Pernikahan Tak Sempurna - Bab 12 Segera Bercerai

“Lihat sikap istrimu yang sangat buruk itu, dia membuatmu marah besar dengan apa yang dia lakukan, kan? Lalu kamu bawa Zanna seperti ini apa maksudnya? Apa kamu sedang bertengkar dengannya?”

Samuel duduk sambil merangkul bahu kanan Kesha. “Aku sedang tidak bisa berpikir jernih, kamu tahu? Dia memilih untuk bekerja. Zanna menceritakan itu padaku dan mengatakan bahwa dia butuh kasih sayang yang baik dari Lara. Sedangkan anakkku sendiri memiliki Mama yang tidak becus dalam mengurus anak. Yang mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh putrinya sendiri. Apa dia pantas disebut dengan Mama?” emosinya memuncak kala mendengar Lara ingin bekerja di perusahaan lain.

Butik, toko sepatu dan juga jam tangan tidak bisa dikelola oleh Lara dengan baik atau apa?

Yang jelas Samuel tidak mengerti pola pikir istrinya. Dia tidak pernah baik-baik saja pada Lara. Justru mereka berdua sering bertengkar untuk memperebutkan Zanna meskipun sudah berusaha untuk tidak bertengkar di depan anak mereka.

Raut wajah Samuel terlihat sangat dingin, ia sedang marah besar terhadap Lara. “Kamu akan melakukan apa?” Kesha mencoba menenangkan dengan mengelus wajah pria ini.

Yang dia lakukan adalah bermain dengan beberapa wanita tanpa memikirkan anaknya. Tapi marah besar saat mendengar Lara bekerja yang artinya Zanna tidak akan mendapatkan kasih sayang yang baik. “Aku akan melakukan sesuatu untuknya, lihat saja dia akan menyesal seumur hidupnya karena telah memilih untuk bekerja,” tegas Samuel.

Lalu Samuel mengambil ponselnya yang ada di dekatnya untuk mencari nomor agensi khusus pengasuh untuk anaknya. “Kamu ingin menitipkan Zanna?” tanya Kesha dengan sorot matanya yang terlihat senang.

“Zanna itu anaknya sangat jujur, jadi apa pun yang kamu lakukan dia akan berkata dengan jujur. Jadi aku tidak bisa membiarkanmu untuk mengasuhnya, kamu tidak pengalaman perihal anak. Tapi satu pintaku, kamu di sini awasi pengasuh yang akan menjaga Zanna besok. Aku akan bekerja seperti biasanya,”

Merasa jika sebenarnya Samuel sangat perhatian terhadap putri kecilnya ini yang akan diasuh oleh pengasuh profesional membuat Kesha yakin jika Samuel bukan pria yang bisa bermain-main perihal anaknya. Tidak akan ada yang bisa mengusik hidup si kecil jika sudah berada di tangan Samuel. Sekalipun itu adalah Lara sendiri.

Memenangkan hari Samuel itu tidak pernah mudah bagi Kesha, sebab dia harus bermuka tebal dihadapan publik tentang jatuh cinta yang dia rasakan. Ia ingin sekali untuk menghindar dari hadapan publik dan bisa hidup bersama dengan Samuel dengan tenang. Kehidupan yang mewah dan juga sangat dimanjakan oleh pria ini membuatnya sangat menggilai agar bisa berhubungan serius dengan Samuel.

Bahkan tempat Kesha menjadi model sekarang ini juga dinaungi oleh perusahaan Samuel sendiri sampai dia menghilangkan malunya untuk mendapatkan pria ini. Jika pun harus menurunkan harga dirinya dihadapan publik dianggap sebagai wanita perebut rumah tangga orang lain dengan catatan bahwa Samuel itu mengabaikan istri sahnya yang tidak dianggap sebagai istri. Namun malah dianggap seperti pengasuh untuk anaknya.

Samuel memesan satu orang pengasuh yang cukup pengalaman untuk bisa menjaga Zanna besok ketika dia bekerja. “Aku harap kamu jangan pernah marahi Zanna,”

Jika bukan karena dihubungi oleh Julian tadi tentu dia tidak akan tahu jika anaknya sedang menangisi dan protes terhadap Lara yang sibuk bekerja. Bukan ini yang dia inginkan, melihat si kecil yang terabaikan. Hatinya teramat sangat sakit. “Kamu marah?” tanya Kesha tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu.

Dia marah pada Lara, bukan pada Kesha hari ini. “Aku tidak marah padamu, aku sedang marah pada Lara,”

Mendengar jawaban Samuel barusan Kesha terdiam sejenak lalu memikirkan cara bagaimana bisa untuk menghambil hati pria ini sepenuhnya agar meninggalkan sang istri. “Jadi, kamu beneran nggak mau ninggalin Lara duluan?”

“Biar dia yang melakukan itu, Kesha. Aku tidak mau jika aku yang memutuskan untuk meninggalkan orang lain. Lebih baik dia muak sendiri dengan pernikahan ini dibandingkan aku menceraikan dia lalu merebut Zanna darinya, biarkan dia melepaskanku. Lalu aku dengan mudah juga melepaskan dia saat dia pergi,”

Samuel berkata seperti itu lalu beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan Kesha di ruang tamu. Sebelum ke kamar, ia berbalik. “Aku mandi dulu,” ucapnya lalu ke kamar meninggalkan Kesha sendirian.

Di sana ada hasil ulahnya empat tahun lalu sedang tidur dengan sangat lelap memeluk bantal yang ada di kamarnya Samuel. Meninggalkan Lara, artinya adalah merusak kebahagiaan Zanna. Begitu yang dipikirkannya.

Namun Samuel tidak berpikir jika Lara meninggalkannya maka Zanna juga pasti tidak akan bahagia, mulai saat itu kepalanya bergejolak dua pilihan berbeda antara meninggalkan atau ditinggalkan.

Ia hanya melilitkan handuk dipinggangnya, “Maafin Papa yang belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu,” Samuel mencium kening putrinya.

Seperti ini keadaannya sekarang, perasaan hancur. Ditambah lagi dengan kekasihnya yang memaksa untuk dia menceraikan Lara. Satu sisi dia memang lebih butuh pada Kesha dibandingkan dengan Lara. Satu sisi dia sadar kalau Zanna yang lebih butuh Lara saat ini dan seterusnya.

Menjadikan Kesha ibu tiri tentu akan membuat pengalaman baru untuk kehidupan wanita itu. Ditambah lagi harus mengawasi Zanna yang begitu aktif dan juga sangat senang bermain.

Samuel baru saja keluar dari kamar mandi dan mengganti setelan kerjanya dengan pakaian santai ketika berada di apartemen. Dengan celana pendek yang biasa dia gunakan dan kaos hitam polos yang membuatnya terlihat sedikit lebih bergaya dengan penampilan ini.

Meski sedang keluar dari kamar mandi, ia masih melihat putrinya tertidur di sana. Kesha masih berada di ruang tamu, pria itu mengambil dua kaleng bir untuk mereka berdua. “Kamu mau menginap?” tawar Samuel dengan menggoda wanitanya.

Kesha menoleh lalu mengambil bir yang disodorkan oleh Samuel. “Bagaimana bisa aku menginap jika ada anakmu di sini?”

“Maksudku, kamu bisa belajar menjadi ibu yang baik untuk Zanna,”

Wanita itu terkekeh, “Kamu ingin aku belajar menjadi Mama tiri untuk Zanna?”

Samual yang membiarkan handuk di atas kepalanya karena tidak ingin ada air yang menetes di sofanya hanya bisa terkekeh. “Tentu saja, saat kita menikah nanti aku berharap kamu memberiku anak laki-laki yang bisa menjaga Zanna... tentu saja dia juga akan menjadi putra kesayanganku seperti Zanna,”

Menyenangkan yang didengar oleh Kesha ke indera pendengarannya yang terdengar teramat sangat membahagiakan. “Apa kamu sedang merayuku?”

“Tidak,” jawab Samuel dengan sedikit menarik Kesha ke dalam pelukannya. Pria itu membuka kaleng bir yang dibawanya barusan lalu ia menyodorkannya kepada Kesha. “Kamu minum dulu,” pinta pria itu lalu Kesha meminum yang disodorkan oleh Samuel.

Tiada hari tanpa bermabuk-mabukan untuk mereka berdua. “Aku ingin menginap, tapi jika Zanna di sini. Di mana aku tidur?”

“Biarkan dia di kamar saja, kita di kamar lain. Kamu pikir apartemen ini kecil dan tidak muat untuk tubuh mungilmu?”

Kesha terkekeh lalu membuka kaleng bir itu dan bersulang pada Samuel. “Kamu tahu, aku sengaja mengajakmu minum untuk hari ini. Rasanya aku benar-benar ingin menelan Lara hidup-hidup,” jelas Samuel saat mereka berdua sedang bercumbu di ruang tamu dengan televisi yang menyala karena Kesha sedang menonton sebuah serial.

Sementara itu dia meletakkan birnya di atas meja. “Sebentar, aku buatkan Zanna susu sebelum dia bangun dari tidurnya,” kata Samuel lalu mengambil susu dan juga botol yang dibelikan oleh Kesha tadi sebelum datang ke apartemen Samuel.

Sesuai dengan petunjuk yang ada sebelum menuangkan susu ke dalam botol itu dia harus merebus botolnya terlebih dahulu seperti yang dia dapatkan dari internet petunjuk yang dia sendiri tidak tahu apa tujuan dari semua ini.

Sekitar tiga menit dia membiarkan botol susu itu di dalam air mendidih dan mengeluarkannya begitu saja lalu mencuci bersih lagi untuk yang kedua kalinya, dia juga membaca kota susu formula yang dibelikan oleh Kesha susah sesuai atau tidak. Mengingat bahwa Zanna alergi susu sapi yang artinya dia hanya bisa meminum susu soya seperti sekarang.

Meski keadaan tidak membaik, tapi jangan salah jika Samuel perhatian pada si kecil. Terlebih ketika Lara memberitahukan tentang Zanna masuk rumah sakit karena diberikan susu sapi diawal untuk mencoba agar Zanna tidak bergantung pada ASI Lara. Ketika rapat direksi yang cukup ketat, mau tidak mau dia meninggalkan rapat itu lalu menyusul anaknya ke rumah sakit.

Sampai sekarang dia juga harus teliti memberikan makanan apa pun pada si kecil.

Dia memasak air yang lain untuk persiapan nanti kalau Zanna bangun. “Sha, bisa pesan ayam krispi? Zanna tadi minta,”

Tatapan wanita itu terlihat sangat tidak suka dengan perintah Samuel. Tapi ini risikonya ketika harus berhadapan dengan pria yang sudah memiliki anak. “Baiklah,” jawabnya dengan singkat lalu memesan ayam krispi dari ponselnya. “Kita juga makan malam, kan?”

“Tentu,” jawab Samuel dengan singkat dari dapur dan juga menunggu air itu hangat lalu memberikannya pada Zanna nanti. Tidak mungkin dia akan memberikan susu panas untuk anaknya.

Tidur dari sore tadi sampai jam sembilan malam Zanna belum juga bangun dari tidurnya. “Samuel, apa anak yang tidur dari sore dan belum bangun sampai sekarang ini tidak mengkhawatirkan?” Kesha bertanya sebab dia tidak pengalaman.

“Aku juga tidak tahu, tapi kalau aku bangunkan dia pasti nangis. Dia bakalan minta pulang,”

“Tapi ini sudah lima jam lebih dia tidur,”

Samuel mengangkat tangan kirinya lalu melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

Bukannya dia tidak perhatian, tapi dia tidak tahu bagaimana harus mengurus Zanna. “Aku harus bagaimana?”

“Bangunin?” tanya Kesha balik padanya.

Sampai pria itu akhirnya membuka pintu kamar untuk melihat anaknya dan malah melihat anaknya duduk di atas ranjang. “Lho kok nggak manggil Papa?”

Zanna yang masih cemberut karena baru saja terbangun dari tidurnya. “Papa, gendong,” panggil Zanna merentangkan tangannya lalu di dekati pria itu dan menggendong putrinya.

Ia menggendong lalu mencium anaknya. “Udah puas tidurnya, Nak?”

“Zanna lapar, Pa,”

“Papa beliin ayam krispi yang diinginkan Zanna tadi sore. Mau makan sekarang?”

Zanna mengangguk. “Papa beliin susu juga?” tanya si kecil yang sudah dia hafal anaknya akan mencari susu. Beruntungnya tadi dia tidak mendinginkan airnya begitu saja tapi dimasukkan ke dalam termos kecil yang biasa digunakan oleh Samuel membuat kopi ketika dia berpergian ke tempat yang jarang sekali menemukan penjual kopi instan.

Ia mengajak Zanna ke ruang tengah. “Kamu nggak pakai air yang dari dispenser?” tanya Kesha ketika melihat Samuel membawa termos kecil dan juga membawa Zanna.

“Dia tahu, Sha. Jadi nggak bisa berbohong mana air yang dimasak pakai kompir dan yang enggak, aku juga nggak tau gimana ceritanya,” itu seingatnya sejak usia Zanna menginjak usia dua tahun.

“Nggak kok, Pa. Di lumah Mama pakai ail dali dispensel juga,” jelas Zanna.

Entah Samuel dibuat terdiam oleh anaknya. Sudah berapa bulan terlewat cerita itu sampai dia tidak tahu sendiri anaknya yang sudah bisa menerima air yang dimasak dengan dispensernya, menurut Samuel padahal itu tidak ada bedanya. “Aku nggak ngerti,” jawab Kesha yang mengeluarkan ayam krispi yang dipesankan untuk Zanna.

Sedangkan Samuel sendiri hanya mengangguk layaknya orang bodoh ketika anaknya berkata demikian. “Ada perbedaan air yang dimasak dengan cara berbeda, Sha?” tanya Samuel saat memberikan botol susu untuk anaknya.

“Aku nggak tahu, aku selama ini nggak milih-milih. Anak kamu aneh tahu,” jawab Kesha.

Samuel melirik Kesha dengan tatapan dinginnya tidak terima dengan ucapan wanita itu mengatakan Zanna aneh. “Jaga bicaramu, Kesha. Aku tidak suka!”

Zanna menoleh. “Zanna suka baunya Papa,”

“Bau apa?” tanya Samuel yang tidak paham dengan arah pembicaraan anaknya. “Mama masak air pakai apa?”

“Kompol,” jawabnya.

“Papa tadi juga pakai kompor. Papa tanya apa bedanya dimasak dengan cara berbeda kok bisa tau rasanya?”

“Mama selalu masakin Zanna ail Pa. Untuk minum juga, Zanna nggak pelnah minum ail yang nggak dimasak,”

Samuel tidak mengerti dan memilih mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lara.

Dia menghindar dari kedua orang yang ada di ruang tamu itu.

Beberapa kali nada sambung berbunyi yang akhirnya Lara menjawab teleponnya. “Lara, Zanna bilang nggak boleh minum air dari dispenser itu apa maksudnya?”

“Walaupun airnya sehat, tapi Zanna nggak boleh minum air yang nggak dimasak. Jadi usahakan dia minum air yang sudah dimasak, Mama kamu pernah kasih dia minum air biasa yang akhirnya dia sakit perut,”

“Kenapa bisa?”

“Daripada kamu tanyain dan nggak bisa urus dia, mending kamu anterin dia pulang. Aku sudah tahu kamu yang ambil dia dari Julian,”

“Aku nggak mau debat, dia baru bangun dan aku ingat kamu pernah bilang jangan lupa masakin airnya pakai kompor, jangan kasih minum air yang biasa,”

“Aku nggak pernah bilang gitu, aku cuman bilang masak airnya. Jangan kasih air biasa, itu aja. Nggak pernah bilang mau dimasak pakai cara apa kek, yang penting itu air sudah dimasak,”

Mata Samuel melotot dan Lara membuatnya bingung, “Untuk makanannya gimana?”

“Susu yang tadi aku titipin kamu kasih nggak? Ingat dia minum susu soya bukan susu sapi,”

“Aku tahu, tapi untuk makanannya, dia alergi apa?”

“Semua jenis makanan laut dia alergi,”

“Pantangannya cuman air putih meskipun sudah benar-benar higienis harus tetap di masak dan juga untuk makanan dia alergi makanan laut, itu aja?” tanya Samuel memastikan.

“Kalau kamu mau kasih dia minum, kasih air yang hangat!”

“Walaupun nggak harus dimasak di kompor?”

“Siapa yang mewajibkan dimasak di kompor sih?” tanya Lara balik.

“Zanna bilang kamu masak air di kompor,”

“Alatnya rusak, dan juga aku nggak kuat kalau geser galon. Sekarang aku beli air yang kemasan lima liter setiap hari tapi aku masak manual?”

“Kenapa?”

“Aku nggak kuat angkat galon karena bekas operasi sesar,”

Samuel terdiam seketika saat mendengar jawaban dari Lara tentang operasinya tiga tahun lalu. “Jaga Zanna baik-baik, gantikan popok dia sebelum tidur!”

Tidak ada jawaban dari Samuel yang akhirnya telepon ditutup oleh Lara. Selama ini dia melihat Lara baik-baik saja.

Ia mendekati putrinya. “Zanna, Mama sering sakit?”

“Nggak, Pa,”

Dia mengangguk dan berpikir keras mengingat bahwa setiap kali dia ke sana Lara menyiapkan kopi dan alasannya akan memasak air. Jika pun mencarikan asisten, tidak akan ada gunanya sebab Lara akan menolak dan memilih hidup berdua dengan Zanna, kecuali untuk pengasuh si kecil. Sedikit menyadarkan bahwa wanita itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Di dalam hatinya dia hanya berkata. ‘Kita sebentar lagi akan bercerai, tapi kamu sakit-sakitan’

Novel Terkait

Rahasia Istriku

Rahasia Istriku

Mahardika
Cerpen
2 tahun yang lalu
Awesome Guy

Awesome Guy

Robin
Perkotaan
9 bulan yang lalu
Waiting For Love

Waiting For Love

Snow
Pernikahan
2 tahun yang lalu
My Only One

My Only One

Alice Song
Balas Dendam
2 tahun yang lalu
Be Mine Lover Please

Be Mine Lover Please

Kate
Romantis
9 bulan yang lalu
Excellent Love

Excellent Love

RYE
CEO
setahun yang lalu
Demanding Husband

Demanding Husband

Marshall
CEO
setahun yang lalu
Precious Moment

Precious Moment

Louise Lee
CEO
setahun yang lalu