Harmless Lie - Bab 7 Pembalasan Dendam
Beberapa hari berikutnya, Tyson Xu setiap hari pasti akan menerima telepon dari Bailey Huang. Begitu diangkat, wanita itu akan berteriak panik: “Tyson Xu, cepat datang tolong saya. Di depan pintu rumah ada darah, begitu banyak darah, saya takut setengah mati!”
Setiap hari, ketika Bailey Huang membuka pintu, ia akan terhentak melihat genangan darah. Genangan darah itu memanjang hingga area lift.
Situasi seperti ini sudah berlangsung selama tiga hari. Bailey Huang sudah hampir gila, ia dengan panik menuduh: “Pasti ini ulah Whitney Huang, ini pasti ia yang melakukan. Whitney Huang pasti tengah bersembunyi di salah satu sudut. Ia ingin membunuh saya. Tolong saya, Tyson Xu, kamu harus menyelamatkan saya!”
Dari kantor, Tyson Xu langsung buru-buru berangkat ke apartemen. Ketika sampai, genangan darah itu sudah lenyap tanpa bekas.
Di dalam apartemen, melihat kedatangan Tyson Xu, Whitney Huang akan berlari ke arahnya dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu: “Tyson Xu, selamatkan saya, wanita itu pasti ingin membunuh saya! Semua genangan darah ini hanya sebuah peringatan, tujuan akhirnya tetap membunuh saya!”
“Jangan khawatir, ada saya di sini. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu,” Tyson Xu menenangkannya, menepuk-nempuk punggungnya dengan lembut. Tetapi Bailey Huang tetap panik luar biasa, “Tyson Xu, saya ingin pindah rumah. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi. Wanita itu ingin membunuh saya, benar-benar ingin membunuh saya! Masak kamu lupa, tiga tahun lalu, kalau kamu tidak datang tepat waktu, saya pasti sudah mati di tangannya.”
Tyson Xu tidak akan pernah melupakan momen itu. Ia melihat Whitney Huang menggenggam sebilah pisau. Sepasang mata Whitney Huang merah, ia menjebak Bailey Huang agar terperangkap di dalam sebuah rumah yang tengah mengalami kebakaran hebat. Ia ingin membunuhnya sekaligus membuat mayatnya gosong terbakar. Setelah kejadian itu, sebagian wajah Bailey Huang mengalami luka bakar.
Whitney Huang saat itu juga duduk di dalam rumah. Ia menatap jam pasir seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat itu sebenarnya Whitney Huang berniat membunuh Bailey Huang dan membuat wanita itu terbakar bersama dirinya, lalu bersama-sama pergi ke neraka untuk meminta maaf pada ayah dan ibu mereka.
Waktu berlalu begitu cepat. Mempertimbangkan bahwa kakeknya sudah terlanjur mengumumkan kabar pernikahannya dengan putri kaya keluarga Huang ke media, Tyson Xu tetap menjalani pernikahan, tetapi pada malam pertama ia sengaja membuat istri barunya itu kesepian.
Pintu berdecit, langkah kaki yang cepat langsung bergerak menuju kamar.
Whitney Huang duduk diam seolah tidak mendengar apa-apa.
Tyson Xu muncul di hadapannya, menarik kerahnya, lalu dengan mata merah padam menyelidik: “Apa benar kamu yang melakukannya?”
Whitney Huang menatap dingin, lalu tersenyum: “Saya tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan.”
“Genangan darah di depan rumah Bailey Huang, apa kamu pelakunya?”
“Darah apa? Apakah kamu sedang membicarakan darah ini?” Whitney Huang mengambil sebuah botol kaca yang ditaruh di atas meja. Botol itu berisi darah segar.
Tyson Xu terkejut. Ia semakin marah. Ia tidak lagi menarik kerah wanita itu, melainkan mencekik lehernya: “Berarti memang benar kamu yang melakukan! Kamu sepertinya sedang menguji batas kesabaran saya, dari kemarin tidak berhenti membuat saya marah! Kamu ingin mati?”
“Kalau saya mati, kamu akan bagaimana?” Whitney Huang mendongakkan kepala, menatap pria itu.
Tyson Xu terhenyak. Tatapan mata seperti ini, ia sepertinya pernah melihatnya pada suatu momen ketika lawan bicaranya teramat kecewa?
Tyson Xu buru-buru menghilangkan lamunannya. Ia memaki: “Kalau kamu mati, hari kematianmu itu patut dirayakan. Hidup saya akan berubah menjadi lebih indah. Jadi, kamu lebih baik cepat mati!”
Meski tahu Tyson Xu membenci dirinya sampai ke ubun-ubun, tetapi mendengar kalimat yang menggores hati ini, Whitney Huang langsung merasakan kesedihan yang amat mendalam.
“Baik, saya berjanji akan segera mati, tetapi kamu juga harus berjanji satu hal, oke?” wanita itu mengangkat sudut bibirnya, matanya menyingkap suatu perasaan yang sulit dijelaskan.
Tyson Xu tersentak. Ia menatapnya, hatinya agak cemas: “Kamu sebenarnya ingin melakukan apa?”
Whitney Huang melepaskan tangan Tyson Xu yang tengah menarik kerahnya. Ia tersenyum lalu berkata: “Jelas melakukan urusan yang saya inginkan, misalnya...... membuat Bailey Huang mati!”
Beberapa detik berikutnya suasana menjadi hening. Tyson Xu tidak mempercayai apa yang ia dengar barusan. Wanita ini sungguh liar, berani-beraninya dia mengucapkan kalimat ini di hadapannya!
Tyson Xu benar-benar murka: “Belum pernah ada satu orang pun yang berani berbicara semacam ini di hadapan saya. Saya beri kamu kesempatan untuk menarik kata-katamu, jangan paksa tangan saya bergerak.”
Novel Terkait
Wanita Yang Terbaik
Tudi SaktiLove at First Sight
Laura VanessaThat Night
Star AngelBehind The Lie
Fiona LeeCinta Tak Biasa
SusantiYou're My Savior
Shella NaviJalan Kembali Hidupku
Devan HardiHarmless Lie×
- Bab 1 Kanker
- Bab 2 Aku sudah pulang
- Bab 3 Jangan Pernah Muncul di Hadapanku Lagi
- Bab 4 Tidak Akan Bercerai
- Bab 5 Rasa Sakit Karena Kehilangan
- Bab 6 Sakit yang Semakin Parah
- Bab 7 Pembalasan Dendam
- Bab 8 Waktu Tidak Tersisa Banyak
- Bab 9 Selamatkan Saya
- Bab 10 Penyakit Mental
- Bab 11 Kamu sendiri yang menginginkannya
- Bab 12 Bertemu Orang Lama
- Bab 13 Bantu Aku Merahasiakannya
- Bab 14 Kerobohan Bailey
- Bab 15 Kamu Tidak Pantas
- Bab 16 Masih Bisa Hidup Berapa Lama Lagi
- Bab 17 Pikiran Kosong
- Bab 18 Penolakannya
- Bab 19 Berkeras Hati untuk Bercerai
- Bab 20 Menolak Kemoterapi
- Bab 21 Tidak Ingin Berjanji
- Bab 22 Membawamu Pergi
- Bab 23 Harus Mati
- Bab 24 Dimana Whitney
- Bab 25 Ternyata Itu Benar
- Bab 26 Dia Hamil
- Bab 27 Hatinya Terasa Pilu
- Bab 28 Lompat Ke Danau
- Bab 29 Kelembutannya
- Bab 30 Sulit Untuk Tenang
- Bab 31 Aku adalah suaminya
- Bab 32 Membongkar Kebohongan
- Chapter 33 Bukan Mimpi
- Bab 34 Tolong Aku
- Chapter 35 Dia Sudah Gila
- Bab 36 Minyak yang Telah Habis
- Bab 37 Anak pun Tiada
- Bab 38 Segera Sadarlah
- Bab 39 Metode Bailey Huang
- Bab 40 Dia Telah Mati
- Bab 41 Penyesalan
- Bab 42 Amarah
- Bab 43 Berikan Kotak Itu Kepadaku
- Rasa 44 Rasa Original
- Bab 45 Menggali Makam
- Bab 46 Siapa Namamu?
- Bab 47 Dia Masih Hidup
- Bab 48 Tidak Perlu Diajarkan
- Bab 49 Ingin Ayah