The Break-up Guru - Bab 25 Pilihan
Suasana menjadi tegang kembali, Wade menggaruk-garuk kepalanya dengan keras lalu duduk di sampingku.
"Lalu bagaimana dong, benda ini sangat berbahaya jika ada di tangan kita, tapi kalau kita buang, masalahnya pasti akan bertambah lagi, bagaimanapun kita sudah tidak bisa lari lagi."
Apa yang dikatakan Wade memang benar, kita memang tidak punya banyak pilihan.
Kalau benar-benar ingin merubah kondisi seperti ini, hanya ada satu cara, buka USB itu dan mengetahui apa isi di dalamnya.
Dengan begitu kita bisa menggunakan isi USB itu untuk mencari cara melawan mereka.
"USB, kita harus memikirkan cara......" Baru saja aku hendak mengatakan apa yang terbesit di pikiranku, tiba-tiba pintu pun terbuka.
"Selamat siang, house keeping." kata seorang wanita dari luar, seketika kita bertiga pun langsung melompat berdiri.
Cepat sekali mereka datangnya, hostel sekecil ini tidak mungkin memberikan pelayanan house keeping secara langsung seperti ini, orang yang sedang berdiri di luar sembilan puluh persen adalah orang yang diutus untuk membunuh kita bertiga, meskipun kita pun juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya datang kemari.
"Kak Niel, dengarkan aku, berikan pistol itu padaku!" Wade pun panik dan segera mengulurkan tangannya padaku.
Namun aku malah menggenggam pistol itu dengan erat, "Aku juga bisa menembak," kataku sambil berjalan ke arah pintu.
"Selamat siang, house keeping." suara wanita itu terdengar kembali, aku memilih untuk tidak berkata apa-apa, aku menyuruh Paula dan Wade untuk tidak membuka mulut mereka pula, aku ingin mengulur waktu kita selagi kita bisa.
Wanita di depan pintu itu tidak bersuara lagi, jantungku berdebar kencang, kakiku terasa lemas, wanita itu pasti memutuskan untuk mendobrak pintunya dengan kekerasan.
Baru saja tubuhku menempel di dinding, tiba-tiba, "brak", kunci pintu kamar kami pun terlepas.
Tubuhku gemetaran, aku langsung mengulurkan tanganku, menarik pelatuk pistol di tanganku dan mengarahkannya ke pintu, Wade juga ikut di belakangku.
Namun, keadaan di luar terasa sangat tenang.
Saat aku masih bingung, tiba-tiba Paula langsung menerobosku dari belakang dan mendobrak pintu kamar.
Dasar wanita gila! Tanganku gemetaran, hampir saja aku melepaskan tembakanku.
Di luar pintu itu, berbaringlah seorang pria, di sebelahnya, berdirilah seorang ibu paruh baya yang berpakaian seperti tukang bersih-bersih, ia berdiri diam di tempat dengan wajahnya yang terkejut bukan kepalang.
Begitu ia melihatku mengarahkan pistolku padanya, ia pun segera berteriak dan berlari ke arah tangga.
"Neil Wu, lama tidak berjumpa." Orang yang sudah lama tidak kutemui tiba-tiba berdiri di depan pintu, ia melewati Paula dan langsung tersenyum padaku.
"GM Yin?" Kenapa aku sama sekali tidak menyangka aku akan bertemu dengan Grace Yin di tempat seperti ini, tanganku pun terasa lemas, dan pistol di tanganku juga terjatuh ke atas lantai.
Grace berjalan ke arahku, baru saja ia membungkukkan badannya hendak mengambil pistol itu, Paula pun langsung menarik tangannya.
"Kau siapa?" suara Paula terdengar dingin, matanya sedikit menyipit, wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya pada Grace.
Aku berpura-pura batuk sejenak, dan mengambil pistolku dari lantai, aku menarik Paula dan berkata, "Dia teman kita, teman kita."
Paula masih agak sedikit ragu, namun setidaknya ia juga tidak mempermalukanku di hadapan orang lain.
Grace masuk ke dalam kamar, setelah itu barulah aku melihat, ada beberapa orang pria yang ikut di belakangnya, dan mereka semua membawa pistol di tangan mereka.
"Neil, kukira kau melarikan diri, ternyata kau dikejar-kejar dan hendak dibunuh oleh orang lain, hari ini, kalau aku tidak datang tepat waktu, kau pasti tidak akan menyelesaikan misiku."
Grace menatapku dengan tenang, lalu duduk di atas sofa dengan santai.
Sepertinya Grace datang dengan membawa anak buahnya untuk menolongku, kalau ada orang-orang Grace, setidaknya kita aman untuk sementara waktu, aku pun menghela nafas lega dan duduk kembali di atas ranjang.
"Terima kasih, Kak Yin."
Bagaimanapun ia adalah penyelamatku, aku juga harus memanggilnya dengan sapaan yang lebih akrab, namun saat aku melirik ke arah Paula, aku melihat Paula sedang mengerutkan alisnya.
Entah mengapa, aku merasa Paula sangat tidak suka pada Grace, mungkin karena belakangan ini kita terlalu banyak terkena masalah, oleh karena itu ia merasa sangat was-was kepada orang asing.
"Katakan, apa yang terjadi?" Grace tidak buta, orang yang sangat cerdas seperti Grace pasti tahu bahwa Paula tidak suka padanya.
Namun ia tidak menghiraukannya dan malah bertanya padaku.
Sekarang aku sudah tidak punya jalan lain lagi, mungkin saja kemunculan Grace akan membawa sebuah keburuntungan bagiku.
Namun, aku juga tidak boleh menganggapnya sebagai kawan sendiri secepat itu.
Seorang pengusaha pakaian terkenal yang cantik dan pintar seperti dia, ternyata juga memiliki hubungan dengan mafia-mafia.
Orang seperti itu tidak bisa dipercayai begitu saja, kalau tidak mungkin saja ia malah keluar dari lubang harimau dan masuk ke lubang buaya.
"Wade, berikan USB itu padaku." Setelah kupikir-pikir, kalau Grace ingin mengetahui sesuatu, ia pasti akan langsung bisa membuat kita membuka mulut dengan sendirinya.
Dia tidak memaksaku, karena ia ingin memberi kita kesempatan untuk mengatakannya, ia tidak ingin membuat hubungan kita menjadi tegang.
Oleh karena itu, aku juga mengikuti kemauannya, hanya saja, sebelum mempercayai dirinya sepenuhnya, aku harus melihat terlebih dahulu apa dia bisa membantu kita atau tidak.
Wade juga tahu Grace, namun sekarang ia masih sedikit bingung, begitu melihatku berteriak padanya, ia pun langsung memberikan USB itu padaku.
Dari awal ia selalu merasa bahwa benda itu adalah bom waktu yang bisa meledak tiba-tiba.
"Kak Yin, benda ini adalah alasan mengapa kita dikejar-kejar, aku tahu kau punya banyak bawahan, bantu aku membuka kunci USB ini, aku akan memberitahukan semuanya padaku, misi yang kau berikan padaku sebelumnya juga akan kulakukan dengan gratis."
Aku langsung memberikan USB itu pada Grace, ia melihatku sejenak, namun tidak menerimanya.
"Ya sudah kalau tidak mau, kita bisa mencari orang lain." kata Paula tiba-tiba, karena panik, hampir saja aku memakinya, kita mau mencari orang lain ke mana!
Namun tiba-tiba, Grace pun menerima USB yang ada di tanganku itu.
"Ayo, ke rumahku, kucoba untuk membukanya."
Aku pun tercengang, apa yang terjadi, hanya dengan perkataan Paula barusan saja, Grace langsung menyetujuinya?
Trik agitasi? Grace bisa sebodoh itu sampai termakan oleh trik anak kecil seperti ini?
Tak usah berpikir panjang lagi, aku pun mengambil pistolku dan berjalan keluar bersama dengan Grace.
"Kak Yin, kunci USB ini sangat berkelas, kita sudah mencari banyak orang, namun mereka tidak bisa membukanya, apa kau yakin kau punya orang yang bisa membukanya di rumahmu?"
Mendengar ucapanku itu, Grace hanya tertawa namun tak berkata apa-apa.
Saat aku sampai ke rumahnya, barulah aku mengerti apa maksud tawanya tadi itu.
Ternyata Grace sendiri adalah seorang hacker, ia mengambil jurusan IT waktu kuliah dulu, lalu karena postur tubuhnya yang langsing dan tinggi itu, ia pun berprofesi sebagai model, dan akhirnya ia membuat sebuah perusahaan fashion sendiri sampai sebesar ini.
"Ckck, kau hebat juga ya." sahut Wade yang melihat kemahiran Grace itu.
Aku juga tidak mengerti tentang teknologi, aku hanya melihat simbol-simbol rumit yang bertebarang di layar komputer Grace, seperti sebuah kode.
"Hn...... kunci ini, menarik juga." Grace tidak menghiraukan Wade, ia tersenyum ke arah layar monitornya.
"Sepertinya aku membuat masalah dengan orang yang salah, kunci seperti ini hanya anggota-anggota pemerintahan internal saja yang memilikinya."
Senyuman di wajahnya itu tak bertahan lama, seketika wajahnya berubah serius, ia pun menoleh ke arahku dan menghentikan tangannya.
"Neil, aku sudah membuka kunci USB ini, tapi aku akan menyerahkan keputusan untuk melakukan langkah terakhir ini pada dirimu sendiri, isi dari USB ini pasti berhubungan dengan anggota pemerintahan internal, kalau kau membukanya, itu berarti, semua orang, yang baik maupun jahat, pasti akan langsung mencarimu."
Kata Grace sambil menyodorkan laptopnya ke tanganku, di saat bersamaan, Paula dan Wade pun juga menatap ke arahku.
Novel Terkait
The True Identity of My Hubby
Sweety GirlThis Isn't Love
YuyuHis Second Chance
Derick HoMeet By Chance
Lena TanCinta Dan Rahasia
JesslynYama's Wife
ClarkAdieu
Shi QiThe Break-up Guru×
- Bab 1 The Split-up Guru
- Bab 2 Selebriti Wanita Yang Cantik
- Bab 3 Mengambil Kebutuhan Masing-Masing
- Bab 4 Aku Mungkin Sudah Menyukaimu
- Bab 5 Target Di Tangan
- Bab 6 Masalah Yang Disebabkan Paula Li
- Bab 7 Rahasia Flashdisk?
- Bab 8 Suami Yang Diselingkuhi
- Bab 9 Menerima Tugas Baru
- Bab 10 Perubahan Rahasia
- Bab 11 Menguji
- Bab 12 Nana
- Bab 13 Alarm yang Mengerikan
- Bab 14 Godaan yang Luar Biasa
- Bab 15 Pemain Handal
- Bab 16 Tidak Ada Harapan
- Bab 17 Kamar Presidensial
- Bab 18 Kehilangan Kesempatan
- Bab 19 Membuka Flash Drive
- Bab 20 Ketahuan
- Bab 21 Jauh di Atas Langit, Dekat di Depan Mata
- Bab 22 Penculikan
- Bab 23 Berubah Kotor
- Bab 24 Asal Usul USB Itu
- Bab 25 Pilihan
- Bab 26 Harapan Tipis
- Bab 27 Penyakit Kembali Kambuh
- Bab 28 Kami Adalah Polisi
- Bab 29 Merampas Orang yang Dicintai
- Bab 30 Terbongkar
- Bab 31 Terjadi Sesuatu Pada Paula Li
- Bab 32 Menangkis Tembakan
- Bab 33 Membunuh Untuk Menutup Rahasia
- Bab 34 Grace Yin Turun Tangan
- Bab 35 Serangan Balik
- Bab 36 Bertaruh
- Bab 37 Aku Juga Pernah Merasakannya
- Bab 38 Menjadi Menantu
- Bab 39 Perayaan
- Bab 40 Masa Lalu
- Bab 41 Berlibur
- Bab 42 Permainan Menembak
- Bab 43 Melakukan Tak-Tik
- Bab 44 Percaya
- Bab 45 Pelanggan Baru, Caroline Wu
- Bab 46 Perlombaan Jet Ski
- Bab 47 Rahasia
- Bab 48 Anak Putra
- Bab 49 Menguji Keberuntungan
- Bab 50 Kubu Perlindungan
- Bab 51 Melapor Polisi
- Bab 52 Menaruh Obat
- Bab 53 Pulang
- Bab 54 Memanja
- Bab 55 Ada Masalah Di Obatnya
- Bab 56 Adiknya, Lily Wu
- Bab 57 Diperintahkan
- Bab 58 Menakut-nakuti
- Bab 59 Pria Brengsek
- Bab 60 Merayu
- Bab 61 Frenky Zhao
- Bab 62 Tidak Bisa Melihat Bayangan Selingkuhan Itu
- Bab 63 Mencari Bukti
- Bab 64 Pahlawan
- Bab 65 Sudah Impas
- Bab 66 Di Rumah Sakit
- Bab 67 Menunjukkan Kewibawaan
- Bab 68 Menikah Di Umur 14 Tahun
- Bab 69 Mengutamakan Keselamatan
- Bab 70 Terluka
- Bab 71 Darah
- Bab 72 Wanita Gila
- Bab 73 Tidak Mencampuri Urusan Sesama
- Bab 74 Dipaksa
- Bab 75 Keuntungan
- Bab 76 Perbedaan Wanita Dan Pria
- Bab 77 Misi Rahasia
- Bab 78 Iri Hati
- Bab 79 Mengikuti Jejak Untuk Melacak
- Bab 80 Gadis Muda
- Bab 81 Dunia Sangat Sempit
- Bab 82 Tidak Takut Mati
- Bab 83 Daftar Nama Ditangan Siapa
- Bab 84 Brengsek
- Bab 85 Wade Ditangkap
- Bab 86 Tumor Beracun
- Bab 87 Anak Muda Yang Suka Jalan Belakang
- Bab 88 Rencana
- Bab 89 Pertukaran
- Bab 90 Bersandiwara
- Bab 91 Meninggal
- Bab 92 Menyerang Polisi
- Bab 93 Kenangan
- Bab 94 Selamat Tahun Baru
- Bab 95 Kembali