Pejuang Hati - Bab 105 Kencan?
Siva Zhao sebenarnya ingin pulang, tetapi dia merasa tidak baik untuk membuat keputusan bagi orang lain.
Dia pun menggelengkan kepala dengan pelan dan berkata: ”Aku tidak ingin tinggal gunung Dagu, tetapi saat menyewa tenda kalian juga harus tinggal terpisah. Begini saja, keputusan di tangan kalian sendiri, lagi pula besok pagi akan kembali ke sekolah.”
Setelah berbicara, Siva Zhao langsung memandangi mereka.
Maksud dari Siva Zhao sangatlah jelas, siapa yang mau tinggal boleh berdiskusi dengan pacar nya masing-masing. Siva Zhao dan Marvin Su pasti akan pulang.
Beberapa wanita dari mereka sebenarnya sudah ada keputusan, hanya saja mereka tidak bisa menerima kalau menyewa tenda juga harus menyewa selimut, mereka pun tidak berdiskusi lagi dan langsung memutuskan untuk pulang saja.
Semua pria pun merasa kecewa sekali dan memutuskan lain kali kalau datang ke sini lagi, pasti akan membawa selimut.
Di perjalanan pulang, Siva Zhao sedikit lelah, tertidur di samping Marvin Su, kepalanya bersandar di bahu Marvin Su, kelihatan sangat nyenyak sekali.
Di saat bersamaan, ponsel Marvin Su bergetar.
Karena ponsel nya hanya bergetar saja sehingga tidak mengganggu Siva Zhao yang sedang tidur. Marvin Su melihat ponsel nya, ternyata Fenny Liu yang menelepon.
Dia pun mengangkatnya, terdengar suara Fenny Liu: “Marvin Su, kamu sibuk tidak?”
“Tidak, sekarang lagi di taksi, perjalanan pulang ke sekolah.” Jawab Marvin Su dengan suara pelan.
“Oh. Beberapa waktu yang lalu aku sibuk mencari pekerjaan, ditambah harus menjaga Farah Liu yang sakit karena belum beradaptasi dengan cuaca di sini, jadi belum bisa menghubungi mu. Uangmu... Besok aku akan mengantarkan ke tempat kamu?” Kata Fenny Liu.
“Uang apa?”
Marvin Su bertegun sejenak lalu baru terpikir bahwa masalah desa itu belum memberitahu kepada Fenny Liu, tetapi tidak akan jelas jika diceritakan di ponsel, dia pun berkata: “Kakak ipar, masalah uang kamu tidak perlu khawatir. Begini saja, besok kamu datang ke tempatku, tidak perlu membawa uang, setelah bertemu akan aku ceritakan semua.”
Fenny Liu dengan ragu-ragu menjawab: “Baik.”
Setelah menutup ponsel, Siva Zhao sudah membuka matanya dan mengelus-elus matanya, berkata: “Marvin Su, siapa yang menelepon?”
Marvin Su menepuk pelan kepala Siva Zhao dan dengan suara kecil berkata: “Kakak ipar aku, kamu tidur saja lagi. Masih ada setengah jam perjalanan lagi.”
“Aku sudah tidak ngantuk lagi, sudah sangat semangat.” Siva Zhao mengira kalau Marvin Su menyuruhnya tidur lebih lama lagi agar di pada saat malam hari bisa bermain sepuas nya dengannya. Setelah berpikir begitu, rasa ngantuk Siva Zhao langsung hilang.
Tetapi di saat ini Marvin Su tidak memikirkan hal itu, meski pun saat berada di atas gunung sudah ada niat itu, namun sekarang dia hanya memikirkan Fenny Liu yang besok akan mencarinya......
Semenjak Martin Su berpacaran, jarak dengan Fenny Liu tidak dekat seperti dulu lagi. Namun dari sisi lain, jarak antara Fenny Liu dengan Siva Zhao menjadi lebih jauh. Tiba-tiba ada rasa mendapatkan, namun ada perasaan menjauh.
Tetapi perasaan menjauh ini karena faktor eksternal.
Pertama, Fenny Liu tinggal di rumah Anggi Yang, tidak ada kesempatan untuk bermesraan lagi. Ditambah dengan Farah Liu juga tinggal di sana, membuat Marvin Su lebih tidak ada kesempatan untuk bermesraan dengan Fenny Liu.
Setelah berpikir sampai sini, Marvin Su sedikit menyesal sudah menggoda Siva Zhao.
Terhadap Siva Zhao, ada sedikit beban hati di dalam hati Marvin Su. Lagipula keperawanan wanita sangatlah berharga, andaikata setelah mengambil keperawanannya lalu malah kembali bersama Fenny Liu, mungkin saja Siva Zhao akan depresi....?
Marvin Su merenung sejenak.
Marvin Su bukan tidak mencintai Siva Zhao, tapi dia lebih rindu dengan waktu bersama Fenny Liu, dengan susah baru bisa mendapatkan kesempatan ini, dia tidak mau menyerah begitu saja.
“Sedang pikir apa?” Tanya Siva Zhao secara tiba-tiba.
“Oh. Tidak pikir apa-apa.” Jawab Marvin Su. Marvin Su meneguk air liu dan berkata: “Kakak iparku berkata, dia besok akan ke sekolah mencari ku, tapi tidak memberitahu jam berapa akan datang.”
“Ha..” Siva Zhao tidak mengerti maksud dari Marvin Su.
“Mungkin dia akan pagi-pagi datang mencari ku, agar tidak mengganggu jam belajar ku.” Kata Marvin Su. Marvin Su pun berbisik di telinga Siva Zhao: “Malam ini, kita tidak bisa ke hotel, ganti minggu depan saja ya istriku.”
Setelah mendengar perkataan Marvin Su, Hati Siva Zhao ada sedikit rasa kecewa.
Baru saja memberanikan diri untuk menyetujuinya, namun sekarang gara-gara Marvin Su malah membatalkannya, meski pun Siva Zhao pemalu tapi secara tidak sadar uintuk mencibir mulutnya.
“Istriku, kamu marah ya?” Tanya Marvin Su dan ingin membujuk Siva Zhao.
“Tidak... Tidak marah kok.” Jawab Siva Zhao sambil memutar kepalanya menghadap ke luar jendela mobil.
Marvin Su mengerti Siva Zhao, meski pun marah pasti akan berkata tidak marah. Lagipula Siva Zhao tidak mungkin berkata kalau dia marah karena Marvin Su tidak mau pergi ke hotel dengannya. Siva Zhao yang pemalu ini, dalam masalah ini dia hanya bisa merajuk saja.
Marvin Su semakin merasa bersalah, dia pun menjulur tangannya memeluk pinggang Siva Zhao dan berkata: “Aku... Aku takut kamu malu bertemu dengan kakak iparku. Baiklah, aku menyesal, kita pergi ke hotel saja.”
Suara Marvin Su sangatlah kecil, namun wajah Siva Zhao sangatlah merah.
Ruang di dalam taksi sangatlah sempit, meski pun supir taksi sudah membuka radio tapi Siva Zhao juga takut pembicaraan mereka didengar oleh orang lain, dengan wajah merah berkata: “Tidak mau, dari awal aku juga tidak ada niat denganmu.............”
Sambil berkata, Siva Zhao menatap Marvin Su dan berkata: “Sudah jangan bahas lagi.”
Melihat Siva Zhao sudah berkata demikian, Marvin Su merasa lega, tangannya langsung memegang tangan Siva Zhao dan mengelus dengan pelan dan berkata: “Istriku, aku cinta padamu.”
“Hmm..” Siva Zhao mencibirkan mulutnya lalu terdiam sejenak, menunggu Marvin Su tidak melihat dia, dia langsung dengan suara kecil berkata: “Suamiku, aku juga cinta padamu.”
Suara Siva Zhao sangatlah kecil, sehingga tidak terdengar oleh Marvin Su.
Andaikata kondisi ini bisa direkam, suatu saat Marvin Su melihat rekaman ini, hatinya pastikan akan bahagia dan langsung menggendong Siva Zhao berteriak “Aku cinta kamu!”
Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai di sekolah.
Meski pun tidak pergi ke hotel, tapi sekarang langit masih terang, Marvin Su menunggu Siva Zhao meletakkan barang ke asramanya, lalu membawanya pergi ke bioskop dan makan di restoran barat.
Selama bersama, Marvin Su terus bercanda ria dengan Siva Zhao membuat Siva Zhao bahagia, baru mengantar nya kembali ke asramanya.
Keesokan harinya, Fenny Liu tidak datang, yang datang mencari Marvin Su adalah Enzy li, yang menanyakan kondisi badannya sekarang?
Setelah beristirahat beberapa hari, Enzy Li sangat khawatir dengan Marvin Su, dia juga pernah secara diam-diam bertanya pada Olga Wang, menyuruh dia untuk menjaga teman sekelas dan teman sekamar nya Marvin Su. Olga Wang juga sudah berjanji, tapi dia selain bisa mengantarkan makanan kepada Marvin Su, masih bisa berbuat apa lagi.
Enzy Li memanggil Marvin Su ke kantornya, dengan rasa simpati bertanya: “Kenapa sekali pulang langsung sakit?”
Marvin Su menggaruk-garuk kepalanya, dengan senyum berkata: “Hmmm... Kebetulan saja.”
“Oh.” Enzy Li melihat mimik wajah Marvin Su sudah menebak pasti banyak masalah yang terjadi di desanya. Dia pun berkata: “Baiklah, yang penting kamu masih sehat-sehat saja, kalau ketemu masalah, boleh mengajak aku untuk duduk-duduk di lapangan.”
Melihat mimik wajah Enzy Li seperti sedang menggoda nya, Marvin Su tanpa sadar menjawab: “Boleh, Kapan?”
Novel Terkait
Uangku Ya Milikku
Raditya DikaPejuang Hati
Marry SuBaby, You are so cute
Callie WangHis Soft Side
RiseTernyata Suamiku Seorang Milioner
Star AngelMenaklukkan Suami CEO
Red MapleTernyata Suamiku Seorang Sultan
Tito ArbaniYou're My Savior
Shella NaviPejuang Hati×
- Bab 1 Mati Lampu
- Bab 2 Ketidakpuasan
- Bab 3 Bekas Cakar
- Bab 4 Panggilan Telepon
- Bab 5 Jalan-Jalan
- Bab 6 Obat
- Bab 7 Hanya Bisa Dirasakan, Tidak Bisa Diungkapkan
- Bab 8 Pahlawan Menyelamatkan Wanita Cantik
- Bab 9 Terangsang
- Bab 10 Mabuk Kepayang
- Bab 11 Pertengkaran
- Bab 12 Pria Sejati
- Bab 13 Naik Bus
- Bab 14 Pikiran yang Tidak Senonoh
- Bab 15 Aku Suka Kamu
- Bab 16 Kasih Sayang yang Kuat
- Bab 17 Perjalanan Bisnis Kakak Sepupu
- Bab 18 Wanita Escort
- Bab 19 Sakit Hati
- Bab 20 Rangsangan yang Berbeda
- Bab 21 Salah Injak Kaki
- Bab 22 Rina Chen
- Bab 23 Persyaratan yang Tidak Masuk Akal
- Bab 24 Dalam Satu Kamar
- Bab 25 Lubang yang Dalam
- Bab 26 Di Bawah Sinar Bulan
- Bab 27 Ulang Tahun
- Bab 28 Dare!
- Bab 29 Bercinta
- Bab 30 Mawar
- Bab 31 Hembusan Nafas
- Bab 32 Pulang Bersama
- Bab 33 Marga Su, Bukan Marga Zhang
- Bab 34 Rencana Rina
- Bab 35 Pemerasan
- Bab 36 Kalau Aku Tidak Merawatnya, Apakah Kamu Bisa?
- Bab 37 Posisi?
- Bab 38 Dia Memang Pantas Mendapatkannya
- Bab 39 Terjadi Sesuatu Kepada Fenny Liu
- Bab 40 Masuk Neraka
- Bab 41 Tunggu Aku!
- Bab 42 Gangguan Psikologi
- Bab 43 Indra Keenam
- Bab 44 Siva Zhao
- Bab 45 Satu Hati, Dua Cinta
- Bab 46 Akulah yang Berhutang Padamu
- Bab 47 Pembunuhan
- Bab 48 Situasi Krisis
- Bab 49 Saat Terbangun
- Bab 50 Janji
- Bab 51 Jadilah Pacarku
- Bab 52 Rumah Sama, Orang Berbeda
- Bab 53 Belum Cukup
- Bab 54 Berani Tidak?
- Bab 55 Terjebak
- Bab 56 Perpustakaan
- Bab 57 Memahami
- Bab 58 Kerja Lembur
- Bab 59 Lemah
- Bab 60 Diikuti
- Bab 61 Membuntuti
- Bab 62 Tak Terkendali
- Bab 63 Mengancam
- Bab 64 Pilihan
- Bab 65 Hotel Inter Continental
- Bab 66 Muncul
- Bab 67 Kemarahan yang Tidak Terduga
- Bab 68 Perubahan
- Bab 69 Mimpi Panjang Telah Menjadi Sia-sia
- Bab 70 Masalah Berturut-turut
- Bab 71 Masalah yang Sangat Rumit
- Bab 72 Mengajak Bertemu
- Bab 73 Sertifikat Kepemilikan Properti
- Bab 74 Marvin Su dan Martin Su
- Bab 75 Pertemuan
- Bab 76 Berbahaya
- Bab 77 Konfrontasi Antar Saudara
- Bab 78 Pistol
- Bab 79 Keberanian
- Bab 80 Kedatangan Polisi
- Bab 81 Bertanya
- Bab 82 Penembakan
- Bab 83 Pilihan
- Bab 84 Jericho Su
- Bab 85 Konfrontasi
- Bab 86 Merenungkan
- Bab 87 Tidak Adil?
- Bab 88 Gadis-gadis Suka Bergosip
- Bab 89 Ujian
- Bab 90 Rasa Aman
- Bab 91 Pembagian Uang?
- Bab 92 Kemarahan Luar Biasa
- Bab 93 Makan Siang
- Bab 94 Tidak Berpikir dan Berlogika
- Bab 95 Farah Liu
- Bab 96 Ketidakadilan
- Bab 97 Tersenyum halus
- Bab 98 Menjijikkan
- Bab 99 Semuanya Indah Sekali!
- Bab 100 Minyak Lilin
- Bab 101 Jamuan Pengkhianatan
- Bab 102 Kasus Pembunuhan
- Bab 103 Gunung Dagu
- Bab 104 Tiga Banding Tiga
- Bab 105 Kencan?
- Bab 106 Di Kafe
- Bab 107 Pengendalian
- Bab 108 Kondom
- Bab 109 Siva Zhao
- Bab 110 Kembali ke Sekolah
- Bab 111 Tertangkap Basah
- Bab 112 Jika Aku Pergi, Kita Tak Bisa Bertemu Lagi (Tamat)