Memori Yang Telah Dilupakan - Bab 7 Anak Dijadikan Tameng
Bab 7 Anak Dijadikan Tameng
Meri menarik tangan Jane sambil berjalan kedepan, ketika melihat kedepan ia tiba-tiba melihat Yoel, ada sedikit terkejut, tapi dengan cepat menutupinya dan tetap berjalan dengan tenang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yoel.
Jane dengan marah berkata, "Apakah kamu tahu bahwa Meri..."
Meri menarik tangan Jane agar ia tidak meneruskan pembicaraannya, "Aku akan pergi menemui Nona Siska."
Yoel mendengus dan berkata sambil menyindir, "Apakah kamu bisa bersikap baik?"
"Baiklah, mari kita pergi dan lihat, ia sudah dirawat selama setengah bulan." Kata-kata Meri pun berupa sebuah sindiran.
Sambil mengikut Yoel jalan ke arah pintu kamar, Meri langsung melihat wajah putih pucat, di dahinya Siska ada tetanus. Dalam waktu setengah bulan ini, dia menjadi kurusan, tapi itu sudah sepantasnya dia terima karena demi menghasut Yoel, ia menggunakan segala cara.
"Yoel..."
Begitu pintu terbuka, Siska berteriak riang, tiba-tiba melihat Meri, wajahnya langsung menjadi cemberut, dan suaranya pun tidak senang. "Apa yang kamu lakukan, apakah kamu ingin melihat aku mati?"
Meri tidak marah, dia masuk dengan begitu tenang, "Saya ingin menjenguk nona Siska, yang sudah setengah bulan dirumah sakit tapi belum membaik, Yoel pastinya ikut sedih."
Dalam hati Siska penuh dengan kemarahan, Meri yang suaminya direbut masih bisa bersikap santai dan tidak begitu peduli, Siska pun makin benci dengan sikap Meri, "Jika kamu tidak iri dengan saya, mengambil cowok saya, bagaimana mungkin saya akan berbaring begitu lama disini, Meri kenapa kamu begitu licik, cepat atau lambat pun akan ada balasannya!"
Meri tertawa, walaupun ada pembalasan itu pun tidak akan sampai pada dia, "Nona Siska, apakah kamu tidak berpikir dulu sebelum berbicara? Kamu telah merebut suami saya selama lima tahun, sampai sudah menjadi wanita ketiga, apakah masih belum cukup."
Siska sangat marah sampai mukanya merah karena disindir oleh Meri, "Awalnya saya sudah akan menikah dengan Yoel, tapi kamu membunuh ibuku, memaksa Yoel untuk menikahimu, ada hak apa kamu untuk berkata saya adalah wanita ketiga, kamulah yang wanita ketiga!"
"Apakah benar?" Meri dengan berhati besar, dan tidak pernah melakukan kesalahan apapun, "Jika Yoel tidak melupakan saya, coba katakan apakah ia akan mencintai kamu? Siska, kamu sudah berpura-pura selama lima tahun hidup dalam bayangan saya, jadi ada hak apa kamu untuk mengatakan saya wanita ketiga, jika kamu tidak berbohong, Yoel seumur hidupnya pun tidak akan memandang kamu!"
Kata-kata itu pun memukul Siska, matanya merah memandang ke arah Meri, dia selama ini sudah berpura-pura selama lima tahun, tapi masih saja begitu, asal saja ada tipu muslihat, ia tidak akan takut, jadi semua yang terjadi sudah selayaknya ia terima.
"Aku hamil." Kata Meri, "Anak aku bersama Yoel."
Pupil mata Siska pun langsung tertuju kepada Meri, dengan marah ia berteriak sambil melemparkan barang kearah Meri, untungnya Meri cepat sadar dan bisa menghindar.
"Meri matilah kamu, kamu harus mati!" Siska berteriak histeris.
Suara berisik dikamar membuat Yoel mendengarnya, Yoel pun langsung bergegas masuk, Siska langsung bersemangat ketika melihat Yoel masuk, ia pun langsung menangis dan berteriak, "Yoel, kamu usir Meri, saya tidak ingin melihat dia, dia terlalu licik, saya tidak mau bertemu dia."
Raut wajah Yoel pun berubah, dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan terhadap Siska?"
"Tidak ada, saya hanya mengatakan bahwa saya hamil."
Kata-kata itu meledak membuat Yoel sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Meri memiliki rencana seperti itu, dengan menggunakan cara mengandung.
Yoel menarik tangan Meri dan dengan dingin berkata, "Cepat keluar!"
Meri dengan tenang mengikuti Yoel dan juga tidak panik, tapi dia melakukan hal ini sudah menggangu Yoel, Yoel tidak suka Meri melakukan permainan seperti ini, bahkan hamil pun dijadikan mainan. Dengan tenang ia berkata, "Kamu bagaimana bisa mengandung anak saya, apa yang sebenarnya kamu lakukan? "
Sambil memegang perutnya Meri berkata, "Saya pernah bilang ingin punya anak, saat itulah ide ini pun muncul, kamu tenang saja, sebelum anak ini lahir saya akan merawatnya sendiri, kamu sama sekali tidak perlu memikirkannya."
"Meri!"
Yoel hampir saja berteriak, matanya menatap Meri dengan membara-bara, "Kamu tidak tanya dulu pendapat saya untuk punya anak, lalu kamu tiba-tiba sudah mengandung, apakah kamu ingin menggunakan anak untuk mengikat saya agar kita tidak jadi bercerai?"
Novel Terkait
Villain's Giving Up
Axe AshciellyAdore You
ElinaMy Lifetime
DevinaMy Enchanting Guy
Bryan WuSomeday Unexpected Love
AlexanderMemori Yang Telah Dilupakan×
- Bab 1 Hidup Tak Sampai 10 Bulan
- Bab 2 Jantung Hati Yoel
- Bab 3 Penyakit Meri Kambuh
- Bab 4 Meri Takut Gelap
- Bab 5 Syal Rajutan Meri Dibuang Yoel
- Bab 6 Bercerai Dengan Yoel, Aku Akan Menjaga Kamu
- Bab 7 Anak Dijadikan Tameng
- Bab 8 Ketakutan Siska
- Bab 9 Yoel Kita Bercerai Saja
- Bab 10 Jangan Kasih Tahu Dia Saya Mengindap Penyakit Serius
- Bab 11 Orang Yang Selama Ini Di Cintai Hanya Siska
- Bab 12 Meri Kamu Seharusnya Mati
- Bab 13 Bertemu Kamu Adalah Penyesalan Seumur Hidup Saya
- Bab 14 Kamu Tidak Layak Untuk Meri
- Bab 15 Mencari Meri Seperti Orang Gila
- Bab 16 Apa Sebenarnya Yang Kamu Pikirkan
- Bab 17 Meri Jangan Keras Kepala Lagi
- Bab 18 Setelah Bercerai, Mereka Akan Menikah
- Bab 19 Takdir Mempertemukan Mereka Di Rumah Sakit
- Bab 20 Saya Mengidap Kanker, Kamu Percaya?
- Bab 21 Mengapa Kamu Membohongi Saya?
- Bab 22 Detik-detik Akhir Hidup Meri
- Bab 23 Dari Awal Sampai Akhir Hanya Meri Yang Dicintainya
- Bab 24 Mencintai Kamu Itu Melelahkan
- Bab 25 Kita Pergi Menyusul Meri
- Bab 26 Billy Kecil Tidak Mempunyai Mama
- Bab 27 Mami, Saya Billy Anakmu
- Bab 28 Ayah, Saya Bertemu Mami
- Bab 29 Pak, Saya Tidak Mengenal Anda, Mohon Jaga Sikap
- Bab 30 Bertemu Musuh Bebuyutan
- Bab 31 Pertemuan Tony Dan Yoel
- Bab 32 Siapa Saya?
- Bab 33 Saya Ingin Ayah Bersama Dengan Mami
- Bab 34 Ayah Mencium Mami
- Bab 35 Keluarga Harusnya Tidur Bersama
- Bab 36 Saya Siska, Kamu Sudah Lupa Kah?
- Bab 37 Hubungan Kita Sudah Berakhir
- Bab 38 Tertabrak Mobil
- Bab 39 Perjalanan Hidup Meri Akhirnya Bahagia