Pejuang Hati - Bab 62 Tak Terkendali
"Benarkah?" kata Marvin Su dengan sedikit takut.
Siva Zhou mengangguk sambil melihatnya dan berkata: "Hari ini kamu banyak diam, dan......dan juga tidak menggodaku."
"Apakah aku tidak menggodamu?" Sebenarnya dalam hatinya Marvin Su merasa bersalah, lagipula mereka telah berhubungan lama, tidak mungkin ia mengatakan bahwa tidak menyukai Siva Zhou.
Hanya saja dalam hatinya terus menyuruh Marvin Su untuk memberitahu bahwa ia lebih suka bersama dengan Fenny Liu, akan tetapi rasanya sedikit......
Sambil berbicara, Marvin Su memutuskan untuk menggoda Siva Zhou agar dia tidak terlalu berpikir banyak, nanti jika ada kesempatan ia baru akan berbicara baik-baik dengannya, lalu dia merangkul pinggang Siva Zhou dan tangan besarnya meremas pinggulnya, dengan senyum licik ia mengatakan: "Ternyata kamu menyukai aku yang licik ya?"
"Tidak." Siva Zhou mengelak dan malu-malu, tetapi wajahnya terlihat jelas bahwa ia sangat bahagia.
Melihat ini, Marvin Su pun menggodanya, lalu setelah mengantarnya balik ke asrama perempuan, ia baru menyeret tubuhnya yang lelah kembali ke asrama.
Setelah seharian, Marvin Su pun tertidur lelap di kasurnya.
Saat malam hari, dia bermimpi dirinya bercinta dengan Fenny Liu, lalu tiba-tiba Siva Zhou menyerbu masuk.
Melihat Marvin Su berbuat seperti itu, Siva Zhou langsung menusuk perut Marvin Su dengan pisau buah yang tidak tahu darimana asalnya sambil memarahinya.
Di mimpi itu Marvin Su tidak melihat ekspresi Fenny Liu, ketika Siva Zhou masuk, Fenny Liu seperti menghilang.
Saat tengah malam, Marvin Su kaget hingga berkeringat dingin, saat dia bangun dan melihat jam, ternyata sudah jam 4 subuh.
Tetapi berikutnya, Marvin Su tidak mengantuk sama sekali, walaupun dia tahu penyebab mimpi ini ialah karena ia tidak bisa menyingkirkan masalah yang ada, maka mimpi seperti ini terjadi, tapi jika mau menyuruhnya menentukan pilihan, maka masalah itu tidak lagi sesederhana itu.
"Errghh......"
Di sisi lain, Fenny Liu juga sudah bangun , setelah pulang ke rumah, dia langsung mandi, belum jam 7 malam dia sudah tidur, sekarang langit belum terang tetapi dia sudah sangat sadar.
Ia menggunakan waktu luangnya untuk membuat sarapan, lalu setelah itu ia pergi bekerja.
Jadwal kerjanya sudah hampir selesai, jika ia lebih giat lagi maka tidak perlu lembur bersama kepala bagian Li lagi.
Saat memikirkan ini, perasaannya menjadi lebih baik, oleh karena itu saat tiba di kantor, dia sangat teliti dengan pekerjaannya, dan kepala bagian Li tidak muncul pagi itu.
Karena penasaran, Fenny Liu bertanya pada Anggi Yang: "Apakah kepala bagian Li datang kemarin?"
"Tidak." Lalu Anggi Yang mengatakan: "Baguslah jika ia tidak datang, kenapa, apakah perasaan tumbuh di antara kalian karena terlalu sering lembur bersama?"
"Bukan...... bukan begitu." Fenny Liu mengernyit dan mengatakan: "Anggi, jangan bercanda tentang aku dan dia, orang seperti kepala bagian Li, melihatnya saja sudah membuatku tidak nyaman."
"Kalau begitu katakan padaku, siapa yang membuatmu nyaman?" Anggi Yang berkedip nakal dan bertanya.
Pertanyaannya membuat wajah Fenny Liu merah, lalu menjawab: "Tentu saja kamu."
"Aduduhh." Anggi Yang langsung ceria, lalu ia memeluk pinggang kecil Fenny Liu, dan memajukan bibir mungilnya, lalu mengatakan: "Aku dari awal sudah tahu kalau kamu menyukaiku, aduh bagaimana ini?"
"Huh." Fenny Liu mendengus menolak, lalu masih malu untuk menatap Anggi Yang.
Lagipula di sini adalah kantor, banyak yang tahu kelakuan Anggi Yang, tidak apa-apa jika ia sendiri yang ribut di kantor, tapi jika Fenny Liu bergabung dengannya, pasti akan menjadi pembicaraan banyak orang.
Melihat Fenny Liu yang malu, Anggi Yang juga tidak menggodanya lagi, lalu setelah ia mengecup ringan wajah Fenny Liu, ia mengatakan: "Aku keluar dulu ya, nanti malam kita makan bersama."
"Pergi antar dokumen?" tanya Fenny Liu.
Anggi Yang mengangguk dan berkata: "Kamu tidak perlu khawatir, karena kepala bagian Li tidak datang, cuti saja hari ini."
Selesai bicara, Anggi Yang langsung terdiam, ternyata kepala bagian Li sudah ada di sana, jelas-jelas dia mendengar perkataan Anggi Yang, dan saat ini sedang menatapnya.
"Hehehe." Dengan kikuk Anggi Yang tersenyum dan mengatakan: "Kepala bagian Li, aku pergi mengantar dokumen dulu."
"Pergilah." Kata kepala bagian Li dan juga tidak berdebat dengan Anggi Yang.
Saat ini seluruh perhatiannya ada pada Fenny Liu, jika saja semalam bukan karena anaknya demam tinggi, maka Fenny Liu sudah menjadi miliknya.
Sekarang, penyakit anak kepala bagian Li sudah agak sembuh, ada istrinya yang menjaga anaknya di rumah, sebenarnya dia sangat ingin menemani anaknya, tetapi begitu melihat tubuh istrinya yang membengak, dirinya merasa jijik, lalu berpikir ia masih punya pekerjaan di kantor, dan akhirnya berangkat.
Kepala bagian Li dan istrinya menikah bukan karena saling mencintai, melainkan karena pengaruh dari keluarga istrinya, bisa dibilang posisinya saat ini setengahnya adalah pengaruh dari ayah mertuanya.
Istri kepala bagian Li berasal dari keluarga terhormat, dari kecil dia sudah dilayani seperti seorang tuan putri......
Sebenarnya tidak apa-apa jika seperti tuan putri, setidaknya bagus jika wajahnya mirip seorang putri, dengan begitu saat ia bersikap manja para lelaki dapat memakluminya, bukan malah menertawainya.
Tapi jika seorang wanita itu gemuk, jelek, dan manja, itu membuat pria manapun tidak suka, seperti itulah kelakuan istri kepala bagian Li, dan juga banyak hal yang tidak bisa ia lakukan sebagai wanita, tapi untungnya setelah memiliki anak, ia memusatkan perhatian pada anaknya dan menjadi ibu rumah tangga.
Akhirnya kepala bagian Li menjadikan pekerjaan sebagai alasan, dan sangat jarang pulang rumah.
Sekarang dengan susah payah ia sudah memiliki ancaman terhadap Fenny Liu, membayangkan penampilan istrinya yang tua gendut dan rambut hitam keritingnya, yang bagai langit dan bumi dengan Fenny Liu, kepala bagian Li sangat ingin memiliki Fenny Liu!
"Uhuk-uhuk."
Setelah Anggi Yang pergi, kepala bagian Li berjalan ke arah Fenny Liu, sengaja bertanya: "Ada apa, kemarin izin tidak masuk, hari ini masih tidak mau bekerja?"
"Tidak." Dengan nada rendah Fenny Liu berkata: "Maaf, kepala bagian Li, kita hanya bercanda."
"Bercanda?" Kepala bagian Li menyipitkan mata dan menatap Fenny Liu, lalu berkata: "Ke kantorku!"
Selesai bicara, kepala bagian Li balik ke kantor pribadinya, meninggalkan Fenny Liu yang bingung, Anggi Yang hanya bercanda, berdasarkan sikap kepala bagian Li dulu, dia tidak akan sekejam ini.
Orang lain juga agak bingung, meskipun mereka tidak pernah membicarakan keinginan kepala bagian Li terhadap kecantikan Fenny Liu, tetapi mereka tahu bahwa kepala bagian Li sagat terobsesi kepada Fenny Liu, selalu saja memberinya perhatian khusus.
Meskipun di dalam hatinya ia sangat bingung, tetapi Fenny Liu bisa menanyakan apapun, lagipula dia dan kepala bagian Li tidak ada sedikitpun hubungan baik.
Setelah menyimpan data di komputernya, Fenny Liu bangkit dari kursinya dan pergi ke kantor kepala bagian Li.
Saat masuk, Fenny Liu melihat kepala bagian Li yang menatapnya dengan seksama, tatapannya seperti menginginkannya bulat-bulat dan sangat tak terkendali.
Novel Terkait
Pejuang Hati×
- Bab 1 Mati Lampu
- Bab 2 Ketidakpuasan
- Bab 3 Bekas Cakar
- Bab 4 Panggilan Telepon
- Bab 5 Jalan-Jalan
- Bab 6 Obat
- Bab 7 Hanya Bisa Dirasakan, Tidak Bisa Diungkapkan
- Bab 8 Pahlawan Menyelamatkan Wanita Cantik
- Bab 9 Terangsang
- Bab 10 Mabuk Kepayang
- Bab 11 Pertengkaran
- Bab 12 Pria Sejati
- Bab 13 Naik Bus
- Bab 14 Pikiran yang Tidak Senonoh
- Bab 15 Aku Suka Kamu
- Bab 16 Kasih Sayang yang Kuat
- Bab 17 Perjalanan Bisnis Kakak Sepupu
- Bab 18 Wanita Escort
- Bab 19 Sakit Hati
- Bab 20 Rangsangan yang Berbeda
- Bab 21 Salah Injak Kaki
- Bab 22 Rina Chen
- Bab 23 Persyaratan yang Tidak Masuk Akal
- Bab 24 Dalam Satu Kamar
- Bab 25 Lubang yang Dalam
- Bab 26 Di Bawah Sinar Bulan
- Bab 27 Ulang Tahun
- Bab 28 Dare!
- Bab 29 Bercinta
- Bab 30 Mawar
- Bab 31 Hembusan Nafas
- Bab 32 Pulang Bersama
- Bab 33 Marga Su, Bukan Marga Zhang
- Bab 34 Rencana Rina
- Bab 35 Pemerasan
- Bab 36 Kalau Aku Tidak Merawatnya, Apakah Kamu Bisa?
- Bab 37 Posisi?
- Bab 38 Dia Memang Pantas Mendapatkannya
- Bab 39 Terjadi Sesuatu Kepada Fenny Liu
- Bab 40 Masuk Neraka
- Bab 41 Tunggu Aku!
- Bab 42 Gangguan Psikologi
- Bab 43 Indra Keenam
- Bab 44 Siva Zhao
- Bab 45 Satu Hati, Dua Cinta
- Bab 46 Akulah yang Berhutang Padamu
- Bab 47 Pembunuhan
- Bab 48 Situasi Krisis
- Bab 49 Saat Terbangun
- Bab 50 Janji
- Bab 51 Jadilah Pacarku
- Bab 52 Rumah Sama, Orang Berbeda
- Bab 53 Belum Cukup
- Bab 54 Berani Tidak?
- Bab 55 Terjebak
- Bab 56 Perpustakaan
- Bab 57 Memahami
- Bab 58 Kerja Lembur
- Bab 59 Lemah
- Bab 60 Diikuti
- Bab 61 Membuntuti
- Bab 62 Tak Terkendali
- Bab 63 Mengancam
- Bab 64 Pilihan
- Bab 65 Hotel Inter Continental
- Bab 66 Muncul
- Bab 67 Kemarahan yang Tidak Terduga
- Bab 68 Perubahan
- Bab 69 Mimpi Panjang Telah Menjadi Sia-sia
- Bab 70 Masalah Berturut-turut
- Bab 71 Masalah yang Sangat Rumit
- Bab 72 Mengajak Bertemu
- Bab 73 Sertifikat Kepemilikan Properti
- Bab 74 Marvin Su dan Martin Su
- Bab 75 Pertemuan
- Bab 76 Berbahaya
- Bab 77 Konfrontasi Antar Saudara
- Bab 78 Pistol
- Bab 79 Keberanian
- Bab 80 Kedatangan Polisi
- Bab 81 Bertanya
- Bab 82 Penembakan
- Bab 83 Pilihan
- Bab 84 Jericho Su
- Bab 85 Konfrontasi
- Bab 86 Merenungkan
- Bab 87 Tidak Adil?
- Bab 88 Gadis-gadis Suka Bergosip
- Bab 89 Ujian
- Bab 90 Rasa Aman
- Bab 91 Pembagian Uang?
- Bab 92 Kemarahan Luar Biasa
- Bab 93 Makan Siang
- Bab 94 Tidak Berpikir dan Berlogika
- Bab 95 Farah Liu
- Bab 96 Ketidakadilan
- Bab 97 Tersenyum halus
- Bab 98 Menjijikkan
- Bab 99 Semuanya Indah Sekali!
- Bab 100 Minyak Lilin
- Bab 101 Jamuan Pengkhianatan
- Bab 102 Kasus Pembunuhan
- Bab 103 Gunung Dagu
- Bab 104 Tiga Banding Tiga
- Bab 105 Kencan?
- Bab 106 Di Kafe
- Bab 107 Pengendalian
- Bab 108 Kondom
- Bab 109 Siva Zhao
- Bab 110 Kembali ke Sekolah
- Bab 111 Tertangkap Basah
- Bab 112 Jika Aku Pergi, Kita Tak Bisa Bertemu Lagi (Tamat)