubiarkan Lolos
- Bab 73 Menyadari
- Bab 74 Putri Yang Tidak Diakui
- Bab 75 Sampah
- Bab 76 Bersama
- Bab 77 Tidak Cukup Bagus
- Bab 78 Bos
- Bab 79 Tidak Bisa Memprovokasi
- Bab 80 Program Rekaman
- Bab 81 Protes
- Bab 82 Kinerja
- Bab 83 Lulus
- Bab 84 Salah Tafsir
- Bab 85 Kejutan
- Bab 86 Resmi Bercerai
- Bab 87 Tempat Parkir Harga Langit
- Bab 88 Mempermalukan Diri Sendiri
- Bab 89 Keluar
- Bab 90 Kehilangan Pekerjaan
- Bab 91 Mengangkat Jadi Anak
- Bab 92 Membeli Dengan Seenaknya
- Bab 93 Mengejar Artis
- Bab 94 Pinjam Uang
- Bab 95 Membuat Segalanya Sulit
- Bab 96 Dividen
- Bab 97 Menawar Harga
- Bab 98 Sudah Berencana Sebelumnya
- Bab 99 Hilang
- Bab 100 Bukan Siapa-Siapa
- Bab 101 Pingsan
- Bab 102 Harga Yang Menyakitkan
- Bab 103 Pengakuan
- Bab 104 Terkenal
- Bab 105 Pesta Minum Pribadi
- Bab 106 Membuat Masalah
- Bab 107 Ketidakcocokan
- Bab 108 Silakan
- Bab 109 Tanpa Keraguan
- Bab 110 Rasti Ada Di Sini
- Bab 111 Menyerah
- Bab 112 Hati
- Bab 113 Jalan Untuk Melangkah Mundur
- Bab 114 Mengundurkan Diri Dari Peperangan
- Bab 115 Sombong
- Bab 116 Memalukan
- Bab 117 Makan Gratis
- Bab 118 Skandal
- Bab 119 Memiliki Kesulitan
- Bab 120 Mengejar
- Bab 121 Hati Gadis
- Bab 122 Orang-Orang Di Belakang
- Bab 123 Bahaya
- Bab 124 Melampiaskan Amarah
- Bab 125 Artis
- Bab 126 Hasil Akhir