Menaklukkan Suami CEO - Bab 9 Pulang sendiri

Liam Alterio sudah sampai di kediaman utama dengan wajah tanpa ekspresi. Dia berjalan dengan pelan masuk ke dalam kediamannya yang megah, tetapi terasa sepi baginya.

Dia tidak pernah merasa kediaman tersebut sebagai rumah yang hangat, melainkan tempat di mana dia harus berperang untuk mempertahankan posisinya agar tidak digeser oleh orang-orang yang siap berada di posisinya saat ini.

Kediaman Alterio sangat luas, mewah, dan megah. Keluarga Alterio termasuk keluarga terkaya dan memiliki puluhan anak perusahaan dalam berbagai macam bidang usaha.

“Tuan Muda, Anda sudah kembali?” kepala pelayan dari kediaman tersebut menyapa Liam dengan wajah sumringah seraya melirik ke belakang Liam, tetapi hanya menemukan Liam seorang diri yang berjalan ke dalam.

“Sedang mencari siapa?” tanya Liam dengan nada dingin.

Kepala pelayan cepat-cepat menunduk karena dia tertangkap basah sedang mencari seseorang yang sekiranya akan datang bersama Liam. Mengingat Liam dan Belle menginap di hotel yang sama, kemungkinan mereka akan pulang bersama. Akan tetapi, Liam pulang sendiri.

“Tidak ada, Tuan Muda. Maafkan saya karena tidak fokus. Tuan Muda, bukankah Anda seharusnya masih di hotel bersama sekretaris Belle?” kepala pelayan memberanikan dirinya untuk bertanya. Meskipun dia tahu, dia tidak punya hak untuk mendapatkan jawaban dari Liam.

Liam menghela napas. “Bukan urusanmu,” jawab Liam dengan kasar. Lantas dia mengambil langkah kaki besar masuk ke dalam.

Namun, langkahnya segera terhenti lantaran netranya menangkap Dominic Alterio di dasar tangga sedang menatap ke arahnya.

“Di mana Belle? Kalian sudah bersama semalam, lalu kenapa tidak pulang bersama? Bukankah kalian harusnya pulang bersama?” Dominic memberikan pertanyaan demi pertanyaan pada Liam.

Liam menatap Dominic tanpa ekspresi apa pun di wajah. Bukan dirinya yang ditanyakan ketika pulang, melainkan Belle yang belum resmi menjadi menantunya.

Sejak tiba di kediaman, dia tahu bukan dia yang dinantikan oleh penghuni dari kediaman ini. Meskipun dia adalah cucu dari pemilik kediaman, tetapi malah menantikan kedatangan dari anak seorang kepala pengawal.

Liam berpikir kalau Belle pasti akan merasa bangga karena orang-orang kediaman ini selalu menantikan kehadirannya.

“Aku mau bicara dengan Kakek. Apakah bisa?”

Alih-alih menjawab pertanyaan dari Dominic, Liam malah ingin berbicara secara empat mata dengan Dominic. Liam tidak menjawab satu pun pertanyaan Dominic, tetapi hal itu tidak langsung membuat Dominic menjadi kesal. Pria itu hanya memberikan tatapan tidak senang pada Liam.

Lantas Dominic berkata, “Tentu saja. Ikut aku ke ruanganku.”

Dominic kembali menaiki tangga, diikuti oleh langkah pelan dari Liam Alterio.

Beberapa saat kemudian, mereka telah duduk di ruangan Dominic. Tidak ada yang mengeluarkan suara selama beberapa detik. Liam terdiam, menutup bibirnya rapat-rapat seraya melihat ke arah jendela terbuka.

Lantas dia mengalihkan pandangannya pada Dominic. Liam mengalami perdebatan dengan dirinya sendiri dalam pikirannya dan ingin sekali bertanya pada Dominic tentang pernikahan tiba-tiba yang disiapkan untuknya, bahkan tanpa meminta persetujuan darinya terlebih dulu.

“Kakek, mengapa tidak meminta persetujuanku lebih dulu?” akhirnya Liam membuka mulutnya dan mempertanyakan keputusan Dominic mengenai pernikahannya.

“Ini semua demi kebaikanmu. Jadi, mau tidak mau kamu harus menikah dengan Belle,” jawab Dominic tanpa ragu ketika dia memperhatikan mata Liam dalam-dalam.

Keputusan yang telah dibuat oleh Dominic tidak dapat ditarik kembali. Jadi, sekeras apa pun Liam mempertanyakan atau menolak, dia tetap tidak akan bisa mengubah keputusan Dominic.

“Bukankah kalian sudah tinggal sekamar semalam? Harusnya kamu menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab, Liam.” Dominic dengan seringai tipis pada bibirnya tidak segan berkata demikian pada Liam.

Akhirnya, membuat wajah Liam sedikit memerah. Liam tahu maksud Dominic mempersiapkan kamar hotel untuk dirinya dan Belle. Tujuan utamanya untuk mengikat dirinya dan bertanggung jawab pada Bell.

Pria tua yang sangat licik itu merupakan kakeknya dan dia juga sama liciknya.

“Tapi, Kakek, aku tidak menyentuh sekretaris Belle. Semalam dia mabuk dan membuat ulah karena aku merupakan cucumu yang baik. Jadi, aku tidak melempar calon menantu pilihanmu itu ke keluar dari hotel semalam. Bukankah aku sudah cukup baik telah mengurusnya semalam dan bahkan tidak menyentuhnya seperti yang Kakek bayangkan. Jadi, apa yang perlu aku pertanggungjawabkan?”

“Tidak ada gunanya kamu bertanya dan menentang keputusanku. Kamu sendiri tahu bahwa, aku tidak akan menarik keputusanku hanya karena kamu adalah cucuku. Jika kamu ingin menjadi pewaris dari Alterio Group, maka terima pernikahan ini.” Dominic berhenti sejenak, lalu beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah jendela terbuka seraya memunggungi Liam. Lantas kembali berucap, “kamu memang sudah ditetapkan sebagai pewaris Alterio Group. Akan tetapi, persaingan di luar sana sangat ketat, Liam, dan ingat para saudaramu yang juga memimpikan kursi pewaris; mereka tidak akan diam saja. Aku sengaja memilih Belle menjadi calon istrimu, bukan karena latar belakang Belle, tetapi dia adalah wanita yang sangat kompeten dan kompetitif. Dia bisa membantumu dalam meraih dan menduduki kursi pewaris di masa depan.” Terang Dominic dengan detail.

Wajah Liam mendadak kosong tanpa adanya ekspresi apa pun. Dia menjadi termenung. Bukan tanpa alasan Dominic melakukan semua itu untuknya. Akan tetapi, dia tidak bisa menerima hal tersebut begitu saja. Dia sebagai laki-laki tidak bisa bergantung pada wanita. Ego Liam akan sangat terluka.

Liam tiba-tiba berdiri, “Kakek—”

“Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, tapi itu tidak akan merubah apa pun, Liam. Aku tahu kamu merasa bahwa, ego dan kebanggaanmu sebagai laki-laki terluka, jika mendapatkan bantuan dari seorang perempuan. Akan tetapi, kamu salah Liam. Wanita bisa memenangkan dunia dan ingat bahwa, mereka juga dapat menghancurkan dunia. Dia bisa membawamu naik ke kursimu nanti ataupun bisa menjatuhkanmu, dan itu semua tergantung dari caramu memperlakukannya di masa depan.” Sekali lagi Dominic memberikan petuah bijaksana pada Liam.

Seharusnya Liam mengerti akan hal ini, jika dia tidak memaksakan egonya. Namun, tentu saja egonya akan sangat terluka. Meskipun dia bisa mengatakan kalau dia bisa menjadi pewaris tanpa bantuan Belle.

“Banyak keluarga pengusaha yang ingin menjodohkan putri mereka denganmu, tetapi aku menolak tawaran mereka semua. Walaupun mereka juga bisa membantumu dengan kekuatan perusahaan mereka. Liam, aku lebih memilih Belle karena dia pekerja keras dan sudah tinggal bersama kita sejak dia lahir, dan kamu tentu juga sudah mengetahui bahwa, keluarganya loyal pada keluarga Alterio. Aku memilihkan yang terbaik untukmu. Apakah kamu masih tidak mengerti dan tetap mempertahankan egomu?”

Liam sudah kehabisan kata-kata karena perkataan Dominic merobohkan penolakan, ego dan kepercayaan diri Liam selama beberapa saat. Dia tahu kalau Dominic menginginkan yang terbaik untuknya. Meskipun demikian, dalam sudut hati Liam yang paling dalam, dia tetap menolak.

***

Belle dan Richard telah berada di kediaman Alterio. Mereka naik ke lantai atas untuk memberi salam pada Dominic, tetapi tanpa sengaja mendengar beberapa potongan dari perbincangan Dominic dan Liam.

Richard yang berdiri di sebelah Belle, mengembangkan senyum miring dan nampak miris ketika dia dengan sengaja memperhatikan wajah Belle yang tidak memiliki ekspresi apa pun. Belle hanya diam menunggu waktu yang tepat sampai ruangan itu menjadi hening barulah dia akan mengetuk pintu. Dia tidak peduli dengan pandangan Richard terhadapnya.

Mengetahui bahwa, pandangan tersebut merupakan pandangan sinis juga mengejek, maka Belle tidak memberikan tanggapan apa pun sebagai jawaban. Bila dia meladeni pria itu mungkin akan terjadi perdebatan karena saat ini Belle sedang kesal dalam hatinya. Dia tahu kalau Liam pasti akan mempertanyakan keputusan Dominic dan mencoba untuk menolak. Namun, semua itu hanya sia-sia saja.

Sesungguhnya dia merasa tidak enak pada Liam yang harus dengan rela menerima pernikahan ini.

“Anggap saja aku tidak mendengar apa pun yang mereka bicarakan.” Richard mengulum senyum mengejek.

“Aku bahkan tidak mendengar apa pun.” Balas Belle lebih terkesan berani, sehingga membuat senyum Richard jatuh begitu saja.

Setelah beberapa saat ruangan itu menjadi hening dan tidak ada suara lagi yang bisa didengar. Belle mengetuk pintu tersebut dengan pelan, lalu berkata, “Chairman, saya Arabelle dan … Tuan Muda Richard juga ada di sini.”

Masih tidak ada suara yang menyahut dari dalam selama beberapa saat Namun detik kemudian suara kasar dari hempasan tubuh di atas sofa terdengar.

“Masuklah!” kata suara tua dari dalam ruangan.

Belle membuka pintu ruangan tersebut tanpa ragu dan mendapati Liam yang sudah jelas berada di dalam ruangan tersebut tengah duduk di sofa memperlihatkan wajah tanpa ekspresi apa pun, sedangkan Dominic sudah duduk di kursinya sembari menatap ke arah pintu.

“Selamat pagi, Kakek.” Sapa Richard menebar senyum sumringah dan wajah polos bak bayi tanpa dosa—menerobos masuk mendahului Belle.

Merasa tidak senang dengan kelakuan Richard, Belle hanya bisa mengerutkan kening.

Sementara itu, Belle sendiri mendapatkan tatapan intens dari Liam. Dia melangkah masuk, lalu menutup pintu. Lantas menundukkan kepalanya dan memberi salam pada Dominic, “Selamat lagi, Chairman.”

Dominic hanya mengangguk, “Kalian berdua duduklah.”

Tanpa ragu-ragu Richard duduk di seberang Liam. Pria itu tengah memindai wajah Liam dengan senyum sinis yang samar. Begitu pun dengan Liam yang tidak mau kalah. Mereka belum saling menyapa dan membuat ruangan yang berisi empat orang tersebut cukup canggung. Sementara itu, Belle sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Liam. Dia mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan lembut, hampir tidak mengeluarkan bunyi.

“Maafkan aku, saudaraku, aku belum menyapamu. Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” tanya Richard memecahkan keheningan.

“Kamu salah lihat. Wajahku baik-baik saja dan tetap tampan juga memesona seperti biasanya,” ujar Liam dengan angkuh.

Siapa yang belum pernah mendengar ucapan angkuh dari Liam Alterio. Apalagi ketika dia sedang kesal pasti cara bicaranya akan lebih angkuh lagi, sampai-sampai membuat orang yang mendengar bisa merasa muak. Namun, jika itu penggemar Liam, maka apa pun yang dikatakan oleh Liam bak batu permata berharga tinggi bagi mereka.

“Apakah tidurmu nyenyak semalam, Belle? Aku sengaja membiarkanmu istirahat di hotel agar dapat menenangkan pikiranmu sebelum hari pernikahan.” Celetuk Dominic membuat ruangan menjadi hangat.

Dominic sepertinya sengaja bertanya demikian, hingga membuat wajah Belle sedikit merona dan rona itu ditangkap oleh Liam.

“Terima kasih atas kebaikan Anda Chairman. Saya sangat bersyukur karena Anda begitu memperhatikan saya.”

Belle tidak menanggapi lebih dari itu. Apalagi mengatakan kalau dia mabuk semalam. Namun, dia sedikit merasa was-was karena Liam sudah sejak tadi berada di ruangan ini dan dia tidak tahu apakah Liam berkata aneh-aneh tentang dirinya yang mabuk semalam. Dia melirik Liam tanpa rasa canggung, ingin mengetahui apakah Liam memberikan rekaman itu pada Dominic.

Akan tetapi, Liam mengabaikan tanda dari Belle. Bukan karena dia tidak tahu, Liam tahu yang ada dalam pikiran Belle saat ini. Hanya saja Liam terlalu malas untuk berucap dan lebih memilih untuk diam.

“Baguslah kalau begitu. Aku juga akan mengatur bulan madu untuk kalian nanti.”

Liam tiba-tiba berdiri dari duduknya, membuat mereka bertiga sedikit kaget. Wajahnya menampakkan ketidaksetujuan dengan rencana Dominic. Pria itu sudah mengatur pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Liam dan sekarang mereka belum menikah, tapi Dominic sudah mengatur bulan madu untuk mereka. Benar-benar melukai harga diri Liam sebagai seorang pria karena tidak dapat menentukan apa yang dia inginkan sendiri.

“Sudah cukup Kakek. Aku akan keluar sekarang karena sudah tidak ada lagi yang aku tanyakan.” Dengan wajah kesal Liam langsung pergi dari ruangan tersebut.

“Belle, maafkan Liam. Kamu tahu sendiri kalau dia agak kasar dan suka bertindak semaunya, tapi aku bisa jamin kalau dia akan menjadi suami yang tepat untukmu. Kamu bisa pergi dan temui Liam jika kamu mau.”

Mengerti akan yang dikatakan oleh Dominic yaitu, menyiratkan agar dia keluar. Bukan untuk mencari Liam, tetapi Dominic ingin bicara empat mata dengan Richard yang masih menunggu di sana seraya menonton drama keluarga.

“Baik, Chairman.”

Belle segera berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan, tetapi suara tua dan berat milik Dominic menghentikan langkahnya.

“Kamu harus belajar untuk memanggilku Kakek.”

“Tentu saja, Chairman. Maksud saya, Kakek.” Belle berkata dengan tenang dan mengikuti alur yang telah dibuat oleh Dominic. Entah pria tua itu memang tulus berkata demikian, atau hanya ingin menunjukkan pada Richard. Dia mengambil keduanya sebagai kemungkinan dan semua itu juga tidak membuatnya rugi. “Kalau begitu, saya akan keluar, Kakek. Nikmati waktumu, Tuan Muda Richard.”

Lantas dia mengambil langkah keluar dari ruangan tersebut. Setelah Belle menutup pintu ruangan, dia agak terkejut karena melihat Liam sudah berdiri di belakangnya. Padahal sebelumnya tidak ada siapa pun di depan pintu. Namun, tiba-tiba saja Liam sudah berada di sana dengan kening mengerut.

“Jangan memasukkan kata-kata Kakek ke dalam hati. Aku tidak akan berbulan madu denganmu,” kata Liam penuh penekanan.

Ujung bibir kanan Belle terangkat samar. “Kamu tidak usah khawatir. Aku juga tidak ada keinginan untuk pergi bulan madu denganmu. Aku punya banyak pekerjaan yang harus aku urus. Jadi, untuk apa buang-buang waktu dengan hal tidak penting seperti itu?”

“Tidak penting katamu?” tanya Liam dengan geram.

“Bukankah kamu juga merasa hal itu tidak penting? Jadi untuk apa dipermasalahkan? Aku harus pergi sekarang, CEO Liam.”

Dia berjalan melewati Liam yang masih geram sambil mengepalkan tangannya.

Novel Terkait

My Cute Wife

My Cute Wife

Dessy
Percintaan
setahun yang lalu
Menunggumu Kembali

Menunggumu Kembali

Novan
Menantu
2 tahun yang lalu
Hanya Kamu Hidupku

Hanya Kamu Hidupku

Renata
Pernikahan
setahun yang lalu
Demanding Husband

Demanding Husband

Marshall
CEO
setahun yang lalu
Mi Amor

Mi Amor

Takashi
CEO
2 tahun yang lalu
Pergilah Suamiku

Pergilah Suamiku

Danis
Pertikaian
setahun yang lalu
Istri Direktur Kemarilah

Istri Direktur Kemarilah

Helen
Romantis
setahun yang lalu
Uangku Ya Milikku

Uangku Ya Milikku

Raditya Dika
Merayu Gadis
setahun yang lalu